Connect with us
no

Internasional

CAMPANIA

Published

on

Oleh: Daniel Kaligis


Pengalaman, perang, pertikaian, drama Campania sudah sekian lama menyetubuhi bumi dan sistem, tanpa banyak dimengerti umat manusia.

APA KABAR sejarah. Ini sekilas pertikaian ideologi yang membuat perang memanjang beritanya. Ingatan pernah merekah, pertikaian belum selesai. Campania. Dalam ilmu militer istilah ini menggambarkan sebuah gerakan mengejar sasaran strategis, dikerjakan dengan durasi lama dan dalam skala besar. Akan kita ulangi terminologi itu pada bait-bait selanjutnya di bawah ini.

Sebuah kisah, rancang regak mengejar sasaran strategis. Lucius Tarquinius Superbus, Raja ketujuh Roma, memerintah dari tahun 535 Sebelum Masehi, mungkin tak pernah dia sangka, meletus pemberontakan sekitar tahun 509 Sebelum Masehi, mengarah pada pembentukan Republik Romawi.

Tercatat, 1 Maret 509 Sebelum Masehi, Publius Valerius Publicola, Konsul Romawi, merayakan kemenangan pertama Republik Romawi setelah dia menundukkan Lucius Tarquinius Superbus dalam Pertempuran Silva Arsia. Pemerintahan kejam Superbus selesai. Publius Valerius Publicola merancang campania? Siapa tahu.

Februari baru lewat. Sekilas kita menilik peristiwa yang terjadi di sana terkait Campania.

Ayat-Ayat Setan – Medio 14 Februari 1989, pemimpin besar revolusi Islam Iran, Imam Khomeini, mengeluarkan fatwa hukuman mati atas dasar kemurtadan yang dilakukan Salman Rushdi. Penulis muslim asal Inggris itu dinilai telah murtad akibat menulis novel berjudul Ayat-Ayat Setan.

Media menuduh pencetakan dan pendistribusian besar-besaran buku Ayat-Ayat Setan secara jelas mendapat dukungan dari pemerintah Barat, sehingga membuktikan adanya konspirasi budaya yang dilancarkan oleh Barat terhadap kaum muslimin. Lebih dalam mereka menyebut pemerintah Barat malah memberi perlindungan kepada Salman Rushdi dengan alasan melindungi kebebasan penulisan.

Salman Rushdie, pengarang Inggris berdarah India yang pada tahun 1988 menulis buku Ayat-Ayat Setan. Dia menghabiskan bertahun-tahun perjalanan nasibnya dalam perlindungan dan selamat dari sejumlah percobaan pembunuhan.

Di negeri kita, pemberitaan rancu memanggang api pertikaian supaya terus menyala di sekam peradaban. Kisah Ayat-Ayat Setan tak setahun-dua membara lalu hilang. Sentimen terus dikipas-kipas pada tungku perang ideologi. Entah campania bersetubuh dalam pergulatan politik dunia, merasuk ke setiap relung negara, dan bersarang pada tindakan.

Juni 2010 Republika mengabarkan Ketua Tim Senat Partai Buruh Demokrasi (DLP) –Queensland, Tony Zegenhagen, naik pitam sebab mengetahui Australia membuka pintu kepada Yusuf Islam yang akan berkonser di negeri kanguru itu. Alasan Tony Zegenhagen mempertanyakan keputusan pemberian visa oleh pemerintah Federal kepada Yusuf Islam, sebab penyanyi asal Inggris itu pernah menyerukan hukum bakar sampai mati terhadap Salman Rushdie, pengarang buku Ayat-Ayat Setan.

Karena itu, Tony Zegenhagen menyarankan warga Queensland mengeluarkan uang untuk penyanyi lain yang menghormati kebebasan berbicara dan kehidupan manusia.

***

Tergelitik menelisik sejarah perang yang terjadi hari ini di masa silam.

Campania. Dalam ilmu militer istilah ini menggambarkan sebuah gerakan mengejar sasaran strategis, dikerjakan dengan durasi yang lama dan dalam skala besar. Sebenarnya, istilah Campania dipetik dari nama tempat yang mengacu pada operasi perang tahunan oleh tentara Republik Romawi.

Campania juga adalah sebuah regione atau wilayah di Italia Selatan, berbatasan dengan Lazio di barat laut, Molise di utara, Puglia di timur laut, Basilicata di timur, dan Laut Tyrrhenia di barat. Wilayah ini memiliki luas 13.595 km² dan memiliki populasi 5,7 juta. Ibu kotanya adalah Napoli.

Terminologi Campania diambil dari bahasa Latin, disebut bangsa Romawi sebagai Campania felix yang bermakna ‘desa beruntung’. Campania juga adalah sebuah nama provinsi Prancis, Champagne.

Apa pertalian antara Campania dengan sejarah perang? Justru, Campania terhubung erat dengan pertempuran 14 Februari yang jarang dibahas.

Tersebutlah perang Arauco, yakni konflik panjang antara Spanyol melawan suku Mapuche di wilayah Araucanía, Chili. Konflik dimulai pada pertempuran Reynogüelén, yang meletus pada tahun 1536 antara ekspedisi Diego de Almagro melawan tentara Mapuche. Mapuche tetap merdeka hingga pendudukan Araucania tahun 1883.

Itulah yang disebut sebelumnya tentang pertalian perang Arauco dengan Campania, gerakan Spanyol mengejar sasaran strategis, dikerjakan dengan durasi yang lama dan dalam skala besar.

Perang Arauco terjadi pada 14 Februari 1655.

Ketika itu suku Mapuche di bawah pemimpin militer terpilih mereka, yaitu Clentaru, bangkit melawan Spanyol dalam pemberontakan di negeri yang sekarang menjadi Chili bagian tengah. Mapuche atau Mäpfuchieu adalah penduduk asli di Chili Tengah, Chili  Selatan, dan Argentina Selatan. Mereka dikenal sebagai suku Araucania, orang Spanyol menyebutnya Araucanos. Namun, istilah Mapuche paling sering digunakan. Data berapa tahun lalu menyebut Mapuche membentuk empat persen populasi Chili, mereka kebanyakan tinggal di Region Araucania.

Padahal orang-orang Araucania hidup nomaden, mereka berburu dan mengumpul makanan. Terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Mapuche, Picunche, dan Huilliche. Mereka berbicara dengan bahasa sama dan bergabung untuk tujuan militer. Walau, sebaliknya mereka memiliki sedikit kesatuan politik dan budaya.

Encyclopædia Britannica menulis, perang Arauco sebagai rangkaian konflik antara suku Indian Chili dan penakluk Spanyol di abad enambelas, dan suatu pertempuran antara orang-orang Araucania dan Chili merdeka pada abad sembilan belas.

Rentang waktu yang lama, pertempuran Reynogüelén hanya alasan, lalu tiba perang Arauco 14 Februari 1655.

Nah perang Arauco sudah membuahkan pendudukan Araucanía pada 1861 – 1883. Hal ini dimungkinkan oleh Campania: kampanye militer, persetujuan dan penetrasi tentara Chili dan penetap yang berujung pada masuknya Araucanía ke dalam wilayah nasional Chili.

Tentang penaklukan Chili, situs Spanish Wars History menulis, bahwa pada tahun 1531, Don Diego de Almagro, sang penakluk dari Spanyol tiba di Chili dalam misi pengintaian. Sejauh ini penaklukan imperium Inca di Peru dan imperium Aztec di Meksiko telah membuktikan yang mana orang Indian tidak sungguh-sungguh berjuang mempertahankan kemerdekaan di wilayah mereka, dan mereka percaya bahwa hal itu akan sama di seluruh benua.

Keunggulan Spanyol dalam hal senjata dan efek kejut.  Pasukan penunggang kuda efektif pada awal konfrontasi militer yang terjadi pada 1531 di Reynogüelén. Dalam perang itu, orang-orang Mapuche yakin mereka didatangi makhluk aneh, setengah kuda, dan setengah manusia. Dan ternyata dengan mudah kemenangan diraih Diego de Almagro dan pasukannya. O iya, Reynogüelén nama asli dari sungai Perquilauquén.

Di balik itu suku Inca telah sekian lama berusaha menaklukkan Mapuche, jauh sebelum orang-orang Spanyol menjejak Tanah Selatan, yang kemudian dikenal sebagai Chili. Mapuche lama berperang, hingga akhirnya imperium itu mengalah dan menetapkan batas kekuasaan mereka di utara sungai Maule.

Sandi Senopati:
Sepenggal Kisah Perang di Tanah Air

Tinggalkan sejenak kisah Perang Arauco . Kita beralih ke negeri sendiri.

Terminal terdengar mewah sekarang. Dulu, depan rumah saya di kampung ada terminal. Tempat nongkrong saya dan kawan-kawan sepantaran. Terminal di kampung itu adalah pos kamling di perempatan jalan Paslaten – Remboken, berhadapan dengan gereja Immanuel.

Mobil-mobil ST20 dan mikrolet jurusan Remboken – Tondano, menunggu penumpang di pos kamling itu. Ada yang jaga di terminal, namanya Damri Wowiling. Panggilannya Damri, marganya Wowiling. Saya tidak tahu nama aslinya, tapi dia dipanggil Damri karena lama sebelum jaga terminal dia bekas sopir angkutan Damri.

Di pos kamling itu bersama kawan aktivis membincang hutan Minahasa yang semakin tandus, data pada tahun 2000, area tutupan hukan yang direkomendasikan bagi area DAS Tondano adalah tiga puluh persen, sementara tutupan hutan sudah kurang dari dua puluh persen di saat itu. Di pos kamling itu juga kami bertukar cerita peristiwa yang terjadi di Monte Verde. Situs arkeologi di sana disebut Llanquihue, Chili selatan. Katanya situs ini berusia hingga 14.500 tahun yang lalu. Katanya situs ini pertama kali diduduki sekitar dua puluh orang atau tiga puluh orang pada tahun 12.800 hingga 11.800 sebelum masehi. Situs ini ditemukan pada 1975 ketika rombongan pelajar mengunjungi wilayah Monte Verde, saat area itu dihantam erosi akibat penebangan hutan.

Di situ pula menggambar visi, mengumbar cerita orangtua-orangtua yang kami dengar, sambil berteriak seperti jagoan. Pernah duduk minum captikus, berseloroh kampanye pada musim itu, seraya mengkhayal pergi menyeberang laut, saksikan atraksi Campania – Gua Siby di Cumae, sebuah kuil Yunani di Paestum, reruntuhan Romawi di Pompeii dan Herculaneum, gunung berapi Vesuvius dan Solfatara, Costiera Amalfitana dari Sorrento sampai Salerno, dan kepulauan Capri dan Ischia.

Mengenang itu membawa saya pada suatu ruang.

Ada tiga lelaki membincang pengalaman perang: Jopi Tumimomor, A.E.K., A.Sumajouw. Bersandar di dinding bambu mereka, Jopi memeragakan bagai mana ia memasang peluru 81 milimeter ke senapan artileri. “Pelor paseleten leos witu lulutam, tia kow tena’en – (Masukan peluru secara benar ke moncong senapan, jangan sampai melukai diri),” ujar lelaki berjambang tipis mulai memutih itu. Dia mengulas bagai mana meletak peluru secara pas pada depan laras mortir, dan segera mengambil posisi tepat sebelum menembak.

Februari berawan di 1985, ketika itu. Hujan angin mengguyur rumpun bambu di belakang terung, menyirami hampar ladang jagung dan petak-petak sawah Rano OkiSeseperan di batas Paslaten – Talikuran. Terung adalah rumah kecil di ladang dibuat dari campuran batang kayu dan bambu, atapnya anyaman daun rumbia pada bilah bambu diikat tali gomutu, yakni serat di batang enau yang dipelintir-lipat menjadi tali. Di bagian depan terung itu tiga lelaki ngobrol, bersenda-gurau, menunggu hujan reda. Saya mendengar obrolan mereka sambil mengunyah ketela bakar, dimakan dengan rawit dan garam. Kami duduk setengah lingkaran di depan perapian. Asap perih di mata, bara menyala ungu merah jingga.

A.Sumajouw, petani di lereng Tangkiuk. Ia hanya mengangguk-angguk mencermati kisah dua bekas serdadu beradu pengalaman. Sesekali Sumajouw mendorong batang kayu kering di perapian, menjaga bara tetap menyala.

Obrolan tentang perang memang hal biasa pada lelaki di kampung saya pada era 80 – 90-an. Ada semacam rasa bangga di raut mereka mengulang cerita masuk keluar rimba menempu pengembaraan bertarung nyawa. Jopi, seingat saya – disebut ketika mereka berkisah waktu itu – di usianya yang masih belia, ‘katanya’ dia sudah tergabung pada pasukan pemuda Permesta, medio 1959. “Kutaretumou-pe oki ni’tu, ta’an mahali-hali mong lulutam – (Saya masih usia belasan ketika itu, tetapi sudah memanggul senjata).”

A.E.K., serdadu Batalyon Worang. Bergabung dengan Permesta, lalu pernah menjadi Wakil Kepala Bagian III pada Komando Tengkorak Liar – SWK Lengkoan. Manakala usai perang, menjadi petani dan mengajar sebagai guru di sekolah swasta.

Sisa-sisa semangat perang membuncah ketika bersua kawannya. Terpicu cerita mortir-nya Jopi, A.E.K., angkat bicara tentang ‘Merah Putih 14 Februari 1946’. “So dorang Jus Mamusung yang pigi serang tangsi Teling, kase turun tu bendera Belanda kong kase Nae Marah Putih,” kata bekas serdadu ber-NRP 25280 itu.

Ini kisah masa silam, diulang berulang-ulang saban ada waktu senggang. Seperti perjalanan Kamis, 14 Februari 1985, cerita pulang sekolah dan berlanjut ketika pergi ke kebun, hujan, dan mampir di terung kawan A.E.K.

Tak banyak tentang ‘Merah Putih 14 Februari 1946’ dibeber A.E.K. Ia seperti tersihir semangat anak-anak muda dari kampung menyambut proklamasi Indonesia merdeka yang sudah beberapa bulan dikumandangkan. Dan hanya sepotong itu dia berkisah tentang Jus Mamusung, warga Leleko, yang katanya dengan berani memimpin barisan pemuda. Lebih jauh A.E.K. menutur sandi Senopati membawa mereka menyusur Amahai, Buru island, Masohi. Dengan Landing Craft Infantery tuju Ambon bersama batalyon Worang. Medio 28 September 1950 mereka mendarat di Tulehu.

Di jalan pulang, A.E.K. menyinggung tentang disipilin, seraya membanggakan serdadu gerak cepat, Campania, dan sejumlah terminologi pertempuran.

Ada waktu A.E.K. menutur panzer, tank, vickers, berbagai mesin pembasmi muntah mesiu. Cataluna, mustang, meraung-raung mendebar taifun di atas gelombang Pacific, di atas rimba, di atas tanah rusak. Entah berapa lama dia belajar dari Korps Speciale Troepen. Pernah berlayar jauh ke Novorossiysk, kota pelabuhan di Krai Krasnodar — Rusia, dan terapung-apung berhari-hari di atas samudera hitam, mesin kapal rusak, stok makanan habis, maka, kopra pun dilahap mengganjal lapar.

Pandangnya menerawang bila saya bertanya. “Apa itu RPKAD, apa itu Commando Battle, Campania dalam militer.” A.E.K. tak kurang bahan obrolan tentang perang. Padahal, saya mempertanya, mengapa perang? Kenapa sesama prajurit-sapta-marga saling serang? Tanya ini juga yang tak hendak dijawab history negeri ini. Hanya berkali A.E.K. menyebut, “So torang tu Permesta yang nyanda pernah menyerah.”

A.E.K sering sekali menyebut sandi Senopati. Dia begitu terhisap pada situasi mengarung rimba Tulehu, melihat kubur-kubur kawan-kawannya sebagai ‘pahlawan tak dikenal’. Pengalaman tempur bersama I.S.R. di Tulehu seperti merasuk ketika dia menghafalkan “De beste verdedigibg ligt juist in de aanval,” yang ditulis I.S.R. dalam Pedoman Gerilya I, tertanggal 21 Maret 1949.

Di masa itu saya tidak mengerti, dan bahkan – boleh jadi A.E.K. sendiri, dalam posisi kepangkatannya di saat bertempur di Tulehu, dia tak mengerti apa artinya sandi itu. Saya sendiri nanti membaca sejumlah buku, membuka tajuk ‘RMS: Palagan Penebusan Eks KNIL dan Tentara Kiri’ di Tirto, kini beroleh sedikit ‘pencerahan’ tentang perang berikut sandi-sandi perang. Di bawah ini saya pertikan tiga paragraf itu:

Menurut sejarawan Salah Djamhari, setelah pemberontakan RMS meletus setidaknya hampir satu divisi tentara dikirim ke luar Jawa. Di antara pasukan itu ada tentara yang dekat dengan orang-orang Murba (partainya Tan Malaka) dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Ada Batalion Abdullah yang dekat dengan Tan Malaka, lalu ada batalion yang isinya adalah mantan Hizbullah.

Slamet Riyadi, salah satu pimpinan operasi penumpasan RMS, tadinya adalah komandan batalion dari Divisi Penembahan Senopati yang dianggap kiri. Sementara itu, Slamet Sudiarto, pimpinan penumpasan yang lain, adalah bekas sersan KNIL yang menjadi salah satu komandan brigade di bawah komando divisi sama.

Pada masa revolusi, Divisi Penembahan Senopati dianggap komunis karena dekat dengan tokoh-tokoh PKI seperti Alimin, Musso, dan Amir Sjarifoeddin. Divisi ini adalah musuh bebuyutan Divisi Siliwangi yang pernah dipimpin Nasution, perwira tinggi anti-kiri. Ketika ada gencatan senjata dengan Belanda, kedua divisi ini pernah saling culik-culikan sampai meletusnya Peristiwa Madiun 1948.

A.E.K. bertutur Rendezvous di malam buta. Ia dan kwannya menghitung asensio-rekta, menatap langit bertabur cahaya. Cygnus, menurutnya berada di atas Tampusu, sekitar lima-belas derajat ke kiri adalah Lengkoan.


Bila ia bertutur, pertanyaan dalam benak saya terus saja berulang “Mengapa perang? Kenapa sesama prajurit-sapta-marga saling serang?”

Bersandar pada kenang, dan semua tak mungkin terjawab sampai A.E.K. berpulang. Dia Albert Eduard, ayah sekaligus teman yang membikin saya suka sejarah dan matematika perang. Dia juga yang mengenalkan saya pada cerita Perang Arauco, berikutnya nama Augusto Pinochet. Kisahnya boleh ada baca di bait berikut.

Misteri Beku Toponimi Chili

Walau tak ada yang mengetahui toponimi Chili secara pasti, terdapat beberapa hipotesis tentangnya. Sejarawan Agustín de Zárate dan Jerónimo de Vivar menyebut bahwa nama ini berasal dari ungkapan Quechua, chire atau chiri, yang berarti ‘dingin’, atau tchili yang berarti ‘salju’. Toponimi merupakan pembahasan ilmiah tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologinya. Toponimi merupakan bagian dari onomastika, pembahasan tentang berbagai nama.

Menurut dua penulis sejarah, Antonio de Herrera y Tordesillas dan Vicente Carvallo y Goyeneche, kata Tchili diturunkan dari Chille, nama kuno sebuah sungai di Lembah Akonkagua. Senada dengan Herrera dan Carvallo, seorang antropolog, Ricardo E. Latcham, meyakini kata tersebut adalah milik sebuah kelompok Suku Indian yang berasal dari suatu wilayah yang di dalamnya terdapat sebuah sungai yang bernama Chili, kata tersebut dibawa ke Chili oleh Suku Inka.

Disebut pada catatan Diego de Rosales, penulis sejarah dari abad tuuh belas, menyatakan yang mana kata tersebut diperkenalkan oleh Inka dari Peru yang menyebut lembah Akonkagua sebagai ‘Chili’, yakni bentuk cacat dari nama kepala suku ‘cacique’ Picunche yang disebut Tili, yang menguasai kawasan tersebut ketika penaklukan oleh Sapa Inka pada abad lima belas, sebelum kedatangan bangsa Spanyol.

Menurut seorang Yesuit, Miguel de Olivares, asal mula kata Chili berasal dari onomatope bahasa Mapuche yang menirukan kicauan burung trile, agelasticus thilius, cheele-cheele, kata ini digunakan untuk menyebut burung yang bernoktah kuning pada sayapnya. Sejarawan yang bernama Miguel Luis Amunátegui dari Urugay mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari bahasa Aymara, Chilli, yang bermakna ‘ujung daratan’ atau ‘tempat berujungnya segala tanah’.

Catatan Garcilaso de la Vega – Inca 1609, berikutnya Alonso de Ercilla – La Araucana 1852, menyebut yang mana sebelum kedatangan bangsa Eropa ke benua Amerika, pribumi setempat telah terbiasa menyebut daratan di selatan Gurun Atacama sebagai Chili. Setelah digunakan oleh Jajahan Spanyol di Peru, para penakluk Spanyol meneruskan penggunaan sebutan ini, kadang-kadang sebagai ‘Lembah Chili’, penggunaan istilah itu masih digunakan sampai sekarang.

Deklarasi 12 Februari 1818

Abad enam belas, sebelum kedatangan bangsa Spanyol, Chili bagian utara berada di bawah kekuasaan imperium Inka, sedangkan penduduk asli Mapuche mendiami Chili bagian tengah dan selatan.

Chili mendeklarasikan kemerdekaannya dari Spanyol pada 12 Februari 1818. Dalam perang di Pasifik tahun 1879 – 1883, Chili mengalahkan Peru dan Bolivia dan memenangi teritorial utara. Suku Mapuche takluk sepenuhnya pada sebelum dasawarsa 1880-an.

Walau relatif terbebas dari perebutan kekuasaan yang mengacaukan Amerika Selatan, Chili mengalami tujuh belas tahun kediktatoran militer pada 1973 – 1990 di bawah Augusto Pinochet. Nama lengkapnya Augusto José Ramón Pinochet Ugarte jenderal Chili, politisi dan diktator yang didukung Amerika. Jenderal yang naik tahta karena kudeta militer ini disebut menghilanglenyapkan tiga ribu dua ratus nyawa manusia.

Sekarang, Chili menjadi salah satu negara paling makmur dan paling stabil di Amerika Selatan. dan diakui sebagai kekuatan menengah di kawasan itu. Chili memimpin bangsa-bangsa Amerika Latin dalam hal kedamaian, daya saing, kebebasan ekonomi, dan persepsi korupsi yang rendah.

Laste

Mari kita ulangi. Pengalaman, perang, pertikaian, drama Campania sudah sekian lama menyetubuhi bumi dan sistem, tanpa banyak dimengerti umat manusia.

Khotbah kiamat menakut-nakuti rakyat dengan segala setan. Padahal, di belah bumi lain, orang-orang sudah menyeberang ke langit ilmu pengetahuan dan disiplin tinggi. Mereka menggagas kota-kota, menempatkan pemukiman dan pembangunan lingkungan untuk masa mendatang yang damai.

Masih tersisa banyak pertanyaan, Campania terus menderas, anda salah satu yang akan menjawabnya. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Estorie

Ekspedisi Militer Eropa

Published

on

By


13 Agustus 2021


Image: A 19th century CE painting by Émil Signol titled “Taking of Jerusalem by the Crusaders, 15th July 1099”. Jerusalem was recaptured from the Muslims during the First Crusade, 1095-1202 CE. (Palace of Versailles, France)
Source: world history


Oleh: Daniel Kaligis


Di sana, gelak tawa kemenangan, sekaligus tangisan dan pekik kematian menggema di ruang-ruang bumi. Seindah apapun susastra ditera pada kertas sejarah, darah sudah tumpah, huruf-huruf ruah, musnah itu tak pernah dapat ditarik kembali lagi ke semesta, selain kenang… 

PEDANG tombak kampak panah pisau pelor pedang bermata maut dan cinta, siapa saja dapat dirasuki dogma mengatasnamakan tuhan-tuhan ketuhanan yang berseru pergilah ke segenap penjuru bumi kobarkan penguasaan koloni-koloni.

Padahal, kemanusiaan adalah intisari dari segala kisah cerita merindu damai sejahtera sebagai injil kekal dan suci di semestanya.

Kenangan untuk hari ini di masa silam, salah satunya adalah tentang pertikaian dan baku rampas situs yang dianggap suci. Perang Salib, pertikaian bertajuk ekspedisi militer Eropa untuk rebut kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan Arab.

Inilah tempur, dalam keyakinan para serdadu, bahwa, pada yudha itu mereka melakukan penitence, yakni pertobatan atas dosa-dosa.

Perang Salib Pertama berujung, 13 Agustus 1099, kalah pasukan Fatimiyah yang dipimpin Al-Malik Al-Afdal bin Badrul Jamali, penempur yang dikenal sebagai Al-Afdhal Syahansyah.

Perang, jangan terulang. (*)

Continue Reading

Internasional

Point of No Return Andre Vltchek

Published

on

By

Oleh: Linda Christanty


23 September 2020


DALAM saku celananya, Andre Vltchek selalu membawa batu pemberian ibunya. Batu itu berwarna hijau pirus. Ia tidak merelakannya untuk saya, sehingga Rossie Indira istrinya menengahi perdebatan kami soal batu tersebut dengan menyatakan akan membelikan batu sejenis untuk saya di sebuah toko batu di Jerman waktu ia mengunjungi ibu mertuanya.

Rossie menepati janji. Batu itu masih saya simpan. Karena tidak tahu namanya, saya menyebutnya Batu Andre. Menurut Rossie, saya dan Andre memiliki satu kesamaan sifat, di waktu tertentu kami bisa seperti kanak-kanak: lucu, menggemaskan, menyenangkan, menjengkelkan.

Andre juga mempunyai kamera yang dinamainya Kappa. Di Kuala Lumpur, Malaysia, beberapa tahun lalu, sesudah menghadiri satu acara bersama di George Town Literary Festival di Penang, Rossie dan Andre meminta saya menginap di kamar hotel mereka yang cukup luas agar kami dapat berjalan-jalan sebelum saya terbang ke Jakarta keesokan harinya, dan mereka terbang ke Bangkok. Sebelum kami meninggalkan hotel menuju taman, Andre berkata kepada Rossie, “Jadi Kappa tidak ikut?” Tidak usah. Okay.

Saya bertemu Rossie dan Andre pertama kali di Jakarta, karena diminta seorang teman menjadi editor edisi Bahasa Indonesia buku wawancara mereka dengan Pramoedya Ananta Toer. Teman ini lalu menghilang. Buku itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan judul  “Saya Terbakar Amarah Sendirian” pada 2006.

Editornya jadi dua orang, saya dan editor KPG. Beberapa tahun kemudian saya kembali bertemu pasangan ini. Mereka berencana pergi ke Aceh untuk penulisan buku Andre yang diberi judul, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Saya mengusulkan sejumlah nama untuk diwawancarai. Kami pun bertemu lagi di Aceh.

Andre telah menerbitkan sejumlah buku non-fiksi dan fiksi, juga membuat beberapa film dokumenter.

Ia meliput konflik bersenjata di banyak negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah, antara lain di Kashmir, India, Kongo, Peru, dan Turki. Ia menulis untuk Asahi Shimbun, The Guardian, dan Der Spiegel.

Tulisan-tulisannya juga dimuat CounterPunch.

Film dokumenternya tentang pembantaian 1965, “Terlena-Breaking of the Nation”, diluncurkan pada 2004, sedangkan “Rwanda Gambit”, tentang pembantaian di Rwanda, dilansir pada 2015.

Ia seringkali dekat dengan bahaya. Ia pernah bercerita sampai di muka kamp pelatihan milisi anti Presiden Bashar al-Assad di perbatasan Turki-Suriah. Temannya, sesama wartawan, yang nekad, berada amat dekat dengan kamp itu, yang didanai lembaga intelijen negara adikuasa, dan memotretnya. Milisi dalam kamp dilatih khusus untuk dimobilisasi. Ia juga bertemu anak-anak Turki yang tinggal di perbatasan Turki-Suriah. Mereka bercerita bahwa tidak ada bom jatuh di situ sebelum negara asing menyerang Presiden Assad.

Andre meliput aksi jalanan di Turki yang menentang serangan terhadap Suriah. Pemerintah Turki berbeda sikap dengan para pemrotes. Ia juga mewawancarai putra jenderal yang ayahnya dijebloskan dalam sel oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Di masa Erdogan paling sedikit seratus jenderal ditahan dengan tuduhan kudeta. Assad juga menganggap Erdogan tidak bisa dipercaya. Dalam wawancaranya di salah satu media berbahasa Inggris, Assad mengungkap kekecewaannya. Ia juga menjelaskan dalam wawancara itu bahwa foto pembantaian orang Sunni yang beredar dan dipercaya sebagai ulah rezim Assad merupakan kebohongan. Nama fotografernya samaran, Caesar. Setelah diselidiki tidak ada peristiwa yang dimaksud foto tersebut di Suriah. Tetapi foto itu beredar luas, termasuk di media-media sosial, dan turut menjadi pembenaran untuk menyerang Suriah.

Rossie menyertai banyak perjalanan Andre untuk liputan-liputannya. Sebagian perjalanan dan liputan itu berisiko. Saya pernah menyarankan Rossie agar menulis bukunya sendiri, karena pengalaman-pengalamannya yang kaya. Ia memang sudah menyiapkan naskahnya. Pada 2010, ia pertama kali menerbitkan buku seri perjalanan, “Surat dari Bude Ochie”.

Ketika bom buku mengguncang orang-orang Utan Kayu di Jakarta pada 15 Maret 2011, saya masih berada di Aceh. Sekretaris Jaringan Islam Liberal (JIL) waktu itu, Ade Juniarti, menjawab telepon saya dan menceritakan kronologinya secara rinci.

Seorang polisi setempat yang memeriksa bom tersebut kehilangan tangan kirinya. Tim gegana datang terlambat. Jaringan Islam radikal Jamaah Islamiyah (JI) dituduh bertanggung jawab. Saya teringat Rossie yang membantu Andre mewawancarai sejumlah orang JI di Indonesia untuk bukunya.

Pada hari itu juga saya menghubungi Rossie. Ia tengah mewawancarai narasumber, yang kebetulan salah seorang mentor peracik bom JI, ketika situasi pasca-pengeboman disiarkan televisi. Mereka berada di suatu tempat di Jakarta. Mereka sama-sama melihat ke layar televisi. Narasumbernya tertawa mendengar nama JI disebut sebagai pelaku. “Dia berkata, ‘Itu bukan bom kami. Bom kami tidak seperti itu,” kisah Rossie kepada saya, mengingat pernyataan narasumbernya.

Suatu hari, saat Andre di Jakarta, Rossie mengajak saya untuk bertemu mereka. Setelah makan siang, kami pergi ke toko buku di salah satu mall Jakarta.

Andre marah melihat buku ‘Mein Kampt’ Adolf Hitler dipajang berderet-deret dalam rak, sehingga pegawai-pegawai toko menjadi cemas. Manager toko tergopoh-gopoh menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi, lalu menelepon seseorang dan akhirnya membawa kami ke sebuah ruangan di bagian dalam restoran di lantai tersebut.

Seorang lelaki tua duduk di hadapan kami. Usianya saya perkirakan lebih dari 70 tahun. Ia pemilik toko buku. Andre mengungkapkan kecemasannya melihat buku Hitler dipajang berderet-deret, yang bisa saja menginspirasi pembeli, terutama anak-anak muda, untuk membenarkan kebencian terhadap ras atau bangsa atau suku tertentu. Lelaki tua itu menyimak. Ia seolah memahami kecemasan Andre. Seminggu kemudian saya datang sendirian ke toko buku yang sama dan menemukan buku itu masih dipajang berderet-deret dalam rak.

Saya tidak selalu sependapat dengan Andre. Sejumlah tulisannya bahkan bertolak belakang dengan cara pandang dan pengetahuan saya. Tetapi di dunia ini saya bertemu sejumlah orang yang juga tidak sependapat dengan saya. Sebagian tetap berteman, sebagian lagi menjaga jarak.

Secara terus-terang, Andre menyebut dirinya ateis. Ia percaya kepada sosialisme, mengagumi Kuba dan China. Masa kecilnya jauh dari kesusahan.

Andre anak tunggal. Ayahnya seorang Ceko yang memimpin proyek nuklir pemerintah, posisi yang penting dan dihormati. Ibunya seniman keturunan Rusia-China. Sejak kecil Andre sudah terbiasa bepergian sendiri naik pesawat, dititipkan kepada pramugari dan sampai di tujuan untuk dijemput orangtuanya. Ia kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat.

Rossie tidak hanya istri, tetapi juga kawan Andre paling setia. Ia mendirikan Badak Merah Semesta enam tahun lalu, sebuah penerbitan yang bertujuan menerbitkan buku-buku Andre dalam Bahasa Indonesia dan buku-buku lain yang dianggap penting.

Mengenang Andre hari ini adalah juga mengenang Rossie, yang tanpa dirinya sebagian liputan Andre mungkin tidak berjalan lancar.

Ketika mengetahui kabar kematian Andre di Istanbul, Turki, kemarin, Rossie muncul pertama kali dalam pikiran saya.

Ketika mobil yang membawa mereka menempuh perjalanan panjang dari Samsun ke Istanbul tiba di muka hotel tempat mereka menginap, Andre yang tidur lelap gagal dibangunkan Rossie. Salah satu novel Andre berjudul ‘Point of No Return’ yang kali ini benar-benar terjadi. Tim medis yang datang menyatakan ia sudah meninggal dunia.

Selamat jalan, Andre. Semoga ada orang-orang yang membantu Rossie di sana dan tidak makin mempersulit keadaannya. (*)


Foto: Andre Vltchek
Sumber Foto: NEWAGE


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Internasional

Menentang Arus Umum

Published

on

By

01 September 2020


Oleh: Linda Christanty


1 September at 20:09
Teman-teman tercinta,
Selamat pagi. Hari ini cerah. Mari membuka pikiran kita.


SEBELUM membaca penjelasan saya lebih jauh pagi ini—bagi yang ingin dan sempat, tidak ada salahnya kita mengingat tauladan Am siki, tokoh bijak dalam novel “Orang-Orang Oetimu” Felix K. Nesi, yang leluhurnya dipercaya lahir dari pohon lontar.

Am siki bersabda, “Jangan dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Jangan diperkosa, sekalipun itu kuda”.

Beberapa hari lalu kita telah membaca berita tentang George Karel Rumbino alias Riko yang meninggal disiksa sesama tahanan di Mapolres Sorong, Papua Barat. Ia adik ipar Edo Kondolangit, penyanyi kesayangan kita, dan politikus dari partai berlambang banteng gemuk.

Menurut sebuah berita, keluarganya menyerahkan Riko ke kantor polisi, karena ia membunuh tetangganya. Dalam hal ini saya salut kepada keluarga Riko yang tidak mendukung tindakan salah yang dilakukan anggota keluarga mereka sendiri.

Dalam berita lain, dijelaskan bahwa ia merampok di satu rumah, memperkosa penghuninya, perempuan berusia 70an, dan akhirnya membunuh nenek itu. Dalam sel, tahanan lain menyiksanya. Ia meninggal dunia, karena lemas.

Kalau benar seperti itu kronologi kasusnya, maka ada dua orang yang harus kita bela:
1. Nenek korban perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan.
2. Perampok dan pembunuh yang dibunuh.

Namun, isu yang beredar kemudian dikaitkan dengan tindak kekerasan aparat negara terhadap rakyat Papua.

Stereotipe memang mudah tercipta di tengah arus pembelaan kita saat ini terhadap rakyat Papua yang mengalami intimidasi, penyiksaan dan pembunuhan oleh aparat negara.

Stereotipe tentu saja tidak baik. Ia melegitimasi sebuah kesimpulan umum. Ia juga membuat kita melihat segala sesuatu secara  hitam-putih: orang Papua adalah korban aparat negara dan dengan demikian, tidak ada orang Papua yang menjadi pelaku kejahatan.

Meskipun kita semua berjuang melawan kejahatan kemanusiaan yang mengatasnamakan apa pun, kebenaran dan keadilan menjadi landasan dari perjuangan itu. Contoh lain, yang viral belakangan ini, kasus George Floyd di Amerika Serikat.

Kita juga dapat menemukan bahaya stereotipe pada kasus ini. Orang kulit hitam adalah korban (diskriminasi). Dengan demikian, orang kulit hitam tidak bersalah (dalam hal apa pun).

George Floyd yang kasusnya diberitakan banyak media belum lama ini dan diprofilkan sebagai pahlawan anti diskriminasi rasial, juga memiliki fakta lain yang tidak banyak diungkap atau katakanlah, ditutupi untuk menjadikan kasusnya sebuah momentum politik di Amerika Serikat:

George terlibat obat-obatan terlarang dan melanggar hukum. Ia tidak pantas menjadi pahlawan jika demikian. Ia lebih pantas disebut korban jika tindak kekerasan dan pelanggaran hukum oleh aparat negara menjadi penyebab kematiannya. Pelakunya harus dihukum berat, karena perbuatannya membuat korban kehilangan nyawa. Penyebab kematian George juga harus diperiksa, apakah murni oleh penganiayaan atau overdosis.

Kadangkala sebagian dari kita tidak mau membicarakan kasus-kasus ini secara kritis, karena melawan arus umum dan arus umum itu dipercaya tengah menyuarakan hak-hak asasi manusia. Ditambah lagi banyak sekali kasus kekerasan dan pembunuhan yang melibatkan aparat kepolisian selama ini.

Menentang arus umum, sama artinya dengan tidak memihak korban dan dianggap mendukung pelaku.

Hak-hak kemanusiaan Riko ataupun George tentu harus dibela, sedangkan kebenaran dan keadilan harus ditegakkan.

Dalam jurnalisme, kebenaran tidak pernah bersifat mutlak. Kebenaran hari ini dapat dibantah kebenaran yang ditemukan di kemudian hari melalui fakta baru.

Saya akan menggunakan kasus Jessica Wongso sebagai contoh. Ia dijebloskan ke penjara untuk menjalani hukuman selama dua puluh tahun dengan tuduhan membunuh Wayan Mirna. Banyak orang dan media meyakininya, tetapi sejumlah orang menganggap Jessica korban pengadilan sesat yang direkayasa demi kepentingan uang.

Saya termasuk orang yang ragu ia bersalah. Jika fakta lain ditemukan dan membuktikan Jessica tidak bersalah, misalnya, maka kebenaran yang sebelumnya diyakini telah gugur. Jessica pun harus dibebaskan dari hukuman.

Pembebasan itu tentunya tidak akan bisa membersihkan nama dan memulihkan kehidupan Jessica seperti sediakala.

Karena itu, aparat penegak hukum harus menjalankan aturan hukum dengan benar.

Hukuman terhadap seseorang harus berdasarkan bukti-bukti yang sah dan kuat secara hukum. Tapi hal yang sebaliknya sering terjadi di negara ini.

Bagaimana kalau Jessica tidak bersalah dan tetap menjalani hukuman sampai akhir, atau direkayasa kasus bunuh dirinya dengan melibatkan pembunuh bayaran yang disusupkan sebagai tahanan di penjara atau ia dibuat sakit parah hingga ajal menjemput, misalnya? Kita tidak perlu heran jika hal itu terjadi. Apa saja dapat dilakukan di sebuah negara yang aparat penegak hukumnya tidak pernah bebas dari suap.

Wartawan dididik untuk memeriksa fakta dan detail memberinya informasi penting.

Saya teringat pengalaman ketika menulis “Hikayat Kebo”. Saya harus menunggu sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil uji forensik tentang penyebab kematian Kebo, seorang pemulung yang tinggal di belakang Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat; apakah ia meninggal dianiaya, lalu dibakar, atau ia dibakar hidup-hidup.

Semasa hidup Kebo gemar menyiksa istrinya. Ia memotong jarinya sendiri. Ia membakar gubuknya dalam keadaan mabuk dan membuat gubuk-gubuk tetangganya ikut terbakar. Kebo adalah pelaku dan juga korban kejahatan.

Pada hari yang ditetapkan, petugas bagian forensik menjelaskan kepada saya bahwa hasil forensik menunjukkan adanya jelaga dalam tenggorokan Kebo. Ia dibakar hidup-hidup.

Menganiaya orang itu kejam. Menganiaya orang, lalu membakarnya sampai mati itu lebih kejam lagi.

Saya menulis tentang Kebo untuk mengetahui praktik penegakan hukum di masa pasca Orde Baru atau di masa Reformasi, dan eksesnya terhadap kehidupan kebanyakan rakyat, seperti kita ini; ketimpangan sosial dan ekonomi masih berlanjut hingga sekarang. (*)


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com