Connect with us
no

Susastra

Paradoks Laut

Published

on


2007


Oleh: Dera Liar Alam


Sore sudah tenggelam
Bola jingga melembut terkubur
Hati mendua karena birumu menghitam

Satu-satu hujam
Daratan memanjang
Timbun sisa-sisa

Bila malam camar menjauh
Kicaukan mangsanya yang mati
Tak sempat tangis dan titip salam duka

Sepasang mata
Menghentar letih

Perahu di sana
Mengejar ufuk timbul tenggelam
Mendayung hingga ke seberang
Harap sudah menggulung
Ombak sia-sia

Datanglah pagi
Cahayamu bersua cermin perak
Menggantung tipis kabut di atas kota
Tiang-tiang logam tertancap di sisi
Hayati teluk yang mati
Sunyi memercik kecipak asinmu

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Susastra

Dari Rahim Bunda Tanah Melayu

Published

on

By


12 Januari 2022


Oleh: Jamal Rahman
Penulis adalah Penulis – Sastrawan Indonesia


Tetaplah mendayung dengan legukmu sendiri
Sebab Kulek dan Jungkong
Kan kehilangan pelabuhan
Tanpa buih-buih kecil di tanganmu
Biar suaramu tak segaduh ombak
Teriakanmu tak setajam lengking camar

Dari rahim bunda Tanah Melayu ini
Larungkanlah biduk penuh sunyi
Agar dayung dan peluh ikhlas bersemi
Karena badai gelombang adalah kenduri

Biarkan merdeka jiwa
Tepiskan kungkung kuasa
Tapi jangan kelahi tak tentu pasal
Kelak waktu menjadi muara
Menjelmalah musim teduh dari dalam doa


Natuna, 05 Mei 2017


Continue Reading

Daerah

Menggambar Wajahmu dengan Debu

Published

on

By


10 Januari 2022


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


Aku mengingatnya kembali, saat hujan ingin membangunkan dirimu, angin membuatmu tertidur, hujan itu, hanya dalam mimpiku, saat ini. Aku melihatmu pada daun-daun kering yang jatuh, waktu telah luluh, dan seberkas cahaya pagi yang aku simpan dalam sudut mataku.

Mungkin kau bisa mengenangnya, bila ingatanmu bukan lagi utuh tentang diriku, pesanmu. Pohon akasia yang kau pilih dengan paku, meninggalkan rindu, kau kerat pohon itu, menjadikannya perlambang perasaanmu. Dua burung gelatik mengintip dari ujung dahan, dan terbang dalam lamunan.

Dengan mengenangmu, kau temukan diriku sesuatu yang tak ingin kuberi arti, serupa pecahan waktu yang menyelinap pada ruas-ruas tubuhku, dan jalan angin yang lain menggambar wajahmu dengan debu, dingin, seperti awan kelabu yang ingin membuat langit biru, dibasuhnya debu itu dalam ragu. Disimpannya cahaya yang tak perlu.

Seperti dua arah yang bertemu, melewati batas perjalanan, tentang nilai yang rentan, kegamangan waktu juga ketentuan yang akan patah, akan tiba yang tidak pernah aku tunggu, hilang apa yang kucari, serta tujuan yang aku biarkan tanpa tuju, setelah itu biarlah aku tak pernah memilih apa-apa biar perlambang itu, aku baca dengan gumaman, yang menjadi tanda tanya untukmu. (*)

Continue Reading

Susastra

Sajak Sembilan Kata

Published

on

By


14 Desember 2018


Oleh: Dera Liar Alam
Gambar: Twilight Bira, South Sulawesi


I point to the cloud,
bouncing off your blue


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com