Opini

Asal Usul Corona

Published

on


Oleh: Babo EJB


Sebuah Diskusi Revolusi Mental

SAYA bertemu dengan dia dalam suasana santai. Walau Jakarta mencekam. Karena ada himbauan pemerintah agar orang lebih baik tinggal di rumah untuk terhindar dari penyebaran virus corona. Himbauan ini bagian dari gerakan menjaga jarak sosial atau social distance, yang katanya efektif menghindari penyebaran COVID-19.

“Virus itu diciptakan oleh Amerika Serikat,” katanya.

“Kamu sedang berteori,” kataku tersenyum.

Saya termasuk orang tidak pernah percaya dengan teori konspirasi. Namun saya percaya politik penuh dengan konspirasi. Sebuah cara persekongkolan sekelompok orang dalam merencanakan sebuah kejahatan yang dilakukan dengan rapi dan sangat dirahasiakan.

Saya mencoba melakukan desk research terhadap COVID-19 ini.  Sekedar untuk mengetahui dari mana asalnya dan mengapa bisa muncul, dan akhirnya menjadi berita heboh yang mencekam.

“Wow, hebat kamu.”

Dalam dunia yang serba terbuka saat sekarang ini, adalah konyol kalau kita bergantung dengan berita media utama.

“O.K-lah! Apa yang kamu ketahui? Aku mau dengar.”

“Yang pasti Virus itu bukan berasal dari China.”

“ Jadi, dari mana?”

Satu satunya Lab yang punya sample Virus hidup dengan lima jenis gen adalah Bio-Lab militer Amerika Serikat di Fort Detrick, Maryland. Itu sangat mungkin tercipta virus baru. Sementara Lab Wuhan di China hanya punya satu sample jenis virus, yang tak mungkin bisa melahirkan varietas virus baru.

“O.K. Bagimana kamu bisa simpulkan itu?” tanya saya seraya mengerutkan kening.

Itu yang ngomong ahli epidemiologi dan farmakologis Jepang dan Taiwan. Mereka bilang corona virus baru berasal di Amerika Serikat.

“Gimana mereka sampai ngomong seperti itu?

“Itu berdasarkan fakta.”

Pada agustus 2019, dokter dari Taiwan mencatat. Ada pasien di Amerika Serikat menderita pusing dan sesak napas. Dia menulis laporan kepada kepada pejabat Amerika Serikat. Bahwa penyebab kematian pasien itu diduga karena virus corona. Tetapi peringatan itu diabaikan oleh pejabat Amerika.

“Terus…”

Pada September 2019, Warga Jepang di Hawai terinfeksi virus corona. Padahal dia belum pernah ke China. Artinya infeksi ini terjadi di Amerika Serikat jauh sebelum terjadi wabah di Wuhan. Berdasarkan data agustus 2019, kematian pasien akibat virus itu sekitar sepulu ribu orang di dua puluh dua negara bagian Amerika Serikat.

“Loh katanya yang saya baca dari media massa itu flu Amerika yang menyerang perokok Vaping”

“Itu ulah propaganda dari konglomerasi Pabrik Rokok.”

Mereka gunakan tangan American Medical Association untuk membunuh bisnis Vaping, dengan mengatakan bahwa penyebab kematian adalah aktivitas vaping dari rokok elektrik. Sehingga bisnis rokok konvensional tetap primodana.

“Yang aku tahu dari media massa, kan sebelum peristiwa kematian pasien itu, CDC, Centers for Disease Control and Prevention telah menghentikan bio-lab Militer Amerika Serikat di Fort Detrick, Maryland, karena tidak adanya perlindungan terhadap kebocoran pathogen,” kataku, mencoba membantah hubungan bio lab dengan keberadaan virus itu.

“Nah itu semakin memperkuat teori. Bisa jadi memang CDC sudah mengetahui terjadi kebocoran Lab itu. Makanya mereka tutup. Untuk cuci tangan.”

“O.K- lah! Tetapi aku masih belum bisa menerima teori kamu itu”

Selanjutnya, kamu perhatikan. Pada bulan oktober 2019, di media massa China, ada berita tentang pertandingan militer dunia atau the World Military Games (WMG). Ada lima atlit dari dua ratus atlit Amerika Serikat yang ikut dalam WMG dirawat di rumah-sakit di Wuhan.”

“Apa penyakitnya?”

“Terinfeksi virus.”

Tapi apa jenis virusnya, waktu itu belum diketahui kepastiannya. Event ini berakhir, tepat dua minggu sebelum kasus Wuhan merebak. Atau tepatnya awal November 2019. Nah, anehnya, pada waktu event WMG digelar, juga berlangsung event 201 di John Hopkins Center for Health Security di kampus Institut John Hopkins yang terletak di Baltimore, Maryland Amerika Serikat.

Ajang 201 tersebut disokong penuh oleh Bill and Melinda Gates Foundation, Big Pharma (GAVI) dan nggak ketinggalan World Economic Forum (WEF). Pada acara itu, diadakan simulasi latihan pandemi tingkat tinggi yang diberi kode nCov-2019. Simulasi tersebut menghasilkan 65 juta total kematian di seluruh dunia dan membuat pasar keuangan internasional ambles sekitar 15%.”

Sedikit paham. Tapi belum bisa masuk ke nalar saya.

“O.K.”

Dari media massa saya membaca artikel yang ditulis oleh  Daniel Lucey, seorang ahli penyakit menular di Universitas Georgetown di Washington. Ia mengatakan dalam sebuah artikel di majalah Science bahwa manusia terinfeksi pertama kali bukan di Wuhan tetapi tempat lain. Tetapi ada juga yang bilang pada pada 18 September. Yang pasti bukan berasal dari pasar seafood di Wuhan.

“Terus…”

Saya mulai penasaran. Makalah dari Daniel Lucey itu diperkuat oleh peneliti China dari China academy science. Dalam artikelnya  menyampaikan rincian tentang empat puluh satu pasien pertama yang dirawat di rumah sakit. Mereka positif terinfeksi apa yang disebut dengan novel coronavirus 2019 (2019-nCoV).

Pertama kali, pasien jatuh sakit pada 1 Desember 2019, dan tidak memiliki hubungan dengan pasar seafood. Data mereka juga menunjukkan bahwa, secara total, tiga belas dari empat puluh satu kasus tidak pernah ke pasar seafood.

Apa artinya? Walau sebagian besar memang punya catatan pergi ke pasar seafood, tetapi itu menunjukan penyebaran virus terjadi sebelum Desember. Pastinya November 2019 atau lebih awal.

“Masih belum memuaskan teori kamu,” kata saya.

Nih ada lagi laporan dari Kristian Andersen ahli biologi evolusi di Scripps Research Institute yang telah menganalisis urutan 2019-nCoV untuk mencoba memperjelas asal muasal virus corona. Dia mengatakan skenariomasuk akal adalah orang yang terinfeksi membawa virus ke pasar seafood. Jelas ya. Jangan dibalik.

Bukan seafood sebagai penyebar tetapi manusia. Menurut artikel Science, pada 25 Januari 2020, Andersen memposting di situs web penelitian virologi tentang analisisnya terhadap dua puluh tujuh genom 2019-nCoV. Dia menyimpulkan kelahiran Covid 2019 itu 1 Oktober 2019.

Kalau dilihat dari urutan acara World Military Games pada 18-27 Oktober, bisa jadi memang Covid 2019 itu sudah ada pada lima pasien lima atlit Amerika Serikat.  Dari sanalah awal penyebaran. Pasien nol Covid 2019 itu adalah kelima pasien asal Amerika Serikat itu di China.

“Setelah itu ada hari raya Imlek di China. Di mana terjadi eksodus besar-besaran orang kota ke desa untuk merayakan Imlek di kampung halamannya. Kerumunan orang banyak tak bisa dihindari. Intelijen  China cepat mengatahui akan serangan Covid 2019 itu. China tidak mau ambil resiko terjadi penyebaran virus corona meluas. Apalagi di saat musim dingin. Dengan cepat pemerintah China lockdown kota Wuhan,” kataku.

“Cobalah bayangkan. Andaikan China terlambat mengantisipasi itu, diperkirakan enam belas juta orang mati di Wuhan. Itu lebih dahsyat dari bomb atom Nagasaki-Hirosima, yang akhirnya memaksa Jepang takluk dalam perang dunia kedua. Kemungkinan kalau China gagal dalam perang melawan Covid 2019, China akan bernasip sama dengan Jepang. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Justru dengan adanya wabah ini, dunia tahu  siapa itu Amerika Serikat dan siapa itu China. Kini kebenaran menemukan jalannya sendiri,” katanya.

Bagaimana dengan Virus yang menyerang Iran dan Italia?

Hasil penelitian membuktikan bahwa varietas genom virus di Iran dan Italia, setelah diurutkan, ternyata tidak memiliki kesamaan dari varietas yang menginfeksi China. Artinya itu berasal dari tempat lain. Nah ini menyimpulkan bahwa penyebaran virus di luar China bukan berasal dari China.

Ini semakin membuktikan bahwa Virus Covide 19 itu memang di-create oleh manusia melalui rekayasa di Lab. Itu hanya mungkin Amerika Serikat. Karena hanya Amerika Serikat S satu satunya negara yang punya varietas lengkap virus untuk menciptakan satu varietas baru.

“Tapi berita media massa sangat bias,” kataku.

Memang benar. Bukan hanya Covid 2019, MERS awalnya diyakini berasal dari seorang pasien di Arab Saudi pada Juni 2012. Tetapi kemudian riset membuktikan MERS itu berasal dari Yordania. Kali pertama terkena virus pada bulan April tahun yang sama. Artinya kan bukan dari Arab tetapi dari Yordan.

Jadi kita harus hati hati membaca berita resmi. Bahwa media Barat selalu begitu bersemangat untuk memberitakan seperti kasus SARS, MERS, dan ZIKA, yang semuanya terbukti salah. Sama halnya, media Barat membanjiri berita berbulan-bulan tentang virus COVID-19 yang berasal dari pasar makanan laut Wuhan, yang disebabkan oleh orang yang makan kelelawar dan hewan liar. Semua ini terbukti salah.

Wah dengan informasi itu, apa yang dapat kamu sikapi?

Ini bagian dari rangkaian perang dagang. Sejarah perang dunia kedua berawal dari perang dagang juga. Saling embargo satu sama lain. Akhirnya perang fisik tak terelakan. Kini mungkin orang engga mau lagi perang fisik, karena ongkosnya mahal. Tetapi dengan sains, orang bisa membunuh banyak orang tanpa ada kerusakan. Ya menggunakan virus atau bakter.

Kalau benar Amerika Serikat yang menciptakan, mengapa Virus itu juga menyerang sekutu Amerika Serikat seperti Eropa, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Singapore, Arab, dan lain lain, termasuk Indonesia?

Amerika Serikat meliat fenomena perang dagang di mana para sekutunya tidak sepenuhnya mendukungnya menghadapi China. Misal, kedekatan Arab dengan China dalam proyek jalur sutera. Belum lagi bantuan China kepada Italia dalam menyelesaikan krisis gagal bayar utang.  Investasi Korea dan Jepang yang sangat besar di China. Indonesia dalam kasus Laut China Selatan yang terkesan tidak berpihak kepada Amerika Serikat. Iran, yang semakin garang dengan Amerika Serikat, dan ancaman bagi agenda Amerika Serikat memecah belas Irak. Semua ada alasan yang mudah ditebak dan ditelusuri.

“Untuk apa?”

Untuk apa? Bagi masyarakat modern, kematian akibat wabah itu jaun lebih menakutkan daripada perang fisik.  Apalagi dalam sistem demokrasi, kepanikan sangat rentan menciptakan chaos sosial. Dalam pasar serba terbuka, kepanikan sangat mudah menciptakan chaos market. Lihatlah fakta sekarang. Semua bursa berjatuhan mengancam mata uang dan index. Setiap kepala negara harus secepat mungkin mengatasi wabah itu atau mereka jatuh.”

Loh, Amerika Serikat juga terancam kepanikan akibat virus corona?

“Itu juga bagian dari rangkaian elite Amerika Serikat memaksa publik Amerika Serikat menerima strategi Amerika Serikat dalam memenangkan perang semesta lewat ekonomi dan teknologi. Ingat engga kasus Pear Harbour dulu, yang seakan sengaja membiarkan penerbang termpur Jepang masuk wilayah Amerika Serikat untuk menghabisis pangkalan perang Amerika Serikat di Hawai. Dari situlah legitimasi politik tercipta agar Amerika Serikat masuk dalam perang dunia ketiga,” kata dia, berteori.

O.K.-lah. Kan sudah terbukti agenda Amerika Serikat menghancurkan China gagal. Terus gimana dengan sekutunya. Kan mereka tidak sekuat China menghadapi wabah virus corona?

Amerika Serikat punya solusi di tengah kepanikan itu.

“Apa itu?”

Tergantung sekutu Amerika Serikat. Apakah mereka masih commit dengan Konsesus Washington paska-jatuhnya Lehman tahun 2008. Kalau commit, masalah virus corona ini akan selesai cepat. Setelah itu, situasi  akan di bawah kendali Amerika Serikat untuk memenangkan perang dengan China dan menguasai dunia

Oh, I see. Saya bisa mengerti tapi sulit bisa menerima kalau benar itu bagian dari agenda Amerika Serikat. Terlalu mahal ongkosnya bagi kemanusiaan.

“Politik mana pernah berpikir tentang korban kemanusiaan,” katanya cepat.

Saya termenung.

Semoga dunia baik baik saja. Di atas kehendak manusia ingin menciptakan kerusakan di muka bumi ini, ada Tuhan yang pasti akan menjaganya. Apapun itu, manusia sedang melewati takdirnya.

Pada akhirnya kita sedang memasuki fase besar, untuk menerima pesan cinta Tuhan. Bahwa kebenaran itu akan mencari jalannya walau prosesnya memang pahit. (*)

Click to comment

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com

Exit mobile version