Connect with us
no

Opini

Konflik Peradaban Dunia Awal Abad 21

Published

on


Oleh: Harry Kawilarang


AKHIR-AKHIR INI muncul konflik sivilisasi westernisasi oleh non-budaya Barat. Sikap agresif non Barat terhadap negeri-negeri Barat karena dicurigai telah melakukan perluasan evolusi hegemoni budaya hingga menimbulkan motivasi mengembangkan kekuatan ekonomi dan militer dengan menyertakan supremasi budaya.

Samuel Huntington menggambarkan konflik ini sebagai ‘The West Against the Rest’. Ancaman yang dihadapi Barat adalah kebangkitan budaya Kongfuchu dan Islam sejak mengalami kemajuan ekonomi dan peningkatan militer dan konflik bakal mengancam eksistensi harmonisasi hidup berdampingan antar budaya di masa datang.

Huntington memperkirakan konflik peradaban sivilisasi bakal menjadi sumber ketegangan dunia menggantikan posisi perang dingin di panggung politik internasional pada bukunya, ‘The Clash of Civilazation’. Huntington mengemukakan konflik ini berkembang sejak panggung internasional mengalami peralihan kondisi di akhir 1980an dengan tumbangnya rezim-rezim Komunis di Eropa-Timur – yang berlanjut di Uni Soviet.

Sejak itu pun faktor ideologi sebagai perangkat integrasi kesatuan mengalami degradasi dan mengancam eksistensi kebangsaan pada negeri-negeri masyarakat ber-budaya majemuk.

Pupusnya peranan pelaku perang dingin yang mewarnai konflik ideologi yang dilakoni blok bekas Uni Soviet, AS dan Dunia Ketiga, akan dapat mempengaruhi eksistensi ideologi sebagai alat kesatuan. Apalagi bila panutan ideologi pemerintahan gagal melakukan revitalisasi pembaruan sebagai alat pemersatu. Karena akan langsung mempengaruhi harmonisasi hidup masyarakat pluralistik berbeda rumpun akar budaya tetapi berikrar sebagai kesatuan bangsa.

Ancaman konflik sivilisasi bakal melibatkan diplomasi dan militer menurut Huntington terdiri dari delapan jenis blok budaya sivilisasi. Masing-masing meliputi: Barat, Jepang, Kongfuchu, Hindu, Islam, Slavik-Orthodoks, Amerika-Latin dan Afrika.

Bukan kelas, ideologi ataupun kebangsaan yang bakal menjadi pemeran tetapi panutan budaya dan rumpun menjadi sumber konflik dunia, pendapat Huntington. Pandangan ini dikaitkan dengan konflik pemisahan Kroasia Barat antara Slovenia terhadap Muslimin Bosnia dan antara Slavic-Orthodox dengan Serbia. Berlanjut dengan konflik antara sekte di lingkungan Islam antara Suni dengan Shyi’ah di Irak. Konflik antara Kurdi dengan Arab atau antara Arab dengan Persia.

Konflik serupa juga melanda Irlandia Utara, Rwanda, Burundi, India, Pakistan dll. Menurut Huntington beda pandang tidak seharusnya menjadi penyebab konflik. Namun sengketa terjadi bila beda sikap dan budaya tersudut oleh budaya lain hingga membangkitkan nilai spiritual melebar menjadi multi-polar dan tidak lagi bipolar.

Dari 180 pemerintahan di dunia 15 negeri menerapkan sistem pemerintahan tradisi kultural homogen sesuai kondisi panutan mayoritas masyarakat negeri itu. Sekitar empat puluh persen dari jumlah pemerintahan yang menjalankan sistem multi-nasional terdiri lebih dari lima rumpun berbeda budaya.

Dan sekitar 1/3 dari jumlah itu walaupun sebagian besar didominasi oleh salah satu sivilisasi budaya tetapi tidak menerapkan sistem homogen. Yang menjadi patokan utama adalah peranan ideologi sebagai pemersatu.

Namun panutan kesatuan ideologi akan retak bila suatu pemerintahan menerapkan kebijakan hanya didasari pada analogi sivilisasi budaya secara sepihak yang dapat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat majemuk lainnya terutama dalam pembangunan sosial-ekonomi. Hal ini memercik gejolak intra-sivilisasi dan dapat melebar menjadi konflik inter-sivilisasi seperti yang melanda bekas federasi Yugoslavia.

Bahkan juga menular di Indonesia yang kian terancam oleh bahaya disintegrasi.

Anthropolog Kevin Avruch pada tulisan ‘Ethnic and Racial Studies’ berpendapat: “Tradisi sekarang ini berbaur dengan modernisasi karena terbawa oleh pengaruh perubahan zaman menurut tuntutan faktor kondisi. Walau menggali kembali tradisi lama tetapi dipadu dengan selera zaman. Namun kebangkitan kembali tradisi lama akan terungkit bila eksistensi seseorang atau masyarakat tersudut oleh kondisi dan situasi keadaan.”

Kehidupan identifikasi manusia pada dasarnya tidak semata bergantung pada ideologi atau ekonomi. Yang diutamakan adalah pada keyakinan dan silsilah keturunan keluarga dan ikatan darah budaya rumpun sebagai panutan utama hidup.

Budaya yang dinilai asing akan mudah menimbulkan sengketa ketimbang konflik ideologi karena yang dipentingkan manusia adalah mempertahankan eksistensi ikatan budaya tradisi premordial.

Masyarakat Cina tradisional sekali-pun mengubah hidup menjadi kapitalis tapi tetap mempertahankan nilai budaya Kongfuchu. Nilai dan moral dari silsilah garis keturunan erat kaitannya dengan identitas ethnis.

Walau proses modernisasi Islam berkembang di Abad Dua Puluh, tetapi tetap menggunakan dasar falsafah Nabi Muhammad SAW sebagai nilai moral hidup. Kemajuan yang ditopang dari produksi minyak bumi dan teknologi elektronika seperti yang digambarkan pada teori ekonomi Islam oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini adalah gagasan baru dalam peradaban Islam.

Modernisasi Islam turut menyertakan emansipasi wanita tidak dibelenggu pada tradisi budaya. Selain bebas nonton TV, shopping di tempat umum, aktif dalam kampanye politik, ataupun bekerja di kantor juga sejajar dalam jabatan dan hak dengan pria. Tetapi terapan tradisi dapat bangkit sebagai alternatif bila eksistensi hidup tersudut dan menempatkan keyakinan spiritual sebagai semangat perjuangan. Dan keterlibatan politik pada konflik sivilisasi menjadi blok kekuatan mempertahankan eksistensi hidup.

Padahal pada umumnya implikasi logika dari konflik bukan semata oleh perbedaan pandangan, tetapi umumnya terbawa oleh unsur rasa rendah diri (inferior) menghadapi sikap keterbukaan yang menjadi bagian dari proses relasi komunikasi di alam modernisasi.

Peran Sikap Intelektualitas Ekologis

Sebenarnya faktor fanatisme yang berpegang pada supremasi budaya dan mengikuti kehidupan tradisi lama dengan mengabaikan eksistensi budaya lain akan memenjarakan diri sendiri. Karena membiarkan diri tertutup dari keterbukaan dan tetap dilekati rasa rendah diri. Karena pada akhirnya menyadari tiada satupun pandangan supra-kultural akan abadi dan kekal.

Konflik keyakinan di India terjadi akibat sistem sosio-politik tidak menentu. Tanpa memahami kondisi sosial dan mengabaikan unsur kebutuhan mendasar, manusia akan larut oleh distruksi konflik tak berujung.

Bahwa pada dasarnya faktor ekologis lingkungan setempat berperan utama menentukan nilai dan sikap. Tidak satupun penetrasi budaya murni dapat berkembang di Indonesia. Gugusan nusantara ini sejak lama mengalami penetrasi budaya luar karena posisi diapit dua benua dan dua samudera. Walau kesemua budaya diserap tetapi tetap mengalami proses filterisasi penyesuaian ekologi lingkungan beriklim tropis yang mengutamakan panutan sikap toleransi oleh masyarakat setempat dari berbagai lapisan sosial.

Eksistensi identitas didasari pada intelektualitas ekologis membentuk Pan-Nasionalistik kesatuan tidak bakal terancam punah sekalipun dunia mengalami perubahan oleh putaran roda zaman yang mengubah kondisi dan waktu dan tidak pernah berhenti dan tidak dapat dibendung siapa pun.

Yang penting membentuk formulasi kesatuan nasionalistik terpadu hasil masing-masing norma budaya dan mengembangkan revitalisasi pembaruan budaya kolektif sebagai kelanjutan kesatuan ideologi pluralistik untuk mengendalikan stabilitas dan membendung pandangan ilusi Huntington. (*)


Editor: Daniel Kaligis

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Alor

Putra Alor Irjen Johanis Asadoma Ditunjuk Jadi Kapolda NTT

Published

on

By

Putra Alor Irjen Johanis Asadoma Ditunjuk Jadi Kapolda NTT

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menerbitkan surat telegram (ST) berisi sejumlah rotasi jabatan di lingkungan Polri. Salah satunya penunjukan Irjen Johannis Asadoma yang sebelumnya menjabat sebagai Kadiv Hubinter Polri diangkat sebagai Kapolda NTT, menggantikan Irjen Setyo Budiyanto.

Sebagaimana Teropongalor.com mengutip dari akun FB Laa Adipapa.

Surat Telegram Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo nomor : ST/2224/X/KEP/2022, tertanggal 14 Oktober 2022 yang mana tertuang dalam poin delapan: Irjen Pol Drs. Johanis Asadoma, M.Hum. NRP 66010508 Kadivhubinter Polri Diangkat dlm jaabatan baru sebagai Kapolda NTT TTK.

Surat telegram yang tertanggal 14 Oktober 2022 pada poin tujuh juga menyebut Kapolda NTT Irjen Setyo Budiyanto diangkat sebagai Kapolda Sulawesi Utara.

Sumber berita: https://radamuhu.com/2022/10/14/putra-alor-irjen-johanis-asadoma-ditunjuk-jadi-kapolda-ntt/

Continue Reading

Opini

Teknik Pengendalian Baru

Published

on

By


25 Januari 2022


Penyebaran informasi yang cepat dan beragam-ragam di internet dianggap praktik demokrasi dan pemenuhan hak atas informasi. Padahal itu sebuah teknik pengendalian baru dari imperialisme. Menebar jaring dulu, menjerat kemudian.


Oleh: Linda Christanty
Penulis adalah Penulis dan Sastrawan


SEJUMLAH teman berkata, bahwa kebanyakan anak muda generasi milenial itu apolitis. Menurut mereka, keapolitisan itu yang membedakan generasi milenial dengan generasi muda masa Orba yang politis. Kesimpulan mereka tidak layak dipercaya. Di masa Orba, kebanyakan anak muda juga apolitis.

Teman-teman tentu ingat bagaimana kelompok anak muda kritis di kampus-kampus masa Orba misalnya dianggap anomali di tengah kecenderungan umum yang tidak kritis atau ogah berurusan dengan rezim. Jadi jangan suka menuduh-nuduh generasi milenial dan generasi-generasi sesudahnya. Selama hidup kita masih di bawah kendali pihak lain, wajar orang merasa takut. Oleh karena itu, pemberontak kita sebut pejuang. Selebihnya, massa.

Perbedaan masa dulu dan sekarang terletak pada penyebaran informasi.

Perkembangan teknologi digital membuat sebaran atau daya jangkau informasi lebih luas dan lebih cepat sampai kepada sasaran atau tujuan. Memobilisasi orang juga lebih mudah. Berguna untuk tujuan baik. Berpotensi juga untuk menjadi neraka kemanusiaan jika dimanfaatkan para kriminal.

Penyebaran informasi yang cepat dan beragam-ragam di internet dianggap praktik demokrasi dan pemenuhan hak atas informasi. Padahal itu sebuah teknik pengendalian baru dari imperialisme. Menebar jaring dulu, menjerat kemudian. Menganggap dunia saat ini bebas sensor jelas mengubur kewaspadaan kita. Kontrol telah disamarkan melalui situs-situs pemeriksa fakta.

Kita tengah memasuki tataran lanjut imperialisme. Neo neo imperialisme. Salah satunya, melalui sebaran virus buatan ini di seluruh dunia, mutasi-mutasinya, dan tahap vaksinnya tidak cukup dua kali, tetapi berkali-kali dan kalau bisa sampai akhir zaman. Kita dikendalikan oleh imperialis dan kaki tangannya. DNA kita dirusak.

Mungkin kalau kamu bisa menerawang ribuan tahun ke depan, kamu akan terkejut menjadi leluhur makhluk bermata satu, bertaring, dan melata seperti buaya, sehingga waktu itu orang-orangtua tidak lagi memberi nama kepada anak mereka, karena makhluk seperti itu tidak lagi membutuhkan akte kelahiran dan KTP.

Makhluk ini bahkan tidak bisa mengucap kata ‘ompung’, ‘embah’, ‘kakek’, ‘nenek’, ‘mama’, ‘papa’, ‘ayah’, ‘bunda’. Waktu itu bahasa-bahasa manusia sudah punah.

Coba temukan bukti imperialisme ini tanpa repot-repot. Amati internet. Ketik ‘virus’. Dari kebanyakan informasi yang muncul, analisis dan buat kesimpulan. Rata-rata kesimpulan orang: dunia kita tidak akan sama lagi dan tidak akan normal lagi.

Nah, itu tujuannya. Kebutuhan-kebutuhan di dunia yang tidak normal itu apa saja? Nah, yang membuat aturan dan memproduksi mendapat keuntungan. Media kita turut mensirkulasi informasi yang sama.

Di masa pendudukan Jepang di Indonesia, pertanian hancur karena hama bekicot. Hama ini disebar oleh penjajah. Akhirnya bekicot dimakan karena pangan minim. Ahli gizi agen ganda pendukung penjajah sekaligus penghibur rakyat menyatakan bekicot berprotein tinggi dan rakyat tidak butuh daging lain, katanya. Virus disebar dan tidak bisa dimakan. Lebih buruk dari bekicot.

Tahun lalu, peneliti-peneliti hebat bangsa sendiri berusaha membuat vaksin untuk pertahanan bangsa dan saya percaya mereka berupaya keras agar tidak membuat kita menjadi leluhur makhluk melata bermata satu bertaring, tiba-tiba lembaganya malah dibubarkan. Ya Tuhan, selamatkanlah rakyat tak berdaya di negeri ini. (*)

Continue Reading

Opini

Mbak Katy Pedagang Asongan

Published

on

By


21 Desember 2021


Dengan sopan, secara pelan-pelan. Ya, dengan sopan dia menawarkan barang dan jasanya kepada saya, secara pelan-pelan. Tidak maksa sama sekali.


Oleh: Nuniek Tirta Sari
Editor: Dera Liar Alam
Foto: Mbak Katy/ @nuniektirta


ANDAIKAN semua pedagang asongan berguru pada Mba Katy gimana caranya jualan tanpa mengganggu, pasti dagangannya lebih laku.

Saya yang selama seminggu di Canggu tak tergoyahkan oleh pedagang asongan, bukan karena tidak kasihan tapi lebih karena merasa terganggu sebab mereka sering memaksakan, di hari terakhir itu mau membeli barang dan jasa pijat Mbak Katy dengan sukacita.

Saya tanya, apa rahasianya?

Mbak Katy bilang: “Kalau saya senyum dan orang itu balas senyum, saya baru berani tawarkan dagangan saya. Kalau saya senyum tapi dia tidak balas senyum, saya ngga berani karena mungkin orang itu lagi nggak mau diganggu.”

Autoresponse saya selalu balas senyum. Tapi senyum saya itu tidak otomatis terkonversi lagi menjadi penjualan. Lalu apa rahasia Mbak Katy selanjutnya?

Dengan sopan, secara pelan-pelan. Ya, dengan sopan dia menawarkan barang dan jasanya kepada saya, secara pelan-pelan. Tidak maksa, sama sekali.

Saya sangat tidak tahan dengan orang agresif, tidak suka dibujuk-bujuk apalagi dipaksa. Makin diagresifin, makin saya galakin.

Yang Mbak Katy lakukan hanyalah duduk diam di samping saya yang sedang sendirian. Ikut memantau anak saya yang sedang surfing di kejauhan. Saya jajan risol gunting dan saya tawarkan ke Mbak Katy juga sekalian, dengan sopan dia menolak. Masih kenyang, katanya.

Obrolan mengalir lancar dari situ, seperti kawan lama saja.

Aneh, padahal saya yang introvert biasanya malas ngobrol dengan orang yang tak dikenal. Kemudian tanpa diminta lagi, saya akhirnya minta juga untuk pijat kaki dengan bonus gelang untuk anak saya.

Kalau kamu ke pantai Canggu dan perlu gelang tangan atau karet rambut, pijat tangan atau kaki hanya dengan selembar 50 atau 100ribu, silakan hubungi Mba Katy di +62 858-2926-xxxx. Saya sudah minta izin untuk share nomornya dan foto ini juga.

Mbak Katy ngga setiap hari ada di pantai Canggu karena anaknya masih kecil-kecil, tapi suaminya kerja di cafe sana. Jadi janjian dulu aja beberapa hari sebelumnya. Kalau ketemu, salam dari saya ya. (*)


Throwback 28 September 2021
Pantai Nelayan, Canggu, Bali
@nuniektirta


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com