Connect with us
no

Internasional

LUKA GEOPOLITIK DI LADANG MINYAK

Published

on

Iranians burn American flags during a demonstration outside the former U.S. embassy in Tehran on May 9, 2018. Ali Mohammadi/Bloomberg. — nationalpost.com

Oleh: Daniel Kaligis

Washington menganggap penggulingan Syah Mohammad Reza Pahlavi adalah luka geopolitik yang belum sembuh di Iran

KILANG MINYAK ABADAN Iran, berada dekat pesisir Teluk Persia. Kilang ini selesai dibangun tahun 1912, merupakan salah satu kilang minyak terbesar di dunia. Kompleks kilang ditempati berapa pabrik petrokimia penting. Tahun 1980, kilang Abadan berkapasitas enam ratus tiga puluh lima ribu barel per hari pada saat itu.

Namun, September 1980 sebagian besar kilang luluh lantak oleh serbuan Irak ke provinsi Khuzestan, Iran, dan menjadi titik perseteruan panjang Iran – Irak.

Telusur alir misteri sungai-sungai, Tigris – Efrat. Mengusik alir Hiddekel di Mesopotamia yang meliuk-liuk dari pegunungan Anatolia melintas Irak, bermuara di Teluk Persia.

Pernah membaca kota berbenteng, Susan, molek bersolek peradaban kuno di kaki pegunungan Zagros. Roman Ahasyweros di catatan Sumeria tertua, Enmerkar dan penguasa Aratta di mana rakyat patuh pada Inanna, dewa pelindung Uruk.

Orang Arab menggelari etnis Persia sebagai ‘Fars’, karena abjad ‘P’ tidak terdapat dalam tulisan Arab. Beberapa catatan menyebut mereka adalah keturunan bangsa Arya yang berhijrah dari Asia Tengah ke Iran pada milenium kedua sebelum Masehi.

Kawasan Persia pernah diperintah kekaisaran-kekaisaran yang kuat, yaitu Akhemenid, Parthia, Sassania, Buwaihidah dan Samania. Lalu masuk pada masa pemerintahan Seleukus, Ummayyah, Abbasiyyah, Turki Seljuk, Afshariyah dan Qajar.

Bangsa Arya terpecah dua menjadi bangsa Persia dan bangsa Media dan mereka berasimilasi dengan suku-suku setempat. Sumber tertulis pertama mengenai orang Persia ialah prasasti Assyria, tahun 844 sebelum Masehi. Pada prasasti itu merujuk dua nama, orang-orang Parsua, yakni Persia, dan orang-orang Muddai, yakni Media. Saat di mana orang Asyur menggunakan istilah Parsua untuk merujuk kepada suku-suku di Iran.

Babad panjang, menaksir dari titik seratus ribu tahun sebelum Masehi: peradaban Elam sekitar lima ribu tahun silam membentang dari dataran rendah Khuzestan Bakhtiari dan provinsi Ilam, sebagian kecil Irak Selatan, atau Proto-Iran.

April 1979 hukum darurat militer berlaku, menderas ‘Enghelābe Eslāmi’, yakni revolusi di Iran. Ruhollah Khomeini pulang dari pengasingannya di Paris, dan memproklamirkan Republik Islam Irak.

Ruhollah Khomeini tampil gantikan Mohammed Reza Pahlavi.

Berapa catatan menyebut Pahlavi brutal, korup, dan boros. Encyclopædia Britannica menyatakan dia memaksakan oksidentalisasi, serta kebijakan ekonomi pemerintah ambisius menyebabkan inflasi tinggi, kelangkaan, dan perekonomian tak efisien.

Walau, tujuh belas bulan setelah Ruhollah Khomeini tampil, perang kembali meletus. Irak menyerang Iran, September 1980. Pertempuran delapan tahun menghancurkan peradaban, mengorbakan jutaan manusia dari kedua negara, tanpa ada keuntungan sedikitpun.


Intervensi Inggris dan Amerika

Rakyat beruntung, bila beroleh pemimpin peduli kebutuhannya. Namun, bila rezim berganti dengan intrik brutal, berebut sumberdaya dan kuasa, maka perang dan teror sudah tidak dapat dielak.

Sepanjang abad sembilan belas Iran terjebak pada Rusia dan Inggris. Pada tahun 1892, diplomat Inggris, George Curzon, mengibaratkan Iran sebagai ‘kepingan-kepingan di papan catur yang sedang dimainkan untuk memerintah dunia’.

Tahun 1872, perwakilan pengusaha Inggris, Paul Reuter, bertemu dengan raja Iran, Naser al-Din Shah Qajar. Reuter sepakat mendanai kunjungan mewah sang raja yang akan bertamu ke Eropa dengan imbalan kontrak eksklusif untuk jalan, telegraf, pabrik-pabrik Iran, ekstraksi sumberdaya, dan pekerjaan umum lainnya, di mana Reuter akan menerima jumlah yang ditetapkan untuk lima tahun dan enam puluh persen dari semua pendapatan bersih selama dua puluh tahun.

‘Reuter Concession’ tidak pernah terlaksana karena oposisi yang keras di dalam negeri dan dari Rusia.

Iran murka karena Inggris selalu campur tangan pada urusan dalam negeri. Revolusi konstitusi dalam negeri Iran selalu ditentang Inggris dan Rusia, demikian setiap pemerintahan demokratis yang berdiri hendak ditumbangkan keduanya, Inggris dan Rusia.

Waktu berganti. Pengurasan sudah sekian lama terjadi di Iran. Tahun 1951, parlemen Iran mengangkat Mohammad Mossadegh sebagai Perdana Menteri. Walau, Mossadegh ditentang penguasa, dalam hal ini Mohammed Reza Pahlavi yang takut embargo Barat.

Mossadegh menasionalisasi aset-asetnya yang dipegang Anglo-Iranian Oil Company (AIOC), dan mengusir perusahaan-perusahaan Barat dari kilang minyak di kota Abadan.

Manakala AIOC dinasionalisasi parlemen Iran, Maret 1951, rakyat Iran bersimpati pada apa yang diputuskan pemerintah. Langkah Mohammad Mossadegh dipandang rakyat sebagai penghentian pengurasan kekayaan nasional yang sudah lama terjadi oleh pihak luar. Mereka menganggap kekayaan tersebut bisa dimanfaatkan untuk memberantas kemiskinan di Iran.

Di balik itu, Inggris Raya memandang tindakan nasionalisasi AIOC sebagai pelanggaran kontrak yang tak dapat ditoleransi. Perwakilan Inggris di Amerika Serikat berpendapat bahwa mengizinkan Iran untuk melakukan nasionalisasi sebagai jalan mendukung Rusia. Inggris membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional di Den Haag

Inggris naik pitam atas keputusan Mosaddegh menasionalisasi AIOC, dan ingin memastikan keuntungan mereka masih akan terus berlanjut.

“Nasionaliasi AIOC dapat dianggap luas sebagai kemenangan bagi pihak Rusia, dan akan mengakibatkan anggaran belanja Inggris Raya berkurang seratus juta pound setiap tahunnya, sehingga sangat berdampak pada program persenjataan kembali dan biaya hidup penduduk Inggris,” tulis Stephen Kinzer, di halaman 90 pada buku All the Shah’s MenAn American Coup and the Roots of Middle East Terror. Buku itu terbit 2003.

Pada 22 Agustus 1951, kabinet Inggris Raya memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Iran. Negara yang di masa itu terkenal sebagai Britania Raya melarang ekspor komoditas utamanya, termasuk gula dan baja.

Inggris menarik semua personel mereka dari ladang minyak di seluruh Iran, menarik semua pengelola ladang dari Abadan kecuali tiga ratus personel pengelola intinya, dan memblokir akses Iran ke rekening fisiknya di bank-bank Inggris Raya. Armada perang Inggris memblokade Abadan.

Iran tidak tinggal diam. Pada musim gugur 1952, negara itu melatih warganya untuk mengganti tenaga kerja Inggris.

Upaya Iran terseok-seok. Amerika, Swedia, Belgia, Belanda, Pakistan, dan Jerman menolak mengirimkan tenaga ahli mereka ke Anglo-Iranian Oil Company yang telah dinasionalisasi. Hanya Italia yang mau mengirimkan tenaga ahlinya.

Sangat terlihat, kebanyakan negara maju mendukung Inggris Raya dalam perkara nasionalisasi AIOC.

Inggris memang sudah pernah menginvasi Iran lewat operasi ‘Countenance’, 25 Agustus 1941 hingga 17 September 1941. Alasan invasi untuk menguasai lapangan minyak Iran dan mengamankan rute persediaan bagi pertempuran Soviet melawan Jerman.

Tahun 1953 meletus Kudeta 28 Mordad 1332. Inggris dan Amerika mempermainkan Iran. Operasi Boot dan proyek TPAJAX dirancang.


Keterlibatan MI6

Inggris melibatkan dinas rahasianya yaitu MI6 untuk merontokkan Mossadegh. MI6 adalah nama lain dari Secret Intelligence Service yang bertugas eksternal. Mereka melakukan aktivitas di bawah arahan Joint Intelligence Committee (JIC), dan bekerja sama dengan Security Service – MI5, Government Communications Headquarters (GCHQ) dan Defence Intelligence Staff (DIS).

Keberadaan dinas rahasia ini benar-benar disembunyikan dari publik, hanya Perdana Menteri Inggris Raya dan pejabat tertentu yang tahu. Pemerintah selalu menyangkal keberadaannya, walau dinas rahasia ini selalu menggunakan anggaran negara sebesar £ 70 juta per tahun.

Sejumlah operasi intelijen kontra Jerman dan Rusia sukses dijalankan pada Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua. Pada Perang Dunia Pertama, MI6 dipimpin spymaster Mansfield Smith Cumming. Berulangkali Inggris mengalahkan Jerman.

Prestasi para agen MI6 tidak diragukan, bahkan terbilang cemerlang.

Padahal, sebelumnya Amerika, dalam hal ini Presiden Harry S. Truman, suka pada Mohammad Mosaddegh. Truman berkeyakinan Mosaddegh dalam kepemimpinanannya independen dan cukup kuat secara ekonomi yang mampu menghalau pengaruh komunisme Uni Soviet. Sehingga ketika meminta bantuan Amerika, Truman menolak meski diketahui Amerika berkawan dengan Inggris.


Keterlibatan CIA

Januari 1953 Dwight D. Eisenhower mengganti Truman di Washington. Peta politik berubah. Winston Leonard Spencer Churchill dapat meyakinkan Amerika terhadap potensi revolusi komunis di Iran.

Eisenhower yang sebelumnya bekerja di dinas rahasia selama Perang Dunia Kedua, sepakat melibatkan Central Intelligence Agency (CIA) untuk menumbangkan Mossadegh.

Secara historis, CIA berdiri menggantikan Office of Strategic Services (OSS) yang dibentuk pada Perang Dunia Kedua untuk mengoordinasi aktivitas spionase rahasia Angkatan Bersenjata Amerika Serikat melawan kekuatan Poros atau apa yang disebut Jerman sebagai Achsenmächte.

National Security Act of 1947 meresmikan keberadaan CIA dan menghapus fungsi polisi atau penegakan hukum di dalam negeri dan luar negeri.

Banyak kritik yang ditujukan kepada CIA terkait kegagalan keamanan dan kontraintelijennya, kegagalan analisis intelijen, masalah hak asasi manusia, investigasi luar negeri dan pengungkapan dokumen, memengaruhi opini publik dan penegak hukum, penyelundupan obat-obatan terlarang, dan berbohong kepada Kongres.

Pihak lainnya, seperti pembelot Blok Timur, Ion Mihai Pacepa, mengakui kehandalan CIA.

“CIA adalah organisasi intelijen terbaik di dunia sejauh ini, saya berpendapat bahwa aktivitas-aktivitas CIA dilaksanakan dengan sangat cermat dan belum pernah terpikirikan badan-badan intelijen lainnya di seluruh dunia,” kata Ion Mihai Pacepa, seperti dituliskan majalah Amerika berhaluan konservatif National Review, edisi 1 Maret 2004 dalam tajuk ‘A Matter of Trust’.

Jadilah, Amerika yang khawatir pengaruh Soviet mendukung Inggris, lewat badan intelijen pemerintah federal, mereka terlibat dalam Kudeta 28 Mordad 1332.

Disebutkan Amerika menimbun senjata dan logistik untuk mendukung organisasi gerilya sepuluh ribu orang selama enam bulan, selain membayar sogokan US$ 5,3 juta untuk mengumpulkan elemen anti-Mosaddegh. Beberapa anggota terkemuka dinas keamanan Iran dibayar CIA.

Semua aktivitas pemerintahan dan rakyat Iran terpantau Inggris dan Amerika yang punya kepentingan terhadap penguasaan sumberdaya di sana.

Tercatat, pada 1 Maret 1953 sudah terkirim memorandum dari Direktur Central Intelligence, Allen Dulles, kepada Presiden Eisenhower yang menginformasikan tentang situasi Iran.

“Situasi di Teheran sekarang tetap tegang dan belum terselesaikan. Beberapa demonstrasi jalanan telah terjadi saat ini, tetapi jam malam masih berlaku dan ketertiban umum tampaknya terkendali.” Seperti itu ditulis di The Historian of the U.S. Department of State.

Perang berbumbu kisah cinta, serang, diam, pura-pura tersenyum, sengaja menangis untuk berbagai sandiwara. MI6 dan CIA berhasil mendudukkan rezim monarki murka dendam kuasa.

Mohammad Mosaddegh terjungkal, 19 Agustus 1953, kekuasaan monarki Mohammad Reza Pahlavi dikokohkan.


Terminologi dan Nama

Menanya perang, peran, terminologi, dan nama-nama yang terhubung di dalamnya. Dunia ternyata teramat sempit bagi pertikaian. Apa itu Achsenmächte? Siapa Allen Dulles?

Achsenmächte tumbuh dari upaya diplomatik Jerman, Italia, dan Jepang untuk mengamankan kepentingan ekspansionis mereka pada pertengahan 1930-an.

Langkah pertama adalah perjanjian yang ditandatangani Jerman dan Italia pada tahun 1936. Mussolini menyatakan pada 1 November 1936 bahwa semua negara-negara Eropa lainnya akan mulai berputar pada poros Roma – Berlin, sehingga menciptakan istilah ‘Axis’.

Secara bersamaan langkah kedua dilakukan melalui petandatanganan Pakta Anti-Komintern pada November 1936 yang merupakan perjanjian anti-komunis antara Jerman dan Jepang. Italia bergabung dengan pakta ini pada tahun 1937.

Ekspansi sudah membuka ruang perang terbuka yang menjalar di banyak lokasi, tujuannya adalah penguasaan cara berpikir masyarakat dan pengurasan sumberdaya untuk ketenaran nama-nama dan membunuh sejumlah nama.

Siapa Allen Dulles? Dia pernah menjabat perwira operasi kunci-nya Office of Strategic Services di Swiss selama Perang Dunia Kedua. Dulles muncul menggantikan Smith ketika kebijakan Amerika didominasi paham antikomunisme. Dulles menikmati fleksibilitas luar biasa sebab abangnya John Foster Dulles adalah Menteri Luar Negeri waktu itu.

Perlakuan kejam masih banyak belum diungkap, lainnya diingkari. Berbagai sumber bermunculan. Data paling jelas adalah penyelidikan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh Senator Joseph McCarthy, doktrin pengurungan sistematis diam-diam yang dikembangkan George Frost Kennan.

Kennan adalah penasihat dan diplomat Amerika yang dikenal sebagai pengusung kebijakan pembendungan ekspansi Soviet pada akhir Perang Dunia Kedua. Ia kemudian menarik dukungannya dari kebijakan tersebut.

Sebagai sejarawan Amerika, Kennan sering menyampaikan kuliah dan menulis tentang hubungan antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Ia juga merupakan salah satu tokoh kebijakan luar negeri yang tergabung dalam ‘The Wise Men’.

Tulisan George Frost Kennan, menjadi inspirasi bagi Doktrin Truman dan kebijakan membendung Uni Soviet di akhir tahun 1940-an.

Telegram Panjang yang dikirim Kennan dari Moskwa tahun 1946 dan artikel ‘The Sources of Soviet Conduct’ tahun 1947 menyebutkan bahwa pemerintah Soviet pada dasarnya ekspansionis dan pengaruhnya harus dibendung di daerah-daerah yang strategis dan vital bagi Amerika Serikat. Tulisan Kennan menjadi alasan bagi kebijakan anti-Soviet – Harry S. Truman.

Kennan memainkan peran penting dalam pengembangan program dan lembaga Perang Dingin seperti Marshall Plan. Inilah program ekonomi skala besar yang dikumandangkan Amerika medio 1947 – 1951, katanya bertujuan membangun kembali kekuatan ekonomi di Eropa dan Asia yang terkena imbas Perang Dunia Kedua.

Saya ingin menyinggung sedikit, dan menarik pertalian antara Kudeta 28 Mordad 1332 dan Perang Korea, meski lokasi berbeda.

Perang Korea adalah ‘proxy war’ atau perang yang dimandatkan, konflik Utara dan Selatan – 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Amerika bersama sekutu PBB-nya bertempur dengan Republik Rakyat Tiongkok yang berkawan Uni Soviet, dalam hal ini Uni Soviet adalah juga anggota PBB.

Korea Selatan dibantu Amerika, Kanada, Australia, dan Inggris. Ada juga negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB.

Sementara Korea Utara, dibantu Republik Rakyat Tiongkok yang menyiapkan kekuatan militer, dan Uni Soviet memasok penasihat perang, pilot pesawat, dan persenjataan.

Saya menyinggung perang Korea pada beberapa sumber lain menyebut keterlibatan agen rahasia juga ada di sana. Mendulang propaganda anti Uni Soviet dan kesulitan mendapatkan informasi tertutup, yang bisa ditembus beberapa agen, membuahkan sejumlah solusi berbasis teknologi canggih.

Cerita Lockheed U-2 yang mampu mengambil gambar dan mengumpulkan sinyal elektronik dari ketinggian melebihi jangkauan pertahanan udara Soviet. Setelah Gary Powers ditembak jatuh rudal permukaan ke udara SA-2 tahun 1960 dan mengakibatkan insiden internasional, dan SR-71 dikembangkan untuk mengambil alih tugas ini.

CIA bekerja sama dengan militer, membentuk National Reconnaissance Office (NRO), mengoperasikan pesawat mata-mata seperti SR-71 dan satelit terbaru. Fakta bahwa Amerika Serikat mengoperasikan sejumlah satelit mata-mata terus dirahasiakan, sama seperti fakta keberadaan NRO.

Ada banyak aksi tersembunyi terhadap gerakan sayap kiri yang dianggap komunis. Pertaliannya semakin terbukti manakala CIA menjatuhkan Iran 1953 dalam Kudeta 28 Mordad 1332 atas permintaan Winston Churchill.

“Operasi CIA terbesarnya ditujukan ke Kuba selepas penggulingan kediktatoran Fulgencio Batista, termasuk upaya pembunuhan Fidel Castro dan Invasi Teluk Babi yang gagal. Beberapa pihak berpendapat bahwa penempatan rudal Soviet di Kuba terjadi secara tidak langsung setelah mereka sadar telah dikhianati pembelot Amerika – Inggris sejak awal, Oleg Penkovsky,” seperti itu ditulis Jerrold L. Schecter dan Peter S. Deriabin dalam ‘The Spy Who Saved the World: How a Soviet Colonel Changed the Course of the Cold War’, terbit 1 Maret 1992.

Operasi lain yang pernah dilakoni CIA adalah bantuan untuk Joseph Desire Mobutu, Presiden Zaire. Kisah ini dapat dibaca di ‘Let Us Forget Unpleasant Memories: The US State Department’s Analysis of the Congo Crisis’, buku ini ditulis David N. Gibbs, 1995.

Joseph Desire Mobutu mengganti namanya menjadi ‘Mobutu Sese Seko Kuku Ngbendu wa za Banga’, duduk memerintah rakyat Zaire selama tiga puluh dua tahun setelah kudeta.

Mobutu sangat percaya pada makna nama, itulah mengapa ia mengganti namanya menjadi ‘Mobutu Sese Seko Kuku Ngbendu wa za Banga’ yang bermakna ‘sangat agung’.

Mobutu yakin dan menganggap dirinya ksatria kukuh yang dikaruniai keterampilan, kecerdikan, dan sanggup memenangkan segala macam pertempuran.


Revolusi Putih

Iran pernah menjadi kekaisaran terkuat dunia, menguasai Asia Selatan, Timur Tengah, penjuru Balkan di Eropa, dan Mesir. Dari sisi kebudayaan negeri itu punya bahasa Persia, salah satu bahasa tertua di dunia. Kebanyakan karya tulis Arab diterjemahkan dalam bahasa Persia sebelum diterjemahkan lagi ke bahasa-bahasa lain, dan literatur orisinil Persia juga berkembang pesat.

Shahnameh, sebuah karya mengenai sejarah negara Iran yang ditulis Ferdowsi. Ini adalah epik dunia berbahasa Persia, dan juga seluruh kerajaan Iran.

Iran menjadi tempat perantara budaya sebelum disebarkan ke Asia Tengah dan Asia Selatan. Demikian bahasa Persia menjadi bahasa kelas atas di daerah sana, paling tidak sampai bangsa Turk mulai mendominasi kawasan Asia Tengah dan Eropa

Bila anda menelisik bahasa Turki Utsmaniyah, setengah dari kosakatanya adalah kata serapan dari bahasa Persia.

Iran seperti mengeja huruf yang akan sambung menyambung dengan berbagai wilayah dan kepentingan di bumi.

Masa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi, berdaulat sejak 1953. Dia sama seperti ayahnya, Shah Reza Pahlevi, suka hal sekuler, berbeda dengan cara pandang rakyat Iran pada umumnya yang sangat menghormati Syiah dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Pahlavi hendak membangun pengaruhnya di Iran.  Dia meluncurkan program reformasi tahun 1963 yang diberi tajuk dalam bahasa Persia dilafalkan sebagai ‘Enghelāb-e Sefid’, dikenal sebagai Revolusi Putih.

Program itu berlangsung sampai tahun 1978. Pahlavi mengiklankan Revolusi Putih sebagai langkah menuju westernisasi. Walau ada keraguan Pahlavi punya motif politis.

Pada tajuk ‘Iran: The White Revolution’ di Time Magazine, edisi 11 February 1966, menyebut Revolusi Putih adalah nama yang dikaitkan dengan fakta bahwa revolusi ini tak berdarah.

Langkah kebijakan Pahlavi dikritik Assef Bayar pada buku HistoriographyClass, and Iranian Workers – terbit 1994Assef Bayar menyebut alasan Pahlevi untuk meluncurkan Revolusi Putih adalah bahwa penguasa itu berharap untuk menyingkirkan pengaruh para tuan tanah dan menciptakan basis baru dukungan di antara para petani dan kelas pekerja.

Revolusi Putih adalah suatu cara bagi dia untuk melegitimasi Dinasti Pahlevi, tulis Sussan Siavoshi di halaman 23 Liberal Nationalism in IranThe failure of a movement, diterbitkan Westview Press 1990. Sebagian besar program ini ditujukan untuk kaum tani Iran, sebagai sebuah golongan masyarakat. Pahlavi berharap mengambil hati rakyat, dijadikan sekutu untuk menggagalkan ancaman kelas menengah yang semakin bermusuhan.

Revolusi Putih dituding punya kepentingan terselubung, reformasi itu dibangun terutama untuk melemahkan kelas-kelas yang mendukung sistem tradisional.

Padahal elemen program termasuk reformasi tanah, penjualan beberapa pabrik milik negara untuk membiayai reformasi tanah, pemberian hak suara perempuan, nasionalisasi hutan dan padang rumput, pembentukan korps berpendidikan, dan lembaga skema bagi hasil bagi para pekerja di industri.

“Pahlevi menyebut Revolusi Putih di Iran mewakili sebuah upaya baru untuk memperkenalkan reformasi dari atas dan melestarikan pola kekuasaan tradisional. Melalui reformasi tanah, esensi dari Revolusi Putih, Shah berharap untuk bersekutu dengan kaum tani di pedesaan, dan berharap untuk memutuskan hubungan mereka dengan aristokrasi di kota,” tulis James A. Bill di The Journal of Politics Volume 32, No. 1 – Februari 1970: Modernization and Reform From Above: The Case of Iran.

Awal tahun 1963, seperti yang ditulis Mohsen M. Milani, untuk melegitimasi Revolusi Putih, Pahlevi menyerukan referendum nasional. “Ada 5.598.711 orang memilih untuk reformasi, dan 4.115 memilih menentang reformasi,” begitu kata Mohsen M. Milani di The Making of Iran’s Islamic RevolutionFrom Monarchy to Islamic Republic, diterbitkan Westview Press 1988.

Di luar prediksi Pahlevi, Revolusi Putih ternyata menyebabkan ketegangan sosial, tumbuh berbagai soal yang dia sendiri tak mungkin lari menghindar.

Reformasi tanah menghasilkan sejumlah besar petani mandiri dan buruh tak bertanah yang menjadi ‘meriam politik longgar’. Mereka berkembang tanpa loyalitas kepada penguasa.

Sejarawan Timur Tengah yang khususnya menulis tentang Iran, Ervand Abrahamian, menyatakan Revolusi Putih telah dirancang untuk mencegah terjadinya sebuah Revolusi Merah. Alih-alih, Revolusi Putih membuka jalan bagi Revolusi Islam.

Di balik berbagai tudingan, Revolusi Putih berkontribusi terhadap kemajuan ekonomi dan teknologi Iran. Reformasi tanah jalan di tempat dan kekurang parsial reformasi demokrasi, serta antagonisme parah terhadap Revolusi Putih dari para ulama, elit, tuan tanah, berkontribusi terhadap kejatuhan Pahlevi dan merekahnya Revolusi Iran 1979.


Sengketa Teluk Persia:
Pertahanan Suci

Orang-orang Kurdi, tinggal di wilayah kaya minyak. Mereka telah diobrak-abrik. Secara geopolitik, karakter geografis Kurdi justru membikin petaka ketika tanah mereka dipecah jadi lima negara pasca-Perang Dunia Pertama.

Gugus anggun perbukitan, struktur sosial sarat sentimen tribalisme, serta sistem mata pencarian pertanian dan menggembala membuat Kurdistan semieksklusif sepanjang ribuan tahun.

Yunani, Romawi, Persia, dan dinasti di sekelilingnya sudah coba tundukkan Kurdi, masih gagal. Mereka merupakan mayoritas di wilayah otonomi Kurdistan Irak dan kelompok minoritas yang signifikan di negara-negara tetangga seperti Turki, Suriah dan Iran, di mana gerakan-gerakan nasionalis Kurdi terus memburu otonomi.

Mereaka menganut ajaran leluhurnya, Zoroaster, Mithraisme, Manichaeisme dan Mazdak. Beberapa kuil penyembahan api peninggalan zaman kuni masih ada. Mereka bertani dan berternak, setelah invasi bangsa Arya dan Turki, sebagian dari mereka memilih cara hidup nomad. Sampai sekarang, secara keseluruhan Kurdi ditolak eksistensinya di wilayah di mana mereka tinggal.

Tahun 1963, Ahmad Hassan al-Bakr, meluncurkan kampanye melawan pemberontakan Kurdi, yang memperjuangkan kemerdekaan dari Irak. Ahmad Hassan al-Bakr adalah pemimpin yang lahir dari kudeta militer yang dibuat sayap Irak dari Partai Ba’ath yang lengserkan Perdana Menteri Irak, Abdul al-Karim Qasim.

Peristiwa itu terkenal sebagai Kudeta Irak Februari 2963. Pemimpin paling berkuasa dari pemerintahan tersebut adalah Sekretaris Jenderal Partai Ba’ath Irak, Ali Salih al-Sa’di. Dia memegang sayap militer Pertahanan Nasional, ringan tangan bagi pembantaian siapa saja yang dia tuduh pembangkang dan komunis.

“Jika bukan ratusan, ribuan yang dibantai Ali Salih al-Sa’di,” tulis Bryan R. Gibson dalam Sold Out? US Foreign Policy, Iraq, the Kurds, and the Cold War.

Kudeta dibalas kudeta. Hubungan Irak dan Kurdi selamanya tegang, dengan pasukan bersenjata Irak mengejutkan gerakan Kurdi. Pemerontak Kurdi menyebabkan penurunan ekonomi massif pada pemerintahan Irak.

Medio 11 Maret 1970, wakil ketua dewan komando revolusioner Irak, Saddam Hussein, dan pemimpin pemerontakan Kurdi, Mustafa al-Barzani, bersua di Tikrit. ‘Manifesto Maret’ ditandatangani.

Kurdi bergabung dengan Irak, memutus hubungan antara Iran dan Kurdi dan mengakhiri pemberontakan. Pemerintah Irak menjanjikan otonomi Kurdi, dengan orang-orang Kurdi dimasukkan dalam pemerintahan Irak.

Ternyata pemerintah mengakali, kawasan Kurdi yang kaya minyak dikuasai. Tahun  1974, soal menajam seputar isu minyak di Irak. Menteri-menteri Kurdi meninggalkan pemerintah, karyawan-karyawan Kurdi meninggalkan pekerjaan mereka, prajurit-prajurit Kurdi, polisi-polisi Kurdi meninggalkan tugas mereka.

Pemerintah Irak meminta bangsa Kurdi untuk mematuhi isi traktat, Kurdi menolak. Pada 11 Maret 1974, manifesto sudah jadi dasar hukum dalam konstitusi Irak. Pertarungan pasukan Irak dan pasukan Kurdi berlanjut, Iran mendukung Kurdi.

Konflik perbatasan Iran – Irak bukan soal baru. Sudah ada Perjanjian Aljazair 1975. Perjanjian dirobek.

Hari itu, 22 September 1980, pasukan Irak menerobos perbatasan Iran. Atas nama segala nama, perang Iran – Irak juga dikenal sebagai ‘pertahanan suci’.

Perseteruan di sana berkecamuk tak semata soal batas. Dari Irak, Saddam Hussein Abd al-Majid al-Tikriti punya semacam kengerian manakala Sayyid Ayatollah Ruhollah Khomeini ‘pulang dari pengasingan dan memerintah Iran.

Keyakinan melawan keyakinan, siapa benar, mengaku paling benar.

Masih tentang nama. Arsitek di balik ‘Enghelābe Eslāmi’, namanya Mehdi Bazargan. Dia seorang militer yang berdiri di belakang Khomeini. Bazargan diketahui ikut mendirikan gerakan pembebasan Iran dan beberapa kali dipenjarakan Mohammed Reza Pahlavi.

Saddam Hussein Abd al-Majid al-Tikriti, teman sekolah saya, Aziz, di YPM Jakarta mengagumi tokoh ini.

Lama tak bersua kawan itu, bila bertemu ingat sekali dia selalu menyapa dengan nama ‘Saddam’, lalu senyum dikulum, tangan dikepal.

Aziz, Maul, Tri, dan saya suka mendiskusi pergolakan di Teluk, kami berlomba mencari informasinya. Ingat makan siang di Warteg samping kali, di Kuningan yang penuh bongkaran gedung dan bangunan, air kalinya hitam kental. Kami melahap sambil membayang laut di Teluk Persia yang menghitam oleh abu mesiu dan minyak.

Saddam, presiden dan disebut diktator Irak, berkuasa sejak 16 Juli 1979 hingga 9 April 2003. Tumbang ketika Irak diserang pasukan koalisi dipimpin Amerika.

Dia anggota utama Partai Ba’ath Irak, yang menganjurkan Pan-Arabisme sekular, modernisasi ekonomi, dan sosialisme Arab, Saddam memainkan peran penting dalam kudeta 1968 yang membuat partainya lama berkuasa di negara itu.

Ketika itu dia wakil presiden di bawah sepupunya, Jenderal Ahmed Hassan al-Bakr yang lemah, Saddam memegang kekuasaan penuh terhadap konflik antara pemerintah dan angkatan bersenjata dengan membentuk pasukan keamanan yang menindas dan mengukuhkan wibawanya terhadap aparat pemerintahan.

Kita lalu mengerti dan tahu. Keyakinan ada jutaan di bumi, semua mengaku pemilik kebenaran, mengklaim paling benar. Termasuk pertikaian yang disebut sebagai ‘pertahanan suci’, meski dimainkan dengan trik-trik ruci.


Hentikan Perang!

Pergantian kuasa, kudeta, debar gahar yang membakar ceramah hoax, berbagai info mendustai khalayak, demi kuasa. Siapa benar?

Jahangir Amuzegar, konsultan ekonomi internasional, sebelumnya pernah menjabat direktur eksekutif IMF, di buku Dynamics of the Iranian Revolution: The Pahlavis’ Triumph and Tragedy, terbit 1991, menyebut ‘Enghelābe Eslāmi’ punya keunikan tersendiri karena mengejutkan seluruh dunia, membuahkan perubahan yang sangat besar dengan kecepatan tinggi. Sebelas tahun keyakinan dipelihara atas tudingan ‘kami benar, kau salah’.

Perang berulang: 1980 – 1990, sepuluh tahun memendam, tengah malam pada 2 Agustus 1990 Irak menginvasi Kuwait.

Teluk ramai dentum mesin pembasmi, negara-negara menyanding senapan, menajamkan sentiment. Irak bombardir ibu kota Kuwait City dari udara. Kuwait membalas walau kewalahan. Lalu negara lain ikut terlibat.

Ladang minyak punya pesona. Mosaik di atas papan catur perpolitikan dunia yang gusar.

Apakah penyerbuan itu semata urusan keyakinan siapa paling benar? Katanya invasi Irak ke Kuwait dilakukan karena kemerosotan ekonomi. Padahal Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak gratis.

Alasan dapat saja dibuat untuk menutup banyak korban. Perang delapan tahun dengan Iran, kantong sudah menipis. Harga petro dolar anjlok akibat kelebihan produksi minyak Kuwait. Adakah dihitung berapa banyak waktu terbuang, orang-orang kehilangan, anak-anak perempuan dan laki-laki yang dibesarkan dengan trauma dentum mesin pembasmi. Kita masih membeber soal Uni Emirat Arab yang boleh jadi oleh Saddam dianggap  musuh ekonomi, menyusul perselisihan ladang minyak Rumeyla.

Saya membaca berita, lebih sebulan terlewat. Saban 11 Februari tiap tahun, sejak 1979, jalan-jalan di Teheran ramai massa memperingati revolusi. Media-media dunia memberitakan keramaian itu. Ramai itu tak pernah selesai.

Kenangan sudah empat puluh tahun Enghelābe Eslāmi, membekas dengan banyak cerita. Setiap tahun diasah. Tiga bait berikut di bawah ini adalah kutipan keramaian berita menyorot ladang minyak di teluk.

SINDO memuat tajuk, ‘Pekik ‘Matilah AS, Israel dan al-Saud’ dalam 40 Tahun Revolusi Iran’. Associated Newspapers Ltd menera judul panjang bagi perayaan itu, ‘Crowds chant ‘Death to America, death to Israel’ as hundreds of thousands of Iranians mark the 40th anniversary of the Islamic Revolution’. The Times of Israel menulis, ‘Iran slams US as huge crowds mark 40 years since revolution’.

Amir Havasi dan Kay Amin Serjoie, dua penulis The Times of Israel, merekam pernyataan massa yang menyebut Presiden Amerika, Donald Trump, ‘idiot’, serta membawa spanduk bertuliskan ‘Matilah Amerika, Matilah Israel’.

Teks perang masih membungkam banyak kejahatan yang tak hendak dibuka benang kusutnya. Kenang perang saling hujat disebut sebagai pesta. Hari ini kenyataan itu ramai dikerjakan oleh kita sendiri di media sosial, di negeri kita sendiri. Berseteru sesama bangsa sendiri atas nama keyakinan-keyakinan klaim paling suci.

Siapa berseru, stop perang!

Saya, kau. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Estorie

Ekspedisi Militer Eropa

Published

on

By


13 Agustus 2021


Image: A 19th century CE painting by Émil Signol titled “Taking of Jerusalem by the Crusaders, 15th July 1099”. Jerusalem was recaptured from the Muslims during the First Crusade, 1095-1202 CE. (Palace of Versailles, France)
Source: world history


Oleh: Daniel Kaligis


Di sana, gelak tawa kemenangan, sekaligus tangisan dan pekik kematian menggema di ruang-ruang bumi. Seindah apapun susastra ditera pada kertas sejarah, darah sudah tumpah, huruf-huruf ruah, musnah itu tak pernah dapat ditarik kembali lagi ke semesta, selain kenang… 

PEDANG tombak kampak panah pisau pelor pedang bermata maut dan cinta, siapa saja dapat dirasuki dogma mengatasnamakan tuhan-tuhan ketuhanan yang berseru pergilah ke segenap penjuru bumi kobarkan penguasaan koloni-koloni.

Padahal, kemanusiaan adalah intisari dari segala kisah cerita merindu damai sejahtera sebagai injil kekal dan suci di semestanya.

Kenangan untuk hari ini di masa silam, salah satunya adalah tentang pertikaian dan baku rampas situs yang dianggap suci. Perang Salib, pertikaian bertajuk ekspedisi militer Eropa untuk rebut kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan Arab.

Inilah tempur, dalam keyakinan para serdadu, bahwa, pada yudha itu mereka melakukan penitence, yakni pertobatan atas dosa-dosa.

Perang Salib Pertama berujung, 13 Agustus 1099, kalah pasukan Fatimiyah yang dipimpin Al-Malik Al-Afdal bin Badrul Jamali, penempur yang dikenal sebagai Al-Afdhal Syahansyah.

Perang, jangan terulang. (*)

Continue Reading

Internasional

Point of No Return Andre Vltchek

Published

on

By

Oleh: Linda Christanty


23 September 2020


DALAM saku celananya, Andre Vltchek selalu membawa batu pemberian ibunya. Batu itu berwarna hijau pirus. Ia tidak merelakannya untuk saya, sehingga Rossie Indira istrinya menengahi perdebatan kami soal batu tersebut dengan menyatakan akan membelikan batu sejenis untuk saya di sebuah toko batu di Jerman waktu ia mengunjungi ibu mertuanya.

Rossie menepati janji. Batu itu masih saya simpan. Karena tidak tahu namanya, saya menyebutnya Batu Andre. Menurut Rossie, saya dan Andre memiliki satu kesamaan sifat, di waktu tertentu kami bisa seperti kanak-kanak: lucu, menggemaskan, menyenangkan, menjengkelkan.

Andre juga mempunyai kamera yang dinamainya Kappa. Di Kuala Lumpur, Malaysia, beberapa tahun lalu, sesudah menghadiri satu acara bersama di George Town Literary Festival di Penang, Rossie dan Andre meminta saya menginap di kamar hotel mereka yang cukup luas agar kami dapat berjalan-jalan sebelum saya terbang ke Jakarta keesokan harinya, dan mereka terbang ke Bangkok. Sebelum kami meninggalkan hotel menuju taman, Andre berkata kepada Rossie, “Jadi Kappa tidak ikut?” Tidak usah. Okay.

Saya bertemu Rossie dan Andre pertama kali di Jakarta, karena diminta seorang teman menjadi editor edisi Bahasa Indonesia buku wawancara mereka dengan Pramoedya Ananta Toer. Teman ini lalu menghilang. Buku itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan judul  “Saya Terbakar Amarah Sendirian” pada 2006.

Editornya jadi dua orang, saya dan editor KPG. Beberapa tahun kemudian saya kembali bertemu pasangan ini. Mereka berencana pergi ke Aceh untuk penulisan buku Andre yang diberi judul, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Saya mengusulkan sejumlah nama untuk diwawancarai. Kami pun bertemu lagi di Aceh.

Andre telah menerbitkan sejumlah buku non-fiksi dan fiksi, juga membuat beberapa film dokumenter.

Ia meliput konflik bersenjata di banyak negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah, antara lain di Kashmir, India, Kongo, Peru, dan Turki. Ia menulis untuk Asahi Shimbun, The Guardian, dan Der Spiegel.

Tulisan-tulisannya juga dimuat CounterPunch.

Film dokumenternya tentang pembantaian 1965, “Terlena-Breaking of the Nation”, diluncurkan pada 2004, sedangkan “Rwanda Gambit”, tentang pembantaian di Rwanda, dilansir pada 2015.

Ia seringkali dekat dengan bahaya. Ia pernah bercerita sampai di muka kamp pelatihan milisi anti Presiden Bashar al-Assad di perbatasan Turki-Suriah. Temannya, sesama wartawan, yang nekad, berada amat dekat dengan kamp itu, yang didanai lembaga intelijen negara adikuasa, dan memotretnya. Milisi dalam kamp dilatih khusus untuk dimobilisasi. Ia juga bertemu anak-anak Turki yang tinggal di perbatasan Turki-Suriah. Mereka bercerita bahwa tidak ada bom jatuh di situ sebelum negara asing menyerang Presiden Assad.

Andre meliput aksi jalanan di Turki yang menentang serangan terhadap Suriah. Pemerintah Turki berbeda sikap dengan para pemrotes. Ia juga mewawancarai putra jenderal yang ayahnya dijebloskan dalam sel oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Di masa Erdogan paling sedikit seratus jenderal ditahan dengan tuduhan kudeta. Assad juga menganggap Erdogan tidak bisa dipercaya. Dalam wawancaranya di salah satu media berbahasa Inggris, Assad mengungkap kekecewaannya. Ia juga menjelaskan dalam wawancara itu bahwa foto pembantaian orang Sunni yang beredar dan dipercaya sebagai ulah rezim Assad merupakan kebohongan. Nama fotografernya samaran, Caesar. Setelah diselidiki tidak ada peristiwa yang dimaksud foto tersebut di Suriah. Tetapi foto itu beredar luas, termasuk di media-media sosial, dan turut menjadi pembenaran untuk menyerang Suriah.

Rossie menyertai banyak perjalanan Andre untuk liputan-liputannya. Sebagian perjalanan dan liputan itu berisiko. Saya pernah menyarankan Rossie agar menulis bukunya sendiri, karena pengalaman-pengalamannya yang kaya. Ia memang sudah menyiapkan naskahnya. Pada 2010, ia pertama kali menerbitkan buku seri perjalanan, “Surat dari Bude Ochie”.

Ketika bom buku mengguncang orang-orang Utan Kayu di Jakarta pada 15 Maret 2011, saya masih berada di Aceh. Sekretaris Jaringan Islam Liberal (JIL) waktu itu, Ade Juniarti, menjawab telepon saya dan menceritakan kronologinya secara rinci.

Seorang polisi setempat yang memeriksa bom tersebut kehilangan tangan kirinya. Tim gegana datang terlambat. Jaringan Islam radikal Jamaah Islamiyah (JI) dituduh bertanggung jawab. Saya teringat Rossie yang membantu Andre mewawancarai sejumlah orang JI di Indonesia untuk bukunya.

Pada hari itu juga saya menghubungi Rossie. Ia tengah mewawancarai narasumber, yang kebetulan salah seorang mentor peracik bom JI, ketika situasi pasca-pengeboman disiarkan televisi. Mereka berada di suatu tempat di Jakarta. Mereka sama-sama melihat ke layar televisi. Narasumbernya tertawa mendengar nama JI disebut sebagai pelaku. “Dia berkata, ‘Itu bukan bom kami. Bom kami tidak seperti itu,” kisah Rossie kepada saya, mengingat pernyataan narasumbernya.

Suatu hari, saat Andre di Jakarta, Rossie mengajak saya untuk bertemu mereka. Setelah makan siang, kami pergi ke toko buku di salah satu mall Jakarta.

Andre marah melihat buku ‘Mein Kampt’ Adolf Hitler dipajang berderet-deret dalam rak, sehingga pegawai-pegawai toko menjadi cemas. Manager toko tergopoh-gopoh menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi, lalu menelepon seseorang dan akhirnya membawa kami ke sebuah ruangan di bagian dalam restoran di lantai tersebut.

Seorang lelaki tua duduk di hadapan kami. Usianya saya perkirakan lebih dari 70 tahun. Ia pemilik toko buku. Andre mengungkapkan kecemasannya melihat buku Hitler dipajang berderet-deret, yang bisa saja menginspirasi pembeli, terutama anak-anak muda, untuk membenarkan kebencian terhadap ras atau bangsa atau suku tertentu. Lelaki tua itu menyimak. Ia seolah memahami kecemasan Andre. Seminggu kemudian saya datang sendirian ke toko buku yang sama dan menemukan buku itu masih dipajang berderet-deret dalam rak.

Saya tidak selalu sependapat dengan Andre. Sejumlah tulisannya bahkan bertolak belakang dengan cara pandang dan pengetahuan saya. Tetapi di dunia ini saya bertemu sejumlah orang yang juga tidak sependapat dengan saya. Sebagian tetap berteman, sebagian lagi menjaga jarak.

Secara terus-terang, Andre menyebut dirinya ateis. Ia percaya kepada sosialisme, mengagumi Kuba dan China. Masa kecilnya jauh dari kesusahan.

Andre anak tunggal. Ayahnya seorang Ceko yang memimpin proyek nuklir pemerintah, posisi yang penting dan dihormati. Ibunya seniman keturunan Rusia-China. Sejak kecil Andre sudah terbiasa bepergian sendiri naik pesawat, dititipkan kepada pramugari dan sampai di tujuan untuk dijemput orangtuanya. Ia kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat.

Rossie tidak hanya istri, tetapi juga kawan Andre paling setia. Ia mendirikan Badak Merah Semesta enam tahun lalu, sebuah penerbitan yang bertujuan menerbitkan buku-buku Andre dalam Bahasa Indonesia dan buku-buku lain yang dianggap penting.

Mengenang Andre hari ini adalah juga mengenang Rossie, yang tanpa dirinya sebagian liputan Andre mungkin tidak berjalan lancar.

Ketika mengetahui kabar kematian Andre di Istanbul, Turki, kemarin, Rossie muncul pertama kali dalam pikiran saya.

Ketika mobil yang membawa mereka menempuh perjalanan panjang dari Samsun ke Istanbul tiba di muka hotel tempat mereka menginap, Andre yang tidur lelap gagal dibangunkan Rossie. Salah satu novel Andre berjudul ‘Point of No Return’ yang kali ini benar-benar terjadi. Tim medis yang datang menyatakan ia sudah meninggal dunia.

Selamat jalan, Andre. Semoga ada orang-orang yang membantu Rossie di sana dan tidak makin mempersulit keadaannya. (*)


Foto: Andre Vltchek
Sumber Foto: NEWAGE


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Internasional

Menentang Arus Umum

Published

on

By

01 September 2020


Oleh: Linda Christanty


1 September at 20:09
Teman-teman tercinta,
Selamat pagi. Hari ini cerah. Mari membuka pikiran kita.


SEBELUM membaca penjelasan saya lebih jauh pagi ini—bagi yang ingin dan sempat, tidak ada salahnya kita mengingat tauladan Am siki, tokoh bijak dalam novel “Orang-Orang Oetimu” Felix K. Nesi, yang leluhurnya dipercaya lahir dari pohon lontar.

Am siki bersabda, “Jangan dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Jangan diperkosa, sekalipun itu kuda”.

Beberapa hari lalu kita telah membaca berita tentang George Karel Rumbino alias Riko yang meninggal disiksa sesama tahanan di Mapolres Sorong, Papua Barat. Ia adik ipar Edo Kondolangit, penyanyi kesayangan kita, dan politikus dari partai berlambang banteng gemuk.

Menurut sebuah berita, keluarganya menyerahkan Riko ke kantor polisi, karena ia membunuh tetangganya. Dalam hal ini saya salut kepada keluarga Riko yang tidak mendukung tindakan salah yang dilakukan anggota keluarga mereka sendiri.

Dalam berita lain, dijelaskan bahwa ia merampok di satu rumah, memperkosa penghuninya, perempuan berusia 70an, dan akhirnya membunuh nenek itu. Dalam sel, tahanan lain menyiksanya. Ia meninggal dunia, karena lemas.

Kalau benar seperti itu kronologi kasusnya, maka ada dua orang yang harus kita bela:
1. Nenek korban perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan.
2. Perampok dan pembunuh yang dibunuh.

Namun, isu yang beredar kemudian dikaitkan dengan tindak kekerasan aparat negara terhadap rakyat Papua.

Stereotipe memang mudah tercipta di tengah arus pembelaan kita saat ini terhadap rakyat Papua yang mengalami intimidasi, penyiksaan dan pembunuhan oleh aparat negara.

Stereotipe tentu saja tidak baik. Ia melegitimasi sebuah kesimpulan umum. Ia juga membuat kita melihat segala sesuatu secara  hitam-putih: orang Papua adalah korban aparat negara dan dengan demikian, tidak ada orang Papua yang menjadi pelaku kejahatan.

Meskipun kita semua berjuang melawan kejahatan kemanusiaan yang mengatasnamakan apa pun, kebenaran dan keadilan menjadi landasan dari perjuangan itu. Contoh lain, yang viral belakangan ini, kasus George Floyd di Amerika Serikat.

Kita juga dapat menemukan bahaya stereotipe pada kasus ini. Orang kulit hitam adalah korban (diskriminasi). Dengan demikian, orang kulit hitam tidak bersalah (dalam hal apa pun).

George Floyd yang kasusnya diberitakan banyak media belum lama ini dan diprofilkan sebagai pahlawan anti diskriminasi rasial, juga memiliki fakta lain yang tidak banyak diungkap atau katakanlah, ditutupi untuk menjadikan kasusnya sebuah momentum politik di Amerika Serikat:

George terlibat obat-obatan terlarang dan melanggar hukum. Ia tidak pantas menjadi pahlawan jika demikian. Ia lebih pantas disebut korban jika tindak kekerasan dan pelanggaran hukum oleh aparat negara menjadi penyebab kematiannya. Pelakunya harus dihukum berat, karena perbuatannya membuat korban kehilangan nyawa. Penyebab kematian George juga harus diperiksa, apakah murni oleh penganiayaan atau overdosis.

Kadangkala sebagian dari kita tidak mau membicarakan kasus-kasus ini secara kritis, karena melawan arus umum dan arus umum itu dipercaya tengah menyuarakan hak-hak asasi manusia. Ditambah lagi banyak sekali kasus kekerasan dan pembunuhan yang melibatkan aparat kepolisian selama ini.

Menentang arus umum, sama artinya dengan tidak memihak korban dan dianggap mendukung pelaku.

Hak-hak kemanusiaan Riko ataupun George tentu harus dibela, sedangkan kebenaran dan keadilan harus ditegakkan.

Dalam jurnalisme, kebenaran tidak pernah bersifat mutlak. Kebenaran hari ini dapat dibantah kebenaran yang ditemukan di kemudian hari melalui fakta baru.

Saya akan menggunakan kasus Jessica Wongso sebagai contoh. Ia dijebloskan ke penjara untuk menjalani hukuman selama dua puluh tahun dengan tuduhan membunuh Wayan Mirna. Banyak orang dan media meyakininya, tetapi sejumlah orang menganggap Jessica korban pengadilan sesat yang direkayasa demi kepentingan uang.

Saya termasuk orang yang ragu ia bersalah. Jika fakta lain ditemukan dan membuktikan Jessica tidak bersalah, misalnya, maka kebenaran yang sebelumnya diyakini telah gugur. Jessica pun harus dibebaskan dari hukuman.

Pembebasan itu tentunya tidak akan bisa membersihkan nama dan memulihkan kehidupan Jessica seperti sediakala.

Karena itu, aparat penegak hukum harus menjalankan aturan hukum dengan benar.

Hukuman terhadap seseorang harus berdasarkan bukti-bukti yang sah dan kuat secara hukum. Tapi hal yang sebaliknya sering terjadi di negara ini.

Bagaimana kalau Jessica tidak bersalah dan tetap menjalani hukuman sampai akhir, atau direkayasa kasus bunuh dirinya dengan melibatkan pembunuh bayaran yang disusupkan sebagai tahanan di penjara atau ia dibuat sakit parah hingga ajal menjemput, misalnya? Kita tidak perlu heran jika hal itu terjadi. Apa saja dapat dilakukan di sebuah negara yang aparat penegak hukumnya tidak pernah bebas dari suap.

Wartawan dididik untuk memeriksa fakta dan detail memberinya informasi penting.

Saya teringat pengalaman ketika menulis “Hikayat Kebo”. Saya harus menunggu sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil uji forensik tentang penyebab kematian Kebo, seorang pemulung yang tinggal di belakang Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat; apakah ia meninggal dianiaya, lalu dibakar, atau ia dibakar hidup-hidup.

Semasa hidup Kebo gemar menyiksa istrinya. Ia memotong jarinya sendiri. Ia membakar gubuknya dalam keadaan mabuk dan membuat gubuk-gubuk tetangganya ikut terbakar. Kebo adalah pelaku dan juga korban kejahatan.

Pada hari yang ditetapkan, petugas bagian forensik menjelaskan kepada saya bahwa hasil forensik menunjukkan adanya jelaga dalam tenggorokan Kebo. Ia dibakar hidup-hidup.

Menganiaya orang itu kejam. Menganiaya orang, lalu membakarnya sampai mati itu lebih kejam lagi.

Saya menulis tentang Kebo untuk mengetahui praktik penegakan hukum di masa pasca Orde Baru atau di masa Reformasi, dan eksesnya terhadap kehidupan kebanyakan rakyat, seperti kita ini; ketimpangan sosial dan ekonomi masih berlanjut hingga sekarang. (*)


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com