Connect with us
no

Susastra

KRESNA & KRISTUS

Published

on

Oleh: Dera Liar Alam


Perjuampaan Yesus dengan Dewanagari


DEWANAGARI adalah kisah mirip Yesus. Susastra ini eksis sekitar empat ratus tahun sebelum Yesus historis disejarahkan umat Kristiani, bahkan lebih jauh dari itu.

Dalam beberapa tradisi perguruan Hindu, misalnya Gaudiya Waisnawa, Dewanagari dianggap sebagai manifestasi dari kebenaran mutlak, atau perwujudan Tuhan itu sendiri, dan dalam tafsiran kitab-kitab yang mengatasnamakan Wisnu atau Kresna, misalnya Bhagawatapurana, ia dimuliakan sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. (Guy L. Beck: Sonic theology: Hinduism and sacred sound. Columbia, S.C: University of South Carolina Press).

Dalam Bhagawatapurana, Dewanagari digambarkan sebagai sosok penggembala muda yang mahir bermain seruling, sedangkan dalam wiracarita Mahabharata ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang bijaksana, sakti, dan berwibawa. Selain itu ia dikenal pula sebagai tokoh yang memberikan ajaran filosofis, dan umat Hindu meyakini Bhagawadgita sebagai kitab yang memuat kotbah Kresna kepada Arjuna tentang ilmu rohani. (Bryant, Edwin H. Bryant: Krishna, the beautiful legend of God).

Dalam teks agama-agama, ada cerita inkarnasi. Dewanagari, atau Kresna, merupakan selasatu susastra di antaranya: Inkarnasi adalah pembuahan dan kelahiran makhluk yang merupakan manifestasi dari suatu tuhan atau dewa, atau kekuatan yang imaterial.

Kristus sebagaimana Kresna, dikenal pula sebagai tokoh yang memberikan ajaran filosofis kemanusiaan, cinta kasih dan damai sejahtera.

From Christ to Chrishna, tulisan karya Raymond Bernard. Tulisan yang cukup tua, diterbitkan pertama oleh Health Research, medio 1961.

Buku fenomenal itu membuktikan bahwa ajaran-ajaran Kekristenan berasal dari ajaran Sri Krishna.

Karya itu menjelaskan bahwa Apollonius dari Tyana pernah belajar di Himalaya dan setelah dia kembali, ia mengajarkan pahamnya itu kepada Eseni yang menjadi ‘Chrishn-in’ atau ‘Orang Kristen’ pertama.

Ada indikasi bahwa tulisan Apollonius itu ditulis ulang dan dijiplak gereja Roma pada Konsili Nicea tiga abad kemudian.

Pada abad keempat, Hierocles menuduh pendeta Kristen menciptakan messiah dengan menggabungkan nama dewa matahari Druid, Iesus dari kekaisaran Romawi, Konstantin dengan nama Chrishna yang berasal dari negeri Timur. Terminologi itu kemudian yang dikenal umat manusia sebagai Kristus.

Sungguh, alam semesta yang ajaib, hadirkan kisah-kisah inspiratif agar kita boleh berdamai dalam plural. (*)


Gambar: Lukisan Kresna,
Karya Dominique Amendola.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Alor

Twilight Kampung Seberang

Published

on

By


2020


Oleh: Parangsula


ANAK-ANAK kampung seberang menendang debu, bola emas menggilas tubuh mereka di pematang.

Di sini, berulang-ulang mantera ditambang ditebang ditembangkan: cincin, giwang, kalung, dan gelang, orang-orang di rimba hilang. Teori bimbang, impor keyakinan sebilah sangkur berperang bulan sabit menghunus tandus.

Musim kemarau yang panjang menekur batang-batang jagung, cabe, ubi, pisang, siapa mengenang gerimis. Air menggenang, di sana di Maumere, di Flores, di Sumba, di Timor, di Alor, di Pantar, di Lapan, di Lembata, di Rote, di Sabu Raijua, di Adonara, di Solor, di Ende, di Komodo, di Palue, di ribu nusa lainnya.

Masih ingat nyanyimu, Atoni, Manggarai, Sumba, Solor, Ngada, Timor Leste, Rote, Lio, Alor, Sawu…

Dan di semacam rasa – merindu pulang, kita bersua kekasih dari abad lampau membibirkan dewi dewa haus lapar politik doa panjang-panjang jadi pedang jadi ruang jadi uang jadi perang janji hutang janji usang…

Senja tenggelam, kampung seberang…

Continue Reading

Susastra

Geladak

Published

on

By


07 Oktober 2021


Kisah laut, Jhiva, laut tak bertepi yang pilu hitam abu-abu legam ombak gelombang badai, doa, dan cinta…


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


KAU sudah menyiapkan waktu, di geladak saat buritan dihantam badai dan ombak. Kau ingin bercerita tentang laut pada anakmu, di bawah payung malam, di dalam hati yang legam sekawanan paus mendengus menuntun huruf-huruf pada waktu yang akan menuliskan namamu pada batu.

Kau berdiri, malam ini di tengah lautan yang tak bertepi di antara ombak yang menghantam ulu hati, kepasrahan adalah kepatuhan yang kau benci, di tengah badai dan ombak, di antara bau anyir yang merebak bergerak ke geladak, kau mencintai laut seperti kau mencintai anakmu. “Jhiva…, Jhiva…,” kau berseru di tengah laut yang pilu, hitam dan abu-abu legam dan biru warna kesukaan anakmu, anak yang kau cintai seperti laut.

Apa yang kau terima setelah kau mencari, kau berdiri menatap laut yang tak bertepi mengingat anakmu, anak satu-satunya, kau memejamkan mata lalu berdoa meski kaupun tau doamu seringkali tak sampai di sana, dibungkam angin yang membara.

Kau melemparkan jala-jala di tengah badai dan ombak berharap ikan-ikan mendekat dalam jala-jalamu. Kau sadar di darat kau tak punya tempat. Tak ada ikan-ikan yang mencintaimu di darat dan itu membuatmu seperti sekarat. Di darat apa yang dapat kau lakukan selain hanya menunggu, karena hanya laut yang membuatmu masih bersitaut, sambil menatap laut ingatanmu di hantam ombak.

“Ayah…, ayah…,” panggil anakmu waktu itu sambil menunjuk-nunjuk layar televisi — pesta pernikahan, berita korupsi, peresmian proyek pembangunan, kompetisi menyanyi, wisata kuliner, ah terlalu banyak untuk disimak. Perahumu bergoyang-goyang dimainkan ombak.

Angin bertiup sangat kencang. Kau tak melihat ada petunjuk dari bintang, langit sendiri tinggi dan kelam. Kau tak beranjak, masih memegang erat tali jala yang kau lemparkan di tengah gempuran rasa rindu, suara ombak tak berhenti menderu, dalam jala-jalamu.

Kau ingin tongkol-tongkol itu terperangkap, berharap angin dan badai reda saling berdoa pada perahumu dan tongkol-tongkol itu dapat kau bawa pulang untuk Jhiva anakmu yang selalu menangis saat kau bercerita tentang laut.

Tapi, seperti di darat yang mengajarimu kesabaran, dendam, dan kepalsuan. Kau melihat buih-buih laut terombang-ambing dipayungi lengkung langit yang kelam. Kau tak melihat karang yang garang. Kau seperti melihat kelopak-kelopak bunga kamboja berceceran terseret ombak mengapung terombang-ambing dalam buih-buih keruh di lautan.

Ya Tuhan…

(*)

Continue Reading

Susastra

Mantra dan Kita

Published

on

By


24 September 2020


Oleh: Daniel Kaligis


Alir arus menepi di bumi asing,
setapak sunyi danau buatan.

Kita bermain kecipak air,
menanti sore pulang mengulang mantra.

Lereng-lereng menabuh gema berulang-ulang.
Rimba, alang-alang, gubuk tua sudah roboh.

Foy-doa, prere, foy-pai, sunding-tokeng, sasando, heo:
angin sapu badai hanyut aroma santalum-album dari pulau sebelah menghisap mantra.

Dramaturgi, fiesta, pemanggil hujan meratapi langit, gunung, awan, lautan, perahu-perahu menjauh. Dewi dewa menitip mantra pada tangis fana bayi: o nea, aida oba tapim anasu, a serla muku salara dumu, so mi amuru, ilu aroko wong tamudu aida amidi…

Anak-anak baca persepsi, doa panjang-panjang.
Kurikulum berbisnis kertas dan mantra, mendaur bimbang pandemi.

Ruang kelas sepi dan mahal, guru-guru berkelekar orientasi kelamin-kelamin bidang studi petualang hilang ibu-bapa leluhurnya oleh mantra…

 

 

 

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com