Connect with us
no

Opini

Cermin Retak Pembangunan

Published

on

Oleh: Jose A.S.


PEMBANGUNAN, oh pembangunan. Kemenangan dapat diumumkan kapan saja, berkalang sesiapa terkapar kalah.

Pikirkanlah! Kesadaran rasio telah menjerumus gerak pembangunan menuju titik terendah dalam sejarah kemanusiaan. Sebab pembangunan menendang kerakyatan. Lalu pemberontakan metafisis telah telah subur bertumbuhan di mana-mana meneriakkan kemenangannya terhadap rasionalitas manusia.

Bicara peran penyelenggara kuasa dari sisi ekonomi tentu kita akan bertanya lebih lanjut soal kesempatan yang selalu saja diurai panjang lebar seakan memberi kemudahan. Ketika daerah-daerah di negara kita optimis melihat sektor usaha kecil dan menengah, katanya, pada tahun ini dinilai dan diprediksi akan tumbuh subur, dengan syarat jika semua pihak turut mendukung pertumbuhannya.

Tidak hanya itu. Ada satu titik yang seakan merupakan kekuatan riil menstimulus beberapa praksis manusia yang ujungnya kembali menihilkan nilai-nilai tentang kemanusiaan itu sendiri dalam pembangunan. Lalu, praksis tersebut mendapatkan kebenarannya secara otentik, ditempatkan pada tempat tertinggi melebihi nilai-nilai kontradiktifnya, dan dijadikan sebagai suatu kebenaran absolut.

Sudahkah dimengerti, pembangunan dalam realita ketakutan hanyalah alat untuk suatu pembenaran ambigu pada apa yang telah dibenarkannya. Malah lebih kronis dari itu, untuk mendapat suatu keabadian individual pada dunia abstrak lainnya, pembangunan adalah titik di mana teori bersetubuh dengan strategi pembodohan dan pembungkaman rakyat. Kendati tatapan masih nanar merenungi sisa puing petaka, namun optimisme mustilah ditanam dalam hati.

Pertumbuhan, pertambahan nilai, peluang dan segala kesempatan. Kata penghibur yang menghiasi tumpukan janji yang menggunung laksana sisa yang dibuang, namun selalu bermuara pada “tunggu”, ilusi berbingkai mimpi kemakmuran bersyarat di masa depan. Dan syarat itulah yang sudah menyerah duluan sebelum bertempur.

Bila ekonomi kerakyatan itu jadi kenyataan?

Kapan segala gerak pembangunan benar-benar mengikutsertakan rakyat sehingga posisi rakyat itu boleh jadi pemenang?

Ini sebuah pernyataan tentang strategi, dikatakan bahwa strategi pembangunan suatu negara merupakan cerminan dari kemampuan suatu pemerintahan untuk bertindak mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Maka, jika terjadi krisis di suatu negara dapatlah dikatakan bahwa terdapat suatu krisis dari strategi pembangunan yang diterapkan oleh pemerintah. Artinya bila sekarang kemiskinan dan barisan pengangguran itu terus memanjang, bertanyalah pada strategi pembangunan yang sudah ditetapkan sebagai sistem di negeri ini!

Ada sebuah pertanyaan panjang dalam sebuah renungan. Bila menyadari sebuah pertempuran rakyat menemu cita-cita masa depan yaitu kemakmuran yang berkeadilan, mengapa begitu banyak rakyat tak pernah diberdayakan selain menjadi tontonan miskin yang tak mengerti mengapa ia menjadi tontonan pembangunan.

“Apakah kita ini sudah kehilangan roh, apakah kita sudah seperti mesin yang bekerja tanpa rasa, atau robot-robot yang tak berjiwa. Ataukah kita sudah menjadi makhluk-makhluk gentayangan yang bekerja tanpa mengenal lelah demi untuk mengejar target, demi untuk mengejar kekayaan dengan cara apapun yang menjadi ukuran kesuksesan dewasa ini?”.

Kutipan di atas itu mungkin saja akan tak berguna di lain kesempatan, di waktu yang tiada batas saat segala batas sudah terlewat. Mungkin saja pertempuran teoritis pembangunan itu sudah usai, dan pemenangnya entah siapa.

Atau, semua sudah menyerah, membiarkan kuasa alam bertahta menentukan kompetisi tak bersyarat dan siapa saja berhak masuk arena itu. Kebijakan kita saat ini sudah menyerah, membiarkan proses originalisasi berdasarkan hukum alam, siapa yang kuat dialah yang menang.

Padahal, semestinya strategi pembangunan yang dijalani Indonesia saat ini dilihat sebagai proses multidimensi yang mencakup bukan hanya aspek pembangunan ekonomi, tapi juga mencakup tanggungjawab untuk keselamatan dan kemajuan bersama, dan bukan hanya bagi ketenaran dan kemajuan pribadi-pribadi tertentu saja.

Dalam perspektif ini kita memberikan beberapa pokok pikiran alternatif tentang paradigma pembangunan yang sesuai dengan kondisi riil negara. Perspektif ekonomi, paradigma pembangunan serupa ini akan dapat terealisir hanya jika pemerintah mampu menerapkan dan memberdayakan sistem ekonomi kerakyatan.

Dalam sistem ekonomi kerakyatan, pelaku ekonominya mengambil keputusan-keputusan berdasarkan pola pengambilan keputusan yang desentralistik dan mandiri. Dengan terealisasikannya kebijaksanaan itu dapat diartikan bahwa pemerintah langsung atau tidak langsung telah melaksanakan tanggungjawab dalam menjamin terpenuhinya hak-hak kesejahteraan ekonomi rakyatnya atau economic rights.

Karena kita akan selalu membahasakan kegunaan yang kadang tidak ada bergunanya sedikitpun bagi rakyat. Tendang segala tak berguna yang telah menjadi guna-guna berbumbu jampi-jampi pemanggil setan miskin dan nganggur itu.

Sebab semua perkara boleh dibilang mantap di depan hidung para penghayal masa depan yang suka sekali memakan puji-pujian. Di sini kita berkaca, melihat cermin yang retak dari realita pembangunan yang lebih sering bertempur dengan rakyat sendiri, lalu mengumumkan segala kemenangan seakan atas nama rakyat.

Namun, kita tak akan pernah menyerah sebelum economic rights seperti yang dicita-citakan para pendahulu bangsa itu benar-benar diwujudnyatakan bagi segenap warga yang ada di negeri ini.

Menjadi pemenang memang ada syaratnya. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Alor

Putra Alor Irjen Johanis Asadoma Ditunjuk Jadi Kapolda NTT

Published

on

By

Putra Alor Irjen Johanis Asadoma Ditunjuk Jadi Kapolda NTT

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menerbitkan surat telegram (ST) berisi sejumlah rotasi jabatan di lingkungan Polri. Salah satunya penunjukan Irjen Johannis Asadoma yang sebelumnya menjabat sebagai Kadiv Hubinter Polri diangkat sebagai Kapolda NTT, menggantikan Irjen Setyo Budiyanto.

Sebagaimana Teropongalor.com mengutip dari akun FB Laa Adipapa.

Surat Telegram Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo nomor : ST/2224/X/KEP/2022, tertanggal 14 Oktober 2022 yang mana tertuang dalam poin delapan: Irjen Pol Drs. Johanis Asadoma, M.Hum. NRP 66010508 Kadivhubinter Polri Diangkat dlm jaabatan baru sebagai Kapolda NTT TTK.

Surat telegram yang tertanggal 14 Oktober 2022 pada poin tujuh juga menyebut Kapolda NTT Irjen Setyo Budiyanto diangkat sebagai Kapolda Sulawesi Utara.

Sumber berita: https://radamuhu.com/2022/10/14/putra-alor-irjen-johanis-asadoma-ditunjuk-jadi-kapolda-ntt/

Continue Reading

Opini

Teknik Pengendalian Baru

Published

on

By


25 Januari 2022


Penyebaran informasi yang cepat dan beragam-ragam di internet dianggap praktik demokrasi dan pemenuhan hak atas informasi. Padahal itu sebuah teknik pengendalian baru dari imperialisme. Menebar jaring dulu, menjerat kemudian.


Oleh: Linda Christanty
Penulis adalah Penulis dan Sastrawan


SEJUMLAH teman berkata, bahwa kebanyakan anak muda generasi milenial itu apolitis. Menurut mereka, keapolitisan itu yang membedakan generasi milenial dengan generasi muda masa Orba yang politis. Kesimpulan mereka tidak layak dipercaya. Di masa Orba, kebanyakan anak muda juga apolitis.

Teman-teman tentu ingat bagaimana kelompok anak muda kritis di kampus-kampus masa Orba misalnya dianggap anomali di tengah kecenderungan umum yang tidak kritis atau ogah berurusan dengan rezim. Jadi jangan suka menuduh-nuduh generasi milenial dan generasi-generasi sesudahnya. Selama hidup kita masih di bawah kendali pihak lain, wajar orang merasa takut. Oleh karena itu, pemberontak kita sebut pejuang. Selebihnya, massa.

Perbedaan masa dulu dan sekarang terletak pada penyebaran informasi.

Perkembangan teknologi digital membuat sebaran atau daya jangkau informasi lebih luas dan lebih cepat sampai kepada sasaran atau tujuan. Memobilisasi orang juga lebih mudah. Berguna untuk tujuan baik. Berpotensi juga untuk menjadi neraka kemanusiaan jika dimanfaatkan para kriminal.

Penyebaran informasi yang cepat dan beragam-ragam di internet dianggap praktik demokrasi dan pemenuhan hak atas informasi. Padahal itu sebuah teknik pengendalian baru dari imperialisme. Menebar jaring dulu, menjerat kemudian. Menganggap dunia saat ini bebas sensor jelas mengubur kewaspadaan kita. Kontrol telah disamarkan melalui situs-situs pemeriksa fakta.

Kita tengah memasuki tataran lanjut imperialisme. Neo neo imperialisme. Salah satunya, melalui sebaran virus buatan ini di seluruh dunia, mutasi-mutasinya, dan tahap vaksinnya tidak cukup dua kali, tetapi berkali-kali dan kalau bisa sampai akhir zaman. Kita dikendalikan oleh imperialis dan kaki tangannya. DNA kita dirusak.

Mungkin kalau kamu bisa menerawang ribuan tahun ke depan, kamu akan terkejut menjadi leluhur makhluk bermata satu, bertaring, dan melata seperti buaya, sehingga waktu itu orang-orangtua tidak lagi memberi nama kepada anak mereka, karena makhluk seperti itu tidak lagi membutuhkan akte kelahiran dan KTP.

Makhluk ini bahkan tidak bisa mengucap kata ‘ompung’, ‘embah’, ‘kakek’, ‘nenek’, ‘mama’, ‘papa’, ‘ayah’, ‘bunda’. Waktu itu bahasa-bahasa manusia sudah punah.

Coba temukan bukti imperialisme ini tanpa repot-repot. Amati internet. Ketik ‘virus’. Dari kebanyakan informasi yang muncul, analisis dan buat kesimpulan. Rata-rata kesimpulan orang: dunia kita tidak akan sama lagi dan tidak akan normal lagi.

Nah, itu tujuannya. Kebutuhan-kebutuhan di dunia yang tidak normal itu apa saja? Nah, yang membuat aturan dan memproduksi mendapat keuntungan. Media kita turut mensirkulasi informasi yang sama.

Di masa pendudukan Jepang di Indonesia, pertanian hancur karena hama bekicot. Hama ini disebar oleh penjajah. Akhirnya bekicot dimakan karena pangan minim. Ahli gizi agen ganda pendukung penjajah sekaligus penghibur rakyat menyatakan bekicot berprotein tinggi dan rakyat tidak butuh daging lain, katanya. Virus disebar dan tidak bisa dimakan. Lebih buruk dari bekicot.

Tahun lalu, peneliti-peneliti hebat bangsa sendiri berusaha membuat vaksin untuk pertahanan bangsa dan saya percaya mereka berupaya keras agar tidak membuat kita menjadi leluhur makhluk melata bermata satu bertaring, tiba-tiba lembaganya malah dibubarkan. Ya Tuhan, selamatkanlah rakyat tak berdaya di negeri ini. (*)

Continue Reading

Opini

Mbak Katy Pedagang Asongan

Published

on

By


21 Desember 2021


Dengan sopan, secara pelan-pelan. Ya, dengan sopan dia menawarkan barang dan jasanya kepada saya, secara pelan-pelan. Tidak maksa sama sekali.


Oleh: Nuniek Tirta Sari
Editor: Dera Liar Alam
Foto: Mbak Katy/ @nuniektirta


ANDAIKAN semua pedagang asongan berguru pada Mba Katy gimana caranya jualan tanpa mengganggu, pasti dagangannya lebih laku.

Saya yang selama seminggu di Canggu tak tergoyahkan oleh pedagang asongan, bukan karena tidak kasihan tapi lebih karena merasa terganggu sebab mereka sering memaksakan, di hari terakhir itu mau membeli barang dan jasa pijat Mbak Katy dengan sukacita.

Saya tanya, apa rahasianya?

Mbak Katy bilang: “Kalau saya senyum dan orang itu balas senyum, saya baru berani tawarkan dagangan saya. Kalau saya senyum tapi dia tidak balas senyum, saya ngga berani karena mungkin orang itu lagi nggak mau diganggu.”

Autoresponse saya selalu balas senyum. Tapi senyum saya itu tidak otomatis terkonversi lagi menjadi penjualan. Lalu apa rahasia Mbak Katy selanjutnya?

Dengan sopan, secara pelan-pelan. Ya, dengan sopan dia menawarkan barang dan jasanya kepada saya, secara pelan-pelan. Tidak maksa, sama sekali.

Saya sangat tidak tahan dengan orang agresif, tidak suka dibujuk-bujuk apalagi dipaksa. Makin diagresifin, makin saya galakin.

Yang Mbak Katy lakukan hanyalah duduk diam di samping saya yang sedang sendirian. Ikut memantau anak saya yang sedang surfing di kejauhan. Saya jajan risol gunting dan saya tawarkan ke Mbak Katy juga sekalian, dengan sopan dia menolak. Masih kenyang, katanya.

Obrolan mengalir lancar dari situ, seperti kawan lama saja.

Aneh, padahal saya yang introvert biasanya malas ngobrol dengan orang yang tak dikenal. Kemudian tanpa diminta lagi, saya akhirnya minta juga untuk pijat kaki dengan bonus gelang untuk anak saya.

Kalau kamu ke pantai Canggu dan perlu gelang tangan atau karet rambut, pijat tangan atau kaki hanya dengan selembar 50 atau 100ribu, silakan hubungi Mba Katy di +62 858-2926-xxxx. Saya sudah minta izin untuk share nomornya dan foto ini juga.

Mbak Katy ngga setiap hari ada di pantai Canggu karena anaknya masih kecil-kecil, tapi suaminya kerja di cafe sana. Jadi janjian dulu aja beberapa hari sebelumnya. Kalau ketemu, salam dari saya ya. (*)


Throwback 28 September 2021
Pantai Nelayan, Canggu, Bali
@nuniektirta


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com