Connect with us
no

Nasional

Keyakinan yang Rawan

Published

on

Oleh: Daniel Kaligis


Siapa dapat membantah sebuah keyakinan? Perbantahan usianya ribu tahun, mungkin jutaan waktu, keyakinan terhadap waktu dan usia bumi pun adalah tafsir


ANDA yakin, silakan!

Walau, tentang keyakinan, kami masih terus mendebat mendiskusi membincangnya, terus dan terus, tak kenal bosan.

Saya berdiskusi seraya membaca email masuk. Mengulang beberapa keyakinan yang tertera di halaman media sosial: Ketika gadget baru muncul, barang itu dianggap saingan bisnis buku suci. Lalu, ada khotbah menuding supaya umat tetap bertahan pada kitab-kitab manual.

Karena keyakinan, ada guru hancurkan gadget anak didiknya. Gadget lebih menggoda dari oceh bisnis kertasnya di depan kelas. Hingga e-learning menendang kesaktian pagar tembok dinding sekolah.

Kemarin, Rabu, 15 April 2020, kami berbincang keyakinan. Dalam diskusi itu ada Denni Pinontoan — sambil menulis teks ini saya membaca pesannya, “Aruy keli karu. Rindu melep sama-sama sambil manyanyi..,” Rain Sumanti, Rikson Karundeng, Roger Kembuan, Greenhill Weol, Yonatan D.K., Ivan R.B. Kaunang, Candra D.R., dan saya. “Agama bermasalah dengan ilmu pengetahuan,” Greenhill, Director Mawale Cultural Center, membuka pembicaraan. Rikson mencatat alur diskusi, menera beberapa catatan. Ini diskusi lanjutan hari silam, di mana akademisi, seniman, sejarawan, budayawan dari komunitas dan organisasi yang berjejaring di Mawale Movement bersua dan bersuara. Saya, membaca wajah-wajah penuh semangat di masa pelik saat ini.

Dari dulu, tentang keyakinan kami bersepakat tidak bersoal dengan siapa pun, dengan dengan keyakinan apa pun, keyakinan ada hal privat. Diskusi mengalir, entah kami sementara menertawakan masa lalu, kenangan yang memang lucu, lainnya misteri.

Ivan R.B. Kaunang, mengurai rutinitas lembaga bertajuk ‘keyakinan’ dengan ritual itu-itu saja, mungkin membosankan. Bagaimana tingkatkan kualitas pelayanan, khotbah tidak hanya di atas podium. Temui mereka yang berkebutuhan, karena doa adalah praksis ibadat dengan memberi makan minum pada mereka yang lapar haus.

Rain — bukan hujan — masih terpengaruh diskusi sehari sebelumnya, menanya ‘Life Saving’ dan ketegasan regulator – dalam menghadapi pandemi. Lengkap pembahasannya ada Manguni News. Kali ini, pada diskusi Rabu, Rain mengusik keberingasan kabar, keyakinan-keyakinan didirikan atas regulasi menyimpang. “Kami dan orang-orang lain yang kritis terhadap lembaga agama dan pengambil kebijakan di daerah, dan meski dalam keadaan susah, masih jauh dari jangkauan pelayanan sebab pengambil kebijakan dan keputusan masih pilih-pilih bulu, pilih kasih.”

Masyarakat kita kenyang bencana, dan sudah punya pengalaman menghadapi masa krisis dan sulit. Tesis ini diulas panjang lebar Denni Pinontoan. “Lembaga agama harus membangun kepekaan, membantu umat menghadapi krisis.”

Jauh hari sebelum diskusi, 1 April 2020, Pinontoan mengulas realita manusia di dusun global. “Teknologi transportasi, komunikasi, dan politik global, serta turisme telah menjadi salah satu struktur, dan sistem ekonomi di hampir semua negara telah membuat dunia sebagai sistem, struktur dan jaringan yang saling terintegrasi. Tapi, pandemi Covid-19 mendekonstruksi semua itu. Dengan pandemi ini, turisme bukan lagi suatu kesenangan karena pengalaman baru, tapi berubah menjadi kecemasan oleh karena trauma. Banyak negara menerapkan lockdown, menutup pelabuhan dan bandar udara. Orang-orang dilarang masuk atau keluar. Di Indonesia, meski belum menerapkan lockdown, tapi beberapa daerah telah menerapkan karantina wilayah. Turis-turis mancanegara atau domestik tidak lagi diperbolehkan melakukan perjalanan secara bebas.”

Pembacaan soal yang menjalar di bumi, anggapan-anggapan absolut, termasuk keyakinan, terbantah oleh pandemi yang sementara berlangsung. Seperti itu Denni Pinontoan mengurai bait-bait esai bertajuk ‘Turisme’.

Dalam pada itu, esai Pinontoan berjawab keyakinan positif dari Grover. Kawan yang bermukim di Frankfurt, Germany, itu bilang, “Ekonomi anjlok selama beberapa waktu, tapi akan bangkit kembali. Barangkali kebangkitan ekonomi nanti akan lebih positif dibandingkan dengan dinamika ekonomi sebelum pandemi. Positif di sini, bukan dalam pengertian akumulasi, melainkan sisi etisnya. Pandemi telah memberi pelajaran, dan peradaban belajar dari bencana itu.”

Grover menyentuh apa yang diulas Pinontoan seputar ‘Turisme’. “Turisme terhenti selama beberapa waktu, lalu bergulir kembali. searah dengan kebangkitan ekonomi. Semakin baik pertumbuhan ekonomi, semakin besar orang-orang bepergian. Turisme mungkin akan lebih baik setelah pandemi selesai. Karena pandemi ini, justru telah memperbaiki kualitas spot, situs-situs dan alam. Pandemi itu masa pause. Pergerakan manusia yang cepat, dihentikan sementara, supaya alam punya kesempatan memperbaiki dirinya sendiri.”

Keyakinan untuk menuju sesuatu yang lebih baik selalu ada, optimis.

Entah ini suatu keyakinan. Bahwa ada interupsi bagi para korup dan para pelayan yang tidak memberi layanan berkualitas: pandemi selalu berulang sebab manusia lalai dan ingkar, atau gejolak semesta. The Black Death, dikenal juga sebagai Atra Mortem, membunuh lebih dari lima puluh juta manusia pada abad empat belas. Berikutnya Flu Spanyol, juga membantai jutaan manusia. Kitab-kitab mencatat, bagaimana orang tinggal dalam rumah saja ketika wabah.

Pemberita belum mau bertobat dari kelakuan menyebar hoax dan ketakutan. Beri semangat pada yang patah, jaga kobar di tungku api saling memberi, saling mengasihi.

Kekuasaan menyiap dana penanggulangan bencana, boleh jadi sejarah mengulang keberingasannya. Dana menjadi ladang korupsi baru atas nama keyakinan-keyakinan. Sekian lama dana-dana adalah keyakinan yang rawan. Soal korupsi di negeri ini lebih kejam dari pandemi.

Tentang penanggulangan Covid-19, Grover menulis, Minggu, 05 April 2020, “Rakyat yakin, bahwa dana 405 T yang digelontorkan Jokowi dalam rangka mengatasi Virus Corona, akan dikorupsi. Mengapa rakyat yakin bahwa dana akan dikorupsi? Karena rakyat melihat pengalaman. Bayangkan semua paket dana dalam berbagai sektor yang sudah digelontorkan telah dikorupsi habis-habisan, misalnya dana BLBI, dana BLT, dana BPJS, dana BOS, dana bencana, dana Haji, dstnya. Semua tidak luput dari korupsi. Siapa yang mengorupsi? Tentu saja pejabat, anggota parlemen, LSM, dan lembaga-lembaga sosial termasuk yang mengatas namakan organisasi agama.”

Yakin, sebentuk pengalaman yang mengalir bersama waktu, sadar atau tanpa sadar, walau yakin belum tentu sebuah kepercayaan yang membentuk organ-organ untuk melawan pengalaman yang sudah sekian lama menindas dan membodohi rakyat dengan ayat-ayat.

Perang Keyakinan

Saya, membaca interupsi, membaca konspirasi, membaca keyakinan.

Membaca berita berapa hari silam. Cerita konspirasi. Sebastian Murphy-bates menulis di Mailonline, 16 Maret 2020, Piers Corbyn mengklaim Bill Gate dan Goerge Soros adalah dalang di balik Covid-19 untuk menekan populasi dunia. Entah kabar itu benar. Sejumlah data masih rahasia, keyakinan juga seperti itu, masih rahasia. Percaya atau tidak, setiap orang punya hak untuk menentukan keyakinannya sendiri tanpa pernah dapat dibaca pikirannya oleh orang lain.

Berabad-abad manusia dihibur keyakinan, segala mujizat ditanamkan dalam pikiran. Keyakinan dijadikan alat kekuasaan untuk mengatur cara berpikir dan bertindak. Keyakinan menjadi ideologi. Dalam kurun sejarah, ideologi dipaksakan dengan tangan besi, pedang, senjata dan perang membantai beda keyakinan.

Keyakinan jadi rawan. Di masa silam kekuasaan menanamkan keyakinan untuk mengatur manusia dalam ritual kepercayaan. Lalu perang meneriakkan kafir pada rakyat yang tak mau menyerahkan tanah leluhurnya menjadi ladang berdansa imperialis yang membawa janji kabar baik dari seberang.

Saya menera tanda, keyakinan di masa lampau. Tesis politik – tercatat, 24 April 2010. Jutaan manusia terbabit dan nyaris punah yakinnya sebab bapa segala bohong masih gentayangan. Perang ada di hati, pertikaian ada di otak sadar manusia. Damai menjadi jauh  karena berbagai sebab dan alasan. Perang, bencana dan perceraian menggiring manusia pada tanya mengekal seakan tanpa jawab. Apa itu? Mungkin tentang keyakinan yang rawan.

Mari membuka lembar sejarah. Pernah membaca Privilegium Maius, sebuah dokumen abad pertengahan, dipalsukan antara tahun 1358 atau 1359 atas desakan Rudolf IV dari Austria yang berkuasa dari 1358 hingga 1365. Rudolf IV anggota Wangsa Habsburg.

Privilegium Maius merupakan modifikasi Privilegium Minus yang diterbitkan Friedrich Barbarossa pada 1156 yang telah mengangkat status wilayah perbatasan Austria menjadi kadipaten. Keistimewaan-keistimewaan yang ditulis dalam dokumen ini mengubah dunia perpolitikan Austria dan menghasilkan hubungan unik antara Habsburg dengan Austria.

Debar kuasa tahta suci memperluas wilayah, menanamkan keyakinan, kemudian perang.

Selain Privilegium Maius, ada piagam suci bernama Die Goldene Bulle, diputuskan tahun 1356.  Inilah konstitusi pertama Kekaisaran Romawi Suci. Dalam piagam ini tercantum tata pemerintahan kerajaan, lembaga-lembaga tinggi kerajaan, sistem pemilihan, hubungan antarlembaga, dan kedudukan berbagai satuan-satuan politik anggota kekaisaran.

Privilegium Maius adalah sebuah keyakinan yang bertahta sekian lama dalam kuasa wilayah. Waktu berlalu, kepentingan bertalu. Lalu keyakinan bertikai. Tahta suci didera para pembaharu. Kuasa yang ratusan tahun bertahta dan menindas, pecah oleh perang kepentingan keyakinan-keyakinan.

Tercatat dari tahun 1618 hingga tahun 1648, konflik menyala antara Katolik dengan kaum Protestan. Mencuat persaingan Dinasti Habsburg dan kekuatan lainnya juga merupakan salah satu motif perang. Katolik Prancis mendukung Protestan, yang meningkatkan persaingan Kekaisaran Prancis dan Wangsa Habsburg.

Perang dan perang lagi, puluh tahun bersambung-sambung. Sebagaimana ditulis Richard Bonney, dalam buku The Thirty Years’ War, 1618-1648 – Oxford: Osprey Publishing, 2014, menyatakan bahwa, konflik agama, Katolik Roma Jerman dan para pemeluk Protestan, membara sebagai kontes politik penguasa Habsburg di Kekaisaran Romawi Suci yang berusaha memperluas kendali mereka di Eropa. Berikutnya ada kekuatan Swedia yang berusaha membatasi gerak penguasaan itu. Prancis khawatir dengan prospek hegemoni Habsburg di Eropa. Kepausan Spanyol dan sebagian besar pangeran Jerman bergabung dengan kelompok Katolik yang diperjuangkan Habsburg Austria. Mereka ditentang kekuatan Protestan Swedia dan Denmark, pangeran Jerman yang Protestan, dan Prancis Katolik bergabung setelah 1635. Richard Bonney menyebut yang mana konflik ini paling dahsyat di era Eropa modern awal. Austria-Jerman, dan kawasan Eropa yang lebih luas, terlibat perang.

Pertikaian dapat ditarik benang merahnya dengan kepentingan penguasaan wilayah dan cara pikir rakyat, termasuk keyakinan-keyakinan yang dibawa para pemilik kuasa. Perang sesungguhnya bermula dari masa pemerintahan Kaisar Maximilian I, khususnya, semenjak Reformasi dan pemilihan Karl V, Raja Spanyol, ke tahta kekaisaran tahun 1519.

Kuasa datang dengan ayat-ayat. Klaim kitab segala cerita dan mujizat. Namun, keyakinan sudah menjadi saksi fakta dan data menyebar tanpa dapat dihapus jejaknya.

Wilayah-wilayah didatangi, diperangi, dihibur ayat-ayat, didongengkan surga-surga, ditodong pedang dan senjata neraka.

Walau perang, ada rindu berdamai. Negosiasi untuk mendamaikan Prancis dan Habsburgs, dirintis Kaisar Romawi Suci dan Raja Spanyol, dimulai di Köln tahun 1636. Negosiasi diblokir Prancis.

Derek Croxton dalam bukunya ‘Westphalia: The Last Christian Peace’, Palgrave Macmillan US, Jul 25, 2013, menyebut yang mana Kardinal Richelieu dari Prancis menuntut penyertaan seluruh sekutunya entah berdaulat atau berupa negara di dalam Kekaisaran Romawi Suci. Di Hamburg dan Lübeck, Swedia dan Kekaisaran Romawi Suci merundingkan Perjanjian Hamburg. Perundingan ini berakhir dengan intervensi Richelieu.

Tiba pada 24 Oktober 1648 di Osnabrück dan di Münster, ada runding damai, ini yang disebut sebagai Perdamaian Westfalen. Kekuasaan Ferdinand III yang bertentangan dengan konstitusi Kekaisaran Romawi Suci dicabut, dikembalikan pada para penguasa negara imperial. Rektifikasi atau pembetulan ini memungkinkan para penguasa negara imperial memutuskan sendiri agama resmi mereka. Umat Protestan dan Katolik dinyatakan setara di hadapan hukum dan Calvinisme diberikan pengakuan resmi.

Sekian lama keyakinan dipaksakan. Kuasa merebut wilayah dan memaksakan keyakinan-keyakinannya untuk mengontrol cara bertindak cara berpikir.

Janji berdamai belum cukup. Penguasaan wilayah jadi candu kekuasaan. Rakyat dan negeri yang ditindas ada di banyak lokasi, mereka lalu berontak. Sesudah perang tiga puluh tahun di Eropa, pecah perang Arauco. Pertikaian ini meletus 14 Februari 1655. Suku Mapuche di bawah pemimpin militer terpilih mereka, Clentaru, bangkit melawan Spanyol dalam pemberontakan di negeri yang sekarang menjadi Chili bagian tengah.

Mapuche atau Mäpfuchieu adalah orang asli di Chili Tengah, Chili Selatan, dan Argentina Selatan. Mereka dikenal sebagai suku Araucania, orang Spanyol menyebutnya Araucanos. Namun, istilah Mapuche paling sering digunakan. Data berapa tahun lalu menyebut Mapuche membentuk empat persen populasi Chili, mereka kebanyakan tinggal di Region Araucania.

Orang-orang Araucania hidup nomaden, mereka berburu dan mengumpul makanan. Terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Mapuche, Picunche, dan Huilliche. Mereka berbicara dengan bahasa sama dan bergabung untuk tujuan militer. Walau, sebaliknya mereka memiliki sedikit kesatuan politik dan budaya.

Encyclopædia Britannica menulis, perang Arauco sebagai rangkaian konflik antara suku Indian Chili dan penakluk Spanyol di abad enambelas, dan suatu pertempuran antara orang-orang Araucania dan Chili merdeka pada abad sembilan belas.

Rentang waktu yang lama, pertempuran Reynogüelén hanya alasan, lalu tiba perang Arauco 14 Februari 1655.

Perang Arauco sudah membuahkan pendudukan Araucanía pada 1861 – 1883. Kampanye ayat-ayat militer, persetujuan dan penetrasi tentara Chili dan penetap yang berujung pada masuknya Araucanía ke dalam wilayah nasional Chili.

Tentang penaklukan Chili, situs Spanish Wars History menulis, bahwa pada tahun 1531, Don Diego de Almagro, penakluk Spanyol tiba di Chili dalam misi pengintaian. Sejauh ini penaklukan imperium Inca di Peru dan imperium Aztec di Meksiko telah membuktikan yang mana orang Indian tidak sungguh-sungguh berjuang mempertahankan kemerdekaan di wilayah mereka, dan mereka percaya bahwa hal itu akan sama di seluruh benua.

Keunggulan Spanyol dalam hal senjata dan efek kejut.  Pasukan penunggang kuda efektif pada awal konfrontasi militer yang terjadi pada 1531 di Reynogüelén. Dalam perang itu, orang-orang Mapuche yakin mereka didatangi makhluk aneh, setengah kuda, dan setengah manusia. Dan ternyata dengan mudah kemenangan diraih Diego de Almagro dan pasukannya. O iya, Reynogüelén nama asli dari sungai Perquilauquén.

Di balik itu suku Inca telah sekian lama berusaha menaklukkan Mapuche, jauh sebelum orang-orang Spanyol menjejak Tanah Selatan, yang kemudian dikenal sebagai Chili. Mapuche lama berperang, hingga akhirnya imperium itu mengalah dan menetapkan batas kekuasaan mereka di utara sungai Maule.

Puluhan tahun, bahkan ratusan tahun, waktu dan ketika dalam keyakinan. Abad enam belas, sebelum kedatangan bangsa Spanyol, Chili bagian utara berada di bawah kekuasaan imperium Inka, sedangkan penduduk asli Mapuche mendiami Chili bagian tengah dan selatan.

Chili mendeklarasikan kemerdekaannya dari Spanyol pada 12 Februari 1818. Dalam perang di Pasifik tahun 1879 – 1883, Chili mengalahkan Peru dan Bolivia dan memenangi teritorial utara. Suku Mapuche takluk sepenuhnya pada sebelum dasawarsa 1880-an.

Walau relatif terbebas dari perebutan kekuasaan yang mengacaukan Amerika Selatan, Chili mengalami tujuh belas tahun kediktatoran militer pada 1973 – 1990 di bawah Augusto Pinochet. Nama lengkapnya Augusto José Ramón Pinochet Ugarte jenderal Chili, politisi dan diktator yang didukung Amerika. Jenderal yang naik tahta karena kudeta militer ini disebut menghilanglenyapkan tiga ribu dua ratus nyawa manusia.

Sekarang, Chili menjadi salah satu negara paling makmur dan paling stabil di Amerika Selatan. dan diakui sebagai kekuatan menengah di kawasan itu. Chili memimpin bangsa-bangsa Amerika Latin dalam hal kedamaian, daya saing, kebebasan ekonomi, dan persepsi korupsi yang rendah.

Laste

Sejumlah contoh kasus, fakta, data sejarah, telah kita telusur. Perang mengalir dari zaman sebelum masehi, masih tersisa sampai hari ini.

Bencana selalu berulang. Orang-orang menarik pelajaran dari banyak kejadian di bumi. Keyakinan-keyakinan pernah menempati ruang dengan ayat-ayat segala metafisika mujizat.

Bila ayat-ayat yang diklaim bermujizat itu memang diyakini dapat mengatasi bencana, dapat menyembuhkan sakit penyakit, niscaya sudah dari ratusan tahun lalu hospital dirobohkan, doakan saja segala sakit dan derita.

Doa dan ayat tidak pernah dapat menyembuhkan, tidak dapat memuas haus lapar agar kenyang agar punah dahaga. Namun, doa adalah semangat, sugesti dalam praksis yang menjadi ibadah bagi saling mengasihi sesama.

Orang-orang bertikai keyakinan. Ternyata dalam pandemi kali ini semua harus membatasi jarak mengunci diri dalam renung: bumi dan semesta sekian lama dijarah oleh rakus tamak.

Manakala kita menjaga jarak, tinggal dalam rumah, bumi mengobati dirinya sendiri. Langit menjadi cerah, makhluk berkeriap, orang-orang boleh berbagi tanpa sekat-sekat keyakinan segala dogma yang mengurung manusia beribu masa.

Dalam diskusi berapa hari silam itu kami bertanya, ‘apa sesudah pandemi’, harap tetap mereka.

Keyakinan dalam dogma sudah sekian zaman bertikai dengan ilmu pengetahuan. Namun, sang Pencipta Agung itu ternyata seperti pengetahuan, dapat direvisi kapan pun dan tak dapat dikerangkeng dogma apa pun.

Dia, adalah keyakinan yang ada pada masing-masing makhluk di semesta. Ada pada anda, ada pada saya. Tak usah dipertentangkan. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Menko PMK Tinjau Produsen Oksigen

Published

on

By

06 Juli 2021


MENTERI Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy, hari ini, 06 Juli 2021, meninjau dua produsen oksigen besar di Indonesia, yakni PT Aneka Gas Industri di Cibitung, dan PT Air Products Indonesia, untuk memastikan kapasitas produksi oksigen aman di tengah lonjakan kasus COVID-19.

Saat ini, PT Aneka Gas Industri mampu memproduksi oksigen hingga 977,4 ton per hari, yang mana sekitar 95% produksinya dialokasikan untuk Rumah Sakit yang menangani pasien COVID-19.

Sementara PT Air Products Indonesia, dilaporkan mampu memproduksi 310 ton per hari dari pabrik di Cikarang dan Gresik.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengalihkan 90% oksigen industri ke medis, kedua produsen oksigen tersebut berkomitmen penuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen medis di Rumah Sakit yang terus meningkat. (*)


Sumber: Kemenkopmk
Teks dan Gambar: Halaman Kementerian Kesehatan RI


Editor: Parangsula


Continue Reading

Nasional

Mungkinkah Indonesia tanpa Feminis

Published

on

By

Medio 2019


Oleh: Misiyah Misi
Direktur Institut Kapal Perempuan


Feminis di Indonesia memiliki sejarah panjang berkontribusi dalam pembentukan bangsa Indonesia.
Feminisme intinya ialah paham yang mengakui adanya penindasan terhadap perempuan sekaligus upaya untuk membebaskannya.


HARI-HARI ini ber­edar di media sosial tagar #Indonesiatanpafeminis yang membawa pesan atau tepatnya melakukan stigma bahwa feminis adalah ancaman bagi perempuan Indonesia.

Tentu bukan tanpa kesengajaan jika tagar itu muncul menyusul reaksi penolakan dan pemutarbalikan konten Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Dari konten dan cara propagandanya, dapat diindikasikan bahwa perihal itu digaungkan sekelompok kalangan konservatif yang sama. Tanpa bermaksud menanggapi berlebihan, masalah ini tetap membutuhkan respons yang substantif untuk menggugurkan stigma mereka terhadap feminis.

Mereka mesti tahu bahwa feminis di Indonesia memiliki sejarah panjang berkontribusi dalam pembentukan bangsa Indonesia.

Mengapa mereka mengobarkan stigma terhadap feminis, mungkin mereka tidak memahami dengan benar maknanya serta tidak memahami relevansi feminisme dengan kehidupan sehari-hari dirinya sebagai perempuan.

Untuk itu, saya merasa penting menjelaskan pemahaman dasar dari feminisme dan feminis. Feminisme intinya ialah paham yang mengakui adanya penindasan terhadap perempuan sekaligus upaya untuk membebaskannya.

Kata kuncinya ialah ada kesadaran kritis terhadap ketidakadilan yang terjadi pada perempuan dan kesadaran itu dibarengi dengan upaya untuk membebaskannya. Orang yang mempunyai kesadaran dan melakukan aksi itu ialah feminis.

Dalam sejarah, kita mempunyai sederet nama perempuan yang memiliki kesadaran kritis dan melakukan perlawanan. Mereka ialah pahlawan perempuan yang namanya sangat kita kenal atau perempuan-perempuan tidak dikenal dan tidak ditulis.

Pahlawan seperti Kartini, Roehana Koeddoes, Dewi Sartika, dan Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan atas dasar kesadaran kritis terhadap kaumnya.

Kartini dikenal dengan perlawanannya terhadap feodalisme dan segala bentuk norma-norma yang mengekang perempuan. Roehana Koeddoes ialah sang pemula jurnalis perempuan yang menggunakan media untuk mendidik kaum bumiputra.

Para pejuang perempuan itu bergerak memperjuangkan kaumnya mendapatkan pendidikan yang sama, perlakuan yang setara, dan akses mendapatkan kualitas hidup yang baik.

Kita juga mengenal Kongres Perempuan pertama pada 1928 sebagai tonggak sejarah dalam memperjuangkan hak-hak perempuan sekaligus memperkukuh nasionalisme bangsa dalam melawan kolonial.

Jika ingin contoh lebih dekat dan terkini, para penentang feminis dapat melakukan selusur sejarah perempuan dalam silsilah keluarga masing-masing. Pada umumnya, silsilah keluarga perempuan ini mengangkat kisah-kisah perempuan kuat dan memiliki daya, tetapi tidak jarang juga kisah pilu perempuan terkuak.

Kita bisa menemukan masalah perempuan yang selama ini tersembunyi, misalnya, beban kerja, pengekangan, penelantaran, pengabaian, anggapan dan perlakuan perempuan lebih rendah, perkawinan paksa, perkawinan anak, putus sekolah, serta pelecehan seksual.

Feminis mengangkat masalah ini sebagai masalah sosial supaya mendapatkan jalan keluar untuk memecahkannya.

Kalangan yang mengobarkan Indonesia tanpa feminis mungkin lupa kalau ia menikmati hasil jerih payah dari feminis. Saat ini mereka leluasa mengakses informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, peluang kerja, media sosial yang dipakai untuk dirinya, bahkan melawan pejuangnya.

Bahkan, mungkin ada juga yang meminta perlindungan hukum melalui Undang-Undang Nomor: 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, memanfaatkan layanan persalinan, pemeriksaan dini kanker serviks, dan segala jenis pemeriksaan kesehatan reproduksi melalui Jaminan Kesehatan Nasional.

Anak-anak disediakan fasilitas kartu Indonesia pintar (KIP) dan Program Keluarga Harapan (PKH) untuk menempuh pendidikan dua belas tahun, tidak akan dapat meraihnya jika mereka dibelenggu dengan norma-norma konservatif.

Berulang kali kalangan antifeminis itu juga menutup mata terhadap kasus-kasus perkosaan dan pembunuhan anak di bawah umur di Bengkulu, Papua, perkosaan balita di Bogor, perkosaan murid oleh gurunya, perkosaan manula, dan mengingkari perkosaan massal 1998.

Data BPS 2016 menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan, membutuhkan kita untuk tergerak sadar dan bertindak.

Para penolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual mesti berpikir ulang terlebih ketika ustaz Tengku Zulkarnain mengakui kesalahannya secara resmi melalui media bahwa tuduhannya terhadap Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tidak terbukti.

Ia mencabut ceramahnya dan menyatakan tidak menemukan pasal yang ia tuduhkan bahwa dalam Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tidak ditemukan perihal pemerintah melegalkan zina.

Sudah saatnya mengoreksi stigma yang menyudutkan feminis. Menganggap tidak cocok untuk perempuan Indonesia karena feminis tidak islami dan datang dari Barat.

Di negara-negara Islam, kita mengenal feminis seperti Nawal al-Sa’dawi dari Mesir, Fatimah Mernisi dari Maroko, Riffat Hasan dari Pakistan, Amina Wadud Muhsin dari Malaysia. Bahkan, dari Saudi Arabia pun dikenal feminis Fauziah Abul Kholid.

Mereka menggunakan daya kritisnya untuk mengamalkan agama yang dianut agar menjadi lebih adil bagi semua manusia, khususnya perempuan.

Dalam konteks Indonesia, menguatnya norma-norma konservatif makin menghambat kemajuan perempuan, membutuhkan kehadiran pihak memiliki pemikiran dan komitmen dengan perspektif keadilan gender.

Dengan demikian, feminis dibutuhkan keberadaannya untuk mengangkat masalah perempuan, menyuarakan aspirasi dan kepentingannya. Menggerakkan semua pihak untuk melakukan perubahan bersama-sama.

Mengubah dari yang timpang menjadi setara, dari perlakuan diskriminatif menjadi adil, serta dari bahaya kekerasan menjadi rasa aman dan penuh perlindungan di semua ranah keluarga, masyarakat, dan negara. (*)


Editor: Daniel Kaligis


Continue Reading

Daerah

Proyek Panik Pandemi

Published

on

By

Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.

04 Maret 2021


Oleh: Daniel Kaligis


Torang manyanyi: love is all that I can give to you, love is more than just a game for two . . .
Sudah dicatat: Global financial crisis, billions of human beings living below the poverty line, thousands dying needlessly from war, malnutrition or easily curable diseases and thousands more dying. Maar, history pernah dibongkarbangkir semau mindset orde…


ILUSI berlayar dalam badai, pandemi ini perang. Walau, kita coba menelisik pertalian soal hari ini dari benang merah persoalan kusut hari silam. Jawabnya bias dan ngambang.

Suraro, serdadu, tentara. Lelaki penempur itu berkisah pada saya — cerita tentang suatu masa. Siapa dia? Babad apa? Tidak penting, sebab perang masih berlangsung sekarang. Persaingan bisnis. Pergulatan kata. Kuasa cari perhatian. Ulangi, pandemi ini perang.

Dengar tuturnya. “Bekas suraro, bahkan ada yang nda pernah dapa doi pension, kong boleh jadi dorang nda pernah dipensionkan negara yang bergelut dengan sistem dan perpolitikan menelantarkan sejumlah perkara rakyat sampe sekarang. Torang boleh bilang, masa silam adalah neraka pergolakan. Battalion-battalion, kompi-kompi, rancang strategi baku lawang pangmalawang baku hajar. Dinding berkuping, bicara sembarang ditahan, manusia memangsa manusia.” Begitu bacirita dengan oma Keke, puluhan tahun lalu soal perang sudara yang berkobar di tanah Sulawesi dan di sejumlah daerah.

Saya parafrase: La Estoriê 03 March1857 — Prancis dan Britania Raya menyatakan perang terhadap Cina — 1878 —  Bulgaria merdeka dari Ottoman — 1918 —  Jerman, Austria, Rusia menandatangani Traktat Brest-Litovsk hentikan keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia Pertama. Pada ketika sama, Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia beroleh kemerdekaan. Catatan perang yang usang, 2020.

Entah ada pertaliannya: perang seiring pandemi, tahun-tahun jadi pengalaman, ditutur berulang-ulang. Dilupa karena kesusahan dan kesenangan: Medio 1918 ada Flu Spanyol. Siddharth Chandra, PhD, direktur di Michigan State University, dalam penelitiannya terkini terkait Flu Spanyol, menyebut bahwa di daerah Jawa dan Madura, ada lebih kurang 4,37 juta korban jiwa dari penduduk yang berjumlah sekitar 60 juta orang saat itu. Demikian diberitakan detik.com.

Apa maunya pandemi? Menjaga jarak sudah dari dulu. Namun, persaingan bisnis mengendap-endap. Berita, semacam pelintir-pelintir segala syarat berpergian. Setelah terkurung, apakah rakyat terus akan disuapi makan-minumnya oleh negara? Mustahil.

Virus berusia tua, pernah dianggap enteng, dikira renta. Lalu, ketika takut menyerang, menyamar baru, mengancam mati, kejam dalam kelam sosialisasi: asumsi dan persepsi, entah cocoklogi, tapi sudah ada sejumlah korban.

Kembali pada ilusi perang: Waktu berganti di hari sama lima tahun silam, dengan sejumlah kawan mendiskusikan perang. Saya berbagi video mesin perang canggih di media sosial, kawan-kawan menanggapi. “Prihatin pada hasrat menggelora. Cakar, taring, serta raung bagai anjing liar-anjing liar berebut tulang,” ujar kawan dari Wanua, Geovani Nomura Iskar.

Tentang mesin perang – yang dalam asumsi saya – itu adalah senjata canggih, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan America sudah punya something similar. Kalau ini punya Israel, aku gak kaget lagi,” ujar kawan yang bermukim di London itu.

Hari sama di tahun beda, 2012. Saya menera kutipan, Book of Nature: and when all the pretty blossom had fallen from our branches, we found that we were one tree, and not two. Dari depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, di situ, menerawang awal kemarau nan manja. Metafora airmata di baris terujung tawa gemasmu. Tandus makin berbekas di carang-carang meliar, bianglala pudar di pangku kabut. Ilusi kita berlayar dalam badai.

Perang Asumsi Persepsi

Perang membikin carang-carang patah. Rakyat, seperti carang. Bagaimana? Patah arang. Berapa tahun silam kawan-kawan masih boleh melancong ke mana-mana, boleh menikmat jajan alamiah dari rak-rak pedagang kecil, belanja dari lapak di sudut-sudut persimpangan. Mudah beroleh penawar generic di tengah bombardemen iklan apa saja.

Hari itu di 2012, depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, saya ngobrol virtual menjawab Nita Tjindarbumi dari Jakarta. Katanya, “Belum dua puluh empat kunikmati kesendirian ini, setelah usai kisah kita, kini aku menghadapi sebuah tawaran manis yang sulit untuk kutampik. Ah, cinta ternyata tumbuh di mana-mana meski kadang di tempat yang salah. Oh, tentu saja kita akan bisa menemukan pembenaran atas kekeliruan yang masih bisa kita carikan jalan keluarnya. Selamat datang cinta. Ini kisah cinta baruku, bagaimana kisah cintamu Aj Boesra, Sandra Palupi, Novline Lidia, Daniel Kaligis, Evert Maxmillan Pangajouw, Ria Tjindarbumi, Sari Wiryono, Anastasya Bee, Dima Here Wila, Gyanthie Widjajanto, dan semua teman pesbukku lainnya? Happy week end.” Seperti itu Nita mengajak kawan-kawan berdiskusi.

Sandra Palupi bilang, “Cintaku aman-aman, dan berusaha kunikmati. Seperti berada di gelayut roller coaster kata Bon Jovi, menikmati apapun.”

Menjawab Nita, Aj Boesra sebut, “Cintaku di ujung Papua.”

Kata bersambut kata. Aj Boesra menuding capital letter yang dilontar Karjo Aduhai: “cinta itu buta”, berhuruf besar pangkal ke ujung kalimat itu, menanggap cerita Nita. Padahal, Karjo sebutkan yang mana dia mengutip ujaran, dalam mana – ujaran itu adalah fakta dalam hidup manusia.

Duhai, senandung sajak-sajak disambung pertikaian kata. Aj Boesra kian meradang.

“Karjo ya? Mataku masih awas. Ga perlu nulis gede-gede kayak baru punya laptop. Anak muda mau pamer,” ketus Aj Boesra. Ditimpali Nita, “Karjo, ngapain pake kapital, gak sopan banget tuh!”

Huruf besar jadi tertuduh. Asumsi mengalir. Perang, mungkin saja membesar.

Saya bilang dalam renung sunyi ketika itu, “Cinta berkelahi. Cinta berasumsi. Cinta persepsi. Perang bersetubuh dengan kata dan tafsir. Sambal meneguk Dima Here Wila yang menjawab Nita Tjindarbumi:

“Ah, bagaimana mungkin kau bilang mencintai aku. Kau terlalu asyik dengan dirimu sendiri. Kau begitu sibuk dengan pekerjaan dan teman-temanmu.”

Kental, mengalun cerita cinta Dima Here Wila:


Jika benar, kau mencintai aku, seperti yang kau bilang
Mungkin aku tak akan selalu sendirian menjalani hari-hariku.
Aku merasa kau semakin jauh.

Aku tak mengenalmu lagi, kau asing bagiku.
Seolah-olah kau sengaja berlari menjauh meninggalkan aku.

Mungkinkah kau mencintai aku, sedang kau tak pernah menghabiskan waktu bersamaku?

Hari-hariku sepi tanpa gelak tawamu.
Hari-hariku lewat tanpa godamu.
Hari-hariku berlalu tanpa dirimu.
Tanpa cintamu.

Dan aku masih sendiri tanpa kepastian.
Tapi sungguh, aku menikmati kesendirianku.

Jadi, jangan datang dengan kata-kata cinta semu-mu.
Karena bagiku, cinta adalah kebersamaan kita.
Tertawa bersama.
Bercanda dan gurau bersama.
Melewati hari bersama.

Dan aku akan tetap menikmati hari-hariku,
walau sendiri tanpa cintamu.
Tanpa dirimu.


Saya malah panik membaca sajak-sajak. Dalam jiwa terantuk perseteruan tafsir. Asumsi menjalar, meliar. Lalu, malam seakan persepsi gulita di rimba belantara, gelap Wanua yang jauh di pelosok. Di kota-kota dunia, cahaya menembus tulang siang malam benderang. Hati kelam.

Masih meresap sajak Dima: “Cinta itu ajaib, ini kisahku, mbak Nita. Berharap anda menikmati akhir pekanmu bersama keluarga,” kata perempuan yang menetap di Kupang, Nusa Tenggara Timur itu.

Uang dan Mesin Perang

Hari berganti, tiga, empat, lima, putaran masa. Tahun berlalu. Asumsi dan fakta, jutaan orang mati karena perang. Boleh tahu berapa yang mati karena asumsi? Sebuah kutipan di halaman World without Wars and Violence, “Stockholm International Peace Research Institute — at 15 April 2013, announced that the year 2012 saw an estimated US$ 1.750.000.000.000 spent on weapons and the military machine.”

Hey Dima Here Wila, I’m sorry, saya tidak mengabari. Berapa kali saya datangi Kupang, Soe, Kefamenanu, Timur Tengah Selatan, Oelfaub, Wini. Melayari Sunda Kecil. Memotret laut, nelayan, dan takjub pada alir samuderamu. Jangan-jangan proyek-proyek juga menjadi perang di situ.

Waktu. Semua berubah, namun kenang — sistem yang kita jalani saat ini rusak. Seperti itu persepsi saya. Mungkin sistem tak dapat diperbaiki, sebab dalam praksis sistem, manusia tak menghargai kehidupan manusia. Sistem hanya menghargai materi dan orang-orang yang punya uang.

Terkenang nama, ‘Soe – Kefamenanu – Oelfaub’ itu nama proyek jalan di Nusa Tenggara Timur. Saya pernah melintasinya. Jalan dikerjakan pada tahun anggaran 2019 – 2020. Pemberitaan di daerah pernah meliputnya. Boleh baca berita yang ditulis Petrus Usboko di timexkupang.com, 21 Agustus 2020.

Orang-orang sibuk sosialisasi. Pandemi, sebagian ada di titik realokasi. Panik sebab pemberitaan. Mesin perang mungkin saja dalam bentuk yang lebih lembut semacam protokol yang menarik sejumlah rupiah dengan keuntungan berlipat-lipat, dan ada di raut kita yang hilang identitas.

Berapa waktu lalu, saya video mesin perang, dan berujar di status media sosial, bahwa, ke depan, uang dan sumberdaya akan terus berhambur untuk mencipta dan membeli mesin perang. Menanggap video itu, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan Amerika sudah punya something similar. Kalo ini punya Israel aku gak kaget lagi,” kata kawan yang bermukim di London, England itu.

Geovani Nomura Iskar, kawan saya dari Wanua menanggap, “Prihatin dengan hasrat yang menggelora. Cakar-cakar, taring, serta raung bagai anjing-anjing liar berebut tulang.”

Ini soal yang bikin Altje Wantania bertanya, “Apakah perang memang harus selalu diselesaikan dengan perang?”

Semestinya, perang jangan dijawab perang. Walau adab purba masih dipelihara: perang dibayar perang dan kelihatannya seperti tak pernah akan lunas.

“Ketika perang dibayar perang, kematian dibalas kematian, punahlah kehidupan,” tegas Altje Wantania.

History dendam berujung sia-sia: perang hari ini melawan ego dan keserakahan diri.

Saya mengulang lamunan sambal menembang The Night Watch: halaman senja, malam mengendus tiap aromamu lebih kelam dari yang pernah dikenang dalam ingatan, angin mengusik rambutnya terurai. digesek biola, melody merasuki lorong-lorong, ia bernyanyi: anak-anak dibesarkan dalam prasangka, seperti perempuan-perempuan miskin yang tak punya pilihan; duhai jejak-jejak rindu, senyummu gelisah, kawan di masa silam, mata serupa luna malam ini, bertengger di pucuk gelap, dan kabut memutih basah oleh cahaya.

Tahun silam membaca tulisan Linda Christanty, bertarik 05 April 2020, Tiada ‘Kebetulan’ di Dunia. Saya mengutip tiga baitnya untuk anda:

“Perang di dunia obat-obatan ataupun farmasi sebenarnya sama kejamnya dengan perang yang menggunakan senjata pemusnah massal. Perang ini cukup sunyi dan tersembunyi, tetapi uniknya media tanpa sengaja terkadang membantu kita untuk mengetahui bocorannya.”

“Obat-obatan untuk penyakit-penyakit tertentu telah ditemukan misalnya, tetapi para penemunya dibunuh dan penemuan-penemuan itu kemudian tidak berbuah menjadi produk penting untuk menyelamatkan nyawa banyak manusia.”

“Ada pil yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, harganya murah dan efek sampingnya tertanggungkan, tetapi  tiba-tiba ada orang yang mendukung pemberian vaksin yang efek sampingnya masih misterius.”

Aktivis perempuan itu menyebut, bahwa pandemi yang terjadi sekarang ini sayup-sayup menyuarakan ‘sudah saatnya uang tunai tak lagi digunakan’, karena pertukaran uang kertas dan koin menjadi sarana pemindahan virus. Orang-orang yang tidak punya cukup uang di bank akan mati lebih cepat, oleh virus dan perkembangan teknologi.

Laste

Persitiwa hari ini dapat ditarik pertaliannya dari kejadian-kejadian kecil, yang mungkin saja luput dari perhatian khalayak.

‘Proyek Panik Pandemi’ hanya judul, mestinya ditera dengan tanda tanya. Tafsir. Huruf-huruf kapital mengundang asumsi, pada sub judul ‘Perang Asumsi Persepsi’ saya coba mengulas sedikit tentang tafsi. Orang-orang menyusun, mengenali, dan menafsir informasi sensoris guna memberi gambaran pemahaman tentang prilaku dan tentang segala bentuk informasi yang mereka peroleh di lingkungan sekitarnya. Termasuk tentang tontonan dan media.

Menakala mengedit tulisan Linda, saya memilih kalimat ini: “Seorang bekas mata-mata menulis pesan di media sosialnya: ‘Kapan burung bernyanyi? Di musim semi.’ Pesan ini tidak bermakna apa-apa bagi orang-orang yang selalu memperlakukan berita atau tulisan di media sebagai surat dari orangtua mereka. Tetapi bagi mata-mata lain atau koleganya, pesan ini sebuah sandi.”

Apalah perang, garang menyerang. Bumi, alam semesta, satu-satunya lokasi di mana orang-orang menetap. Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik, damai.

Krisis global, ketakutan miliaran manusia hidup di bawah garis miskin. Mindset di-drive, sejumlah isu. Namun, enyahkanlah panik. Kita butuh jawaban dari sejumlah soal. Kita butuh informasi yang mendidik dan membuka cara pandang.

Ulangi: Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik damai. Berdamai dengan asumsi. Berdamai dengan persepsi. Berdamai dan bercintakasih dengan sesama.

Mari berdamai. (*)


Gambar: Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.
Sumber gambar: iedunote


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com