Connect with us
no

Opini

Asal Usul Corona

Published

on


Oleh: Babo EJB


Sebuah Diskusi Revolusi Mental

SAYA bertemu dengan dia dalam suasana santai. Walau Jakarta mencekam. Karena ada himbauan pemerintah agar orang lebih baik tinggal di rumah untuk terhindar dari penyebaran virus corona. Himbauan ini bagian dari gerakan menjaga jarak sosial atau social distance, yang katanya efektif menghindari penyebaran COVID-19.

“Virus itu diciptakan oleh Amerika Serikat,” katanya.

“Kamu sedang berteori,” kataku tersenyum.

Saya termasuk orang tidak pernah percaya dengan teori konspirasi. Namun saya percaya politik penuh dengan konspirasi. Sebuah cara persekongkolan sekelompok orang dalam merencanakan sebuah kejahatan yang dilakukan dengan rapi dan sangat dirahasiakan.

Saya mencoba melakukan desk research terhadap COVID-19 ini.  Sekedar untuk mengetahui dari mana asalnya dan mengapa bisa muncul, dan akhirnya menjadi berita heboh yang mencekam.

“Wow, hebat kamu.”

Dalam dunia yang serba terbuka saat sekarang ini, adalah konyol kalau kita bergantung dengan berita media utama.

“O.K-lah! Apa yang kamu ketahui? Aku mau dengar.”

“Yang pasti Virus itu bukan berasal dari China.”

“ Jadi, dari mana?”

Satu satunya Lab yang punya sample Virus hidup dengan lima jenis gen adalah Bio-Lab militer Amerika Serikat di Fort Detrick, Maryland. Itu sangat mungkin tercipta virus baru. Sementara Lab Wuhan di China hanya punya satu sample jenis virus, yang tak mungkin bisa melahirkan varietas virus baru.

“O.K. Bagimana kamu bisa simpulkan itu?” tanya saya seraya mengerutkan kening.

Itu yang ngomong ahli epidemiologi dan farmakologis Jepang dan Taiwan. Mereka bilang corona virus baru berasal di Amerika Serikat.

“Gimana mereka sampai ngomong seperti itu?

“Itu berdasarkan fakta.”

Pada agustus 2019, dokter dari Taiwan mencatat. Ada pasien di Amerika Serikat menderita pusing dan sesak napas. Dia menulis laporan kepada kepada pejabat Amerika Serikat. Bahwa penyebab kematian pasien itu diduga karena virus corona. Tetapi peringatan itu diabaikan oleh pejabat Amerika.

“Terus…”

Pada September 2019, Warga Jepang di Hawai terinfeksi virus corona. Padahal dia belum pernah ke China. Artinya infeksi ini terjadi di Amerika Serikat jauh sebelum terjadi wabah di Wuhan. Berdasarkan data agustus 2019, kematian pasien akibat virus itu sekitar sepulu ribu orang di dua puluh dua negara bagian Amerika Serikat.

“Loh katanya yang saya baca dari media massa itu flu Amerika yang menyerang perokok Vaping”

“Itu ulah propaganda dari konglomerasi Pabrik Rokok.”

Mereka gunakan tangan American Medical Association untuk membunuh bisnis Vaping, dengan mengatakan bahwa penyebab kematian adalah aktivitas vaping dari rokok elektrik. Sehingga bisnis rokok konvensional tetap primodana.

“Yang aku tahu dari media massa, kan sebelum peristiwa kematian pasien itu, CDC, Centers for Disease Control and Prevention telah menghentikan bio-lab Militer Amerika Serikat di Fort Detrick, Maryland, karena tidak adanya perlindungan terhadap kebocoran pathogen,” kataku, mencoba membantah hubungan bio lab dengan keberadaan virus itu.

“Nah itu semakin memperkuat teori. Bisa jadi memang CDC sudah mengetahui terjadi kebocoran Lab itu. Makanya mereka tutup. Untuk cuci tangan.”

“O.K- lah! Tetapi aku masih belum bisa menerima teori kamu itu”

Selanjutnya, kamu perhatikan. Pada bulan oktober 2019, di media massa China, ada berita tentang pertandingan militer dunia atau the World Military Games (WMG). Ada lima atlit dari dua ratus atlit Amerika Serikat yang ikut dalam WMG dirawat di rumah-sakit di Wuhan.”

“Apa penyakitnya?”

“Terinfeksi virus.”

Tapi apa jenis virusnya, waktu itu belum diketahui kepastiannya. Event ini berakhir, tepat dua minggu sebelum kasus Wuhan merebak. Atau tepatnya awal November 2019. Nah, anehnya, pada waktu event WMG digelar, juga berlangsung event 201 di John Hopkins Center for Health Security di kampus Institut John Hopkins yang terletak di Baltimore, Maryland Amerika Serikat.

Ajang 201 tersebut disokong penuh oleh Bill and Melinda Gates Foundation, Big Pharma (GAVI) dan nggak ketinggalan World Economic Forum (WEF). Pada acara itu, diadakan simulasi latihan pandemi tingkat tinggi yang diberi kode nCov-2019. Simulasi tersebut menghasilkan 65 juta total kematian di seluruh dunia dan membuat pasar keuangan internasional ambles sekitar 15%.”

Sedikit paham. Tapi belum bisa masuk ke nalar saya.

“O.K.”

Dari media massa saya membaca artikel yang ditulis oleh  Daniel Lucey, seorang ahli penyakit menular di Universitas Georgetown di Washington. Ia mengatakan dalam sebuah artikel di majalah Science bahwa manusia terinfeksi pertama kali bukan di Wuhan tetapi tempat lain. Tetapi ada juga yang bilang pada pada 18 September. Yang pasti bukan berasal dari pasar seafood di Wuhan.

“Terus…”

Saya mulai penasaran. Makalah dari Daniel Lucey itu diperkuat oleh peneliti China dari China academy science. Dalam artikelnya  menyampaikan rincian tentang empat puluh satu pasien pertama yang dirawat di rumah sakit. Mereka positif terinfeksi apa yang disebut dengan novel coronavirus 2019 (2019-nCoV).

Pertama kali, pasien jatuh sakit pada 1 Desember 2019, dan tidak memiliki hubungan dengan pasar seafood. Data mereka juga menunjukkan bahwa, secara total, tiga belas dari empat puluh satu kasus tidak pernah ke pasar seafood.

Apa artinya? Walau sebagian besar memang punya catatan pergi ke pasar seafood, tetapi itu menunjukan penyebaran virus terjadi sebelum Desember. Pastinya November 2019 atau lebih awal.

“Masih belum memuaskan teori kamu,” kata saya.

Nih ada lagi laporan dari Kristian Andersen ahli biologi evolusi di Scripps Research Institute yang telah menganalisis urutan 2019-nCoV untuk mencoba memperjelas asal muasal virus corona. Dia mengatakan skenariomasuk akal adalah orang yang terinfeksi membawa virus ke pasar seafood. Jelas ya. Jangan dibalik.

Bukan seafood sebagai penyebar tetapi manusia. Menurut artikel Science, pada 25 Januari 2020, Andersen memposting di situs web penelitian virologi tentang analisisnya terhadap dua puluh tujuh genom 2019-nCoV. Dia menyimpulkan kelahiran Covid 2019 itu 1 Oktober 2019.

Kalau dilihat dari urutan acara World Military Games pada 18-27 Oktober, bisa jadi memang Covid 2019 itu sudah ada pada lima pasien lima atlit Amerika Serikat.  Dari sanalah awal penyebaran. Pasien nol Covid 2019 itu adalah kelima pasien asal Amerika Serikat itu di China.

“Setelah itu ada hari raya Imlek di China. Di mana terjadi eksodus besar-besaran orang kota ke desa untuk merayakan Imlek di kampung halamannya. Kerumunan orang banyak tak bisa dihindari. Intelijen  China cepat mengatahui akan serangan Covid 2019 itu. China tidak mau ambil resiko terjadi penyebaran virus corona meluas. Apalagi di saat musim dingin. Dengan cepat pemerintah China lockdown kota Wuhan,” kataku.

“Cobalah bayangkan. Andaikan China terlambat mengantisipasi itu, diperkirakan enam belas juta orang mati di Wuhan. Itu lebih dahsyat dari bomb atom Nagasaki-Hirosima, yang akhirnya memaksa Jepang takluk dalam perang dunia kedua. Kemungkinan kalau China gagal dalam perang melawan Covid 2019, China akan bernasip sama dengan Jepang. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Justru dengan adanya wabah ini, dunia tahu  siapa itu Amerika Serikat dan siapa itu China. Kini kebenaran menemukan jalannya sendiri,” katanya.

Bagaimana dengan Virus yang menyerang Iran dan Italia?

Hasil penelitian membuktikan bahwa varietas genom virus di Iran dan Italia, setelah diurutkan, ternyata tidak memiliki kesamaan dari varietas yang menginfeksi China. Artinya itu berasal dari tempat lain. Nah ini menyimpulkan bahwa penyebaran virus di luar China bukan berasal dari China.

Ini semakin membuktikan bahwa Virus Covide 19 itu memang di-create oleh manusia melalui rekayasa di Lab. Itu hanya mungkin Amerika Serikat. Karena hanya Amerika Serikat S satu satunya negara yang punya varietas lengkap virus untuk menciptakan satu varietas baru.

“Tapi berita media massa sangat bias,” kataku.

Memang benar. Bukan hanya Covid 2019, MERS awalnya diyakini berasal dari seorang pasien di Arab Saudi pada Juni 2012. Tetapi kemudian riset membuktikan MERS itu berasal dari Yordania. Kali pertama terkena virus pada bulan April tahun yang sama. Artinya kan bukan dari Arab tetapi dari Yordan.

Jadi kita harus hati hati membaca berita resmi. Bahwa media Barat selalu begitu bersemangat untuk memberitakan seperti kasus SARS, MERS, dan ZIKA, yang semuanya terbukti salah. Sama halnya, media Barat membanjiri berita berbulan-bulan tentang virus COVID-19 yang berasal dari pasar makanan laut Wuhan, yang disebabkan oleh orang yang makan kelelawar dan hewan liar. Semua ini terbukti salah.

Wah dengan informasi itu, apa yang dapat kamu sikapi?

Ini bagian dari rangkaian perang dagang. Sejarah perang dunia kedua berawal dari perang dagang juga. Saling embargo satu sama lain. Akhirnya perang fisik tak terelakan. Kini mungkin orang engga mau lagi perang fisik, karena ongkosnya mahal. Tetapi dengan sains, orang bisa membunuh banyak orang tanpa ada kerusakan. Ya menggunakan virus atau bakter.

Kalau benar Amerika Serikat yang menciptakan, mengapa Virus itu juga menyerang sekutu Amerika Serikat seperti Eropa, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Singapore, Arab, dan lain lain, termasuk Indonesia?

Amerika Serikat meliat fenomena perang dagang di mana para sekutunya tidak sepenuhnya mendukungnya menghadapi China. Misal, kedekatan Arab dengan China dalam proyek jalur sutera. Belum lagi bantuan China kepada Italia dalam menyelesaikan krisis gagal bayar utang.  Investasi Korea dan Jepang yang sangat besar di China. Indonesia dalam kasus Laut China Selatan yang terkesan tidak berpihak kepada Amerika Serikat. Iran, yang semakin garang dengan Amerika Serikat, dan ancaman bagi agenda Amerika Serikat memecah belas Irak. Semua ada alasan yang mudah ditebak dan ditelusuri.

“Untuk apa?”

Untuk apa? Bagi masyarakat modern, kematian akibat wabah itu jaun lebih menakutkan daripada perang fisik.  Apalagi dalam sistem demokrasi, kepanikan sangat rentan menciptakan chaos sosial. Dalam pasar serba terbuka, kepanikan sangat mudah menciptakan chaos market. Lihatlah fakta sekarang. Semua bursa berjatuhan mengancam mata uang dan index. Setiap kepala negara harus secepat mungkin mengatasi wabah itu atau mereka jatuh.”

Loh, Amerika Serikat juga terancam kepanikan akibat virus corona?

“Itu juga bagian dari rangkaian elite Amerika Serikat memaksa publik Amerika Serikat menerima strategi Amerika Serikat dalam memenangkan perang semesta lewat ekonomi dan teknologi. Ingat engga kasus Pear Harbour dulu, yang seakan sengaja membiarkan penerbang termpur Jepang masuk wilayah Amerika Serikat untuk menghabisis pangkalan perang Amerika Serikat di Hawai. Dari situlah legitimasi politik tercipta agar Amerika Serikat masuk dalam perang dunia ketiga,” kata dia, berteori.

O.K.-lah. Kan sudah terbukti agenda Amerika Serikat menghancurkan China gagal. Terus gimana dengan sekutunya. Kan mereka tidak sekuat China menghadapi wabah virus corona?

Amerika Serikat punya solusi di tengah kepanikan itu.

“Apa itu?”

Tergantung sekutu Amerika Serikat. Apakah mereka masih commit dengan Konsesus Washington paska-jatuhnya Lehman tahun 2008. Kalau commit, masalah virus corona ini akan selesai cepat. Setelah itu, situasi  akan di bawah kendali Amerika Serikat untuk memenangkan perang dengan China dan menguasai dunia

Oh, I see. Saya bisa mengerti tapi sulit bisa menerima kalau benar itu bagian dari agenda Amerika Serikat. Terlalu mahal ongkosnya bagi kemanusiaan.

“Politik mana pernah berpikir tentang korban kemanusiaan,” katanya cepat.

Saya termenung.

Semoga dunia baik baik saja. Di atas kehendak manusia ingin menciptakan kerusakan di muka bumi ini, ada Tuhan yang pasti akan menjaganya. Apapun itu, manusia sedang melewati takdirnya.

Pada akhirnya kita sedang memasuki fase besar, untuk menerima pesan cinta Tuhan. Bahwa kebenaran itu akan mencari jalannya walau prosesnya memang pahit. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Opini

Propaganda Kabar Beracun

Published

on

By


03 Agustus 2021


Oleh: Daniel Kaligis


Manakala aparatur pengawal hukum masih mengakrabi kejahatan, maka, kejahatan akan abadi di bumi…


TIBA masa mengamuflase diri, entah siapa yang dapat dipercaya, uang telah membijaki kuasa. Rakyat haus lapar, dibuntingi propanda berhari-hari, sepanjang hidupnya. Siapa yang dapat mengatur arus kabar berita yang sudah jadi derita? Tanya, lalu jawab masing-masing.

Program Interpol 2014, Kaos biru kelam bertuliskan ‘Turn Back Crime’. Jaringan kepolisian sedunia ini berkampanye, ‘katanya’ bagi kesadaran umat manusia agar sama-sama melawan kejahatan terorganisir di sekeliling mereka. Di situsnya, saat itu, turnbackcrime.com, menyebut yang mana kegiatan mereka adalah memerangi barang-barang dan obat palsu, kejahatan siber serta paedofilia. Caranya dengan hanya membeli barang lewat outlet terpercaya dan berhati-hati dalam transaksi online.

Tak banyak yang mengritisi kampanye itu. Tapi saya dan Annashka Mozhayev, kawan yang bermukim di London mendiskusikannya sejak kampanye itu berlangsung 2014. Dan hingga 2016, saya masih membincangnya di sejumlah status di media sosial. Saya bilang, manakala aparatur ‘pengawal hukum’ masih akrab dengan kejahatan, maka, kejahatan tidak dapat dibendung.

Propaganda Hukum Mati

Urai kabar, opini silam, tertahan dan dibiar terlantar bertahun lalu, 10-November 2008, saya menulis ‘Menunggu Keadilan Tumbuh Jadi Pahlawan’, jadi artikel opini kabarindonesia.com. Boleh anda nikmati bait-baitnya di sini:

Syair purba menceritakan saat-saat menunggu yang kosong, “aku duduk di sana menunggu, menunggu sesuatu yang tak ada, menikmati sesuatu antara baik dan buruk, sekarang waktu bagi matahari terbenam sudah dekat untuk sebuah kesepakatan, sebelum ajal menjemput”.

Socrates, kisah hukuman mati terbesar kedua sesudah Yesus Kristus, bapa filsafat itu dipaksa minum racun karena didakwa meracuni pikiran orang muda untuk kritis dan melawan kekuasaan.

Laksana kolam maha luas maha dalam, persoalan hukum dan keadilan di dunia ini seakan tak terselami, antara kebutuhan hukum untuk mengatur dan menertibkan, kebutuhan masyarakat terhadap rasa keadilan yang sudah jadi tanda tanya besar sepanjang sejarah zaman, dan keabsahan hukum terhadap jaminan hak asasi manusia.

Apalagi tentang hukuman mati yang sampai saat ini menjadi kontroversi di banyak kalangan. Bagi sebagian orang mungkin saja mereka yang dieksekusi itu adalah penjahat. Namun, mungkin bagi sebagian yang lain, menganggap mereka yang dieksekusi itu adalah pahlawan. Inilah, hukuman mati masih kontroversi.

Ada empat bagian berita ditera vivanews, bikin kuduk berdiri pada keberingasan yang menanti hukuman mati terhadap kisah terorisme di tanah air dan di banyak tempat di bumi ini: Jihat Sampai Tamat; Memburu Jejak Perayu; Surga di Telapak Bom; Jihat Global, Aksi Lokal; seperti urutan kisah sedih dari mereka yang terkapar dalam sebuah kesaksian.

Mungkin sebuah kefanatikan, dari berbagai aksi yang kita bahasakan kini sebagai terorisme. Mungkinkah ini adalah bagian dari implementasi sebuah peran ketika Indonesia turut serta menadatangani dokumen perundingan STAR atau tindakan anti terorisme di Los Cabos, Meksiko beberapa tahun silam?

Mungkin bukan extra ordinary law, sebab ada yang menyebut ini sebagai lex specialis. Negara memberi jawab bias. Perhatikan perannya, keputusan Kejaksaan Agung menyatakan eksekusi terhadap terpidana mati Bom Bali I, Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas, yang dilaksanakan pada Minggu 09 November 2008 pukul 23.15 WIB di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Saya tertarik pada sebuah tajuk di Sydney Morning Herald, 03 November 2008, menceritakan pendapat Pauline Whitton, ibu dari Charmaine, salah satu korban tewas Bom Bali I, yang menilai pembunuh anaknya dihukum terlalu ringan. Pauline Whitton, asal Caringbah, Sydney, kehilangan anak perempuannya, Charmaine, berusia 29 tahun, dalam ledakan bom di Sari Club, 12 Oktober 2002.

Charmaine dan sahabatnya Jodi Wallace, tiba di Bali petang itu dan pergi ke Sari Club pukul 10.00 malam. Keduanya tewas dalam ledakan bom di Sari Club. “Harusnya pelaku dibiarkan di penjara saja seumur hidup,” kata Whitton seperti yang diurai Sydney Morning Herald, pekan silam.

Sejarah menemu berbagai soal. Di negara kita yang menganut pancasila dan UUD 45, hukuman mati itu pernah dipermasalahkan. Dr Gayus Lumbuun, seorang ahli hukum, Asmara Nababan, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi (Demos), kemudian almarhum Munir, yang pada saat itu adalah Koordinator Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Imparsial, secara terpisah pada Februati 2003 di Jakarta menggugat penerapan hukuman mati di negara ini.

Dr Gayus Lumbuun pada saat itu menyayangkan Keputusan Presiden Megawati yang menolak grasi terpidana mati. “Keppres itu sebenarnya bertentangan dengan pasal 28 A UUD 1945. Mestinya, Presiden tahu itu. Ganti saja hukuman mati dengan pidana seumur hidup tanpa remisi.”

Sementara Asmara Nababan menganggap yang mana para terpidana mati atau keluarganya, bisa mengajukan permohonan uji materiil atau judicial review ke Mahkamah Agung untuk menguji keabsahan hukuman mati. Ia menera sebuah ingatan bahwa Kovenan Hak Sipil dan Politik termasuk protokol kedua tahun 1990 sudah menghapus hukuman mati. “Jadi kalau Komnas HAM sekarang masih mau mengajukan usulan ratifikasi, mereka harus tegas menyatakan tidak setuju dengan hukuman mati,” kata Nababan seperti diberitakan di Kompas, 17 Februari 2003.

Di sana juga Munir menyebut yang mana kovenan hak sipil politik, sebelum muncul protokol kedua 1990, hukuman mati memang masih diperbolehkan untuk negara yang belum mencabut ketentuan hukumnya.

Tetapi, hukuman mati menurut kovenan itu hanya berlaku untuk kejahatan serius, yakni kejahatan perang. Sedangkan narkotik atau psikotropika, kejahatan HAM, dan terorisme, tidak masuk kategori dimaksud.

Dalam perspektif yang lain, Jaksa Agung, Abdul Rahman Saleh, pada Maret 2007 ketika memberikan keterangan dalam sidang pleno Mahkamah Konstitusi, menyampaikan yang mana UUD 1945 membolehkan penjatuhan hukuman mati.

Menurut dia, konstitusi yang berlaku di negara kita menyatakan jaminan hak untuk hidup bukan hak mutlak. Ia menyebut yang mana pemaknaan Pasal 28 UUD 1945 tentang hak asasi manusia harus dilengkapi dengan Pasal 28D UUD 1945 yang menyebutkan dalam pelaksanaan hak dan kebebasan, setiap orang wajib tunduk pada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang.

Selain itu, pembatasan pelaksanaan hak asasi manusia sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, nilai adat-istiadat dan keamanan, serta ketertiban umum.

Padahal lewat Resolusi PBB No. 62/ 149, yang mendapatkan dukungan mayoritas negara-negara di dunia, Majelis Umum PBB pada tahun silam sudah mengesahkan sebuah resolusi yang menyerukan penangguhan pelaksanaan hukuman mati. Di berbagai negara, hukuman mati itu sudah dihapuskan.

Di kawasan Asia saja sudah ada 27 negara yang menghapus hukuman mati, mengapa di beberapa negara seperti di Mongolia, Cina, Jepang, Thailand, Bangladesh, India, Malaysia, Korea Utara, Pakistan, Singapura, Afghanistan, Brunei, termasuk Indonesia belum mau mengenyahkan hukuman mati itu?

Kita belum bicara soal keadilan dari perspektif korban. Mungkin di kesempatan lain bila kita bersua lagi dalam tajuk membahas soal keadilan dari perspektif korban. Penting diingat bahwa problem krusial yang selalu menjadi perdebatan para ahli hukum adalah pada soal apakah sesungguhnya tujuan dari sebuah hukuman. Termasuk di dalamnya yaitu model hukuman mati, entah disuruh minum racun, entah dipancung, digantung, dirajam batu, distrum di kursi listrik, ataupun yang ditembak. Karena dari banyak penelitian membuktikan yang mana model hukuman mati tidak menyelesaikan akar permasalahan.

Apalagi soal keadilan yang terkadang masih perlu diuji kebenarannya oleh dan dari sebuah skenario hukum negara. Mungkinkah di sini kita tak perlu bertanya lagi tentang daftar nama yang sudah melewati proses eksekusi mati?

Ketika hukum yang Maha Agung menyebut ‘jangan kamu membunuh’, lupakah kita sebuah peristiwa kelahiran pernah mendahuluinya juga beresiko kematian. Jangan membunuh adalah perintah kekal kemanusiaan yang tegas, serta mengandung konsekuensi logis dari menghilangkan nyawa adalah dosa yang tak dapat dibantah siapapun di dunia ini.

Atau, bila jawaban kita memang masih entah, sekarang kita masih menunggu. Tunggu kebenaran dan keadilan tumbuh entah dari titik yang mana.

Beberapa tahun lalu, Departemen Filsafat Universitas Indonesia bekerjasama dengan Uni Eropa telah menghadirkan peneliti-peneliti Eropa untuk mengkaji seberapa efektif hukuman mati.

Dalam makalah yang disampaikan dalam seminar internasional, Discussion on Death Penalty-Contemporary Challenges, Delegation of European Commission and Departemen of Philosofy Faculty of Humanities University of Indonesia, di Hotel Mandarin Jakarta, 14 Desember 2004, menyimpulkan bahwa hukuman mati tidak membuat masyarakat bebas dari kriminalitas tapi semakin memburuk.

Penghapusan hukuman mati di Eropa Barat justeru menunjukkan angka kriminalitas menurun dan lebih efektif dalam menangani problem sosial.

Demikian panjang lebar artikel ‘Menunggu Keadilan Tumbuh Jadi Pahlawan’.

Kabar Mati Kutu

Mengulang keberingasan kabar yang mendera rakyat hari ini. Orang-orang bebas menafsir, hukum dan praksis hukum tunduk pada massa, tunduk pada maunya kekuasaan. Di bilik sama di negara ini, pelayanan publik memang biadap pada para miskin. Seperti itu juga cerita propaganda. Informasi menjadi kejam pada orang-orang yang masih mau diseragamkan mindsetnya oleh sejumlah jualan ayat-ayat buku kuno yang terpaksa dan dipaksa sejarah untuk jadi ‘keyakinan umum’.

Kabar telah jadi teror. Popaganda beracun sejumlah kepentingan menumpang dan mengental di dalamnya.

Tentang propaganda ‘Turn Back Crime’ —  oleh system dianggap sebagai ‘kebenaran’ international campaign. Propaganda itu, tanpa dikawal, telah menjelma strategis mengaburkan ‘value ekonomis jualan kaos’ mengikut trend anak muda melawan arus, namun telah menjalari pemikiran para pengekor kampanye mengaktualisasi diri di media sosial: video penangkapan, hukuman pada pelanggar protokol tanpa mengindahkan protokol, pengumuman ‘pakai masker di mana sang pemberi komando maskernya ada di dagu atau di jidat.

Teriak membahana di kerumunan, di desa dan kampung, di kota, di sejumlah lokasi. Keyakinan yang mestinya adalah urusan privat, masih saja mendengkur dari pengeras suara dengan sejumlah alasan. Seliweran indormasi dan kabar memang telah menjadi racun dan mendebar takut bagi sejumlah orang.

Demikian, para pengawal hukum, aparat yang mengaku pelayan rakyat, namun tetap menista rakyat dengan perannya, cobalah berkaca, dan seyogyanya merubah peran dan perilaku. Atau, bila masih mau terus menerus ingkar dan abai, siap-siap berhadapan dengan kenyataan hari ini: wajah dan badan anda akan dijual propaganda video-video yang tampil dan dapat disaksikan semua makhluk semesta.

Dunia hari ini terhubung satu sama lain dengan sejumlah saluran.globalisasi yang memang ada sejak alam bereksistensi merekam setiap peran, dan jejaknya sangat mungkin ditelusuri pengetahuan dan ilmu.

Tentang informasi dan propaganda, kita sendiri yang menentukan: pilih sendiri, yang berguna, ambil dan pakai, yang membohongi dan mempercudangi, tendang saja dari minset.

Uji tiap informasi. Uji tiap propaganda. Pengalaman menjadi jalan bagi kita semua untuk bersua setiap kesempatan ke depan. Seperti itu. (*)

Continue Reading

Nasional

Mungkinkah Indonesia tanpa Feminis

Published

on

By

Medio 2019


Oleh: Misiyah Misi
Direktur Institut Kapal Perempuan


Feminis di Indonesia memiliki sejarah panjang berkontribusi dalam pembentukan bangsa Indonesia.
Feminisme intinya ialah paham yang mengakui adanya penindasan terhadap perempuan sekaligus upaya untuk membebaskannya.


HARI-HARI ini ber­edar di media sosial tagar #Indonesiatanpafeminis yang membawa pesan atau tepatnya melakukan stigma bahwa feminis adalah ancaman bagi perempuan Indonesia.

Tentu bukan tanpa kesengajaan jika tagar itu muncul menyusul reaksi penolakan dan pemutarbalikan konten Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Dari konten dan cara propagandanya, dapat diindikasikan bahwa perihal itu digaungkan sekelompok kalangan konservatif yang sama. Tanpa bermaksud menanggapi berlebihan, masalah ini tetap membutuhkan respons yang substantif untuk menggugurkan stigma mereka terhadap feminis.

Mereka mesti tahu bahwa feminis di Indonesia memiliki sejarah panjang berkontribusi dalam pembentukan bangsa Indonesia.

Mengapa mereka mengobarkan stigma terhadap feminis, mungkin mereka tidak memahami dengan benar maknanya serta tidak memahami relevansi feminisme dengan kehidupan sehari-hari dirinya sebagai perempuan.

Untuk itu, saya merasa penting menjelaskan pemahaman dasar dari feminisme dan feminis. Feminisme intinya ialah paham yang mengakui adanya penindasan terhadap perempuan sekaligus upaya untuk membebaskannya.

Kata kuncinya ialah ada kesadaran kritis terhadap ketidakadilan yang terjadi pada perempuan dan kesadaran itu dibarengi dengan upaya untuk membebaskannya. Orang yang mempunyai kesadaran dan melakukan aksi itu ialah feminis.

Dalam sejarah, kita mempunyai sederet nama perempuan yang memiliki kesadaran kritis dan melakukan perlawanan. Mereka ialah pahlawan perempuan yang namanya sangat kita kenal atau perempuan-perempuan tidak dikenal dan tidak ditulis.

Pahlawan seperti Kartini, Roehana Koeddoes, Dewi Sartika, dan Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan atas dasar kesadaran kritis terhadap kaumnya.

Kartini dikenal dengan perlawanannya terhadap feodalisme dan segala bentuk norma-norma yang mengekang perempuan. Roehana Koeddoes ialah sang pemula jurnalis perempuan yang menggunakan media untuk mendidik kaum bumiputra.

Para pejuang perempuan itu bergerak memperjuangkan kaumnya mendapatkan pendidikan yang sama, perlakuan yang setara, dan akses mendapatkan kualitas hidup yang baik.

Kita juga mengenal Kongres Perempuan pertama pada 1928 sebagai tonggak sejarah dalam memperjuangkan hak-hak perempuan sekaligus memperkukuh nasionalisme bangsa dalam melawan kolonial.

Jika ingin contoh lebih dekat dan terkini, para penentang feminis dapat melakukan selusur sejarah perempuan dalam silsilah keluarga masing-masing. Pada umumnya, silsilah keluarga perempuan ini mengangkat kisah-kisah perempuan kuat dan memiliki daya, tetapi tidak jarang juga kisah pilu perempuan terkuak.

Kita bisa menemukan masalah perempuan yang selama ini tersembunyi, misalnya, beban kerja, pengekangan, penelantaran, pengabaian, anggapan dan perlakuan perempuan lebih rendah, perkawinan paksa, perkawinan anak, putus sekolah, serta pelecehan seksual.

Feminis mengangkat masalah ini sebagai masalah sosial supaya mendapatkan jalan keluar untuk memecahkannya.

Kalangan yang mengobarkan Indonesia tanpa feminis mungkin lupa kalau ia menikmati hasil jerih payah dari feminis. Saat ini mereka leluasa mengakses informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, peluang kerja, media sosial yang dipakai untuk dirinya, bahkan melawan pejuangnya.

Bahkan, mungkin ada juga yang meminta perlindungan hukum melalui Undang-Undang Nomor: 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, memanfaatkan layanan persalinan, pemeriksaan dini kanker serviks, dan segala jenis pemeriksaan kesehatan reproduksi melalui Jaminan Kesehatan Nasional.

Anak-anak disediakan fasilitas kartu Indonesia pintar (KIP) dan Program Keluarga Harapan (PKH) untuk menempuh pendidikan dua belas tahun, tidak akan dapat meraihnya jika mereka dibelenggu dengan norma-norma konservatif.

Berulang kali kalangan antifeminis itu juga menutup mata terhadap kasus-kasus perkosaan dan pembunuhan anak di bawah umur di Bengkulu, Papua, perkosaan balita di Bogor, perkosaan murid oleh gurunya, perkosaan manula, dan mengingkari perkosaan massal 1998.

Data BPS 2016 menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan, membutuhkan kita untuk tergerak sadar dan bertindak.

Para penolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual mesti berpikir ulang terlebih ketika ustaz Tengku Zulkarnain mengakui kesalahannya secara resmi melalui media bahwa tuduhannya terhadap Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tidak terbukti.

Ia mencabut ceramahnya dan menyatakan tidak menemukan pasal yang ia tuduhkan bahwa dalam Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tidak ditemukan perihal pemerintah melegalkan zina.

Sudah saatnya mengoreksi stigma yang menyudutkan feminis. Menganggap tidak cocok untuk perempuan Indonesia karena feminis tidak islami dan datang dari Barat.

Di negara-negara Islam, kita mengenal feminis seperti Nawal al-Sa’dawi dari Mesir, Fatimah Mernisi dari Maroko, Riffat Hasan dari Pakistan, Amina Wadud Muhsin dari Malaysia. Bahkan, dari Saudi Arabia pun dikenal feminis Fauziah Abul Kholid.

Mereka menggunakan daya kritisnya untuk mengamalkan agama yang dianut agar menjadi lebih adil bagi semua manusia, khususnya perempuan.

Dalam konteks Indonesia, menguatnya norma-norma konservatif makin menghambat kemajuan perempuan, membutuhkan kehadiran pihak memiliki pemikiran dan komitmen dengan perspektif keadilan gender.

Dengan demikian, feminis dibutuhkan keberadaannya untuk mengangkat masalah perempuan, menyuarakan aspirasi dan kepentingannya. Menggerakkan semua pihak untuk melakukan perubahan bersama-sama.

Mengubah dari yang timpang menjadi setara, dari perlakuan diskriminatif menjadi adil, serta dari bahaya kekerasan menjadi rasa aman dan penuh perlindungan di semua ranah keluarga, masyarakat, dan negara. (*)


Editor: Daniel Kaligis


Continue Reading

Opini

Absurditas Makna (toga) Profesor

Published

on

By

19 Juni 2021


Pakaian yang digunakan pada kegiatan akademik disebut toga atau gown. Penggunaan pakaian akademik ini awalnya dilakukan di Eropa pada zaman pertengahan. Dengan menggunakan pakaian tersebut orang ingin menunjukkan kelasnya. Jubah hitam guru besar mirip paderi gereja Katolik berbentuk seperti mantel, merupakan pakaian luar warga Roma. Penutup kepala atau cap persegi empat dilengkapi dengan tassel atau rumbai-rumbai. Hood, penutup kepala menyatu dengan toga.

Di Indonesia, ketika masih menggunakan sistem kontinental, toga hanya digunakan profesor.


Oleh: Sulistyowati Irianto
Guru Besar Antropologi Hukum
Fakultas Hukum Universitas Indonesia


SAAT ini lulusan anak TK dipakaikan jubah seperti toga profesor. Acara kelulusan anak TK pun dipopulerkan sebagai wisuda. Tidak jelas graduation, wisuda dalam level itu dimaksudkan sebagai apa? Karena sekolah TK itu seharusnya ruang bermain, ruang mengenal hidup sekitar, yang tidak berakhir dengan ujian kompetensi.

Kedua, para pejabat, penguasa, pejabat birokrasi, petinggi militer, polisi, bahkan pengusaha pun nampak senang bergelar profesor. Entah tujuannya apa? Tidak peduli peraturan yang ada, bikin saja sendiri.

Padahal profesor itu esensinya adalah guru, mengajar.

Tetapi di Indonesia ini ‘atas permintaan’ bisa dibuat gelar apa saja: profesor honoris causa, profesor tidak tetap, entah apa lagi.

Mereka tidak cukup puas bila hanya diberi Doktor Honoris Causa — kehormatan, tidak usah kuliah dan tidak usah bikin disertasi.

Padahal capaian akademik tertinggi itu adalah ‘doctorship’, bukan professorship, karena profesor itu sekedar jabatan, hanya dilekatkan sejak seseorang diangkat sampai dia pensiun saja.

Meskipun tidak sedikit profesor sungguhan di kampus juga ingin jadi pejabat, meninggalkan kampusnya, tetapi tetap membawa jabatan dan sebutannya sebagai profesor.

Nampaknya esensi profesor yang harusnya ‘guru’, yang disimbolisasi oleh toga itu, sekarang mengalami perubahan makna, jadi luas, tidak jelas: bisa lulusan TK, bisa pejabat atau penguasa yang ingin menikmati simbolisasi profesor.

Orang yang jadi ‘guru’ beneran di kampus, jadi bengong-bengong.

Oh, ternyata di luaran sana, professorship — yang disimbolisasi oleh toga itu  — dikonstruksi menjadi sesuatu yang lain yah?

Esensinya menjadi tidak sama lagi, bertentangan bahkan, karena kampus, ruang di mana profesor menjadi guru harus terbebas dari kepentingan kekuasaan dan uang.

Lagipula para guru itu harus bekerja banting tulang, puluhan tahun, mengajar, menulis, dikejar publikasi bereputasi luar biasa tinggi, berkompetisi adu pintar dengan ilmuwan mancanegara, untuk bisa jadi profesor.

Amat sedikit khususnya dalam bidang sosial humaniora yang bisa berhasil, sehingga banyak prodi, departemen, fakultas yang kekurangan profesor saat ini.

Quo vadis! Pembudayaan feodalisme dalam bentuk gelar-gelar. (*)


Editor: Daniel Kaligis


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com