Connect with us
no

Daerah

Moko, Mas Kawin di Alor

Published

on

17 Juli 2020


Oleh: Dera Liar Alam


MANTRA badai api gelombang. Orang-orang Abui yakin, Moko, pusaka yang keluar dari dalam bumi.

Di Takpala, 14 Juli 2020 silam, saya menelusur area Falafoka, rumah gudang. Di situ bersua Martinus Kafelkay, orang Abui. Di situ ada juga Ata bermain di sekitar Novi yang sementara menanak penganan di bale-bale.

Moko, sebagaimana ditulis Kurnia Yustiana di detikTravel, 23 Februari 2016, Moko adalah mas kawin yang unik di Alor. “Moko bentuknya berupa nekara perunggu, yang diperkirakan dibuat pada zaman perundagian dan tersebar di Alor melalui perdagangan. Benda ini disimpan oleh masyarakat di Alor dari generasi ke generasi. Fungsinya sebagai mas kawin, alat musik dan untuk membayar denda. Tradisi menggunakan Moko sebagai belis atau mas kawin dalam pernikahan secara adat masih banyak ditemukan di Alor. Kaum pria harus memberikan moko kepada keluarga gadis yang ingin dipinang, kalau tak bawa Moko tak bisa menikah. Salah satu yang masih memegang kuat budaya ini adalah Suku Abui atau Gunung Besar.”

Saya ke Takpala dengan tiga teman dari Bujanta. Martinus Kafelkay menyambut kami dengan ramah. Dia kemudian menurunkan Moko dari bagian atas Falafoka, lalu menunjukan tiga Moko yang dia simpan di situ.

Saya mencari data tentang tradisi lokal yang masih kuat diterapkan masyarakat Alor. Sejumlah informasi saya dapatkan. “Di Alor konsepsi kepercayaan terhadap tinggalan megalitik masih kental dan mantap, didukung     oleh budaya dan lingkungan yang senantiasa bersifat memelihara dan mempertahankan alam agar    tetap lestari, terhindar dari gangguan. Tinggalan misba, rumah adat, dan lain-lain diposisikan untuk  kawasan suci yang disakralkan. Di sini tampak adanya suatu kesinambungan kehidupan sosial budaya termasuk sistem religi masyarakat setempat.” Demikian I Dewa Kompiang Gede, dalam ‘Misba in Alor Community: Studies on Its Type and Function’.

Cerita tersohor Moko, warisan bangsa Abui, itu menurut saya.

Manakala datang di Takpala, Juli silam itu, Kafelkay pula mengajari saya memegang busur dan anak panah, menawari saya mengenakan busana tari perang seraya bertutur tentang Kapitang, sang Tama yang ahli berperang. Kami melinting tembakau, Martinus dan saya mempermainkan asap, saya lalu bertanya tentang ‘pemimpin’, Martinus menjawab saya dengan senyum lebar. (*)

#estorie #journey #alorelok


Foto: Classic Retro, dla.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

Menggambar Wajahmu dengan Debu

Published

on

By


10 Januari 2022


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


Aku mengingatnya kembali, saat hujan ingin membangunkan dirimu, angin membuatmu tertidur, hujan itu, hanya dalam mimpiku, saat ini. Aku melihatmu pada daun-daun kering yang jatuh, waktu telah luluh, dan seberkas cahaya pagi yang aku simpan dalam sudut mataku.

Mungkin kau bisa mengenangnya, bila ingatanmu bukan lagi utuh tentang diriku, pesanmu. Pohon akasia yang kau pilih dengan paku, meninggalkan rindu, kau kerat pohon itu, menjadikannya perlambang perasaanmu. Dua burung gelatik mengintip dari ujung dahan, dan terbang dalam lamunan.

Dengan mengenangmu, kau temukan diriku sesuatu yang tak ingin kuberi arti, serupa pecahan waktu yang menyelinap pada ruas-ruas tubuhku, dan jalan angin yang lain menggambar wajahmu dengan debu, dingin, seperti awan kelabu yang ingin membuat langit biru, dibasuhnya debu itu dalam ragu. Disimpannya cahaya yang tak perlu.

Seperti dua arah yang bertemu, melewati batas perjalanan, tentang nilai yang rentan, kegamangan waktu juga ketentuan yang akan patah, akan tiba yang tidak pernah aku tunggu, hilang apa yang kucari, serta tujuan yang aku biarkan tanpa tuju, setelah itu biarlah aku tak pernah memilih apa-apa biar perlambang itu, aku baca dengan gumaman, yang menjadi tanda tanya untukmu. (*)

Continue Reading

Berita

Larantuka Diguncang Gempa M7.4

Published

on

By


15 Desember 2021


“Orang-orang panik lari berhamburan, itu di Sikka,” kata Ani.


Oleh: Parangsula


TEROPONGALOR.COMMINGGUS punya cerita tersendiri tentang gempa di koordinat 7.59° lintang selatan dan 122,26° bujur timur, dengan pusat gempa bumi berada pada 112 kilometer arah barat laut Larantuka, Flores Timur, dengan kedalaman 12 kilometer. “Gempa NTT, bapa. Saya baca berita tidak ada tsunami. Tapi, orang-orang di kampung saya was-was, meski posisi kampung saya jauh. Masih ada satu malam pelayaran dengan kapal laut dari Larantuka ke Kalabahi,” tutur Minggus.

Tercatat menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bahwa ada 346 rumah rusak dan 770 warga mengungsi akibat gempa. “Selain tempat tinggal penduduk, gempa merusak tiga gedung sekolah, dua tempat ibadah, satu rumah jabatan kepala desa, dan satu pelabuhan. Menurut Abdul Muhari, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, daerah yang paling banyak melaporkan kerusakan bangunan adalah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Sebanyak 770 orang pengungsi dilaporkan BPBD Sikka, NTT. Rinciannya, 320 orang mengungsi di Kantor DPRD Sikka, 150 orang di Gedung SIC dan 330 lainnya berdiam di aula rumah jabatan Bupati Sikka.” Seperti itu diberitakan TEMPO, 15 Desember 2021.

Ani, perantau dari Maumere, bertutur kepanikan karena gempa. “Oom Tio, rumahnya di Larantuka, retak. Bagian belakang rumah dan dapurnya sudah turun ke bawah, untung saja dia dan keluarganya sudah pindah ke Kupang. Kemarin dia telepon, tanya jangan-jangan ada keluarga di Bonerate yang terkena dampak,” ujar Ani. “Biasanya, kalau pulang ke Maumere, kapal yang kami tumpangi mampir di Bonerate,” tambah Ani.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami di wilayah Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Kemarin, peringatan tsunami itu kemudian diakhiri, dan pengumumannya disampaikan BMKG lewat konferensi pers. Peringatan resmi dicabut pulul 13.24 WITA. Masyarakat kemudian beraktivitas seperti biasa. (*)

Continue Reading

Berita

S.O.B Law Investigation – Andi Jamal: Penjarakan Mafia Tanah

Published

on

By

14 Juni 2021


Oleh: Jefriar Dunda
Biro Sulawesi Selatan


TeropongAlor—  Somba Opu | PEMBERANTASAN praktik mafia tanah di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terus didesak. Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan beberapa kali pertemuan dan membahas langkah strategis, di antaranya DPP LSM Gempa, Yayasan Bantuan Hukum Kompak Indonesia, Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia di Gowa dan Sulawesi Selatan, dan Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Pemantauan tim redaksi hingga 14 Juni 2021, desakan lembaga swadaya itu dinyatakan dalam bentuk spanduk yang dipasang di sejumlah titik seputaran Tombolo dan Somba Opu. “Telah berduka rakyat Gowa atas matinya penegakan hukum tentang pemberantasan mafia tanah di kabupaten Gowa. Ingat ketegasan Kapolri untuk memberantas mafia tanah, jangan gadaikan keadilan untuk rakyat, para mafia tanah wajib dihukum dan dipenjara, begitu juga oknum yang membekinginya.” Demikian spanduk yang dipajang Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Spanduk adalah bentuk protes dan interupsi masyarakat terhadap aparat yang tidak bekerja maksimal, dan diduga bersandiwara. “Sejauh ini permintaan penindakan kepada oknum penyidik dalam kasus mafia tanah, terindikasi membekingi terlapor pengguna surat palsu dengan cara membuat keterangan palsu dalam SP2HP yang dijadikan alasan penghentian penyelidikan. Perintah pimpinan hanya boleh efektif bila pemberantasan kejahatan hukum dimulai dari jajaran institusi yang mengawal hukum, bukan justeru mengincar pihak lain. Ini namanya bersandiwara,” kata Padeng Gervasius, SH, menyinggung tuntutan masyarakat untuk memberantas mafia tanah di Gowa.

Pasca-Rapat Dengar Pendapat yang sudah digelar DPRD Gowa, 04 Mei 2021, silam, tuntutan pemberantasan mafia tanah kian menguat di Gowa, utamanya menyorot mekanisme pembatalan sertifikat cacad hukum administratif dalam penerbitannya sebagaimana diatur dalam Pasal 110 jo. Pasal 108 ayat (1) Permen Agraria/BPN 9/1999. “Tuntutan kami jelas, cabut dan batalkan dokumen yang diterbitkan BPN Gowa yang cacad administratif. Ada regulasi tentang pembatalan. Permohonan dapat dilakukan jika diduga terdapat cacat hukum administratif dalam penerbitan sertifikat itu sebagaimana diatur Pasal 106 ayat (1) jo Pasal 107 Permen Agraria/BPN 9/1999,” tutur Amiruddin SH Kr. Tinggi, dari DPP LSM Gempa. (*)


Hak jawab selalu diberikan kepada semua pihak bila pemberitaan bertolak belakang dengan fakta dan data.


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com