Connect with us
no

Daerah

LUWU, MENANTANG TEKS RAJAH PUTIH

Published

on

Perempuan Pamona. Foto: DAX

Oleh: Lomboan Djahamau

Luwu adalah kerajaan Bugis tertua, dan yang paling rusak | Palopo adalah kota menyedihkan, yang terdiri dari sekitar 300 rumah, tersebar dan bobrok | Sulit dipercaya bahwa Luwu bisa menjadi negara yang kuat, kecuali dalam keadaan peradaban asli yang sangat rendah…

Brooke, J. 1848. Narrative of events in Borneo and Celebes down to the occupation of Labuan. From the Journals of James Brooke, Esq. Rajah of Sarawak and Governor of Labuan — by Captain Rodney Mundy. London: John Murray.


CATATAN tua Bumi Sawerigading, salah satu adalah tentang Luwu, ditulis Sir James Brooke, Raja Putih pertama Kerajaan Sarawak yang berkebangsaan Inggris. Saya menduga, daerah Labuan yang disebut pada teks-teks tahun 1800-an itu mengacu pada dua wilayah ini: Labuan, Ampana Kota, di Tojo Una-Una – atau Labuan, di Lage, Poso. Daerah ini yang paling dekat dengan jangkauan pelaut pedagang Bugis, dan pendatang lainnya untuk berinteraksi dengan penduduk pesisir dan orang-orang dari pegunungan Luwu. Sementara terminologi ‘Labuan’ ada di beberapa lokasi di Nusantara, adalah poin yang disasar Inggris, dalam hal ini London, sebagai target strategis mengangkut sumberdaya.

Rajah atau Raja, sama saja. Seperti diketahui, Raja Putih adalah dinasti pemerintahan sebuah keluarga kulit putih di Sarawak yaitu keluarga Brooke. Raja Putih juga dikenal sebagai Rajah Sarawak atau Rajah Putih. Penggunaan kata Rajah bertujuan untuk membedakan gelar keluarga kerajaan dengan keluarga Brooke. Sarawak adalah tanah jajahan milik Kesultanan Brunei, hingga James Brooke — Raja Putih pertama Sarawak mendapat tanah dan lama kelamaan Sarawak menjadi semakin besar. Setelah Perang Dunia Kedua, Raja Putih Sarawak yang terakhir menyerahkan Sarawak kepada kerajaan Britania. Gelar Raja Putih diperoleh karena keluarga Brooke merupakan orang berkulit putih.

Dari Sarawak, Brooke menjangkau Asia Timur, Rusia Timur Jauh, Asia Tenggara, Asia Selatan, termasuk Sulawesi dan termasuk Luwu di dalamnya.

Ketika berkuasa, Brooke mendirikan dan mempererat kekuasaannya atas Sarawak. Dia memperbaiki administrasi, mengkodifikasi hukum dan melawan perompakan. Secara temporer Brooke selalu kembali ke Inggris pada 1847, di mana ia diberi kebebasan dari London, untuk mengangkat gubernur dan panglima tertinggi ‘Labuan’.

Sepak terjang Brooke dapat dibaca di Jacob, Gertrude Le Grand. The Raja of Saráwak: An Account of Sir James Brooks. K. C. B., LL. D., Given Chiefly Through Letters and Journals. London: MacMillan, 1876.

Ayah dari James Brooke adalah Thomas Brooke, seorang Inggris. Ibunya Anna Maria, dilahirkan di Hertfordshire, sebagai puteri dari seorang Scottish, kolonel William Stuart, 9th Lord Blantyre, dan selirnya Harriott Teasdale. James Brooke dilahirkan di Secrore, satu kota suburb dari Benares, India, pada 29 April 1803. James Brooke diangkat menjadi gubernur Sarawak dan baru diberi gelar Rajah oleh Sultan Brunei pada 18 Agustus 1842.

Sejarah, seperti mimpi masa silam, entah jadi realita hari ini. Sejarah boleh dipertentangkan dengan fakta-fakta dan data yang diperoleh dari penyelidikan dan penelitian berbagai metodologi. Sedari 1848 sampai hari ini, ada 172 tahun. kata-kata yang ditera Brooke, “Luwu adalah kerajaan Bugis tertua, dan yang paling rusak.” Berikutnya, “Palopo adalah kota menyedihkan,” ternyata menjadi using, seperti mimpi yang buyar ketika pembangunan dan realita hari ini mendesak semua mausia untuk terus menjuang hidup.

Lahan subur yang membujur antara Teluk Bone sebelah Timur dengan Pegunungan Latimojong sebelah barat, membentang ke utara sampai dengan Pegunungan Verbeck, itulah tanah Luwu. Daerah yang disebut ‘Tana Luwu’, membentang dari arah selatan ke utara sampai ujung Teluk Bone, membelok ke timur, terletak di Sulawesi bagian selatan, melintang dari selatan perbatasan Kabupaten Wajo ke utara sampai perbatasan Kabupaten Poso Sulawesi Tengah dan ke jurusan tenggara Sulawesi, sampai perbatasan Kolaka Utara di Sulawesi Tenggara.

Di sini, kami menantang mimpi masa depan. Kabupaten Luwu dalam kurun waktu tiga tahun dimekarkan menjadi tiga daerah strategis, yaitu Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara yang kemudian dimekarkan lagi menjadi Kabupaten Luwu Timur dan Kota Palopo. Pemekaran ini mewujudkan juga kota otonom Palopo.

Medio 2006, Kabupaten Luwu memindahkan pusat pemerintahan dari kota Palopo ke kota Belopa, manakala Belopa ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Luwu berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 80 Tahun 2005, dan diresmikan menjadi ibu kota sejak 13 Februari 2006.

Wilayah subur ini terkenal sebagai penghasil cokelat, kopi, cengkih, berbagai produk pertanian, berbagai hasil laut, ikan, udang, rumput laut dan biji nikel.

Walau, rakyat di Tana’ Luwu memang masih beradu menjuang nasib. Tahun silam, ketika Amran Sulaiman, Menteri Pertanian RI, berkunjung ke Kabupaten Luwu, para petani mengeluhkan persoalan bibit tanaman, kelangkaan pupuk, sementara harga jual produk pertanian yang masih kurang memuaskan.

Andi Sayifullah, salah seorang perwakilan petani Luwu menyampaikan langsung persoalannya kepada Amran Sulaiman, ”Biaya produksi pertanian tinggi, sementara penetapan harga dari Bulog anjlok, sehingga kami petani merugi, dan lebih memilih menjual hasil pertanian pada pengusaha yang memberi harga lebih baik,” demikian diberitakan sindonews.com, 11 Maret 2019.

Terus berbenah. Itu kami di Tana’ Luwu.

Teks Rajah Putih hanya mimpi zaman lampau yang sudah sementara terhapus oleh berbagai kemajuan. Pemberdayaan masyarakat, kebepihakan pada kaum kecil terus dijuang, seiring inovasi, penguatan budaya dan tata kelola secara keseluruhan, juga menjaga lingkungan alam tetap lestari. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

Menggambar Wajahmu dengan Debu

Published

on

By


10 Januari 2022


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


Aku mengingatnya kembali, saat hujan ingin membangunkan dirimu, angin membuatmu tertidur, hujan itu, hanya dalam mimpiku, saat ini. Aku melihatmu pada daun-daun kering yang jatuh, waktu telah luluh, dan seberkas cahaya pagi yang aku simpan dalam sudut mataku.

Mungkin kau bisa mengenangnya, bila ingatanmu bukan lagi utuh tentang diriku, pesanmu. Pohon akasia yang kau pilih dengan paku, meninggalkan rindu, kau kerat pohon itu, menjadikannya perlambang perasaanmu. Dua burung gelatik mengintip dari ujung dahan, dan terbang dalam lamunan.

Dengan mengenangmu, kau temukan diriku sesuatu yang tak ingin kuberi arti, serupa pecahan waktu yang menyelinap pada ruas-ruas tubuhku, dan jalan angin yang lain menggambar wajahmu dengan debu, dingin, seperti awan kelabu yang ingin membuat langit biru, dibasuhnya debu itu dalam ragu. Disimpannya cahaya yang tak perlu.

Seperti dua arah yang bertemu, melewati batas perjalanan, tentang nilai yang rentan, kegamangan waktu juga ketentuan yang akan patah, akan tiba yang tidak pernah aku tunggu, hilang apa yang kucari, serta tujuan yang aku biarkan tanpa tuju, setelah itu biarlah aku tak pernah memilih apa-apa biar perlambang itu, aku baca dengan gumaman, yang menjadi tanda tanya untukmu. (*)

Continue Reading

Berita

Larantuka Diguncang Gempa M7.4

Published

on

By


15 Desember 2021


“Orang-orang panik lari berhamburan, itu di Sikka,” kata Ani.


Oleh: Parangsula


TEROPONGALOR.COMMINGGUS punya cerita tersendiri tentang gempa di koordinat 7.59° lintang selatan dan 122,26° bujur timur, dengan pusat gempa bumi berada pada 112 kilometer arah barat laut Larantuka, Flores Timur, dengan kedalaman 12 kilometer. “Gempa NTT, bapa. Saya baca berita tidak ada tsunami. Tapi, orang-orang di kampung saya was-was, meski posisi kampung saya jauh. Masih ada satu malam pelayaran dengan kapal laut dari Larantuka ke Kalabahi,” tutur Minggus.

Tercatat menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bahwa ada 346 rumah rusak dan 770 warga mengungsi akibat gempa. “Selain tempat tinggal penduduk, gempa merusak tiga gedung sekolah, dua tempat ibadah, satu rumah jabatan kepala desa, dan satu pelabuhan. Menurut Abdul Muhari, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, daerah yang paling banyak melaporkan kerusakan bangunan adalah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Sebanyak 770 orang pengungsi dilaporkan BPBD Sikka, NTT. Rinciannya, 320 orang mengungsi di Kantor DPRD Sikka, 150 orang di Gedung SIC dan 330 lainnya berdiam di aula rumah jabatan Bupati Sikka.” Seperti itu diberitakan TEMPO, 15 Desember 2021.

Ani, perantau dari Maumere, bertutur kepanikan karena gempa. “Oom Tio, rumahnya di Larantuka, retak. Bagian belakang rumah dan dapurnya sudah turun ke bawah, untung saja dia dan keluarganya sudah pindah ke Kupang. Kemarin dia telepon, tanya jangan-jangan ada keluarga di Bonerate yang terkena dampak,” ujar Ani. “Biasanya, kalau pulang ke Maumere, kapal yang kami tumpangi mampir di Bonerate,” tambah Ani.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami di wilayah Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Kemarin, peringatan tsunami itu kemudian diakhiri, dan pengumumannya disampaikan BMKG lewat konferensi pers. Peringatan resmi dicabut pulul 13.24 WITA. Masyarakat kemudian beraktivitas seperti biasa. (*)

Continue Reading

Berita

S.O.B Law Investigation – Andi Jamal: Penjarakan Mafia Tanah

Published

on

By

14 Juni 2021


Oleh: Jefriar Dunda
Biro Sulawesi Selatan


TeropongAlor—  Somba Opu | PEMBERANTASAN praktik mafia tanah di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terus didesak. Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan beberapa kali pertemuan dan membahas langkah strategis, di antaranya DPP LSM Gempa, Yayasan Bantuan Hukum Kompak Indonesia, Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia di Gowa dan Sulawesi Selatan, dan Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Pemantauan tim redaksi hingga 14 Juni 2021, desakan lembaga swadaya itu dinyatakan dalam bentuk spanduk yang dipasang di sejumlah titik seputaran Tombolo dan Somba Opu. “Telah berduka rakyat Gowa atas matinya penegakan hukum tentang pemberantasan mafia tanah di kabupaten Gowa. Ingat ketegasan Kapolri untuk memberantas mafia tanah, jangan gadaikan keadilan untuk rakyat, para mafia tanah wajib dihukum dan dipenjara, begitu juga oknum yang membekinginya.” Demikian spanduk yang dipajang Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Spanduk adalah bentuk protes dan interupsi masyarakat terhadap aparat yang tidak bekerja maksimal, dan diduga bersandiwara. “Sejauh ini permintaan penindakan kepada oknum penyidik dalam kasus mafia tanah, terindikasi membekingi terlapor pengguna surat palsu dengan cara membuat keterangan palsu dalam SP2HP yang dijadikan alasan penghentian penyelidikan. Perintah pimpinan hanya boleh efektif bila pemberantasan kejahatan hukum dimulai dari jajaran institusi yang mengawal hukum, bukan justeru mengincar pihak lain. Ini namanya bersandiwara,” kata Padeng Gervasius, SH, menyinggung tuntutan masyarakat untuk memberantas mafia tanah di Gowa.

Pasca-Rapat Dengar Pendapat yang sudah digelar DPRD Gowa, 04 Mei 2021, silam, tuntutan pemberantasan mafia tanah kian menguat di Gowa, utamanya menyorot mekanisme pembatalan sertifikat cacad hukum administratif dalam penerbitannya sebagaimana diatur dalam Pasal 110 jo. Pasal 108 ayat (1) Permen Agraria/BPN 9/1999. “Tuntutan kami jelas, cabut dan batalkan dokumen yang diterbitkan BPN Gowa yang cacad administratif. Ada regulasi tentang pembatalan. Permohonan dapat dilakukan jika diduga terdapat cacat hukum administratif dalam penerbitan sertifikat itu sebagaimana diatur Pasal 106 ayat (1) jo Pasal 107 Permen Agraria/BPN 9/1999,” tutur Amiruddin SH Kr. Tinggi, dari DPP LSM Gempa. (*)


Hak jawab selalu diberikan kepada semua pihak bila pemberitaan bertolak belakang dengan fakta dan data.


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com