Connect with us
no

Susastra

Musim Paceklik

Published

on


Agustus 2012


Oleh: Daniel Kaligis


Musim seperti saat ini sudah pernah dialami umat manusia di alam semesta, takut kiamat. Padahal kiamat sudah sekian kali terjadi di peradaban manusia: paling mudah diamati adalah berakhirnya manusia dan kemanusiaan karena tua, bukan karena usia, namun karena selesai, mati. Hanya saja, musim yang sekarang ditambahi propaganda ketakutan, kejahatan, dan berbagai ramalan buku tua yang tidak pernah dievaluasi dan diuji…


BAGI kita, ada secarik lusuh, kertas peradaban yang tercecer di hutan hujan. Dan mari menghitung, demikian juga saya, coba mengalkulasi setelah kembali menuliskan kegamangan itu sekian kalinya tanpa bosan.

Dewa Bayu sudah diperdagangkan, lalu pepohon ditumbang, awan-awan didesak asap dan kelam, siul burung-burung, erang satwa menjauh, dedaun, obat bangsa-bangsa, sajak tua yang digandarkan: Cuma kita masih bersitatap cakrawala. Semoga tembok-tembok berhenti tumbuh menghalangi cahaya.

Harta warisan sudah terjual untuk menutup tirisan bocor. Atap dan loteng sudah tak ada bedanya. Tapi, semua masih bernyanyi, berteriak, mengangkat jempol dan kepal. Dalam kelam renung kembali mimpi-mimpi kita.

Sajak dua paragraf di atas akan berulang di bagian lain artikel ini. Mari kita lanjut.

Setelah lewat perayaan ulang tahun proklamasi negeri ini, — katanya buku sejarah begitu —, yang diperingati selalu mentereng setiap tahunnya, termasuk yang baru saja kita semua saksikan kemarin, ada sesuatu mengganjal dalam benak.

Sebuah tanya bagi generasi yang sementara tumbuh di bumi ini, di tanah kita — jika masih boleh menyebut demikian — sebab tanah air sudah sedemikian sulit diuraikan maknanya ketika pada tataran riil ada sejumlah orang, bolehlah menyebut mereka sebagai rakyat, ternyata, dapat saja hilang hak-haknya terhadap ‘tanah-air’.

Kembali lagi, tanya tentang generasi yang sementara tumbuh, “bagaimana ‘peruntungan’ mereka di hari-hari mendatang?”

Ini dia, ulangan yang membosankan:

Malam berganti malam coba kita renangi saat, menghitung berapa banyak keraguan yang diderita bumi. Sungai-sungai menghanyutkan massa, filosofi berkabung usai keberangkatan pena, mencontreng garis-garis politik.

Kita sepakat mengulang dukacita. Bila tetanaman sudah punah, dan air sudah diprivatkan dalam botol-botol plastik. Semuanya! Maka, tibalah musim menggerutu. Anak-anak bermain gundu, karet gelang, dan petak umpat. Suaranya menjauh. Terganti games di layar kaca, yang mendidiknya jadi serdadu bayaran siap membantai sesama.

Hari silam, dan mungkin masih akan berlanjut di masa menjelang, anak-anak kita ikut upacara. Baris berbaris, lalu tegak ragu-ragu menghormat simbol.

Warna-warni merona, kemudian kabur. Coba renungkan lagi: Budi belum juga tamat sekolah dasar. Orde sudah lewat untuk mendiktekan sistem, Budi tak mau naik kelas. Ia terus menaksir, dan membuat romantika bersama Wati. Pekerjaan rumah. Tidur siang. Nonton TV, juga memanjat pinang di hari-hari perayaan yang ramai.

Tentang nonton TV, kawan saya punya argumen panjang dan masuk akal. Bahwa ia sangat sepakat imajinasi anak memang wajib distimulasi sejak dini. Persoalannya ada pada metode pemberdayaannya yang secara jelas terang benderang disajikan jauh dari logika akal sehat, lebih-lebih lagi telah mengaburkan batas antara fakta dan fiksi.

“Apakah imajinasi ini yang diharapkan berkembang di otak anak? Atau mungkin terlalu dini saya mencoba menghubungkan sebab akibat antara dampak sinetron dengan peningkatan perkawinan usia muda dan peningkatan kasus perceraian di Indonesia. Tapi, mari kita coba analisis sederhana saja dengan menggunakan pengalaman realita sekitar kita melihat bagaimana imajinasi anak selalu merekam obyek yang tidak riil menjadi tuntutan terhadap realitas. Mudah-mudahan masih ingat kasus ‘Smack Down’ yang mengimajinasi sekelompok anak membanting mati teman mainnya? Ini salah satu bukti bahwa proses perekaman pada anak terjadi secara spontanitas tanpa perlu singgah di stasiun logika, tetapi langsung menghujam kesadaran mental,” tulis Moudy Gerungan, dalam Anak dan Televisi.

Anak-anak kita sudah menjadi serdadu, dan tanpa dibayar sekalipun nilainya sudah lunas oleh behavior yang tumbuh dalam peran mereka sekarang. Mereka, yakni anak-anak itu, juga boleh diajak ke mana-mana. Untuk meramaikan pesta perpolitikan di tanah air ini misalnya. Tangan mereka justru yang paling ramai diancung-ancung. Memuja-muja, berjingkrak kesetanan tanpa harus mengerti arah pembicaraan para orator ulung meneriakkan maskot-maskot pembangunan jangka panjang. Tak tahu, semua itu sudah ketinggalan dan dianggap tak laku dan gagal. Cuma kenang yang tak lagi ada dalam memori masa sekarang.

Ketakutan di masa sekarang politis.

Mengenai perpolitikan, Denni Pinontoan, seorang budayawan Minahasa, menulis di kabarindonesia, yang mana begitu banyak manusia di negeri ini gerah dan geram dengan fenomena golongan putih. Bahkan ada organisasi keagamaan sampai mengeluarkan fatwa haram bagi umatnya yang jadi golongan putih. “Aneh, sebab hak memilih untuk memilih atau tidak memilih digeser ke wilayah sorga dan neraka,” urai Pinontoan. Dan mengapa fenomena golongan putih lebih ditakutkan ketimbang kejahatan transnasional seperti kera putih, saya juga heran?

Ini kisah lain tentang kera putih. Hanoman lahir pada masa Tretayuga sebagai putera Anjani, seekor wanara wanita. Dahulu Anjani katanya adalah bidadari bernama Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan seorang putra yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama Kesari, Anjani melakukan tapa ke hadapan Siwa agar Siwa bersedia menjelma sebagi putra mereka. Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai Hanoman.

Pada saat Hanoman masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke arah Hanoman sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung. Melihat hal itu, dewa Bayu menjadi marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para dewa pun memohon kepada Bayu agar menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan Hanoman diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanoman akan kebal dari segala senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu, Hanoman menjadi makhluk yang abadi atau Chiranjiwin.

Dua bait di atas seperti sebagian isi artikel ini hanya fiksi. Namun, janganlah kejahatan jadi abadi karena pilihan kita. Hitung berapa banyak doa dan waktu hilang, doa terlalu panjang, mengharap besok sudah penat.

Seremoni menggunting pita juga dengan doa yang kepanjangan. Semua diucap, dari penguasa tingkat atas, hingga kepala lingkungan di kampung Pece. Baca dan tulis kemudian kalkulasi. Angka-angka berganti, meruntuhkan nilai.

Di tepi laut, alun gelombang memainkan dedaun mangrove. Sisa-sisa lamun hanyut. Di antaranya adalah plastik, sisa destructive fishing. Mungkin derita, atau kepunahan yang mengintai tanpa diduga namun dapat diprediksi, sederas arus yang menghentarkan begitu banyak sisa dari aktifitas manusia.

Mungkin yang menjadi pasti, ketika kita menyelam lebih dalam dan menemukan partikel-partikel lain sudah berbaur bersama asin abadi. Kata mendera laut yang kadang diam di hitamnya yang misteri, siapa yang tahu apa yang melayang di bawah samudera.

Kampung kita jauh di mata. Wanua kecil di tepi telaga, kini penuh jelagah.

Kisah silam yang terkubur bersama waktu, saat kau mengucap cinta dengan sepenuh hati. Tatap bertaut, lalu kukecup embun dari ilalang basah. Hari masih teramat pagi untuk bangun. Ada gelap di sekitar menghalau pandangan.

Ajaib. Anak-anak kita lahir dan tumbuh bagai bunga, agar bank-bank boleh didirikan dan menyantuni lapar mereka terhadap peradaban modern. Restorasi sudah dilupa, sarapan di resto mewah dengan sejumput bubuk kemewahan fana.

Bila hari siang, kita bercerita di bawah teduh pepohonan. Sebentar lagi kehilangan. Percakapanmu dengan rembulan keemasan, adalah tangis, ngeri. Menyayat.

Malam sebentar lagi tiba, agar kita kembali menggelayutkan mimpi di awang-awang. Langit-langit bertaburan sinar. Boleh dihitung dengan segenap keraguan.

Cuma kita masih bersitatap cakrawala. Semoga tembok-tembok berhenti tumbuh menghalangi cahaya.

Harta warisan sudah terjual untuk menutup tirisan bocor. Atap dan loteng sudah tak ada bedanya. Tapi, semua masih bernyanyi, berteriak, mengangkat jempol dan kepal.

Dalam kelam renungkan kembali mimpi-mimpi kita.

Sejurus kemenangan dirayakan dalam pesta. Yang lain bersahutan, seperti siul murai di musim bunga. Lalu paceklik tiba. Dan kita teramat susah menunggui anak-anak kita menangis karena demam peradaban baru. Kasih sayang diganti fasilitas, doa diganti rock n roll, jazz.

Denting gitarmu kutunggu. Pagi kemarin awan berarak di atas kota-kota, rintik yang menyebabkan titik. Lalu, gerimis menderas di banyak lokasi menggumpalkan banyak soal politis yang entah kapan selesai dibahas dan tuntas. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Susastra

Geladak

Published

on

By


07 Oktober 2021


Kisah laut, Jhiva, laut tak bertepi yang pilu hitam abu-abu legam ombak gelombang badai, doa, dan cinta…


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


KAU sudah menyiapkan waktu, di geladak saat buritan dihantam badai dan ombak. Kau ingin bercerita tentang laut pada anakmu, di bawah payung malam, di dalam hati yang legam sekawanan paus mendengus menuntun huruf-huruf pada waktu yang akan menuliskan namamu pada batu.

Kau berdiri, malam ini di tengah lautan yang tak bertepi di antara ombak yang menghantam ulu hati, kepasrahan adalah kepatuhan yang kau benci, di tengah badai dan ombak, di antara bau anyir yang merebak bergerak ke geladak, kau mencintai laut seperti kau mencintai anakmu. “Jhiva…, Jhiva…,” kau berseru di tengah laut yang pilu, hitam dan abu-abu legam dan biru warna kesukaan anakmu, anak yang kau cintai seperti laut.

Apa yang kau terima setelah kau mencari, kau berdiri menatap laut yang tak bertepi mengingat anakmu, anak satu-satunya, kau memejamkan mata lalu berdoa meski kaupun tau doamu seringkali tak sampai di sana, dibungkam angin yang membara.

Kau melemparkan jala-jala di tengah badai dan ombak berharap ikan-ikan mendekat dalam jala-jalamu. Kau sadar di darat kau tak punya tempat. Tak ada ikan-ikan yang mencintaimu di darat dan itu membuatmu seperti sekarat. Di darat apa yang dapat kau lakukan selain hanya menunggu, karena hanya laut yang membuatmu masih bersitaut, sambil menatap laut ingatanmu di hantam ombak.

“Ayah…, ayah…,” panggil anakmu waktu itu sambil menunjuk-nunjuk layar televisi — pesta pernikahan, berita korupsi, peresmian proyek pembangunan, kompetisi menyanyi, wisata kuliner, ah terlalu banyak untuk disimak. Perahumu bergoyang-goyang dimainkan ombak.

Angin bertiup sangat kencang. Kau tak melihat ada petunjuk dari bintang, langit sendiri tinggi dan kelam. Kau tak beranjak, masih memegang erat tali jala yang kau lemparkan di tengah gempuran rasa rindu, suara ombak tak berhenti menderu, dalam jala-jalamu.

Kau ingin tongkol-tongkol itu terperangkap, berharap angin dan badai reda saling berdoa pada perahumu dan tongkol-tongkol itu dapat kau bawa pulang untuk Jhiva anakmu yang selalu menangis saat kau bercerita tentang laut.

Tapi, seperti di darat yang mengajarimu kesabaran, dendam, dan kepalsuan. Kau melihat buih-buih laut terombang-ambing dipayungi lengkung langit yang kelam. Kau tak melihat karang yang garang. Kau seperti melihat kelopak-kelopak bunga kamboja berceceran terseret ombak mengapung terombang-ambing dalam buih-buih keruh di lautan.

Ya Tuhan…

(*)

Continue Reading

Susastra

Mantra dan Kita

Published

on

By


24 September 2020


Oleh: Daniel Kaligis


Alir arus menepi di bumi asing,
setapak sunyi danau buatan.

Kita bermain kecipak air,
menanti sore pulang mengulang mantra.

Lereng-lereng menabuh gema berulang-ulang.
Rimba, alang-alang, gubuk tua sudah roboh.

Foy-doa, prere, foy-pai, sunding-tokeng, sasando, heo:
angin sapu badai hanyut aroma santalum-album dari pulau sebelah menghisap mantra.

Dramaturgi, fiesta, pemanggil hujan meratapi langit, gunung, awan, lautan, perahu-perahu menjauh. Dewi dewa menitip mantra pada tangis fana bayi: o nea, aida oba tapim anasu, a serla muku salara dumu, so mi amuru, ilu aroko wong tamudu aida amidi…

Anak-anak baca persepsi, doa panjang-panjang.
Kurikulum berbisnis kertas dan mantra, mendaur bimbang pandemi.

Ruang kelas sepi dan mahal, guru-guru berkelekar orientasi kelamin-kelamin bidang studi petualang hilang ibu-bapa leluhurnya oleh mantra…

 

 

 

Continue Reading

Alor

Kepa: La P’tite

Published

on

By


11 September 2021


Oleh: Dera Liar Alam


NUHAKEPA

Ada tiga nelayan, duduk di tepi, menanti tumpangan. Mereka membawa galon air, ubi dalam karung, tas anyaman, dayung, sirih, pinang, tembakau.

Hari siang, terang-benderang. Kami membincang La P’tite.

Beta, menera sajak: cinta jauh di seberang.

#Trip #1607 #AlorBaratLaut

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com