Connect with us
no

Internasional

MERAIH GALDHØPIGGEN

Published

on

Oleh: Daniel Kaligis


Dunia lama mencari dunia baru. Sekitar tahun 999 atau 1000, Thorgeirr Ljosvetningagodi menjadikan Kristen agama resmi Islandia. Thorgeirr melemparkan berhala dewa Norman kuno ke Goðafoss, yakni air terjun para dewa

BEDIRI di ketinggian Galdhøpiggen, menikmat hampar hutan betula, cemara, dan tusam. Romansa tulang-tulang dedaun, satwa, manusia, mengabu menyatu tanah, luruh bersama waktu yang memuat semua derita dan gembira.

Tutur turun temurun dari Islandia adalah tentang para petualang. Kisah dunia lama. Erik Thorvaldsson, dikenal sebagai ‘Erik the Red’, seorang Viking Norwegia. Namanya dapat ditelusur dalam sumber-sumber saga Islandia. Tradisi Islandia mengindikasi ‘Erik the Red’ lahir di distrik Jæren di Rogaland, Norwegia. Dia adalah putra Thorvald Asvaldsson.

Millennium pertama ‘Erik the Red’ mendirikan pemukiman awal Norse di Greenland, Kalaallit Nunaat, pulau terluas di dunia.

Julukan ‘The Red’ dari nama Erik itu diyakini merujuk kepada warna rambut dan janggutnya.

Belum saya temukan catatan, apakah ‘Erik the Red’ pernah jadi pemimpin orang-orang Esquimaux di Godthåb, kota terbesar di Greenland, di muara pulau Nuup Kangerlua, pesisir barat Tanah Hijau.

Namun, cerita petualangan ‘Erik the Red’ jadi menarik ditelusur. Dari pengembaraannya di Greenland, ia kembali ke Islandia sekitar tahun 985. Cerita petualangannya membuat orang-orang mengikuti dia berlayar ke Greenland. Encyclopædia Britannica mencatat, ada 25 armada kapal berlayar dari Islandia, dan 14 kapal diyakini telah mendarat di Eystribygd, wilayah itu dikenal sebagai ‘Permukiman Timur’.

Awalnya ada sekitar 400 – 500 pemukim di koloni itu. Koloni Erik dikenang dalam ‘Eiríks Saga Rauða’ dan ‘Grænlendinga Saga’.

Leif Erikson, penjelajah Islandia yang masyur, adalah putra ‘Erik the Red’.

Thjodhild, seperti disebut Canadian Mysteries, adalah ibu dari Leif Erikson. Demikian tahun kelahirannya yang misteri. Ada yang bilang Leif lahir sekitar tahun 970, ada yang bilang dia lahir sekitar tahun 980.

Tempat kelahiran Leif tidak tercantum, tapi para sejarahwan dan penulis yakin ia lahir di Islandia, tempat ayah ibunya bersua di Breiðafjörður, di kebun Haukadal di mana keluarga Thjóðhild berasal. Seperti itu ditulis Jeanette Sanderson pada buku Explorers yang terbit Juli 2002.

Encyclopædia Britannica menyebut Leif Erikson sebagai penjelajah Norse, dan orang Eropa pertama yang menemukan pantai Amerika Utara. Walau, disebut Leif bukanlah orang pertama yang menyaksikan pantai itu.

Leif Erikson punya dua putra, Thorgils dan Thorkell. Thorgils lahir dari bangsawati noblewoman Thorgunna di Hebrides. Thorkell menggantikan Leif sebagai kepala pemukiman di Greenland.

Catatan panjang Greenland, pada tahun 2005, Partai Inuit Brotherhood, orang-orang yang di masa silam disebut ‘Esquimaux’ menyatakan keinginan mereka untuk mengadakan referendum guna menentukan kemerdekaan ‘Tanah Hijau’.

Musim panas di Thingvellir, padang rumput menguning di barat daya Islandia dekat semenanjung Reykjanes dan gunung berapi Hengill. Tempat ini terkenal sebagai salah satu dari situs terpenting dalam saga Islandia.

Tercatat di sana pada 930, ‘Althing’, legislatur nasional Islandia. Tempat itu terletak hampir 45 kilometer di timur ibu kota Islandia, Reykjavík. Di tahun itu para penguasa Islandia mulai menulis konstitusi negara dan membentuk ‘Althing’, sejenis parlemen yang berkantor pusat di kota Thingvellir.

‘Althing’ adalah institusi parlemen tertua di dunia. ‘Althing’ menjadi pertemuan tahunan, saat juru bicara hukum mengutip hukum kepada semua orang yang berkumpul, juga menyelesaikan pertentangan.

Islandia dapat dikatakan sebagai negara bersistem demokrasi tertua yang masih bertahan sampai sekarang.

Iblis ajak Yesus ke Galdhøpiggen

Para petarung berjalan, mendaki, menuju puncak. Impian kita ada di Galdhøpiggen, titik tertinggi di Norwegia. Bertualang di Semenanjung Skandinavia berbatas Swedia, Finlandia, Rusia, pantainya di Samudera Atlantik Utara dan Laut Barents.

Berandai-andailah saya ada di Galdhøpiggen. Dalam cerita ‘Iblis – Yesus’, tak disebut di mana lokasi gunung itu. Dalam tulisan ini, saya membawa anda ke tempat bernama Galdhøpiggen. Iblis membawa Yesus di suatu gunung sangat tinggi.

Ulangi lagi: dalam tulisan ini saya mengajak anda ke sana, ke Galdhøpiggen. Kira-kira peran saya di sini mewakili lakon Iblis, merayu pribadi lemah dan lapar, menawarkan hedonisme, egoisme, materialisme.

Dari puncak Galdhøpiggen segala relung bumi terjangkau pandangan. Di puncak itu, para pendaki dan para petarung alam adalah mereka paling kaya di bumi.

Pendakian adalah niat, adalah hobi. Entah pendakian setara pertarungan yang selalu boleh dianggap politis. Meski tak semua pendakian adalah politis.

Tentang pertarungan hari ini, saya mengutip teolog Dominican, Thomas Aquinas, di Question 41. Christ’s temptation, menyebut, Iblis menunjukkan kepada Yesus seluruh kerajaan di dunia dan kemuliaannya. Walau kita tidak memahami bahwa Yesus melihat setiap kerajaan, dengan kota-kota dan penduduk. Dalam gambaran kita kekayaan berupa emas, perak, batu permata mulia. Iblis menunjukkan arah setiap kerajaan dan kota, dan mengungkapkan dengan kata-kata kemuliaan dan kekayaannya.

Selaku Iblis, dari puncak Galdhøpiggen saya berseru, “Lihat, kemuliaan kekayaan nama dan tempat maha dasyat ada dalam tulisan ini.” Mungkin seruan saya itu tak nyambung, tapi anda masih saja saya kurung dalam tulisan ini. Dan anda terus membacanya.

Padahal, pada sesuatu puncak, tubuh kita tetap terkoneksi bumi.

Betapa manusia selalu rindu ada di puncak. Terngiang nama harum, kondang, megah, dengan segala pencapaian. Jauh di bawah sana, bumi luka dan miskin karena keserakahan beberapa orang, kata mereka.

Di puncak, inspirasi selalu sahih ditebar ke mana suka. Hanya terasa lucu, karena saya pada posisi bukan pemimpin, tapi saya menulis tentang pemimpin. Biarlah, terus mendaki dalam tulisan saja.

Sebagai Iblis, tidak saya hirau pada pemikiran, “Jangan-jangan saya serakah? Apakah saya memijak segala dahan, meremuk batang-batang lalang, menambah luka bumi, menguras-peras dengan berbagai peran sadar tak sadar”. Pun dalam khayal saya dapat merambah rimba bumi, meraih semua lekuknya dalam pelukan.

Puncak-puncak diraih. Iblis mana akan disalahkan atas hedonisme, egoisme, materialisme. Itu saya, Iblis!

Bila semua orang sudah menjadi kaya, apakah bumi tanpa persoalan? Apakah para miskin sekarat tuna materi juga adalah soal bumi – manakala para pemimpin tidak berhasil mendidik mereka – supaya turut menjadi kaya?

Galdhøpiggen, salah satu sudut bumi nan dingin. Walau, dari sana mustahil meraih view L’Anse aux Meadows di ujung utara Newfoundland. Apalagi memandang wajah Reykjavík di barat daya Islandia, nantilah menyeberang sembilan ratus tujuh puluh kilometer ke sana dari Nordik.

Di jalan politik menuju puncak, saya menutur Galdhøpiggen, pada isu berkhayal meraih kesamaan dan ketidaksamaan di Reykjavík – dibandingkan dengan jalan perpolitikan di wilayah kita. Kota, dan nama tokoh yang mudah-mudahan dalam tulisan ini kita beroleh pembelajaran: Jón Gunnar Kristinsson, tenar disebut Jón Gnarr atas pilihannya menggunakan nama panggilan ibunya pada dia, ‘Gnarr’, dan menghapus nama belakangnya, ‘Kristinsson’. Siapa dia? Baca saja terus ke bawah.

Pemimpin yang Kocak

Jika seorang kocak terpilih jadi pemimpin, boleh jadi kita punya kesempatan menertawai kemiskinan kita itu.

Reykjavík, ibukota di tepi paling utara bumi, pusat budaya, ekonomi, dan pemerintahan Islandia. Sekarang, Reykjavik adalah salah satu kota terbersih, terhijau, teraman di dunia.

Di balik sanjungan, ‘Reykjavik adalah salah satu kota terbersih, terhijau, teraman di dunia’, sebelumnya rakyat di sana pernah bersusah, dipimpin para petualang sistem, yang mendaki puncak-puncak kuasa dengan segala cara. Sebuah latar mengapa orang-orang mau ada perubahan terjadi pada lingkungan sosial budayanya.

Orang-orang di Reykjavík hilang kepercayaan pada politikus dan partai politik karena berbagai alasan, utamanya soal janji politik perubahan ke arah lebih baik. Berikutnya soal korupsi yang membikin krisis ekonomi, krisis keuangan, berbagai kesenjangan yang mendera Islandia sepanjang 2008 hingga 2011.

Jón Gnarr ada di sana, di Reykjavík, Islandia. Dia pendiri partai di Reykjavík, Besti Flokkurinn – diterjemahkan sebagai ‘Partai Terbaik’. Besti Flokkurinn dicetus Jón penghujung 2009.

Jón Gnarr merancang kampanyenya untuk mencemooh elit dan politikus professional mapan. The Guardian pada terbitan edisi Juni 2011 menyebut yang mana Besti Flokkurinn membikin semacam disclaimer bahwa janji kampanye partai hanya guyonan.

Guyon Jón Gnarr yang menyebut, “Semua partai arus utama itu diam-diam korup, Besti Flokkurinn akan korup juga, tapi tidak dengan diam-diam,” justru membikin simpati publik membludak dan mendukung gerakan Jón Gnarr dan partainya, Besti Flokkurinn.

Negara berhutang, menjerumuskan Islandia harus membayar kewajiban pada Inggris dan Belanda. Hal mana kewajiban bayar itu dikritik masyarakat luas di Islandia. “Mengapa saya harus membayar uang yang tidak pernah saya pakai,” kata Jón Gnarr kepada Sally McGrane, jurnalis The New York Times, diberitakan 25 Juni 2010.

Gebrakan Jón Gnarr menjadi populer karena warga Reykjavik sedang dilanda krisis kepercayaan terhadap politikus arus utama. Hal ini menyadarkan dia untuk membawa partai ke arah lebih serius. Setelah berkonsultasi dengan para pendukungnya, Jón Gnarr memutuskan partainya maju ke pemilihan umum.

Situs independent memberitakan tentang penyebab krisis yang terjadi di Islandia. Kondisi itu membuat rakyat marah turun ke jalan menuntut para dalang krisis segera dipenjara: “Iceland’s ‘pots and pans revolution’: Lessons from a nation that people power helped to emerge from its 2008 crisis all the stronger”.

Besti Flokkurinn, oleh Jón Gnarr dan kawan-kawan dia yang bergabung mendukung ‘Partai Baik’, awalnya bertujuan memparodikan politik Islandia secara satire, supaya masyarakat di Islandia boleh riang gembira. Ternyata ditanggapi, dan jadi serius.

Besti Flokkurinn didirikan pascapemilihan parlemen Islandia, manakala masyarakat kecewa atas kebijakan ekonomi pemerintah yang telah menjerumuskan negeri itu ke lumpur krisis.

Isu Jón Gnarr diberitakan banyak media. Di Indonesia, tak kurang media menulis Besti Flokkurinn dalam berbagai sudut pandang.

Akhmad Muawal Hasan, penulis Tirto memuat ulasan pada 10 Januari 2019, pula bercerita tentang Jón Gnarr  dan Besti Flokkurinn-nya: “Kisah Jon Gnarr, Pelawak Iseng Ikut Pemilihan Walikota dan Menang”.

Arfian Jamul Jawaami, di AyoBandung.com mengisahkan, bagaimana Besti Flokkurinn merancang program kerja membingungkan.

“Besti Flokkurinn pada kampanye pemilihan umum tahun 2010 di Reykjavik, menyampaikan program kerja membingungkan publik. Di antaranya, meningkatkan transparansi, termasuk dalam berpakaian dan berhubungan intim, menolak membayar utang negara, gratis menaiki bus, gratis berenang bagi masyarakat yang tak mampu membayar, hingga mengimbau pada setiap pria untuk mau mendengarkan ucapan perempuan dan orang tua.” Seperti itu dikutip Arfian Jamul Jawaami dari The Telegraph.


Jón Gnarr, Pussy Riot, Yesus, dan Saya

Jón Gnarr, punya masa kecil tak lazim. Dia lahir pada 2 Januari 1967, lalu berjuang dengan ketidakmampuan belajar dan berbagai masalah sosial. Pada usia 5 tahun, dia dikirim ke Children and Adolescents Faculty of the National University Hospital, dia didiagnosis menderita ‘developmental disabilities‘.

Di usia 11 tahun, Jón Gnarr menyatakan “Sekolah itu sia-sia, sebab tak sesuai cita-citanya sebagai badut sirkus atau perompak. Maka pada usia 13 tahun dia bergabung ke band punk lokal. Setahun kemudian ia dikirim ke sekolah asrama untuk anak-anak bermasalah, namun dia keluar pada usia 16 karena tak tahan.” Begitu diurai Sally McGrane, jurnalis The New York Times, pada berita bertajuk ‘Icelander’s Campaign Is a Joke, Until He’s Elected’.

Jón Gnarr pernah menekuni profesi bergaji pas-pasan. Dia dikisahkan aktif di organisasi seperti Greenpeace, akrab dengan Bjork sebelum Bjork terkenal dan punya band ‘Sugarcubes’.

Dia adalah advokat hak asasi manusia, domestik dan internasional, diangkat menjadi anggota kehormatan The National Queer Organization of Iceland karena perjuangannya atas nama hak-hak LGBT. Dia juga menulis puisi, lirik lagu, berkawan dengan seniman. Iceland Writers Retreat menyebut yang mana buku-buku Jón Gnarr telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Spanyol, Arab, Korea, dan banyak bahasa lainnya.

Medio 21 Februari 2012, Pussy Riot, grup musik punk rock perempuan asal Moskow, Rusia, menggelar ‘Doa Punk’ di depan Katedral Kristus Juru Selamat di Moskow. Aksi mereka digelar untuk menentang kembalinya Vladimir Putin yang menjabat perdana menteri, ingin memegang jabatan presiden.

Pertunjukan diinterupsi petugas keamanan gereja. Pada 3 Maret 2012, video penampilan Pussy Riot muncul di internet. Tiga anggota grup musik tersebut ditangkap dan didakwa atas tuduhan telah melakukan ‘hooliganisme’ dan memicu kebencian agama.

Penampilan kontroversial Pussy Riot terutama mengenai video aksi protes yang diposting di internet, dengan lagu dialih suara menjadi ‘Bunda Maria’, perawan suci, usirlah Putin. Putin sendiri setelah terpilih sebagai presiden secara terbuka mengatakan kemarahan atas tampilan aksi protes tersebut. “Saya harap, itu tidak akan pernah terulang kembali,” kata Putin seperti diberitakan Deutsche Welle, 7 Maret 2012.

Menuai kontroversi, Pussy Riot beroleh dukungan banyak pihak di dunia internasional. Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle, meminta Rusia agar memerhatikan kebebasan seni. Pemerintah Jerman mengritik sikap Rusia terhadap kebebasan berpendapat.

Bersama musisi dunia, Jón Gnarr mendukung Pussy Riot.

Mereka adalah Kate Nash, Red Hot Chili Peppers, Sting, John Cale, Peter Gabriel, Cornershop, Faith No More, Alex Kapranos – Franz Ferdinand, Neil Tennant – Pet Shop Boys, Patti Smith, The Beastie Boys, Refused, Zola Jesus, Die Antwoord, Jarvis Cocker, Pete Townshend, The Joy Formidable, Peaches, Madonna, Genesis, Tegan and Sara, Johnny Marr, Courtney Love, Iiro Rantala, Propagandhi, Anti-Flag, Rise Against, Corinne Bailey Rae, Peter Hammill, Kathleen Hanna, Björk, Paul McCartney, Yoko Ono, Stephen Fry, Warren Kinsella.

Siapa tak kenal Yesus, tokoh kontroversial, lahir kira-kira tahun 7 – 2 sebelum Masehi. Karena nama itu, penanggalan secara internasional terbagi menjadi dua zaman besar: Sebelum Masehi, dan Masehi.

“Yesus, orang Yahudi dan dilahirkan dalam keluarga Maria dan Yusuf. Ia dibesarkan di Nazaret di Galilea.” Seperti itu ditulis di Encyclopædia Britannica.

Kebanyakan akademisi modern, seperti Géza Vermes – dalam Jesus the Jew: A Historian’s Reading of the Gospels (1981), dan E. P. Sanders – dalam The Historical Figure of Jesus (1995), umumnya menganggap Yusuf sebagai ayah Yesus. Mereka menyatakan bahwa doktrin kelahiran Yesus dari perawan berasal dari pengembangan teologis, bukan peristiwa sejarah.

Para akademisi lainnya memandang bahwa kelahiran dari perawan dapat dibuktikan oleh dua injil berbeda kendati terdapat variasi detail. Dalam pandangan ini, Frederick Dale Bruner – dalam Matthew: A Commentary (2004), mengatakan bahwa kelahiran dan konsepsi dari perawan merupakan suatu tradisi yang sesuai kriteria beberapa pengesahan karena laporan dari Injil Matius dan Lukas berfungsi sebagai dua kesaksian yang independen dari tradisi tersebut.

Dua kitab menyajikan genealogi Yesus, Matius dan Lukas. Matius menelusur garis keturunan Yesus sampai kepada Abraham, melalui Daud. Lukas menelusur garis keturunan Yesus melalui Adam sampai kepada Allah.

Sekilas dalam tulisan mereka itu identik antara Abraham dan Daud, tetapi sangat berbeda mulai dari Daud sampai kepada Yesus. Para akademisi Kristen lazimnya telah mengemukakan berbagai teori yang berupaya menjelaskan perbedaan garis keturunan tersebut, misalnya bahwa laporan Matius didasarkan pada garis keturunan Yusuf. Lukas didasarkan pada garis keturunan Maria.

Akademisi biblika modern seperti Marcus Borg, penulis yang dibesarkan di sebuah Gereja Lutheran Skandinavia, dan John Dominic Crossan, sarjana Perjanjian Baru, menganggap kedua genealogi yang ditulis pada kitab Matius dan Lukas sebagai invensi untuk menyesuaikan dengan konvensi sastra Yahudi.

Masa kecil yang miris dari Yesus, ditulis Matius. Anak yang lahir Betlehem. Hendak dihabisi Herodes. Dibawa menyingkir Yusuf dan Maria ke Mesir.

Bagi saya ada soal yang hampir mirip dengan cerita Musa di Mesir yang ditulis pada kitab Keluaran 1 dan 2. Dia lahir dari turunan Lewi pada saat bangsanya terancam setiap bayi lelaki harus dibuang. Lolos, karena dipelihara putri Firaun dan hidup di istana. Lalu lari ke Midian saat terancam hendak dibunuh Firaun. Kembali lagi dengan berbagai mujizat menyelamatkan turunan Abraham.

Musa terancam lari ke Midian. Yesus terancam lari ke Mesir. Kitab Markus menuliskan pengalaman ketika Yesus berusia 12 tahun, mengunjungi Yerusalem dan berdiskusi dengan alim ulama.

Yohanes membabtis Yesus. Yohanes mengajar, seperti ditulis pada kitab Markus 3 : 9 – 13: Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, akan ditebang dan dibuang ke dalam api. Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian. Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.

Kisah selanjutnya Yesus ke padang gurun. Lalu bertemu Iblis. Tak ada saksi ke gunung yang mana mereka pergi dan melihat segala kemulian dunia.

Banyaklah kebaikan yang Yesus lakukan dan ajarkan pada orang-orang di zaman itu. Memberi makan minum, menghibur, menghidupkan, menyembuhkan, dan yang terpenting dalam ajaran Yesus adalah saling memberi menolong sesama, sebagai intisari kasih.

Yesus mendera para imam, ahli hukum, ahli tata krama, ahli segala ilmu yang merampasi orang-orang tak mampu melawan.

Tapi, Yahudi membenci Yesus, dan membunuhnya di tiang salib.

Ajaran kasihnya abadi, melewati berbagai zaman. Tahun 2012, diperkirakan ada 2,4 milyar penduduk dunia mempercayaai ajaran Yesus. Data dari Pew Research Center tahun 2015, menyebut Kristen tetap menjadi kelompok agama terbesar di dunia, meliputi tiga puluh satu persen dari 7,3 milyar orang di bumi.

Banyak orang menuliskan ajaran Yesus. Entah mereka sanggup mempraksiskan tulisan itu.

Lalu saya. Siapa?

Masih dengan lakon sama: hedonisme, egoisme, materialism. Dari puncak khayal Galdhøpiggen berseru, “Lihat, kemuliaan kekayaan nama dan tempat maha dasyat ada dalam tulisan ini.”

Sama seperti Jón Gnarr. Saya suka menulis puisi, suka lirik lagu, berkawan dengan seniman.

Jón Gnarr, Pussy Riot, dan Yesus. Mereka sosok kontroversi di zamannya. Seperti itu, setiap orang tak pernah ada yang sama dan serupa dalam pemikiran dan peran, walau hendak dicocok-cocokkan.

Boleh disamakan, mungkin tentang kepedulian. Namun, masih banyak persamaan tentang ketulian terhadap soal-soal yang ada di depan jidat kita. Simpati itu bumbu berbagai status doa di media sosial, empati lain soal.

Di sini, saya adalah lakon politis dalam pilihan-pilihan politik, menulis salah satunya.


Politik dan Harapan Rakyat

Ngobrol politik. Sebelum lanjut isu di Reykjavík, sejenak tengok perpolitikan negeri sendiri, di mana setiap tiap sudut orang ramai membahas. Televisi, koran, majalah, situs online, dan status-status kita seperti tak pernah jemu membincang siapa-siapa yang hendak duduk pada tahta kuasa dan wakil atas suara masyarakat.

Kawan saya, Tan Tjong Tjiang, dari tempat tinggalnya di Gang Surya, Banjarmasin, lima hari silam, terkait perpolitikan, dia menyebut, “Saya sudah paham bahasa politik busuk kaum pecundang, pemimpin-pemimpin brengsek yang cuma bikin rusak wajah negeri.”

Bagi saya, kritik terhadap kekuasaan yang dilontarkan orang Indonesia, siapa saja dia, menjadi penting. Saya kutip pernyataan Tan Tjong Tjiang tentu punya alasan. Kawan ini menurut saya mengamati fenomena Indonesia. Dia ada di pelosok Kalimantan, ada waktu dia mengunjungi Sulawesi, Jawa, Sumatera, mengurusi kesibukannya.

Kemarin, 17 April 2019, usai mencobos dia bilang, “Sudah selesai tugas sebagai warga negara. Tak seperti biasanya, TPS kali ini seru. Orang-orang tidak mau kehilangan suaranya. Medio 2014 kami satu keluarga nggak ikut nyoblos. Kali ini kami tidak mau kehilangan kesempatan, ada enam suara. Semoga lima tahun ke depan ada sosialisasi pesta demokrasi yang lebih baik lagi, dengan calon yang baik, cerdas, dan berprestasi, yang punya misi dan visinya hanya untuk membangun bangsa.”

Antusias sama dalam porsi beda. Di Banjarmasin, di Reykjavík, di Rusia, di tanah Yudea, atau di mana saja di belahan dunia.

Banjarmasin mewakili potret Indonesia, di pelosok mana saja. Hak rakyat terbengkalai, demo ada di mana-mana. Gencar hari ini di media sosial saling bantai.

Di Banjarmasin, Tan Tjong Tjiang, meski sinis terhadap perpolitikan, dan menganggap para pecundang para brengsek sudah merusak wajah Indonesia, dia merasa punya tanggunggugat untuk memberi hak suaranya pada mereka yang punya visi misi membangun negeri.

Di Reykjavík, eksodus massal dari pedesaan mulai, sebagian besar disebabkan oleh peningkatan teknologi di bidang pertanian yang mengurangi kebutuhan tenaga kerja, dan karena ledakan populasi yang diakibatkan dari kondisi hidup yang lebih baik. orang-orang bosan pada politisi arus utama dan partai politik.

Di mana-mana orang mencari baru. Mencari, bertualang melewati gunung, lurah, tebing, puncak-puncak sensasi berharap ‘dunia baru’, ‘pemimpin baru’, dan ‘segala baru’.

Menelusur kisah seperti mencari misteri puncak Galdhøpiggen, dan saya menatapnya dalam khayal jauh dari Wanua. Dulu, sudah lama sekali, seraya membaca kisah-kisah petualangan dari berbagai buku.

Sekarang membayang Wanua dari tanah jauh, lalu menulisnya sebagai ‘dekat’ dengan ‘jiwa’. Penyemangat mencari ‘baru’.

Pernahkah ditelusur bahwa terminologi ‘Dunia Baru’ adalah idiom yang digunakan merujuk kepada benua Amerika? Termonologi itu pertama muncul pada abad lima belas. Amerika merupakan sebuah ‘tempat baru dan asing’ bagi orang Eropa. Sebelumnya dunia hanya Eropa, Asia, Afrika, dan penyeragaman mindset.

Di mana ‘baru’, menjadi tanya, menjadi misteri. Kembali pada diri, menelusur, mendaki, mencari, meraih puncak.

Di sini, di tanah kita, Indonesia. Tanah yang disebut kaya raya. Seperti hikayat tanah perjanjian, dari dunia lama menyasar impian, dunia baru, negeri berlimpah susu madu.

Galdhøpiggen, mimpi meraih puncak. Seperti tekad, baru. Bangkit, musim semi, musim politik, musim bertualang menemu baru. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Estorie

Ekspedisi Militer Eropa

Published

on

By


13 Agustus 2021


Image: A 19th century CE painting by Émil Signol titled “Taking of Jerusalem by the Crusaders, 15th July 1099”. Jerusalem was recaptured from the Muslims during the First Crusade, 1095-1202 CE. (Palace of Versailles, France)
Source: world history


Oleh: Daniel Kaligis


Di sana, gelak tawa kemenangan, sekaligus tangisan dan pekik kematian menggema di ruang-ruang bumi. Seindah apapun susastra ditera pada kertas sejarah, darah sudah tumpah, huruf-huruf ruah, musnah itu tak pernah dapat ditarik kembali lagi ke semesta, selain kenang… 

PEDANG tombak kampak panah pisau pelor pedang bermata maut dan cinta, siapa saja dapat dirasuki dogma mengatasnamakan tuhan-tuhan ketuhanan yang berseru pergilah ke segenap penjuru bumi kobarkan penguasaan koloni-koloni.

Padahal, kemanusiaan adalah intisari dari segala kisah cerita merindu damai sejahtera sebagai injil kekal dan suci di semestanya.

Kenangan untuk hari ini di masa silam, salah satunya adalah tentang pertikaian dan baku rampas situs yang dianggap suci. Perang Salib, pertikaian bertajuk ekspedisi militer Eropa untuk rebut kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan Arab.

Inilah tempur, dalam keyakinan para serdadu, bahwa, pada yudha itu mereka melakukan penitence, yakni pertobatan atas dosa-dosa.

Perang Salib Pertama berujung, 13 Agustus 1099, kalah pasukan Fatimiyah yang dipimpin Al-Malik Al-Afdal bin Badrul Jamali, penempur yang dikenal sebagai Al-Afdhal Syahansyah.

Perang, jangan terulang. (*)

Continue Reading

Internasional

Point of No Return Andre Vltchek

Published

on

By

Oleh: Linda Christanty


23 September 2020


DALAM saku celananya, Andre Vltchek selalu membawa batu pemberian ibunya. Batu itu berwarna hijau pirus. Ia tidak merelakannya untuk saya, sehingga Rossie Indira istrinya menengahi perdebatan kami soal batu tersebut dengan menyatakan akan membelikan batu sejenis untuk saya di sebuah toko batu di Jerman waktu ia mengunjungi ibu mertuanya.

Rossie menepati janji. Batu itu masih saya simpan. Karena tidak tahu namanya, saya menyebutnya Batu Andre. Menurut Rossie, saya dan Andre memiliki satu kesamaan sifat, di waktu tertentu kami bisa seperti kanak-kanak: lucu, menggemaskan, menyenangkan, menjengkelkan.

Andre juga mempunyai kamera yang dinamainya Kappa. Di Kuala Lumpur, Malaysia, beberapa tahun lalu, sesudah menghadiri satu acara bersama di George Town Literary Festival di Penang, Rossie dan Andre meminta saya menginap di kamar hotel mereka yang cukup luas agar kami dapat berjalan-jalan sebelum saya terbang ke Jakarta keesokan harinya, dan mereka terbang ke Bangkok. Sebelum kami meninggalkan hotel menuju taman, Andre berkata kepada Rossie, “Jadi Kappa tidak ikut?” Tidak usah. Okay.

Saya bertemu Rossie dan Andre pertama kali di Jakarta, karena diminta seorang teman menjadi editor edisi Bahasa Indonesia buku wawancara mereka dengan Pramoedya Ananta Toer. Teman ini lalu menghilang. Buku itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan judul  “Saya Terbakar Amarah Sendirian” pada 2006.

Editornya jadi dua orang, saya dan editor KPG. Beberapa tahun kemudian saya kembali bertemu pasangan ini. Mereka berencana pergi ke Aceh untuk penulisan buku Andre yang diberi judul, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Saya mengusulkan sejumlah nama untuk diwawancarai. Kami pun bertemu lagi di Aceh.

Andre telah menerbitkan sejumlah buku non-fiksi dan fiksi, juga membuat beberapa film dokumenter.

Ia meliput konflik bersenjata di banyak negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah, antara lain di Kashmir, India, Kongo, Peru, dan Turki. Ia menulis untuk Asahi Shimbun, The Guardian, dan Der Spiegel.

Tulisan-tulisannya juga dimuat CounterPunch.

Film dokumenternya tentang pembantaian 1965, “Terlena-Breaking of the Nation”, diluncurkan pada 2004, sedangkan “Rwanda Gambit”, tentang pembantaian di Rwanda, dilansir pada 2015.

Ia seringkali dekat dengan bahaya. Ia pernah bercerita sampai di muka kamp pelatihan milisi anti Presiden Bashar al-Assad di perbatasan Turki-Suriah. Temannya, sesama wartawan, yang nekad, berada amat dekat dengan kamp itu, yang didanai lembaga intelijen negara adikuasa, dan memotretnya. Milisi dalam kamp dilatih khusus untuk dimobilisasi. Ia juga bertemu anak-anak Turki yang tinggal di perbatasan Turki-Suriah. Mereka bercerita bahwa tidak ada bom jatuh di situ sebelum negara asing menyerang Presiden Assad.

Andre meliput aksi jalanan di Turki yang menentang serangan terhadap Suriah. Pemerintah Turki berbeda sikap dengan para pemrotes. Ia juga mewawancarai putra jenderal yang ayahnya dijebloskan dalam sel oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Di masa Erdogan paling sedikit seratus jenderal ditahan dengan tuduhan kudeta. Assad juga menganggap Erdogan tidak bisa dipercaya. Dalam wawancaranya di salah satu media berbahasa Inggris, Assad mengungkap kekecewaannya. Ia juga menjelaskan dalam wawancara itu bahwa foto pembantaian orang Sunni yang beredar dan dipercaya sebagai ulah rezim Assad merupakan kebohongan. Nama fotografernya samaran, Caesar. Setelah diselidiki tidak ada peristiwa yang dimaksud foto tersebut di Suriah. Tetapi foto itu beredar luas, termasuk di media-media sosial, dan turut menjadi pembenaran untuk menyerang Suriah.

Rossie menyertai banyak perjalanan Andre untuk liputan-liputannya. Sebagian perjalanan dan liputan itu berisiko. Saya pernah menyarankan Rossie agar menulis bukunya sendiri, karena pengalaman-pengalamannya yang kaya. Ia memang sudah menyiapkan naskahnya. Pada 2010, ia pertama kali menerbitkan buku seri perjalanan, “Surat dari Bude Ochie”.

Ketika bom buku mengguncang orang-orang Utan Kayu di Jakarta pada 15 Maret 2011, saya masih berada di Aceh. Sekretaris Jaringan Islam Liberal (JIL) waktu itu, Ade Juniarti, menjawab telepon saya dan menceritakan kronologinya secara rinci.

Seorang polisi setempat yang memeriksa bom tersebut kehilangan tangan kirinya. Tim gegana datang terlambat. Jaringan Islam radikal Jamaah Islamiyah (JI) dituduh bertanggung jawab. Saya teringat Rossie yang membantu Andre mewawancarai sejumlah orang JI di Indonesia untuk bukunya.

Pada hari itu juga saya menghubungi Rossie. Ia tengah mewawancarai narasumber, yang kebetulan salah seorang mentor peracik bom JI, ketika situasi pasca-pengeboman disiarkan televisi. Mereka berada di suatu tempat di Jakarta. Mereka sama-sama melihat ke layar televisi. Narasumbernya tertawa mendengar nama JI disebut sebagai pelaku. “Dia berkata, ‘Itu bukan bom kami. Bom kami tidak seperti itu,” kisah Rossie kepada saya, mengingat pernyataan narasumbernya.

Suatu hari, saat Andre di Jakarta, Rossie mengajak saya untuk bertemu mereka. Setelah makan siang, kami pergi ke toko buku di salah satu mall Jakarta.

Andre marah melihat buku ‘Mein Kampt’ Adolf Hitler dipajang berderet-deret dalam rak, sehingga pegawai-pegawai toko menjadi cemas. Manager toko tergopoh-gopoh menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi, lalu menelepon seseorang dan akhirnya membawa kami ke sebuah ruangan di bagian dalam restoran di lantai tersebut.

Seorang lelaki tua duduk di hadapan kami. Usianya saya perkirakan lebih dari 70 tahun. Ia pemilik toko buku. Andre mengungkapkan kecemasannya melihat buku Hitler dipajang berderet-deret, yang bisa saja menginspirasi pembeli, terutama anak-anak muda, untuk membenarkan kebencian terhadap ras atau bangsa atau suku tertentu. Lelaki tua itu menyimak. Ia seolah memahami kecemasan Andre. Seminggu kemudian saya datang sendirian ke toko buku yang sama dan menemukan buku itu masih dipajang berderet-deret dalam rak.

Saya tidak selalu sependapat dengan Andre. Sejumlah tulisannya bahkan bertolak belakang dengan cara pandang dan pengetahuan saya. Tetapi di dunia ini saya bertemu sejumlah orang yang juga tidak sependapat dengan saya. Sebagian tetap berteman, sebagian lagi menjaga jarak.

Secara terus-terang, Andre menyebut dirinya ateis. Ia percaya kepada sosialisme, mengagumi Kuba dan China. Masa kecilnya jauh dari kesusahan.

Andre anak tunggal. Ayahnya seorang Ceko yang memimpin proyek nuklir pemerintah, posisi yang penting dan dihormati. Ibunya seniman keturunan Rusia-China. Sejak kecil Andre sudah terbiasa bepergian sendiri naik pesawat, dititipkan kepada pramugari dan sampai di tujuan untuk dijemput orangtuanya. Ia kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat.

Rossie tidak hanya istri, tetapi juga kawan Andre paling setia. Ia mendirikan Badak Merah Semesta enam tahun lalu, sebuah penerbitan yang bertujuan menerbitkan buku-buku Andre dalam Bahasa Indonesia dan buku-buku lain yang dianggap penting.

Mengenang Andre hari ini adalah juga mengenang Rossie, yang tanpa dirinya sebagian liputan Andre mungkin tidak berjalan lancar.

Ketika mengetahui kabar kematian Andre di Istanbul, Turki, kemarin, Rossie muncul pertama kali dalam pikiran saya.

Ketika mobil yang membawa mereka menempuh perjalanan panjang dari Samsun ke Istanbul tiba di muka hotel tempat mereka menginap, Andre yang tidur lelap gagal dibangunkan Rossie. Salah satu novel Andre berjudul ‘Point of No Return’ yang kali ini benar-benar terjadi. Tim medis yang datang menyatakan ia sudah meninggal dunia.

Selamat jalan, Andre. Semoga ada orang-orang yang membantu Rossie di sana dan tidak makin mempersulit keadaannya. (*)


Foto: Andre Vltchek
Sumber Foto: NEWAGE


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Internasional

Menentang Arus Umum

Published

on

By

01 September 2020


Oleh: Linda Christanty


1 September at 20:09
Teman-teman tercinta,
Selamat pagi. Hari ini cerah. Mari membuka pikiran kita.


SEBELUM membaca penjelasan saya lebih jauh pagi ini—bagi yang ingin dan sempat, tidak ada salahnya kita mengingat tauladan Am siki, tokoh bijak dalam novel “Orang-Orang Oetimu” Felix K. Nesi, yang leluhurnya dipercaya lahir dari pohon lontar.

Am siki bersabda, “Jangan dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Jangan diperkosa, sekalipun itu kuda”.

Beberapa hari lalu kita telah membaca berita tentang George Karel Rumbino alias Riko yang meninggal disiksa sesama tahanan di Mapolres Sorong, Papua Barat. Ia adik ipar Edo Kondolangit, penyanyi kesayangan kita, dan politikus dari partai berlambang banteng gemuk.

Menurut sebuah berita, keluarganya menyerahkan Riko ke kantor polisi, karena ia membunuh tetangganya. Dalam hal ini saya salut kepada keluarga Riko yang tidak mendukung tindakan salah yang dilakukan anggota keluarga mereka sendiri.

Dalam berita lain, dijelaskan bahwa ia merampok di satu rumah, memperkosa penghuninya, perempuan berusia 70an, dan akhirnya membunuh nenek itu. Dalam sel, tahanan lain menyiksanya. Ia meninggal dunia, karena lemas.

Kalau benar seperti itu kronologi kasusnya, maka ada dua orang yang harus kita bela:
1. Nenek korban perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan.
2. Perampok dan pembunuh yang dibunuh.

Namun, isu yang beredar kemudian dikaitkan dengan tindak kekerasan aparat negara terhadap rakyat Papua.

Stereotipe memang mudah tercipta di tengah arus pembelaan kita saat ini terhadap rakyat Papua yang mengalami intimidasi, penyiksaan dan pembunuhan oleh aparat negara.

Stereotipe tentu saja tidak baik. Ia melegitimasi sebuah kesimpulan umum. Ia juga membuat kita melihat segala sesuatu secara  hitam-putih: orang Papua adalah korban aparat negara dan dengan demikian, tidak ada orang Papua yang menjadi pelaku kejahatan.

Meskipun kita semua berjuang melawan kejahatan kemanusiaan yang mengatasnamakan apa pun, kebenaran dan keadilan menjadi landasan dari perjuangan itu. Contoh lain, yang viral belakangan ini, kasus George Floyd di Amerika Serikat.

Kita juga dapat menemukan bahaya stereotipe pada kasus ini. Orang kulit hitam adalah korban (diskriminasi). Dengan demikian, orang kulit hitam tidak bersalah (dalam hal apa pun).

George Floyd yang kasusnya diberitakan banyak media belum lama ini dan diprofilkan sebagai pahlawan anti diskriminasi rasial, juga memiliki fakta lain yang tidak banyak diungkap atau katakanlah, ditutupi untuk menjadikan kasusnya sebuah momentum politik di Amerika Serikat:

George terlibat obat-obatan terlarang dan melanggar hukum. Ia tidak pantas menjadi pahlawan jika demikian. Ia lebih pantas disebut korban jika tindak kekerasan dan pelanggaran hukum oleh aparat negara menjadi penyebab kematiannya. Pelakunya harus dihukum berat, karena perbuatannya membuat korban kehilangan nyawa. Penyebab kematian George juga harus diperiksa, apakah murni oleh penganiayaan atau overdosis.

Kadangkala sebagian dari kita tidak mau membicarakan kasus-kasus ini secara kritis, karena melawan arus umum dan arus umum itu dipercaya tengah menyuarakan hak-hak asasi manusia. Ditambah lagi banyak sekali kasus kekerasan dan pembunuhan yang melibatkan aparat kepolisian selama ini.

Menentang arus umum, sama artinya dengan tidak memihak korban dan dianggap mendukung pelaku.

Hak-hak kemanusiaan Riko ataupun George tentu harus dibela, sedangkan kebenaran dan keadilan harus ditegakkan.

Dalam jurnalisme, kebenaran tidak pernah bersifat mutlak. Kebenaran hari ini dapat dibantah kebenaran yang ditemukan di kemudian hari melalui fakta baru.

Saya akan menggunakan kasus Jessica Wongso sebagai contoh. Ia dijebloskan ke penjara untuk menjalani hukuman selama dua puluh tahun dengan tuduhan membunuh Wayan Mirna. Banyak orang dan media meyakininya, tetapi sejumlah orang menganggap Jessica korban pengadilan sesat yang direkayasa demi kepentingan uang.

Saya termasuk orang yang ragu ia bersalah. Jika fakta lain ditemukan dan membuktikan Jessica tidak bersalah, misalnya, maka kebenaran yang sebelumnya diyakini telah gugur. Jessica pun harus dibebaskan dari hukuman.

Pembebasan itu tentunya tidak akan bisa membersihkan nama dan memulihkan kehidupan Jessica seperti sediakala.

Karena itu, aparat penegak hukum harus menjalankan aturan hukum dengan benar.

Hukuman terhadap seseorang harus berdasarkan bukti-bukti yang sah dan kuat secara hukum. Tapi hal yang sebaliknya sering terjadi di negara ini.

Bagaimana kalau Jessica tidak bersalah dan tetap menjalani hukuman sampai akhir, atau direkayasa kasus bunuh dirinya dengan melibatkan pembunuh bayaran yang disusupkan sebagai tahanan di penjara atau ia dibuat sakit parah hingga ajal menjemput, misalnya? Kita tidak perlu heran jika hal itu terjadi. Apa saja dapat dilakukan di sebuah negara yang aparat penegak hukumnya tidak pernah bebas dari suap.

Wartawan dididik untuk memeriksa fakta dan detail memberinya informasi penting.

Saya teringat pengalaman ketika menulis “Hikayat Kebo”. Saya harus menunggu sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil uji forensik tentang penyebab kematian Kebo, seorang pemulung yang tinggal di belakang Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat; apakah ia meninggal dianiaya, lalu dibakar, atau ia dibakar hidup-hidup.

Semasa hidup Kebo gemar menyiksa istrinya. Ia memotong jarinya sendiri. Ia membakar gubuknya dalam keadaan mabuk dan membuat gubuk-gubuk tetangganya ikut terbakar. Kebo adalah pelaku dan juga korban kejahatan.

Pada hari yang ditetapkan, petugas bagian forensik menjelaskan kepada saya bahwa hasil forensik menunjukkan adanya jelaga dalam tenggorokan Kebo. Ia dibakar hidup-hidup.

Menganiaya orang itu kejam. Menganiaya orang, lalu membakarnya sampai mati itu lebih kejam lagi.

Saya menulis tentang Kebo untuk mengetahui praktik penegakan hukum di masa pasca Orde Baru atau di masa Reformasi, dan eksesnya terhadap kehidupan kebanyakan rakyat, seperti kita ini; ketimpangan sosial dan ekonomi masih berlanjut hingga sekarang. (*)


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com