Editorial

BELAJAR JADI ALOR

Published

on

Oleh: Lomboan Djahamau

KARENA pengalaman-lah saya belajar. Merasa Alor sebagai saya dalam kapasitas saya: wilayah kepulauan di Nusa Tenggara Timur yang elok dalam Indonesia, menghias jalur pembangunan, lingkungan, budaya, ekonomi, dan pelayaran dagang internasional menuju Samudera Pasifik dan dunia.

Apa itu pengalaman? Apa itu belajar? Saya meringkasnya sebagai gaib. Alam semesta yang ajaib itu memungkinkan saya menulis sesuatu bagi Alor, sebab di sana dan dari sana cita-cita saya merekah.

Bahwa, pemikiran dan pengetahuan pernah terkurung, atau sengaja dikerangkeng. Padahal, sedari dulu kita di Alor sudah bicara tentang segala unsur di sini boleh berkualitas, mandiri, produktif, sejahtera, sebab ada pemerintahan bersih berwibawa, berorientasi pada kepentingan rakyat di Alor. Sudahkah hal itu terwujud? Sementara berproses tentunya.

Saya mengutip komitmen pemerintah dalam prioritas pembangunan daerah untuk wujudkan masyarakat kenyang, sehat dan pintar. Kenyang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi dasar masyarakat melalui optimalisasi pembangunan sektor ekonomi – penguatan sktuktur pangan, kedaulatan pangan, dan seterusnya. Soal kesehatan, gizi buruk, menaruh perhatian pada kesehatan perempuan hamil dan bayi, serta jangkauan pelayanan kesehatan hingga daerah terpencil. Berikutnya soal ‘pintar’. Soal ini yang saya singgung pada paragraf pembuka sebagai ‘belajar’. Iya, itu dia, belajar dan terus menguatkan pembangunan mewujud Alor kenyang, sehat, pintar.

Terkait belajar, saya mengutip salah satu tujuan pendidikan, yakni, membebaskan seseorang untuk berpikir kritis, mengembangkan kemampuan analitis melalui berbagai penelitian dan penulisan,serta mampu menjelaskan berbagai persoalan teoritis dan fenomena kemasyarakatan. Tujuan itu sementara berproses dalam belajar.

Kita semua, belajar dari pengalaman. Buka mata pada semesta, dari pengalaman dan belajar kita jadi mengerti ternyata perubahan adalah sesuatu yang kekal di alam. Dari tanah rantau menatap Alor dalam kenang, ia selalu dekat. Dunia di luar sana ada dalam kita. Dunia terus berbenah, belajar dari sejumlah pengalaman. Sebab ia, Alor, tanah di mana cita-cita terus bergelut dengan sejumlah realita, menemu berbagai keajaiban yang terus dikerjakan bersama. Di sana, di Alor. (*)


Click to comment

Trending

Exit mobile version