Connect with us
no

Daerah

ABUGIDA DI MANGUPURA

Published

on

Oleh: Dera Liar Alam


Suatu ketika tangan memecah gelombang, tanpa dayung, tanpa sampan. Matahari megah di langit barat, orang-orang, para pelancong, nyanyikan cahaya. Lalu gulita menyambut debur, suaranya memantul Bukit Timbis di desa Kutuh.


DIRINDU kota menawan: Mangupura. Di sana Mengwi, Gulingan, Mengwitani, Kekeran, Kapal, Abianbase, Lukluk, Sempidi, dan Sading.

Kenal tak seberapa orang, demikian saya sekian kali menyambangi Bali. Namun, ingatan rusuh politis pernah menyala di sana bertahun silam, kemudian redup. Indonesia baru beranjak, reformasi, tiga angka sama di belakang ribuan, 1999, berbagai isu digoreng pada lahan rakyat.

Hari ini belum terlalu tua untuk mengulang dua puluh tahun berlalu, lampau.

***

Kenang meremang. Ratusan tahun silam, disebut Cornelis de Houtman pernah berlabuh dekat Mangupura – tercatat 1557, manakala dua ribu serdadu Bali kembali dari perjalanan mempertahankan Blambangan dari gempur Mataram. Badung sudah diintai dari Kuta.

Kisah meradang di kemudian. Pedagang membawa ‘ayat suci’ menyasar sumberdaya. Pada 1592, Cornelis de Houtman diutus para pedagang Amsterdam ke Lisboa untuk menemu sebanyak mungkin info Kepulauan Rempah-Rempah, de Houtman pulang Amsterdam, Jan Huygen van Linschoten kembali dari India. Para pedagang memastikan Banten poin strategis untuk membeli rempah-rempah.

Cornelis de Houtman terbunuh di geladak kapal pada pelayaran keduanya. Pasukan Inong Balee dipimpin Malahayati menggempur, dan terjadi tarung satu lawan satu, de Houtman kalah. Aceh, 11 September 1599.

Mangupura masih dirindu, wilayah itu ada di Badung. Dulu Badung dikenal sebagai Nambangan, kemudian nama itu diganti I Gusti Ngurah Made Pemecutan pada akhir abad delapan belas.

Badung disasar. Tangsi militer Belanda ada di sekitar Badung – 1826, tepatnya di Kuta.

Tahun 1904, Sri Komala, kapal China berbendera Belanda kandas di pantai Sanur. Belanda tuduh masyarakat sudah lucuti, merusak, merampas isi kapal. Belanda menuntut raja Badung atas kerusakan, dan meminta ganti 3.000 uang perak, dan hendak menghukum orang-orang yang dituduh merusak kapal.

Raja Badung menepis tuduhan, menolak bayar kompensasi. Belanda siapkan expedisi militer keenam menyasar Bali, 20 September 1906. Ada tiga batalyon infantri dan dua batalyon artileri mendarat, memerangi Badung, lalu menyerbu Denpasar.

Belanda merasa di atas angin. Tetiba pasukan putih menghadang: raja, pendeta, pengawal, sanak saudara, lelaki, perempuan, menghiasi diri dengan permata, sorak tempur maju ke medan laga. Inilah Perang Puputan.

Laga Puputan dipilih sesuai ajaran Hindu Bali, sang ksatria mati dalam perang, arwah langsung naik ke surga.

***

Berapa hari lalu di Pandawa. Saya menyewa kano pada seorang tua. Bermain pasir, mendayung, menyambut gelombang, menunggu matahari diterkam ufuk.

Di sana mendulang babad hanacaraka entah berapa zaman berganti. Entah rindu jadi asap. Hanacaraka adalah aksara Bali. Dikenali sebagai salah satu aksara tradisi Nusantara. Sudah dipakai jauh sebelum Eropa datang berebut sumberdaya di Indonesia.

***

Medio 2009, melintas Pandawa, Kuta, Denpasar. Saya dan Dewi Ratna, obrolan tentang huruf dan angka konstruksi. Lupa tepatnya kamar di mana kami berbincang. Berapa foto, kenangan pagi membeli kain, doa para pedagang, bunga di kuping, dan tarian.

Ah Mangupura, mango, lango, langu, langen. Kangen pada ingatan, lima berkawan: api, air, cinta, asap, dusta. Bukan, bukan itu!

Protogonis Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa, punya tutur beda. Kurukshetra berebut tahta kuasa, punya samanya di banyak lokasi, dan selalu membara saban kampanye politik, juga menyala dalam berbagai dogma.

***

Ajaran mengkhayalkan huruf seragam, isi kepala seragam. Kehendak kuasa bertahta dalam dongeng ribu zaman, lalu pecah jadi mata uang.

Di sana, di Mangupura, penanda Abugida jelas. Alfasilabis, aksara segmental didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tetapi bersifat sekunder. Hal beda dengan alfabet, di mana vokalnya memiliki status sama dengan konsonan serta abjad yang penandaan vokalnya opsional. Keluarga aksara Brahmi yang banyak digunakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk dalam jenis aksara abugida.

Jangan-jangan Alfur, Alfuros, Alfures, Alifuru, Alfuren, Horaforas, adalah kehendak kuasa menuduh rakyat tak mampu membaca. Atau, nurani sengaja menjadi buta oleh euphoria iman tanpa banding, tanpa usik, bertahta ratusan tahun dalam keyakinan hakim seribu tahun hukum rajam untuk siapa saja yang berani membuka buku di luar pengetahuan rindu takut merdeka.

Iblis ketinggalan zaman, dan terrantai dalam hati para penakut pengecut. Dewata menenggak vodka, whiskey, jack daniel’s bermandi anggur. Mainkan gitar hingga larut senja. Midnight-sun ada di dua kubu bumi, membenturkan dogma-dogma basi.

Padahal, inilah belenggu, inilah rantai jiwa-jiwa memerkosa nafsi bayang-bayang ekonomi politik taktik-taktik. Mimpi bukit-bukit telanjang, misteri liang-liang karang di Secret Beach, tahun-tahun nan gamang.

Lalu kita tertidur dalam lupa. Doa panjang-panjang tidak mempan mengusir banjir longsor bencana, bila got selokan tersumbat plastik, pemikiran sempit, dan pembangunanisme korup.

Sepotong estorie, rindu yang usang: Doa panjang, dalam keranjang. (*)

Estorie Bali 2019

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

Menggambar Wajahmu dengan Debu

Published

on

By


10 Januari 2022


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


Aku mengingatnya kembali, saat hujan ingin membangunkan dirimu, angin membuatmu tertidur, hujan itu, hanya dalam mimpiku, saat ini. Aku melihatmu pada daun-daun kering yang jatuh, waktu telah luluh, dan seberkas cahaya pagi yang aku simpan dalam sudut mataku.

Mungkin kau bisa mengenangnya, bila ingatanmu bukan lagi utuh tentang diriku, pesanmu. Pohon akasia yang kau pilih dengan paku, meninggalkan rindu, kau kerat pohon itu, menjadikannya perlambang perasaanmu. Dua burung gelatik mengintip dari ujung dahan, dan terbang dalam lamunan.

Dengan mengenangmu, kau temukan diriku sesuatu yang tak ingin kuberi arti, serupa pecahan waktu yang menyelinap pada ruas-ruas tubuhku, dan jalan angin yang lain menggambar wajahmu dengan debu, dingin, seperti awan kelabu yang ingin membuat langit biru, dibasuhnya debu itu dalam ragu. Disimpannya cahaya yang tak perlu.

Seperti dua arah yang bertemu, melewati batas perjalanan, tentang nilai yang rentan, kegamangan waktu juga ketentuan yang akan patah, akan tiba yang tidak pernah aku tunggu, hilang apa yang kucari, serta tujuan yang aku biarkan tanpa tuju, setelah itu biarlah aku tak pernah memilih apa-apa biar perlambang itu, aku baca dengan gumaman, yang menjadi tanda tanya untukmu. (*)

Continue Reading

Berita

Larantuka Diguncang Gempa M7.4

Published

on

By


15 Desember 2021


“Orang-orang panik lari berhamburan, itu di Sikka,” kata Ani.


Oleh: Parangsula


TEROPONGALOR.COMMINGGUS punya cerita tersendiri tentang gempa di koordinat 7.59° lintang selatan dan 122,26° bujur timur, dengan pusat gempa bumi berada pada 112 kilometer arah barat laut Larantuka, Flores Timur, dengan kedalaman 12 kilometer. “Gempa NTT, bapa. Saya baca berita tidak ada tsunami. Tapi, orang-orang di kampung saya was-was, meski posisi kampung saya jauh. Masih ada satu malam pelayaran dengan kapal laut dari Larantuka ke Kalabahi,” tutur Minggus.

Tercatat menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bahwa ada 346 rumah rusak dan 770 warga mengungsi akibat gempa. “Selain tempat tinggal penduduk, gempa merusak tiga gedung sekolah, dua tempat ibadah, satu rumah jabatan kepala desa, dan satu pelabuhan. Menurut Abdul Muhari, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, daerah yang paling banyak melaporkan kerusakan bangunan adalah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Sebanyak 770 orang pengungsi dilaporkan BPBD Sikka, NTT. Rinciannya, 320 orang mengungsi di Kantor DPRD Sikka, 150 orang di Gedung SIC dan 330 lainnya berdiam di aula rumah jabatan Bupati Sikka.” Seperti itu diberitakan TEMPO, 15 Desember 2021.

Ani, perantau dari Maumere, bertutur kepanikan karena gempa. “Oom Tio, rumahnya di Larantuka, retak. Bagian belakang rumah dan dapurnya sudah turun ke bawah, untung saja dia dan keluarganya sudah pindah ke Kupang. Kemarin dia telepon, tanya jangan-jangan ada keluarga di Bonerate yang terkena dampak,” ujar Ani. “Biasanya, kalau pulang ke Maumere, kapal yang kami tumpangi mampir di Bonerate,” tambah Ani.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami di wilayah Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Kemarin, peringatan tsunami itu kemudian diakhiri, dan pengumumannya disampaikan BMKG lewat konferensi pers. Peringatan resmi dicabut pulul 13.24 WITA. Masyarakat kemudian beraktivitas seperti biasa. (*)

Continue Reading

Berita

S.O.B Law Investigation – Andi Jamal: Penjarakan Mafia Tanah

Published

on

By

14 Juni 2021


Oleh: Jefriar Dunda
Biro Sulawesi Selatan


TeropongAlor—  Somba Opu | PEMBERANTASAN praktik mafia tanah di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terus didesak. Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan beberapa kali pertemuan dan membahas langkah strategis, di antaranya DPP LSM Gempa, Yayasan Bantuan Hukum Kompak Indonesia, Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia di Gowa dan Sulawesi Selatan, dan Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Pemantauan tim redaksi hingga 14 Juni 2021, desakan lembaga swadaya itu dinyatakan dalam bentuk spanduk yang dipasang di sejumlah titik seputaran Tombolo dan Somba Opu. “Telah berduka rakyat Gowa atas matinya penegakan hukum tentang pemberantasan mafia tanah di kabupaten Gowa. Ingat ketegasan Kapolri untuk memberantas mafia tanah, jangan gadaikan keadilan untuk rakyat, para mafia tanah wajib dihukum dan dipenjara, begitu juga oknum yang membekinginya.” Demikian spanduk yang dipajang Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Spanduk adalah bentuk protes dan interupsi masyarakat terhadap aparat yang tidak bekerja maksimal, dan diduga bersandiwara. “Sejauh ini permintaan penindakan kepada oknum penyidik dalam kasus mafia tanah, terindikasi membekingi terlapor pengguna surat palsu dengan cara membuat keterangan palsu dalam SP2HP yang dijadikan alasan penghentian penyelidikan. Perintah pimpinan hanya boleh efektif bila pemberantasan kejahatan hukum dimulai dari jajaran institusi yang mengawal hukum, bukan justeru mengincar pihak lain. Ini namanya bersandiwara,” kata Padeng Gervasius, SH, menyinggung tuntutan masyarakat untuk memberantas mafia tanah di Gowa.

Pasca-Rapat Dengar Pendapat yang sudah digelar DPRD Gowa, 04 Mei 2021, silam, tuntutan pemberantasan mafia tanah kian menguat di Gowa, utamanya menyorot mekanisme pembatalan sertifikat cacad hukum administratif dalam penerbitannya sebagaimana diatur dalam Pasal 110 jo. Pasal 108 ayat (1) Permen Agraria/BPN 9/1999. “Tuntutan kami jelas, cabut dan batalkan dokumen yang diterbitkan BPN Gowa yang cacad administratif. Ada regulasi tentang pembatalan. Permohonan dapat dilakukan jika diduga terdapat cacat hukum administratif dalam penerbitan sertifikat itu sebagaimana diatur Pasal 106 ayat (1) jo Pasal 107 Permen Agraria/BPN 9/1999,” tutur Amiruddin SH Kr. Tinggi, dari DPP LSM Gempa. (*)


Hak jawab selalu diberikan kepada semua pihak bila pemberitaan bertolak belakang dengan fakta dan data.


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com