Daerah

Impian Ringgit Berujung Maut

Published

on

MEMORIA PASSIONIS PMI NTT:
Catatan 6


Oleh: Sahertian Emmy
Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika
Tinggal di Kupang


SEJAK Januari hingga Maret 2020, kembali jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI) dipulangkan ke kampung halaman di pelosok Nusa Tenggara Timur. Total hingga Maret 2020 sekitar 16 jenazah, di tengah-tengah ancaman merebaknya virus corona tipe terbaru Covid-19 yang membuat semua relasi dan kontak kemanusiaan kita diputuskan agar tidak saling menularkan.

Namun para PMI yang meninggal muda di tempat mereka bekerja nun jauh di negara seberang Malaysia, bukan karena virus ini, tapi karena berbagai penyakit degeneratif — gagal jantung, paru-paru, stroke, dan lain-lain — dan kecelakaan-kecelakaan.

Kematian yang sepintas dilihat merupakan hal biasa yang dialami oleh manusia pada umumnya. Namun bagi kami kematian ini adalah kondisi luar biasa yang terjadi bagi para pekerja migran di usia produktif

Kondisi Luar biasa, karena:

Pertama: Hampir seluruh PMI asal Nusa Tenggara Timur yang meninggal, rata-rata berusia produktif antara 22 – 46 tahun.

Mestinya mereka pergi dalam keadaan sehat, karena bekerja sangat berat di perkebunan sawit, paham dan terampil bagaimana melakukan pekerjaan yang berisiko, mendapat perlindungan kerja dan perlindungan kesehatan yang memadai. Tapi ternyata tidak! Karena pekerjaan ini adalah pekerjaan menantang maut, yang berakhir dengan kematian. Mereka tidak menyadarinya dengan baik. Mereka ‘nekad’ melakukannya tanpa mempertimbangkan risiko maut itu, sebab butuh uang untuk hidup.

Kedua: Hampir seluruh PMI asal Nusa Tenggara Timur yang merantau mencari nafkah, menempuh jalur non-prosedural. Artinya, jalur yang bertentangan dengan aturan yang sudah ditetapkan negara.  Mereka pergi dengan dokumen yang dipalsukan. Padahal mereka tidak paham atas hak-haknya karena kontrak kerja sepihak yang tidak adil, atau tanpa kontrak kerja.

Bagi mereka, tidak ada uji layak kesehatan. tidak dibekali dengan keterampilan yang cocok dengan apa yang harus dikerjakan di tempat kerja. Dan yang pasti, tidak memiliki perlindungan sosial kesehatan maupun perlindungan kerja yang akan menjamin keberlangsungan hidup mereka secara layak.

Mereka menjadi obyek para mafia perdagangan dan penyelundupan orang yang sangat terampil memainkan modus ‘Impian Ringgit Malaysia’ yang menggiurkan.

Ketiga: Hampir selurut PMI asal Nusa Tenggara Timur ini pergi dari daerah yang terpencil, di mana akses ekonomi keluarga tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup sehari hari. Tanah yang semakin sempit.

Kalau pun tanah itu luas, memerlukan upaya keras untuk mereka berjuang mempertahankan status hukum dan kepemilikan sehingga lebih banyak konflik tanah. Dalam situasi sekarang, tanah membutuhkan tekhnologi tinggi dan mahal untuk menggararapnya menjadi produktif.

Berikutnya politik primordial kampung yang melanggengkan kolusi dan korupsi. Pendidikan yang tidak memadai karena putus sekolah, budaya patriarkhi yang menjadi akar ketidak setaraan jender dalam keluarga, sehingga meredupkan potensi keterampilan hidup perempuan melalui relasi kuasa dalam keluarga. KDRT, pendidikan rendah, dan nikah muda.

Pusaran kemiskinan sosial inilah yang menjebak mereka untuk terpaksa bermigrasi sebagai sebuah ‘pembebasan diri’ dalam perjudian dengan  maut.

Sebuah bencana sosial menimpa rakyat yang dibiarkan berlarut-larut karena kebijakan formalistik melalui regulasi dan kebijakan negara di atas kertas serta penanganan yang bersifat proyek elit aparat. Dan bukan kebijakan partisipatif rakyat di basis masyarakat.

Padahal, kekuatan untuk melawan ada pada rakyat yang selama ini dibiarkan sebagai penonton. Sejauh ini, rakyat sudah terlanjur dicap ‘bodoh’, ‘malas’, dan berbagai penegasian yang membuat apatisme rakyat kian akut.

Keempat: Kalau seabad lalu banyak orang Nusa Tenggara Timur, khususnya nenek moyang kita dari daratan Flores merantau ke Negeri Jiran sebagai migrasi, atau muhibah kultural. Mereka merantau untuk mengejar impian ‘Ringgit Malaysia’ dengan bekerja sebagai buruh di perkebunan sawit dan perkebunan karet  untuk kehidupan yang sejahtera bagi keluarga. Meski pun, hal itu sebagai sebuah model perbudakan modern.  Maka, beberapa dekade belakangan ini impian itu buyar.

Orang Nusa Tenggara Timur pergi bekerja di Malaysia bukan lagi membawa kesejahteraan, tapi justru menanggung derita dan kematian di usia produktif. Kematian  PMI ini telah memutus ‘mata rantai’ ekonomi keluarga.

Bahayanya adalah perdagangan orang di Nusa Tenggara Timur akan tetap berlangsung dengan modus yang lebih internal: Keluarga akan menyodorkan anggota keluarga lain kepada para mafia yang dari dalam lingkup keluarga sendiri.

Maka, ‘Impian Ringgit Malaysia’ itu, kini berujung maut bagi rakyat muda Nusa Tenggara Timur.

Selamat memasuki minggu-minggu sengsara Yesus. (*)


Editor: Daniel Kaligis

Click to comment

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com

Exit mobile version