Connect with us
no

Susastra

Geladak

Published

on


07 Oktober 2021


Kisah laut, Jhiva, laut tak bertepi yang pilu hitam abu-abu legam ombak gelombang badai, doa, dan cinta…


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


KAU sudah menyiapkan waktu, di geladak saat buritan dihantam badai dan ombak. Kau ingin bercerita tentang laut pada anakmu, di bawah payung malam, di dalam hati yang legam sekawanan paus mendengus menuntun huruf-huruf pada waktu yang akan menuliskan namamu pada batu.

Kau berdiri, malam ini di tengah lautan yang tak bertepi di antara ombak yang menghantam ulu hati, kepasrahan adalah kepatuhan yang kau benci, di tengah badai dan ombak, di antara bau anyir yang merebak bergerak ke geladak, kau mencintai laut seperti kau mencintai anakmu. “Jhiva…, Jhiva…,” kau berseru di tengah laut yang pilu, hitam dan abu-abu legam dan biru warna kesukaan anakmu, anak yang kau cintai seperti laut.

Apa yang kau terima setelah kau mencari, kau berdiri menatap laut yang tak bertepi mengingat anakmu, anak satu-satunya, kau memejamkan mata lalu berdoa meski kaupun tau doamu seringkali tak sampai di sana, dibungkam angin yang membara.

Kau melemparkan jala-jala di tengah badai dan ombak berharap ikan-ikan mendekat dalam jala-jalamu. Kau sadar di darat kau tak punya tempat. Tak ada ikan-ikan yang mencintaimu di darat dan itu membuatmu seperti sekarat. Di darat apa yang dapat kau lakukan selain hanya menunggu, karena hanya laut yang membuatmu masih bersitaut, sambil menatap laut ingatanmu di hantam ombak.

“Ayah…, ayah…,” panggil anakmu waktu itu sambil menunjuk-nunjuk layar televisi — pesta pernikahan, berita korupsi, peresmian proyek pembangunan, kompetisi menyanyi, wisata kuliner, ah terlalu banyak untuk disimak. Perahumu bergoyang-goyang dimainkan ombak.

Angin bertiup sangat kencang. Kau tak melihat ada petunjuk dari bintang, langit sendiri tinggi dan kelam. Kau tak beranjak, masih memegang erat tali jala yang kau lemparkan di tengah gempuran rasa rindu, suara ombak tak berhenti menderu, dalam jala-jalamu.

Kau ingin tongkol-tongkol itu terperangkap, berharap angin dan badai reda saling berdoa pada perahumu dan tongkol-tongkol itu dapat kau bawa pulang untuk Jhiva anakmu yang selalu menangis saat kau bercerita tentang laut.

Tapi, seperti di darat yang mengajarimu kesabaran, dendam, dan kepalsuan. Kau melihat buih-buih laut terombang-ambing dipayungi lengkung langit yang kelam. Kau tak melihat karang yang garang. Kau seperti melihat kelopak-kelopak bunga kamboja berceceran terseret ombak mengapung terombang-ambing dalam buih-buih keruh di lautan.

Ya Tuhan…

(*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Susastra

Dari Rahim Bunda Tanah Melayu

Published

on

By


12 Januari 2022


Oleh: Jamal Rahman
Penulis adalah Penulis – Sastrawan Indonesia


Tetaplah mendayung dengan legukmu sendiri
Sebab Kulek dan Jungkong
Kan kehilangan pelabuhan
Tanpa buih-buih kecil di tanganmu
Biar suaramu tak segaduh ombak
Teriakanmu tak setajam lengking camar

Dari rahim bunda Tanah Melayu ini
Larungkanlah biduk penuh sunyi
Agar dayung dan peluh ikhlas bersemi
Karena badai gelombang adalah kenduri

Biarkan merdeka jiwa
Tepiskan kungkung kuasa
Tapi jangan kelahi tak tentu pasal
Kelak waktu menjadi muara
Menjelmalah musim teduh dari dalam doa


Natuna, 05 Mei 2017


Continue Reading

Daerah

Menggambar Wajahmu dengan Debu

Published

on

By


10 Januari 2022


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


Aku mengingatnya kembali, saat hujan ingin membangunkan dirimu, angin membuatmu tertidur, hujan itu, hanya dalam mimpiku, saat ini. Aku melihatmu pada daun-daun kering yang jatuh, waktu telah luluh, dan seberkas cahaya pagi yang aku simpan dalam sudut mataku.

Mungkin kau bisa mengenangnya, bila ingatanmu bukan lagi utuh tentang diriku, pesanmu. Pohon akasia yang kau pilih dengan paku, meninggalkan rindu, kau kerat pohon itu, menjadikannya perlambang perasaanmu. Dua burung gelatik mengintip dari ujung dahan, dan terbang dalam lamunan.

Dengan mengenangmu, kau temukan diriku sesuatu yang tak ingin kuberi arti, serupa pecahan waktu yang menyelinap pada ruas-ruas tubuhku, dan jalan angin yang lain menggambar wajahmu dengan debu, dingin, seperti awan kelabu yang ingin membuat langit biru, dibasuhnya debu itu dalam ragu. Disimpannya cahaya yang tak perlu.

Seperti dua arah yang bertemu, melewati batas perjalanan, tentang nilai yang rentan, kegamangan waktu juga ketentuan yang akan patah, akan tiba yang tidak pernah aku tunggu, hilang apa yang kucari, serta tujuan yang aku biarkan tanpa tuju, setelah itu biarlah aku tak pernah memilih apa-apa biar perlambang itu, aku baca dengan gumaman, yang menjadi tanda tanya untukmu. (*)

Continue Reading

Susastra

Sajak Sembilan Kata

Published

on

By


14 Desember 2018


Oleh: Dera Liar Alam
Gambar: Twilight Bira, South Sulawesi


I point to the cloud,
bouncing off your blue


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com