Connect with us
no

Daerah

Alor Star, Alor, dan Amon

Published

on

14 Juli 2020


Oleh: Daniel Kaligis


Alor seumpama mengeja alir, deras dan terus mendebar.


DI SANA, negeri Kedah di Malaysia, ternama karena sejenis pohon buah kuning kemerahan, bueya micropholia. Itulah Alor Setar, masyur sebagai Alor Star, negeri sang Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj, Perdana Menteri Malaysia Pertama.

Nun di sana, di Malaysia, negeri tetangga Indonesia. Jangan lupa, nama Alor ada di sini, di Indonesia. Menilik Indonesia, nama Alor sekarang itu tersirat erat dengan ‘Amon’, sang Pemimpin yang punya visi tentang Alor dan kerakyatan.

Seperti deras sejarah, Alor punya catatan panjang. Di sini, Alor, di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Sejarah selalu mengulang perjumpaan di suatu masa, dan senja jingga memantul laut berkaca awan-awan elok: tertera sajak adalah api masa silam manakala gelombang menepi berulang hari ini. Lalu badai, derai kenangan, armada Victoria jauh di teluk. Antonio Pigafetta, ilmuwan dan penjelajah Venesia itu memandangi payung-payung anyaman pandan ada pada pulau-pulaumu — Januari 1522.

Alor Star di Malaysia punya Rekreasi Medan Peremba, Rekreasi Medan Merdeka, Taman Jubli Perak, Taman Jubli Emas, Taman Persisiran Tanjung Chali, dan Taman Persisiran Sungai Kedah.

Alor di Nusa Tenggara Timur – punya kemilau ‘mutiara’ di Indonesia. Tercatat, point interest wisatanya memang kemilau, laut sebening kaca, derai gelombang dihentar angin, terumbu karang dan biota laut yang memesona, membikin potensi laut Alor dikenal dunia. Taman laut Alor bersaing dengan point interest Kepulauan Karibia yang bersebelahan dengan Samudera Atlantik, di tenggara Teluk Meksiko.

Sebegaimana diketahui, bila anda datang ke Alor, anda akan berkenalan dengan delapan belas titik selam yang disebut Baruna’s Dive Sites at Alor, yakni: Baruna’s Point, Never-Never Wall, Cave Point, Barrel Sponge Wall, Mola-Mola Point, Night Snacks, Alor Expree yang dikenal juga sebagai Alor Dreaming, Rocky Point, Three Coconuts, Moving Pictures, Eagle Ray Point, Rahim’s Point, Tuna Channel, Anemone Country, Sharks Reeway, Octopus Garden, Captain’s Choice, dan The Refrigerator.

Selintas Alor, wilayah kepulauan di Nusa Tenggara Timur yang eksotik dalam Indonesia, menghias jalur pembangunan, lingkungan, budaya, ekonomi, dan pelayaran dagang internasional menuju Samudera Pasifik dan dunia.

Sedari 10 Juli 2020 saya ada di Alor. Mendatangi sejumlah point, gunung, hutan, pantai, setapak, jalan-jalan. Sejak tiba di bandara Mali, menyusur kota, sudah menikmat debur gelombang di pantai. Orang-orang berkisah pemanggil Dugong, bercerita panjang lebar tentang Moko dan upacara adat, Deere, Maimol, Mali.

Senin, 13 Juli 2020, saya bersua ‘Amon’, lengkapnya Drs. Amon Djobo di ruangnya, Jl. El Tari Nomor 10, Mutiara, Teluk Mutiara – Alor. Dia, Amon, mengutip visi, bahwa komitmen Pemerintah Kabupaten Alor dalam prioritas pembangunan daerah untuk wujudkan masyarakat kenyang, sehat dan pintar. Kenyang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dasar masyarakat melalui optimalisasi pembangunan sektor ekonomi – penguatan sktuktur pangan, kedaulatan pangan, dan seterusnya. Soal kesehatan, gizi buruk, menaruh perhatian pada kesehatan perempuan hamil dan bayi, serta jangkauan pelayanan kesehatan hingga daerah terpencil.

Amon bicara tentang cara. “Hal-hal ini yang saya kerjakan bersama rakyat yang menurut saya adalah filosofi hidup berkerakyatan dan berkemanusiaan. Pemimpin ada karena rakyat. Itulah sebabnya saya selalu menegaskan, bahwa orang kecil juga boleh jadi pemimpin, hansip saja boleh jadi bupati. Kita tidak butuh orang pinter untuk jadi pemimpin. Kita membutuhkan pemimpin yang merakyat dan dekat dengan rakyat,” kata Amon bersemangat.

Banyak soal yang dibahas pada ketika yang ringkas, dan ingin kembali bersua. Saya belajar mengakrabi Alor, petakan di Indonesia yang secara geografis berada di antara 125°48″ – 123°48″ Bujur Timur dan antara 8°6″ – 8°36″ Lintang Selatan.

Seraya mengingat bahwa, pemikiran dan pengetahuan pernah terkurung, atau sengaja dikerangkeng. Padahal, sedari dulu ingin menyinggahi di Alor. Saya membaca sejumlah situs, mengumpul data sekunder tentang Alor. Mengulang beberapa pertanyaan terkait soal kerakyatan dan pembangunan yang ada di Alor yang ‘katanya’ soal-soal itu terkait hal berkualitas, mandiri, produktif, sejahtera, sebab ada pemerintahan bersih berwibawa, berorientasi pada kepentingan rakyat ada di Alor. Sudahkah hal itu terwujud? Sementara berproses tentunya.

Di Takpala saya menanyai Novi yang lagi memesak di bale-bale dalam area Falafoka, yaitu rumah gudang. Ata bermain di sekitar Novi. Di halaman Takpala, Martinus Kafelkay mengajari saya memegang busur dan anak panah, menawari saya mengenakan busana tari perang seraya bertutur tentang Kapitang, sang Tama yang ahli berperang. Kami melinting tembakau, Martinus dan saya mempermainkan asap, saya lalu bertanya tentang ‘Amon’, Martinus menjawab saya dengan senyum lebar, “Iya, iya, dia sang pemimpin Alor.”

Ngobrol dengan Martinus seperti mengulang derap serdadu-serdadu menemu puing. Perang nan kelam sudah usai. Larra, Wulang, Neda, Addi, Hari, bahwa kita masih punya catatan teramat panjang untuk visi di Alor ke depan.

Saya mengutip komitmen pemerintah dalam prioritas pembangunan daerah untuk wujudkan masyarakat kenyang, sehat dan pintar. Kenyang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dasar masyarakat melalui optimalisasi pembangunan sektor ekonomi – penguatan sktuktur pangan, kedaulatan pangan, dan seterusnya. Soal kesehatan, gizi buruk, menaruh perhatian pada kesehatan perempuan hamil dan bayi, serta jangkauan pelayanan kesehatan hingga daerah terpencil. Berikutnya soal ‘pintar’. Soal ini yang saya singgung pada paragraf pembuka sebagai ‘belajar’. Iya, itu dia, belajar dan terus menguatkan pembangunan mewujud Alor kenyang, sehat, pintar.

Saya mengakrabi nama-nama, Aimoli, Alaang, Alila, Alila Selatan, Alor Besar, Alor Kecil, Ampera, Bampalola, Dulolong, Dulolong Barat, Hulnani, Lefokisu, Lewalu, O A Mate, Otvai, Pulau Buaya, Ternate, Ternate Selatan, Adang, Halerman, Kafelulang, Kuifana, Manatang, Margeta, Moramam, Morba, Orgen, Pailelang, Pintu Mas, Probur, Probur Utara, Tribur, Wakapsir, Wakapsir Timur, Wolwal, Wolwal Barat, Wolwal Selatan, Moru, Kelaisi Barat, Kelaisi Tengah, Kiraman, Kuneman, Lella, Maikang, Malaipea, Manmas, Padang Alang, Sidabui, Silaipui, Subo, Tamanapui, Kelaisi Timur, Alimebung, Dapitau, Fuisama, Fungafeng, Kafakbeka, Lakwati, Lembur Barat, Lembur Tengah, Likwatang, Manetwati, Nurbenlelang, Petleng, Tominuku, Welai Selatan, Belemana, Elok, Kolana Selatan, Maritaing, Maukuru, Mausamang, Padang Panjang. Aiiii, memang panjang yang harus saya hafal dan ingat.

Lanjut tentang nama-nama lokasi, desa dan kelurahan dalam Alor. Tanglapui, Tanglapui Timur, Kolana Utara, Air Mancur, Kamot, Kenarimbala, Lippang, Nailang, Pido, Taramana, Waisika, Alila Timur, Kopidil, Lawahing, Pante Deera, Kabola, Lembur Timur, Luba, Talwai, Tasi, Tulleng, Waimi, Kamaifui, Lakatuli, Mataru Barat, Mataru Selatan, Mataru Timur, Mataru Utara, Taman Mataru, Bana, Bandar, Baolang, Bouweli, Bukit Mas, Helandohi, Madar, Munaseli, Pandai, Wailawar, Kabir, Baraler, Baranusa, Blang Merang, Ilu, Kalondama, Leer, Piringsina, Allumang, Beangonong, Kalondama Barat, Kalondama Tengah, Kayang, Lamma, Marisa, Aramaba, Bagang, Delaki, Eka Jaya, Mauta, Muriabang, Tamak, Toang, Tubbe, Tude, Batu, Bunga Bali, Kaera, Kaleb, Lalafang, Lekom, Mawar, Merdeka, Nule, Ombay, Treweng, Maru, Pura Barat, Pura Selatan, Pura Tengah, Pura Utara, Pura, Kailesa, Langkuru, Langkuru Utara, Purnama, Adang Buom, Air Kenari, Fanating, Lendola, Motongbang, Teluk Kenari, Binongko, Kalabahi Barat, Kalabahi Kota, Kalabahi Tengah, Kalabahi Timur, Mutiara, Nusa Kenari, Welai Barat, Welai Timur, dan Wetabua.

Pagi, 14 Juli 2020, saya menuju Maritaing. Ada tiga jam perjalanan dari Kalabahi. Mampir ngopi di Padang Panjang di warungnya Herderina Maure. Di situ, Herderina ditemani anak-anaknya, Albertina, Herusty, Ferdinand, dan Rely. Saya tanya apakah mereka beroleh keuntungan dari pembangunan jalan di wilayahnya Herderina, berapa kira-kira yang ia dapat dari menjual kopi dan jajanan di warungnya, apakah dia mengenal pemimpin di daerahnya. Ringkas Herderina, “Ada keuntungan dari warung kopi,” ujarnya. Dia juga cerita tentang lokasi di mana ia berjualan yang disebut Bukit Gundul, Padang Panjang.

Hingga sore masih di Maritaing, terik matahari, tumbuhan khas pantai, kerikil, jembatan yang menjurus ke laut, Timor Leste yang terhalang kabut, gelombang memecah. Presiden Indonesia, Jokowi, lewat kementerian terkait, berencana membangun Pos Lintas Batas Negara di Maritaing, nanti medio 2021.

Di Paliboo, saya belajar menutur Belagar, Denebang, Deing, Mauta, Lemma, Alor, Kabola, Abui, Kawel, Kemang, Kelong, Maneta, Wuwuli, Seboda, Malua, Kramang, Wersin, Kui. Vicky, kawan saya, punya banyak tutur tentang peradaban yang tersimpan ratusan tahun silam di sini.

Dia mengulang tentang Moko dan berbagai kegamangan isu. Kami menyusur tepian seraya mengambil gambar, membiarkan air asin menampar bekas jejak di pasir.

Ketika matahari turun, Drs. Amon Djobo menanyai saya, “Apa yang saya jumpai di Alor.” Saya bilang, ada sejumlah hal menarik, dan tidak cukup dalam satu artikel saja, tentang Alor dan Nusa Tenggara Timur.

Selintas Alor Star, Alor, dan Amon. Artikel ini akan bersambung tentang point-point menarik yang masih tersimpan di Alor.

Dunia di luar sana ada dalam kita. Kita semua, belajar dari pengalaman. Buka mata pada semesta, dari pengalaman dan belajar kita jadi mengerti ternyata perubahan adalah sesuatu yang kekal di alam. Dunia terus berbenah, belajar dari sejumlah pengalaman. Sebab ia, Alor, tanah di mana cita-cita terus bergelut dengan sejumlah realita, menemu berbagai keajaiban yang terus dikerjakan bersama rakyat. Di sana, di Alor. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

S.O.B Law Investigation – Andi Jamal: Penjarakan Mafia Tanah

Published

on

By

14 Juni 2021


Oleh: Jefriar Dunda
Biro Sulawesi Selatan


TeropongAlor—  Somba Opu | PEMBERANTASAN praktik mafia tanah di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terus didesak. Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan beberapa kali pertemuan dan membahas langkah strategis, di antaranya DPP LSM Gempa, Yayasan Bantuan Hukum Kompak Indonesia, Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia di Gowa dan Sulawesi Selatan, dan Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Pemantauan tim redaksi hingga 14 Juni 2021, desakan lembaga swadaya itu dinyatakan dalam bentuk spanduk yang dipasang di sejumlah titik seputaran Tombolo dan Somba Opu. “Telah berduka rakyat Gowa atas matinya penegakan hukum tentang pemberantasan mafia tanah di kabupaten Gowa. Ingat ketegasan Kapolri untuk memberantas mafia tanah, jangan gadaikan keadilan untuk rakyat, para mafia tanah wajib dihukum dan dipenjara, begitu juga oknum yang membekinginya.” Demikian spanduk yang dipajang Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Spanduk adalah bentuk protes dan interupsi masyarakat terhadap aparat yang tidak bekerja maksimal, dan diduga bersandiwara. “Sejauh ini permintaan penindakan kepada oknum penyidik dalam kasus mafia tanah, terindikasi membekingi terlapor pengguna surat palsu dengan cara membuat keterangan palsu dalam SP2HP yang dijadikan alasan penghentian penyelidikan. Perintah pimpinan hanya boleh efektif bila pemberantasan kejahatan hukum dimulai dari jajaran institusi yang mengawal hukum, bukan justeru mengincar pihak lain. Ini namanya bersandiwara,” kata Padeng Gervasius, SH, menyinggung tuntutan masyarakat untuk memberantas mafia tanah di Gowa.

Pasca-Rapat Dengar Pendapat yang sudah digelar DPRD Gowa, 04 Mei 2021, silam, tuntutan pemberantasan mafia tanah kian menguat di Gowa, utamanya menyorot mekanisme pembatalan sertifikat cacad hukum administratif dalam penerbitannya sebagaimana diatur dalam Pasal 110 jo. Pasal 108 ayat (1) Permen Agraria/BPN 9/1999. “Tuntutan kami jelas, cabut dan batalkan dokumen yang diterbitkan BPN Gowa yang cacad administratif. Ada regulasi tentang pembatalan. Permohonan dapat dilakukan jika diduga terdapat cacat hukum administratif dalam penerbitan sertifikat itu sebagaimana diatur Pasal 106 ayat (1) jo Pasal 107 Permen Agraria/BPN 9/1999,” tutur Amiruddin SH Kr. Tinggi, dari DPP LSM Gempa. (*)


Hak jawab selalu diberikan kepada semua pihak bila pemberitaan bertolak belakang dengan fakta dan data.


Continue Reading

Daerah

Proyek Panik Pandemi

Published

on

By

Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.

04 Maret 2021


Oleh: Daniel Kaligis


Torang manyanyi: love is all that I can give to you, love is more than just a game for two . . .
Sudah dicatat: Global financial crisis, billions of human beings living below the poverty line, thousands dying needlessly from war, malnutrition or easily curable diseases and thousands more dying. Maar, history pernah dibongkarbangkir semau mindset orde…


ILUSI berlayar dalam badai, pandemi ini perang. Walau, kita coba menelisik pertalian soal hari ini dari benang merah persoalan kusut hari silam. Jawabnya bias dan ngambang.

Suraro, serdadu, tentara. Lelaki penempur itu berkisah pada saya — cerita tentang suatu masa. Siapa dia? Babad apa? Tidak penting, sebab perang masih berlangsung sekarang. Persaingan bisnis. Pergulatan kata. Kuasa cari perhatian. Ulangi, pandemi ini perang.

Dengar tuturnya. “Bekas suraro, bahkan ada yang nda pernah dapa doi pension, kong boleh jadi dorang nda pernah dipensionkan negara yang bergelut dengan sistem dan perpolitikan menelantarkan sejumlah perkara rakyat sampe sekarang. Torang boleh bilang, masa silam adalah neraka pergolakan. Battalion-battalion, kompi-kompi, rancang strategi baku lawang pangmalawang baku hajar. Dinding berkuping, bicara sembarang ditahan, manusia memangsa manusia.” Begitu bacirita dengan oma Keke, puluhan tahun lalu soal perang sudara yang berkobar di tanah Sulawesi dan di sejumlah daerah.

Saya parafrase: La Estoriê 03 March1857 — Prancis dan Britania Raya menyatakan perang terhadap Cina — 1878 —  Bulgaria merdeka dari Ottoman — 1918 —  Jerman, Austria, Rusia menandatangani Traktat Brest-Litovsk hentikan keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia Pertama. Pada ketika sama, Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia beroleh kemerdekaan. Catatan perang yang usang, 2020.

Entah ada pertaliannya: perang seiring pandemi, tahun-tahun jadi pengalaman, ditutur berulang-ulang. Dilupa karena kesusahan dan kesenangan: Medio 1918 ada Flu Spanyol. Siddharth Chandra, PhD, direktur di Michigan State University, dalam penelitiannya terkini terkait Flu Spanyol, menyebut bahwa di daerah Jawa dan Madura, ada lebih kurang 4,37 juta korban jiwa dari penduduk yang berjumlah sekitar 60 juta orang saat itu. Demikian diberitakan detik.com.

Apa maunya pandemi? Menjaga jarak sudah dari dulu. Namun, persaingan bisnis mengendap-endap. Berita, semacam pelintir-pelintir segala syarat berpergian. Setelah terkurung, apakah rakyat terus akan disuapi makan-minumnya oleh negara? Mustahil.

Virus berusia tua, pernah dianggap enteng, dikira renta. Lalu, ketika takut menyerang, menyamar baru, mengancam mati, kejam dalam kelam sosialisasi: asumsi dan persepsi, entah cocoklogi, tapi sudah ada sejumlah korban.

Kembali pada ilusi perang: Waktu berganti di hari sama lima tahun silam, dengan sejumlah kawan mendiskusikan perang. Saya berbagi video mesin perang canggih di media sosial, kawan-kawan menanggapi. “Prihatin pada hasrat menggelora. Cakar, taring, serta raung bagai anjing liar-anjing liar berebut tulang,” ujar kawan dari Wanua, Geovani Nomura Iskar.

Tentang mesin perang – yang dalam asumsi saya – itu adalah senjata canggih, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan America sudah punya something similar. Kalau ini punya Israel, aku gak kaget lagi,” ujar kawan yang bermukim di London itu.

Hari sama di tahun beda, 2012. Saya menera kutipan, Book of Nature: and when all the pretty blossom had fallen from our branches, we found that we were one tree, and not two. Dari depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, di situ, menerawang awal kemarau nan manja. Metafora airmata di baris terujung tawa gemasmu. Tandus makin berbekas di carang-carang meliar, bianglala pudar di pangku kabut. Ilusi kita berlayar dalam badai.

Perang Asumsi Persepsi

Perang membikin carang-carang patah. Rakyat, seperti carang. Bagaimana? Patah arang. Berapa tahun silam kawan-kawan masih boleh melancong ke mana-mana, boleh menikmat jajan alamiah dari rak-rak pedagang kecil, belanja dari lapak di sudut-sudut persimpangan. Mudah beroleh penawar generic di tengah bombardemen iklan apa saja.

Hari itu di 2012, depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, saya ngobrol virtual menjawab Nita Tjindarbumi dari Jakarta. Katanya, “Belum dua puluh empat kunikmati kesendirian ini, setelah usai kisah kita, kini aku menghadapi sebuah tawaran manis yang sulit untuk kutampik. Ah, cinta ternyata tumbuh di mana-mana meski kadang di tempat yang salah. Oh, tentu saja kita akan bisa menemukan pembenaran atas kekeliruan yang masih bisa kita carikan jalan keluarnya. Selamat datang cinta. Ini kisah cinta baruku, bagaimana kisah cintamu Aj Boesra, Sandra Palupi, Novline Lidia, Daniel Kaligis, Evert Maxmillan Pangajouw, Ria Tjindarbumi, Sari Wiryono, Anastasya Bee, Dima Here Wila, Gyanthie Widjajanto, dan semua teman pesbukku lainnya? Happy week end.” Seperti itu Nita mengajak kawan-kawan berdiskusi.

Sandra Palupi bilang, “Cintaku aman-aman, dan berusaha kunikmati. Seperti berada di gelayut roller coaster kata Bon Jovi, menikmati apapun.”

Menjawab Nita, Aj Boesra sebut, “Cintaku di ujung Papua.”

Kata bersambut kata. Aj Boesra menuding capital letter yang dilontar Karjo Aduhai: “cinta itu buta”, berhuruf besar pangkal ke ujung kalimat itu, menanggap cerita Nita. Padahal, Karjo sebutkan yang mana dia mengutip ujaran, dalam mana – ujaran itu adalah fakta dalam hidup manusia.

Duhai, senandung sajak-sajak disambung pertikaian kata. Aj Boesra kian meradang.

“Karjo ya? Mataku masih awas. Ga perlu nulis gede-gede kayak baru punya laptop. Anak muda mau pamer,” ketus Aj Boesra. Ditimpali Nita, “Karjo, ngapain pake kapital, gak sopan banget tuh!”

Huruf besar jadi tertuduh. Asumsi mengalir. Perang, mungkin saja membesar.

Saya bilang dalam renung sunyi ketika itu, “Cinta berkelahi. Cinta berasumsi. Cinta persepsi. Perang bersetubuh dengan kata dan tafsir. Sambal meneguk Dima Here Wila yang menjawab Nita Tjindarbumi:

“Ah, bagaimana mungkin kau bilang mencintai aku. Kau terlalu asyik dengan dirimu sendiri. Kau begitu sibuk dengan pekerjaan dan teman-temanmu.”

Kental, mengalun cerita cinta Dima Here Wila:


Jika benar, kau mencintai aku, seperti yang kau bilang
Mungkin aku tak akan selalu sendirian menjalani hari-hariku.
Aku merasa kau semakin jauh.

Aku tak mengenalmu lagi, kau asing bagiku.
Seolah-olah kau sengaja berlari menjauh meninggalkan aku.

Mungkinkah kau mencintai aku, sedang kau tak pernah menghabiskan waktu bersamaku?

Hari-hariku sepi tanpa gelak tawamu.
Hari-hariku lewat tanpa godamu.
Hari-hariku berlalu tanpa dirimu.
Tanpa cintamu.

Dan aku masih sendiri tanpa kepastian.
Tapi sungguh, aku menikmati kesendirianku.

Jadi, jangan datang dengan kata-kata cinta semu-mu.
Karena bagiku, cinta adalah kebersamaan kita.
Tertawa bersama.
Bercanda dan gurau bersama.
Melewati hari bersama.

Dan aku akan tetap menikmati hari-hariku,
walau sendiri tanpa cintamu.
Tanpa dirimu.


Saya malah panik membaca sajak-sajak. Dalam jiwa terantuk perseteruan tafsir. Asumsi menjalar, meliar. Lalu, malam seakan persepsi gulita di rimba belantara, gelap Wanua yang jauh di pelosok. Di kota-kota dunia, cahaya menembus tulang siang malam benderang. Hati kelam.

Masih meresap sajak Dima: “Cinta itu ajaib, ini kisahku, mbak Nita. Berharap anda menikmati akhir pekanmu bersama keluarga,” kata perempuan yang menetap di Kupang, Nusa Tenggara Timur itu.

Uang dan Mesin Perang

Hari berganti, tiga, empat, lima, putaran masa. Tahun berlalu. Asumsi dan fakta, jutaan orang mati karena perang. Boleh tahu berapa yang mati karena asumsi? Sebuah kutipan di halaman World without Wars and Violence, “Stockholm International Peace Research Institute — at 15 April 2013, announced that the year 2012 saw an estimated US$ 1.750.000.000.000 spent on weapons and the military machine.”

Hey Dima Here Wila, I’m sorry, saya tidak mengabari. Berapa kali saya datangi Kupang, Soe, Kefamenanu, Timur Tengah Selatan, Oelfaub, Wini. Melayari Sunda Kecil. Memotret laut, nelayan, dan takjub pada alir samuderamu. Jangan-jangan proyek-proyek juga menjadi perang di situ.

Waktu. Semua berubah, namun kenang — sistem yang kita jalani saat ini rusak. Seperti itu persepsi saya. Mungkin sistem tak dapat diperbaiki, sebab dalam praksis sistem, manusia tak menghargai kehidupan manusia. Sistem hanya menghargai materi dan orang-orang yang punya uang.

Terkenang nama, ‘Soe – Kefamenanu – Oelfaub’ itu nama proyek jalan di Nusa Tenggara Timur. Saya pernah melintasinya. Jalan dikerjakan pada tahun anggaran 2019 – 2020. Pemberitaan di daerah pernah meliputnya. Boleh baca berita yang ditulis Petrus Usboko di timexkupang.com, 21 Agustus 2020.

Orang-orang sibuk sosialisasi. Pandemi, sebagian ada di titik realokasi. Panik sebab pemberitaan. Mesin perang mungkin saja dalam bentuk yang lebih lembut semacam protokol yang menarik sejumlah rupiah dengan keuntungan berlipat-lipat, dan ada di raut kita yang hilang identitas.

Berapa waktu lalu, saya video mesin perang, dan berujar di status media sosial, bahwa, ke depan, uang dan sumberdaya akan terus berhambur untuk mencipta dan membeli mesin perang. Menanggap video itu, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan Amerika sudah punya something similar. Kalo ini punya Israel aku gak kaget lagi,” kata kawan yang bermukim di London, England itu.

Geovani Nomura Iskar, kawan saya dari Wanua menanggap, “Prihatin dengan hasrat yang menggelora. Cakar-cakar, taring, serta raung bagai anjing-anjing liar berebut tulang.”

Ini soal yang bikin Altje Wantania bertanya, “Apakah perang memang harus selalu diselesaikan dengan perang?”

Semestinya, perang jangan dijawab perang. Walau adab purba masih dipelihara: perang dibayar perang dan kelihatannya seperti tak pernah akan lunas.

“Ketika perang dibayar perang, kematian dibalas kematian, punahlah kehidupan,” tegas Altje Wantania.

History dendam berujung sia-sia: perang hari ini melawan ego dan keserakahan diri.

Saya mengulang lamunan sambal menembang The Night Watch: halaman senja, malam mengendus tiap aromamu lebih kelam dari yang pernah dikenang dalam ingatan, angin mengusik rambutnya terurai. digesek biola, melody merasuki lorong-lorong, ia bernyanyi: anak-anak dibesarkan dalam prasangka, seperti perempuan-perempuan miskin yang tak punya pilihan; duhai jejak-jejak rindu, senyummu gelisah, kawan di masa silam, mata serupa luna malam ini, bertengger di pucuk gelap, dan kabut memutih basah oleh cahaya.

Tahun silam membaca tulisan Linda Christanty, bertarik 05 April 2020, Tiada ‘Kebetulan’ di Dunia. Saya mengutip tiga baitnya untuk anda:

“Perang di dunia obat-obatan ataupun farmasi sebenarnya sama kejamnya dengan perang yang menggunakan senjata pemusnah massal. Perang ini cukup sunyi dan tersembunyi, tetapi uniknya media tanpa sengaja terkadang membantu kita untuk mengetahui bocorannya.”

“Obat-obatan untuk penyakit-penyakit tertentu telah ditemukan misalnya, tetapi para penemunya dibunuh dan penemuan-penemuan itu kemudian tidak berbuah menjadi produk penting untuk menyelamatkan nyawa banyak manusia.”

“Ada pil yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, harganya murah dan efek sampingnya tertanggungkan, tetapi  tiba-tiba ada orang yang mendukung pemberian vaksin yang efek sampingnya masih misterius.”

Aktivis perempuan itu menyebut, bahwa pandemi yang terjadi sekarang ini sayup-sayup menyuarakan ‘sudah saatnya uang tunai tak lagi digunakan’, karena pertukaran uang kertas dan koin menjadi sarana pemindahan virus. Orang-orang yang tidak punya cukup uang di bank akan mati lebih cepat, oleh virus dan perkembangan teknologi.

Laste

Persitiwa hari ini dapat ditarik pertaliannya dari kejadian-kejadian kecil, yang mungkin saja luput dari perhatian khalayak.

‘Proyek Panik Pandemi’ hanya judul, mestinya ditera dengan tanda tanya. Tafsir. Huruf-huruf kapital mengundang asumsi, pada sub judul ‘Perang Asumsi Persepsi’ saya coba mengulas sedikit tentang tafsi. Orang-orang menyusun, mengenali, dan menafsir informasi sensoris guna memberi gambaran pemahaman tentang prilaku dan tentang segala bentuk informasi yang mereka peroleh di lingkungan sekitarnya. Termasuk tentang tontonan dan media.

Menakala mengedit tulisan Linda, saya memilih kalimat ini: “Seorang bekas mata-mata menulis pesan di media sosialnya: ‘Kapan burung bernyanyi? Di musim semi.’ Pesan ini tidak bermakna apa-apa bagi orang-orang yang selalu memperlakukan berita atau tulisan di media sebagai surat dari orangtua mereka. Tetapi bagi mata-mata lain atau koleganya, pesan ini sebuah sandi.”

Apalah perang, garang menyerang. Bumi, alam semesta, satu-satunya lokasi di mana orang-orang menetap. Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik, damai.

Krisis global, ketakutan miliaran manusia hidup di bawah garis miskin. Mindset di-drive, sejumlah isu. Namun, enyahkanlah panik. Kita butuh jawaban dari sejumlah soal. Kita butuh informasi yang mendidik dan membuka cara pandang.

Ulangi: Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik damai. Berdamai dengan asumsi. Berdamai dengan persepsi. Berdamai dan bercintakasih dengan sesama.

Mari berdamai. (*)


Gambar: Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.
Sumber gambar: iedunote


Continue Reading

Alor

C-19: Alor Kian Pulih

Published

on

By

02 Maret 2021


Data Penyebaran Nasional


Sumber Gambar: Satuan Tugas Penanganan COVID-19


Liputan: Tim Redaksi


Kalabahi — teropongalor.com SECARA Nasional, pasca-Covid-19, keadaan semakin membaik oleh upaya berbagai pihak. Pemerintah, dalam hal ini di ibukota negara, sebagaimana dipublikasikan Kementrian Kesehatan RI, saat ini sedang berlangsung vaksinasi Covid-19 Tahap Dua dengan prioritas sasaran Lansia ber-KTP DKI Jakarta. Sebagaimana diberitakan, lansia yang akan mendapatkan Vaksinasi Covid-19 dapat mengisi formulir pendaftaran melalui dki.kemkes.go.id. Setelah mendaftar para Lansia diharapkan dapat menunggu pesan notifikasi dari Puskesmas atau RSUD terkait lokasi dan penjadwalan vaksinasi, sebelum berkunjung ke fasilitas kesehatan untuk menghindari kerumunan.

Sumber Gambar: Satuan Tugas Penanganan COVID-19


Di Kabupaten Alor, Pemerintah terus melakukan upaya pencegahan dan ternyata berhasil. Data yang dihimpun Satuan Covid-19 hingga hari ini, Selasa, 02 Maret 2021, dari 107 yang terkonfirmasi Covid-19, sudah 92 orang dinyatakan sembuh. “Secara keseluruhan kita di Alor ada banyak kemajuan dalam penanganan Covid-19. Jadi, masih ada tersisa 7 orang melakukan isolasi mandiri, dan 2 orang dalam perawatan. Kami pemerintah tetap ketat menerapkan protokol kesehatan,” kata Sekda Alor, Drs. Soni O. Alelang, ketika ditemui tim redaksi teropongalor.com di ruang kerjanya.

Alelang, yang juga adalah Wakil Ketua Tiga – Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Alor, mengharapkan dalam waktu dekat Alor sudah terbebas dari pandemi. “Kami mengharapkan semua masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan, dan Aparatur Sipil Negara kiranya menjadi garda depan dalam upaya bersama memutus rantai penyebaran virus.” (*)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com