Connect with us
no

Daerah

Alor Star, Alor, dan Amon

Published

on


14 Juli 2020


Oleh: Daniel Kaligis


Alor seumpama mengeja alir, deras dan terus mendebar.


DI SANA, negeri Kedah di Malaysia, ternama karena sejenis pohon buah kuning kemerahan, bueya micropholia. Itulah Alor Setar, masyur sebagai Alor Star, negeri sang Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj, Perdana Menteri Malaysia Pertama.

Nun di sana, di Malaysia, negeri tetangga Indonesia. Jangan lupa, nama Alor ada di sini, di Indonesia. Menilik Indonesia, nama Alor sekarang itu tersirat erat dengan ‘Amon’, sang Pemimpin yang punya visi tentang Alor dan kerakyatan.

Seperti deras sejarah, Alor punya catatan panjang. Di sini, Alor, di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sejarah selalu mengulang perjumpaan di suatu masa, dan senja jingga memantul laut berkaca awan-awan elok: tertera sajak adalah api masa silam manakala gelombang menepi berulang hari ini. Lalu badai, derai kenangan, armada Victoria jauh di teluk. Antonio Pigafetta, ilmuwan dan penjelajah Venesia itu memandangi payung-payung anyaman pandan ada pada pulau-pulaumu — Januari 1522.

Alor Star di Malaysia punya Rekreasi Medan Peremba, Rekreasi Medan Merdeka, Taman Jubli Perak, Taman Jubli Emas, Taman Persisiran Tanjung Chali, dan Taman Persisiran Sungai Kedah.

Alor di Nusa Tenggara Timur – punya kemilau ‘mutiara’ di Indonesia. Tercatat, point interest wisatanya memang kemilau, laut sebening kaca, derai gelombang dihentar angin, terumbu karang dan biota laut yang memesona, membikin potensi laut Alor dikenal dunia. Taman laut Alor bersaing dengan point interest Kepulauan Karibia yang bersebelahan dengan Samudera Atlantik, di tenggara Teluk Meksiko.

Sebegaimana diketahui, bila anda datang ke Alor, anda akan berkenalan dengan delapan belas titik selam yang disebut Baruna’s Dive Sites at Alor, yakni: Baruna’s Point, Never-Never Wall, Cave Point, Barrel Sponge Wall, Mola-Mola Point, Night Snacks, Alor Expree yang dikenal juga sebagai Alor Dreaming, Rocky Point, Three Coconuts, Moving Pictures, Eagle Ray Point, Rahim’s Point, Tuna Channel, Anemone Country, Sharks Reeway, Octopus Garden, Captain’s Choice, dan The Refrigerator.

Selintas Alor, wilayah kepulauan di Nusa Tenggara Timur yang eksotik dalam Indonesia, menghias jalur pembangunan, lingkungan, budaya, ekonomi, dan pelayaran dagang internasional menuju Samudera Pasifik dan dunia.

Sedari 10 Juli 2020 saya ada di Alor. Mendatangi sejumlah point, gunung, hutan, pantai, setapak, jalan-jalan. Sejak tiba di bandara Mali, menyusur kota, sudah menikmat debur gelombang di pantai. Orang-orang berkisah pemanggil Dugong, bercerita panjang lebar tentang Moko dan upacara adat, Deere, Maimol, Mali.

Senin, 13 Juli 2020, saya bersua ‘Amon’, lengkapnya Drs. Amon Djobo di ruangnya, Jl. El Tari Nomor 10, Mutiara, Teluk Mutiara – Alor. Dia, Amon, mengutip visi, bahwa komitmen Pemerintah Kabupaten Alor dalam prioritas pembangunan daerah untuk wujudkan masyarakat kenyang, sehat dan pintar. Kenyang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dasar masyarakat melalui optimalisasi pembangunan sektor ekonomi – penguatan sktuktur pangan, kedaulatan pangan, dan seterusnya. Soal kesehatan, gizi buruk, menaruh perhatian pada kesehatan perempuan hamil dan bayi, serta jangkauan pelayanan kesehatan hingga daerah terpencil.

Amon bicara tentang cara. “Hal-hal ini yang saya kerjakan bersama rakyat yang menurut saya adalah filosofi hidup berkerakyatan dan berkemanusiaan. Pemimpin ada karena rakyat. Itulah sebabnya saya selalu menegaskan, bahwa orang kecil juga boleh jadi pemimpin, hansip saja boleh jadi bupati. Kita tidak butuh orang pinter untuk jadi pemimpin. Kita membutuhkan pemimpin yang merakyat dan dekat dengan rakyat,” kata Amon bersemangat.

Banyak soal yang dibahas pada ketika yang ringkas, dan ingin kembali bersua. Saya belajar mengakrabi Alor, petakan di Indonesia yang secara geografis berada di antara 125°48″ – 123°48″ Bujur Timur dan antara 8°6″ – 8°36″ Lintang Selatan.

Seraya mengingat bahwa, pemikiran dan pengetahuan pernah terkurung, atau sengaja dikerangkeng. Padahal, sedari dulu ingin menyinggahi di Alor. Saya membaca sejumlah situs, mengumpul data sekunder tentang Alor. Mengulang beberapa pertanyaan terkait soal kerakyatan dan pembangunan yang ada di Alor yang ‘katanya’ soal-soal itu terkait hal berkualitas, mandiri, produktif, sejahtera, sebab ada pemerintahan bersih berwibawa, berorientasi pada kepentingan rakyat ada di Alor. Sudahkah hal itu terwujud? Sementara berproses tentunya.

Di Takpala saya menanyai Novi yang lagi memesak di bale-bale dalam area Falafoka, yaitu rumah gudang. Ata bermain di sekitar Novi. Di halaman Takpala, Martinus Kafelkay mengajari saya memegang busur dan anak panah, menawari saya mengenakan busana tari perang seraya bertutur tentang Kapitang, sang Tama yang ahli berperang. Kami melinting tembakau, Martinus dan saya mempermainkan asap, saya lalu bertanya tentang ‘Amon’, Martinus menjawab saya dengan senyum lebar, “Iya, iya, dia sang pemimpin Alor.”

Ngobrol dengan Martinus seperti mengulang derap serdadu-serdadu menemu puing. Perang nan kelam sudah usai. Larra, Wulang, Neda, Addi, Hari, bahwa kita masih punya catatan teramat panjang untuk visi di Alor ke depan.

Saya mengutip komitmen pemerintah dalam prioritas pembangunan daerah untuk wujudkan masyarakat kenyang, sehat dan pintar. Kenyang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dasar masyarakat melalui optimalisasi pembangunan sektor ekonomi – penguatan sktuktur pangan, kedaulatan pangan, dan seterusnya. Soal kesehatan, gizi buruk, menaruh perhatian pada kesehatan perempuan hamil dan bayi, serta jangkauan pelayanan kesehatan hingga daerah terpencil. Berikutnya soal ‘pintar’. Soal ini yang saya singgung pada paragraf pembuka sebagai ‘belajar’. Iya, itu dia, belajar dan terus menguatkan pembangunan mewujud Alor kenyang, sehat, pintar.

Saya mengakrabi nama-nama, Aimoli, Alaang, Alila, Alila Selatan, Alor Besar, Alor Kecil, Ampera, Bampalola, Dulolong, Dulolong Barat, Hulnani, Lefokisu, Lewalu, O A Mate, Otvai, Pulau Buaya, Ternate, Ternate Selatan, Adang, Halerman, Kafelulang, Kuifana, Manatang, Margeta, Moramam, Morba, Orgen, Pailelang, Pintu Mas, Probur, Probur Utara, Tribur, Wakapsir, Wakapsir Timur, Wolwal, Wolwal Barat, Wolwal Selatan, Moru, Kelaisi Barat, Kelaisi Tengah, Kiraman, Kuneman, Lella, Maikang, Malaipea, Manmas, Padang Alang, Sidabui, Silaipui, Subo, Tamanapui, Kelaisi Timur, Alimebung, Dapitau, Fuisama, Fungafeng, Kafakbeka, Lakwati, Lembur Barat, Lembur Tengah, Likwatang, Manetwati, Nurbenlelang, Petleng, Tominuku, Welai Selatan, Belemana, Elok, Kolana Selatan, Maritaing, Maukuru, Mausamang, Padang Panjang. Aiiii, memang panjang yang harus saya hafal dan ingat.

Lanjut tentang nama-nama lokasi, desa dan kelurahan dalam Alor. Tanglapui, Tanglapui Timur, Kolana Utara, Air Mancur, Kamot, Kenarimbala, Lippang, Nailang, Pido, Taramana, Waisika, Alila Timur, Kopidil, Lawahing, Pante Deera, Kabola, Lembur Timur, Luba, Talwai, Tasi, Tulleng, Waimi, Kamaifui, Lakatuli, Mataru Barat, Mataru Selatan, Mataru Timur, Mataru Utara, Taman Mataru, Bana, Bandar, Baolang, Bouweli, Bukit Mas, Helandohi, Madar, Munaseli, Pandai, Wailawar, Kabir, Baraler, Baranusa, Blang Merang, Ilu, Kalondama, Leer, Piringsina, Allumang, Beangonong, Kalondama Barat, Kalondama Tengah, Kayang, Lamma, Marisa, Aramaba, Bagang, Delaki, Eka Jaya, Mauta, Muriabang, Tamak, Toang, Tubbe, Tude, Batu, Bunga Bali, Kaera, Kaleb, Lalafang, Lekom, Mawar, Merdeka, Nule, Ombay, Treweng, Maru, Pura Barat, Pura Selatan, Pura Tengah, Pura Utara, Pura, Kailesa, Langkuru, Langkuru Utara, Purnama, Adang Buom, Air Kenari, Fanating, Lendola, Motongbang, Teluk Kenari, Binongko, Kalabahi Barat, Kalabahi Kota, Kalabahi Tengah, Kalabahi Timur, Mutiara, Nusa Kenari, Welai Barat, Welai Timur, dan Wetabua.

Pagi, 14 Juli 2020, saya menuju Maritaing. Ada tiga jam perjalanan dari Kalabahi. Mampir ngopi di Padang Panjang di warungnya Herderina Maure. Di situ, Herderina ditemani anak-anaknya, Albertina, Herusty, Ferdinand, dan Rely. Saya tanya apakah mereka beroleh keuntungan dari pembangunan jalan di wilayahnya Herderina, berapa kira-kira yang ia dapat dari menjual kopi dan jajanan di warungnya, apakah dia mengenal pemimpin di daerahnya. Ringkas Herderina, “Ada keuntungan dari warung kopi,” ujarnya. Dia juga cerita tentang lokasi di mana ia berjualan yang disebut Bukit Gundul, Padang Panjang.

Hingga sore masih di Maritaing, terik matahari, tumbuhan khas pantai, kerikil, jembatan yang menjurus ke laut, Timor Leste yang terhalang kabut, gelombang memecah. Presiden Indonesia, Jokowi, lewat kementerian terkait, berencana membangun Pos Lintas Batas Negara di Maritaing, nanti medio 2021.

Di Paliboo, saya belajar menutur Belagar, Denebang, Deing, Mauta, Lemma, Alor, Kabola, Abui, Kawel, Kemang, Kelong, Maneta, Wuwuli, Seboda, Malua, Kramang, Wersin, Kui. Vicky, kawan saya, punya banyak tutur tentang peradaban yang tersimpan ratusan tahun silam di sini.

Dia mengulang tentang Moko dan berbagai kegamangan isu. Kami menyusur tepian seraya mengambil gambar, membiarkan air asin menampar bekas jejak di pasir.

Ketika matahari turun, Drs. Amon Djobo menanyai saya, “Apa yang saya jumpai di Alor.” Saya bilang, ada sejumlah hal menarik, dan tidak cukup dalam satu artikel saja, tentang Alor dan Nusa Tenggara Timur.

Selintas Alor Star, Alor, dan Amon. Artikel ini akan bersambung tentang point-point menarik yang masih tersimpan di Alor.

Dunia di luar sana ada dalam kita. Kita semua, belajar dari pengalaman. Buka mata pada semesta, dari pengalaman dan belajar kita jadi mengerti ternyata perubahan adalah sesuatu yang kekal di alam. Dunia terus berbenah, belajar dari sejumlah pengalaman. Sebab ia, Alor, tanah di mana cita-cita terus bergelut dengan sejumlah realita, menemu berbagai keajaiban yang terus dikerjakan bersama rakyat. Di sana, di Alor. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

Menggambar Wajahmu dengan Debu

Published

on

By


10 Januari 2022


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


Aku mengingatnya kembali, saat hujan ingin membangunkan dirimu, angin membuatmu tertidur, hujan itu, hanya dalam mimpiku, saat ini. Aku melihatmu pada daun-daun kering yang jatuh, waktu telah luluh, dan seberkas cahaya pagi yang aku simpan dalam sudut mataku.

Mungkin kau bisa mengenangnya, bila ingatanmu bukan lagi utuh tentang diriku, pesanmu. Pohon akasia yang kau pilih dengan paku, meninggalkan rindu, kau kerat pohon itu, menjadikannya perlambang perasaanmu. Dua burung gelatik mengintip dari ujung dahan, dan terbang dalam lamunan.

Dengan mengenangmu, kau temukan diriku sesuatu yang tak ingin kuberi arti, serupa pecahan waktu yang menyelinap pada ruas-ruas tubuhku, dan jalan angin yang lain menggambar wajahmu dengan debu, dingin, seperti awan kelabu yang ingin membuat langit biru, dibasuhnya debu itu dalam ragu. Disimpannya cahaya yang tak perlu.

Seperti dua arah yang bertemu, melewati batas perjalanan, tentang nilai yang rentan, kegamangan waktu juga ketentuan yang akan patah, akan tiba yang tidak pernah aku tunggu, hilang apa yang kucari, serta tujuan yang aku biarkan tanpa tuju, setelah itu biarlah aku tak pernah memilih apa-apa biar perlambang itu, aku baca dengan gumaman, yang menjadi tanda tanya untukmu. (*)

Continue Reading

Berita

Larantuka Diguncang Gempa M7.4

Published

on

By


15 Desember 2021


“Orang-orang panik lari berhamburan, itu di Sikka,” kata Ani.


Oleh: Parangsula


TEROPONGALOR.COMMINGGUS punya cerita tersendiri tentang gempa di koordinat 7.59° lintang selatan dan 122,26° bujur timur, dengan pusat gempa bumi berada pada 112 kilometer arah barat laut Larantuka, Flores Timur, dengan kedalaman 12 kilometer. “Gempa NTT, bapa. Saya baca berita tidak ada tsunami. Tapi, orang-orang di kampung saya was-was, meski posisi kampung saya jauh. Masih ada satu malam pelayaran dengan kapal laut dari Larantuka ke Kalabahi,” tutur Minggus.

Tercatat menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bahwa ada 346 rumah rusak dan 770 warga mengungsi akibat gempa. “Selain tempat tinggal penduduk, gempa merusak tiga gedung sekolah, dua tempat ibadah, satu rumah jabatan kepala desa, dan satu pelabuhan. Menurut Abdul Muhari, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, daerah yang paling banyak melaporkan kerusakan bangunan adalah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Sebanyak 770 orang pengungsi dilaporkan BPBD Sikka, NTT. Rinciannya, 320 orang mengungsi di Kantor DPRD Sikka, 150 orang di Gedung SIC dan 330 lainnya berdiam di aula rumah jabatan Bupati Sikka.” Seperti itu diberitakan TEMPO, 15 Desember 2021.

Ani, perantau dari Maumere, bertutur kepanikan karena gempa. “Oom Tio, rumahnya di Larantuka, retak. Bagian belakang rumah dan dapurnya sudah turun ke bawah, untung saja dia dan keluarganya sudah pindah ke Kupang. Kemarin dia telepon, tanya jangan-jangan ada keluarga di Bonerate yang terkena dampak,” ujar Ani. “Biasanya, kalau pulang ke Maumere, kapal yang kami tumpangi mampir di Bonerate,” tambah Ani.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami di wilayah Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Kemarin, peringatan tsunami itu kemudian diakhiri, dan pengumumannya disampaikan BMKG lewat konferensi pers. Peringatan resmi dicabut pulul 13.24 WITA. Masyarakat kemudian beraktivitas seperti biasa. (*)

Continue Reading

Berita

S.O.B Law Investigation – Andi Jamal: Penjarakan Mafia Tanah

Published

on

By

14 Juni 2021


Oleh: Jefriar Dunda
Biro Sulawesi Selatan


TeropongAlor—  Somba Opu | PEMBERANTASAN praktik mafia tanah di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terus didesak. Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan beberapa kali pertemuan dan membahas langkah strategis, di antaranya DPP LSM Gempa, Yayasan Bantuan Hukum Kompak Indonesia, Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia di Gowa dan Sulawesi Selatan, dan Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Pemantauan tim redaksi hingga 14 Juni 2021, desakan lembaga swadaya itu dinyatakan dalam bentuk spanduk yang dipasang di sejumlah titik seputaran Tombolo dan Somba Opu. “Telah berduka rakyat Gowa atas matinya penegakan hukum tentang pemberantasan mafia tanah di kabupaten Gowa. Ingat ketegasan Kapolri untuk memberantas mafia tanah, jangan gadaikan keadilan untuk rakyat, para mafia tanah wajib dihukum dan dipenjara, begitu juga oknum yang membekinginya.” Demikian spanduk yang dipajang Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Spanduk adalah bentuk protes dan interupsi masyarakat terhadap aparat yang tidak bekerja maksimal, dan diduga bersandiwara. “Sejauh ini permintaan penindakan kepada oknum penyidik dalam kasus mafia tanah, terindikasi membekingi terlapor pengguna surat palsu dengan cara membuat keterangan palsu dalam SP2HP yang dijadikan alasan penghentian penyelidikan. Perintah pimpinan hanya boleh efektif bila pemberantasan kejahatan hukum dimulai dari jajaran institusi yang mengawal hukum, bukan justeru mengincar pihak lain. Ini namanya bersandiwara,” kata Padeng Gervasius, SH, menyinggung tuntutan masyarakat untuk memberantas mafia tanah di Gowa.

Pasca-Rapat Dengar Pendapat yang sudah digelar DPRD Gowa, 04 Mei 2021, silam, tuntutan pemberantasan mafia tanah kian menguat di Gowa, utamanya menyorot mekanisme pembatalan sertifikat cacad hukum administratif dalam penerbitannya sebagaimana diatur dalam Pasal 110 jo. Pasal 108 ayat (1) Permen Agraria/BPN 9/1999. “Tuntutan kami jelas, cabut dan batalkan dokumen yang diterbitkan BPN Gowa yang cacad administratif. Ada regulasi tentang pembatalan. Permohonan dapat dilakukan jika diduga terdapat cacat hukum administratif dalam penerbitan sertifikat itu sebagaimana diatur Pasal 106 ayat (1) jo Pasal 107 Permen Agraria/BPN 9/1999,” tutur Amiruddin SH Kr. Tinggi, dari DPP LSM Gempa. (*)


Hak jawab selalu diberikan kepada semua pihak bila pemberitaan bertolak belakang dengan fakta dan data.


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com