Connect with us
no

Susastra

Dari Laut Mengenang Gunung

Published

on

Foto: Senja Menghilang, Dax

01 Maret 2021


Cerita Pendek


Oleh: Bunga A.Y.


Omne vivum ex oceanic.
Sumber kehidupan adalah dari laut.


LARAS, perempuan pencinta gunung, mencoba memaknai kalimat itu meskipun awalnya dia tak menyukai laut. Namun nyatanya pada hari itu, Laras menganggukkan kepala, menyetujui ajakan sahabat-sahabat karibnya.

“Ayo kok suwe prepare-nya!” tegas Winno.

“Ya sek bentar, sabar dikit,” jawab Laras.

Waktu menunjukkan pukul 23.15 WIB, Laras dengan Tiara, Anggun, Anggara, Winno, dan Devina sedang perjalanan dari Surabaya menuju Sumenep. Dengan mengendarai mobil Winno dengan perasaan bergelora, disertai gemerlap cahaya Jembatan Suramadu mewarnai perjalanan Laras beserta sahabat-sahabatnya.

Perjalanan kurang lebih empat jam, hingga mereka sampai ke Pelabuhan Kalianget di Sumenep. Sembari menunggu azan subuh, mereka beristirahat di masjid terdekat.

“Gila ya, Madura sedingin ini,” celetuk Devina.
“Ya iyalah, namanya juga pagi buta kaya gini pasti dingin,” jawab Tiara.
“Kalo dingin gini jadi keinget waktu aku trip ke Bromo sama si itu,” jawab Laras.
“Hah itu siapa?” tanya Anggun pada Laras.
“Ah udah lupain,” jawab Laras.
“Oh diem-dieman nih sekarang.” Anggun menyahut penuh selidik.
“Kalian akan paham kalau waktunya sudah tepat.” Laras menjawab diplomatis.

Azan subuh tiba. Mereka bergegas salat, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pulau Gili Labak. Tualang seberangi laut, ke pulau itu menempuh waktu sekitar dua jam. Mereka menumpang kapal yang dikelola warga setempat. Sepanjang perjalanan, semua tampak bahagia dan menikmati perjalanan, kecuali Laras.

Laras menantang angin laut di atas geladak dengan raut datar. Dia tak sebahagia sahabat-sahabatnya.

Cahaya mentari dari timur menerobos langit menawan iringi perjalanan mereka menuju Pulau Gili Labak. Tak disangka, ada kejadian unik terjadi.

“Ada yang bawa obat anti mabuk perjalanan, ga?” tanya Anggara.
“Nih ada, siapa yang mabuk? Cupu amat sih,” jawab Tiara sembari mengulurkan tangannya untuk memberi obat ke Anggara.
“Ya siapa lagi kalo bukan manusia di sampingku ini.” Anggara menjawab sambil menunjuk Winno yang tampak kelelahan. Mungkin karena Winno yang nyetir mobil saat perjalanan dari Surabaya hingga Sumenep, capek, kemudian dia mabuk laut.

Waktu bergeser, dan mereka tiba di Pulau Gili Labak. Hawa sejuk menyambut kedatangan Laras dan para karibnya itu.

Mereka meletak barang-barang bawaan di gubuk kecil dekat pantai, kemudian bergegas memotret alam sekitar, mengabadikan momen bersama.

Puas memotret, mereka lalu berniat snorkeling. Tuju tempat sewa alat yang tersedia. Namun, Laras masih tidak berani snorkeling. Kegiatan itu masih asing baginya, Laras di saat itu pertama kali main ke laut.

“Kayaknya aku jaga barang-barang kalian aja deh,” ungkap Laras.
“Kenapa ga ikutan? Asik loh snorkling.” Devina merayu Laras yang tampak tak bersemangat.
“Aku sek takut, belum pernah nyoba lho.”
“Udah ikut aja lho, ada mas-mas-nya juga yang kawal, jadi ada yang ngawasi. aman kok.” Anggun mencoba menyamankan Laras yang masih kaku, ragu.

Hingga sekian rayuan, Laras tertarik ikutan snorkeling. Mata mereka dimanja panorama biota laut Gili Labak. Mereka merekam momen snorkeling sembari memberi makan ikan-ikan kecil di sekitarnya.

Laras tampak menikmati, awal yang membuat dia bahagia di kali pertama mencoba snorkeling. Saat berganti, mereka bilas, lalu ‘sarapan cukup mewah’: nikmati ikan bakar, menyeruput air kelapa yang menyejukkan.

“Kayake ada seng kesenengan baru pertama kali main di laut,” celetuk Anggun bernada ngejek namun senang melirik Sekar.
“La iyo lho, gitu kok wegah terus kalo diajak main ke laut. Padahal laut itu bagus pol panoramanya.” Winno yang membuang mabuk lautnya, tampak wajahnya berseri-seri.
“Hehehe, ya maaf Rek, kalo nggak nyoba juga nggak tau kan gimana rasanya. Makasih lho udah diajak.” jawab Laras.

Pulau Tikus, julukan itu dulu sempat terkenal untuk Gili Labak karena pernah dipenuhi oleh kawanan tikus.

Kini Gili Labak menghadirkan kekaguman yang luar biasa. Hamparan pasir putih halus ada di sana. Pulau mungil itu bagi mereka seumpama benda raksasa terapung di tengah laut. Pohon kelapa, pohon dun jaran, dan pohon mimba merindangi pulau tersebut.

Biota laut yang sering dijumpai yaitu rajungan, sejenis kepiting. Warga setempat sebagian besar memiliki alat tangkap rajungan. Melaut merupakan pekerjaan utama warga Gili Labak.

Usai sarapan, mereka kembali asyik di sekitaran pantai. Angina laut menderas namun sejuk. Obrolan mereka cukup serius, deep talk.

“Ternyata laut sangat menenangkan ya, aku sebagai anak gunung akhirnya kerasan juga.” Laras tampak bebas lepas mengeluarkan kesenangan yang dia dapat.
“Makanya jangan terlalu fanatik sama satu hal, terus benci yang lainnya. Semua harus seimbang.” jawab Devina.
“Apa yang bedain gunung sama laut Ras?” tanya Tiara serius.
“Hmmm. Menurutku, gunung itu ngajarin kesabaran, kekuatan, kemandirian, dan yang pasti kesetiakawanan. Kalo di laut gini, cocok buat healing karena menenangkan, mendamaikan” jawab Laras dengan senyum kecil.
“Kesetiakawanan? Maksudnya?” tanya Tiara.
“Kalau kalian mendaki, kalian bersua banyak kawan baru, kenalan baru. Ndakinya rame-rame gitu, kalau ada apa-apa, bisa saling tolong menolong meskipun baru kenal. Makanya itu yang bikin aku bener-bener nyaman main ke gunung.”
“Laut ga kalah bagusnya dari gunung. Ada maknanya juga lho.” Anggun tak mau kalah.
“Apa emang maknanya?” tanya Anggara.
“Laut itu sumber kehidupan, segala macam biota laut itu sangat indah. Kita juga bisa olahraga air di sekitaran pantai, jadinya ya asyik juga kok kayak main ke gunung.” Anggun merespon tanya Anggara seraya menatap satu persatu semua wajah yang tertuju padanya.

Tak terasa waktu telah memasuki duhur. Mereka bergegas untuk salat dan persiapan kembali ke Sumenep. Namun, Winno dan Anggara menolak untuk kembali ke Sumenep di siang hari yang sangat panas.

“Kenapa ga nunggu habis ashar sekalian ae seh?’ tanya Winno.
“La iyo kan enak ga panas, bisa menikmati senja.” Anggara membela Winno yang masih santai menatap laut lepas.
“Manut wes manut,” jawab Tiara dan Devina, kompak.
“Ya wes habis asar aja baliknya, terus sekarang kita ngapain?” Laras bertanya pada semuanya.
“Ya wes istirahat dulu ae, tak beli mie ae lah.” Anggun berinisiatif.

Mereka, menanti pulang, mengurai senja di gubuk kecil.

“Eh, btw kamu tadi cerita gak sih tentang dinginnya di Bromo? Emang itu ngingetin sama siapa? Cerita lah masa diem-dieman,” tanya Anggun penuh selidik pada Laras.
“Loh ya ada info apa nih?” Winno menyambung percakapan Anggun.
“Ntar aku cerita kalian pada shock.” jawab Laras.
“Duh, kelamaan. Ndang cerita ae lho.” kata Anggara.
“Yawes yawes, jadi tadi pas waktu subuh rehat di masjid, kan dingin tuh ya. Nah hawa dinginnya itu ngingetin aku sama seseorang pas dulu ke Bromo.” urai Laras.
“Siapa emang? Kalo cerita yang lengkap sekalian,” tegas Devina.

“Jadi dulu sewaktu SMA, kalian inget nggak? Aku pernah dideketin sama Ibrahim. Nah setelah lulus, aku semakin deket sama dia. Dan ternyata kita punya hobi yang sama, ndaki gunung. Sebenernya aku sama dia udah sering ndaki gunung bareng-bareng, tapi ga aku ekspos aja. Hehehe,” kisah Laras sambal senyum ditahan.

“Wah gak beres nih, main diem-dieman gini,” sembur Tiara.
“Oh dasar Laras diem-dieman gak jelas ah,” ketus Anggun.

“Hehehe. Ya gitu rek, kita udah lama deket sering ndaki bareng tapi ga ada kejelasan. Sahabat juga bukan, karena dia punya rasa lebih dari itu sama kayak aku. Hal yang bikin aku melow pas tau dia pindah keluar kota tanpa pamit ke aku. Aku tau kabar ini dari Naufal, sahabatnya dia. Dapet kabar juga, katanya dia udah ada pacar, bener-bener aneh. Aku juga gak tau dia tiba-tiba ghosting gitu aja. Aneh ya, udah lama aku diem-diem ke kalian nyimpen semua ini karena aku tau kalian gak bakal suka liat aku sama Ibrahim,” urai Laras.

“O.M.G, seng genah ras? Koq isok kecantol sama Ibrahim yang songonge pol dan seneng ngeremehin aku sama Devina?” tanya Tiara.

“Ya aku juga gak tau. Namanya perasaan gak bisa disalahkan kan? Ya Alhamdulillah juga diberi petunjuk kalau sahabat emang paling bener-bener berarti buat aku ketimbang dia yang gak jelas,” kata Laras.
“Hoalah, ternyata selama ini Laras nyimpen banyak hal, nggak berani cerita ke kita karena mungkin jaga perasaan kita juga, terutama Tiara sama Devina yang pernah mangkel sama Ibrahim,” tebak Winno.
“Udah, udah, yang penting Laras wes gak sedih lagi. Setidake kamu wes terbuka dan berani cerita ke kita, wes pokoke kita harus bahagia dan saling support yo,” kata Anggara.
“Mantap bosku,” kompak Devina, Tiara, Anggun, dan Laras menjawab Anggara.

Waktu memasuki azan asar. Mereka salat. Kemudian mereka bersiap untuk kembali ke Sumenep.

Langit sore, jingga menebal, lalu kelabu, kelam. Jalan pulang sambal merekam tiap momen. Alunan lagu akustik nan indie menemani tualang seharian Laras dan sahabat-sahabatnya. Lalu, tiba di Kalianget.

Trip kali ini benar-benar membuat Laras beroleh pelajaran berharga dan baru: pernah terbutakan oleh satu hal, sehingga membenci hal lainnya tentu saja tidak diperbolehkan. Laras memaknai, semua harus saling seimbang. Setiap hal, missal gunung dan laut juga memiliki makna tersendiri.

Sejak saat itu, Laras pun sering untuk bermain ke pantai, belajar snorkeling dan lainnya untuk melepas semua kenangan yang kurang baik. (*)


Foto: Senja Menghilang, Dax
Editor: D.L.A.


Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Alor

Twilight Kampung Seberang

Published

on

By


2020


Oleh: Parangsula


ANAK-ANAK kampung seberang menendang debu, bola emas menggilas tubuh mereka di pematang.

Di sini, berulang-ulang mantera ditembang: cincin, giwang, kalung, dan gelang, orang-orang di rimba hilang. Teori bimbang, impor keyakinan sebilah sangkur berperang bulan sabit menghunus tandus.

Musim kemarau yang panjang menekur batang-batang jagung, cabe, ubi, pisang, siapa mengenang gerimis. Air menggenang, di sana di Maumere, di Flores, di Sumba, di Timor, di Alor, di Pantar, di Lapan, di Lembata, di Rote, di Sabu Raijua, di Adonara, di Solor, di Ende, di Komodo, di Palue, di ribu nusa lainnya.

Masih ingat nyanyimu, Atoni, Manggarai, Sumba, Solor, Ngada, Timor Leste, Rote, Lio, Alor, Sawu…

Dan di semacam rasa – merindu pulang, kita bersua kekasih dari abad lampau membibirkan dewi dewa haus lapar politik doa panjang-panjang jadi pedang jadi ruang jadi uang jadi perang janji hutang janji usang…

Senja tenggelam, kampung seberang…

Continue Reading

Susastra

Geladak

Published

on

By


07 Oktober 2021


Kisah laut, Jhiva, laut tak bertepi yang pilu hitam abu-abu legam ombak gelombang badai, doa, dan cinta…


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


KAU sudah menyiapkan waktu, di geladak saat buritan dihantam badai dan ombak. Kau ingin bercerita tentang laut pada anakmu, di bawah payung malam, di dalam hati yang legam sekawanan paus mendengus menuntun huruf-huruf pada waktu yang akan menuliskan namamu pada batu.

Kau berdiri, malam ini di tengah lautan yang tak bertepi di antara ombak yang menghantam ulu hati, kepasrahan adalah kepatuhan yang kau benci, di tengah badai dan ombak, di antara bau anyir yang merebak bergerak ke geladak, kau mencintai laut seperti kau mencintai anakmu. “Jhiva…, Jhiva…,” kau berseru di tengah laut yang pilu, hitam dan abu-abu legam dan biru warna kesukaan anakmu, anak yang kau cintai seperti laut.

Apa yang kau terima setelah kau mencari, kau berdiri menatap laut yang tak bertepi mengingat anakmu, anak satu-satunya, kau memejamkan mata lalu berdoa meski kaupun tau doamu seringkali tak sampai di sana, dibungkam angin yang membara.

Kau melemparkan jala-jala di tengah badai dan ombak berharap ikan-ikan mendekat dalam jala-jalamu. Kau sadar di darat kau tak punya tempat. Tak ada ikan-ikan yang mencintaimu di darat dan itu membuatmu seperti sekarat. Di darat apa yang dapat kau lakukan selain hanya menunggu, karena hanya laut yang membuatmu masih bersitaut, sambil menatap laut ingatanmu di hantam ombak.

“Ayah…, ayah…,” panggil anakmu waktu itu sambil menunjuk-nunjuk layar televisi — pesta pernikahan, berita korupsi, peresmian proyek pembangunan, kompetisi menyanyi, wisata kuliner, ah terlalu banyak untuk disimak. Perahumu bergoyang-goyang dimainkan ombak.

Angin bertiup sangat kencang. Kau tak melihat ada petunjuk dari bintang, langit sendiri tinggi dan kelam. Kau tak beranjak, masih memegang erat tali jala yang kau lemparkan di tengah gempuran rasa rindu, suara ombak tak berhenti menderu, dalam jala-jalamu.

Kau ingin tongkol-tongkol itu terperangkap, berharap angin dan badai reda saling berdoa pada perahumu dan tongkol-tongkol itu dapat kau bawa pulang untuk Jhiva anakmu yang selalu menangis saat kau bercerita tentang laut.

Tapi, seperti di darat yang mengajarimu kesabaran, dendam, dan kepalsuan. Kau melihat buih-buih laut terombang-ambing dipayungi lengkung langit yang kelam. Kau tak melihat karang yang garang. Kau seperti melihat kelopak-kelopak bunga kamboja berceceran terseret ombak mengapung terombang-ambing dalam buih-buih keruh di lautan.

Ya Tuhan…

(*)

Continue Reading

Susastra

Mantra dan Kita

Published

on

By


24 September 2020


Oleh: Daniel Kaligis


Alir arus menepi di bumi asing,
setapak sunyi danau buatan.

Kita bermain kecipak air,
menanti sore pulang mengulang mantra.

Lereng-lereng menabuh gema berulang-ulang.
Rimba, alang-alang, gubuk tua sudah roboh.

Foy-doa, prere, foy-pai, sunding-tokeng, sasando, heo:
angin sapu badai hanyut aroma santalum-album dari pulau sebelah menghisap mantra.

Dramaturgi, fiesta, pemanggil hujan meratapi langit, gunung, awan, lautan, perahu-perahu menjauh. Dewi dewa menitip mantra pada tangis fana bayi: o nea, aida oba tapim anasu, a serla muku salara dumu, so mi amuru, ilu aroko wong tamudu aida amidi…

Anak-anak baca persepsi, doa panjang-panjang.
Kurikulum berbisnis kertas dan mantra, mendaur bimbang pandemi.

Ruang kelas sepi dan mahal, guru-guru berkelekar orientasi kelamin-kelamin bidang studi petualang hilang ibu-bapa leluhurnya oleh mantra…

 

 

 

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com