Connect with us
no

Susastra

Paradoks Laut

Published

on


2007


Oleh: Dera Liar Alam


Sore sudah tenggelam
Bola jingga melembut terkubur
Hati mendua karena birumu menghitam

Satu-satu hujam
Daratan memanjang
Timbun sisa-sisa

Bila malam camar menjauh
Kicaukan mangsanya yang mati
Tak sempat tangis dan titip salam duka

Sepasang mata
Menghentar letih

Perahu di sana
Mengejar ufuk timbul tenggelam
Mendayung hingga ke seberang
Harap sudah menggulung
Ombak sia-sia

Datanglah pagi
Cahayamu bersua cermin perak
Menggantung tipis kabut di atas kota
Tiang-tiang logam tertancap di sisi
Hayati teluk yang mati
Sunyi memercik kecipak asinmu

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Alor

Twilight Kampung Seberang

Published

on

By


2020


Oleh: Parangsula


ANAK-ANAK kampung seberang menendang debu, bola emas menggilas tubuh mereka di pematang.

Di sini, berulang-ulang mantera ditambang ditebang ditembangkan: cincin, giwang, kalung, dan gelang, orang-orang di rimba hilang. Teori bimbang, impor keyakinan sebilah sangkur berperang bulan sabit menghunus tandus.

Musim kemarau yang panjang menekur batang-batang jagung, cabe, ubi, pisang, siapa mengenang gerimis. Air menggenang, di sana di Maumere, di Flores, di Sumba, di Timor, di Alor, di Pantar, di Lapan, di Lembata, di Rote, di Sabu Raijua, di Adonara, di Solor, di Ende, di Komodo, di Palue, di ribu nusa lainnya.

Masih ingat nyanyimu, Atoni, Manggarai, Sumba, Solor, Ngada, Timor Leste, Rote, Lio, Alor, Sawu…

Dan di semacam rasa – merindu pulang, kita bersua kekasih dari abad lampau membibirkan dewi dewa haus lapar politik doa panjang-panjang jadi pedang jadi ruang jadi uang jadi perang janji hutang janji usang…

Senja tenggelam, kampung seberang…

Continue Reading

Susastra

Geladak

Published

on

By


07 Oktober 2021


Kisah laut, Jhiva, laut tak bertepi yang pilu hitam abu-abu legam ombak gelombang badai, doa, dan cinta…


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


KAU sudah menyiapkan waktu, di geladak saat buritan dihantam badai dan ombak. Kau ingin bercerita tentang laut pada anakmu, di bawah payung malam, di dalam hati yang legam sekawanan paus mendengus menuntun huruf-huruf pada waktu yang akan menuliskan namamu pada batu.

Kau berdiri, malam ini di tengah lautan yang tak bertepi di antara ombak yang menghantam ulu hati, kepasrahan adalah kepatuhan yang kau benci, di tengah badai dan ombak, di antara bau anyir yang merebak bergerak ke geladak, kau mencintai laut seperti kau mencintai anakmu. “Jhiva…, Jhiva…,” kau berseru di tengah laut yang pilu, hitam dan abu-abu legam dan biru warna kesukaan anakmu, anak yang kau cintai seperti laut.

Apa yang kau terima setelah kau mencari, kau berdiri menatap laut yang tak bertepi mengingat anakmu, anak satu-satunya, kau memejamkan mata lalu berdoa meski kaupun tau doamu seringkali tak sampai di sana, dibungkam angin yang membara.

Kau melemparkan jala-jala di tengah badai dan ombak berharap ikan-ikan mendekat dalam jala-jalamu. Kau sadar di darat kau tak punya tempat. Tak ada ikan-ikan yang mencintaimu di darat dan itu membuatmu seperti sekarat. Di darat apa yang dapat kau lakukan selain hanya menunggu, karena hanya laut yang membuatmu masih bersitaut, sambil menatap laut ingatanmu di hantam ombak.

“Ayah…, ayah…,” panggil anakmu waktu itu sambil menunjuk-nunjuk layar televisi — pesta pernikahan, berita korupsi, peresmian proyek pembangunan, kompetisi menyanyi, wisata kuliner, ah terlalu banyak untuk disimak. Perahumu bergoyang-goyang dimainkan ombak.

Angin bertiup sangat kencang. Kau tak melihat ada petunjuk dari bintang, langit sendiri tinggi dan kelam. Kau tak beranjak, masih memegang erat tali jala yang kau lemparkan di tengah gempuran rasa rindu, suara ombak tak berhenti menderu, dalam jala-jalamu.

Kau ingin tongkol-tongkol itu terperangkap, berharap angin dan badai reda saling berdoa pada perahumu dan tongkol-tongkol itu dapat kau bawa pulang untuk Jhiva anakmu yang selalu menangis saat kau bercerita tentang laut.

Tapi, seperti di darat yang mengajarimu kesabaran, dendam, dan kepalsuan. Kau melihat buih-buih laut terombang-ambing dipayungi lengkung langit yang kelam. Kau tak melihat karang yang garang. Kau seperti melihat kelopak-kelopak bunga kamboja berceceran terseret ombak mengapung terombang-ambing dalam buih-buih keruh di lautan.

Ya Tuhan…

(*)

Continue Reading

Susastra

Mantra dan Kita

Published

on

By


24 September 2020


Oleh: Daniel Kaligis


Alir arus menepi di bumi asing,
setapak sunyi danau buatan.

Kita bermain kecipak air,
menanti sore pulang mengulang mantra.

Lereng-lereng menabuh gema berulang-ulang.
Rimba, alang-alang, gubuk tua sudah roboh.

Foy-doa, prere, foy-pai, sunding-tokeng, sasando, heo:
angin sapu badai hanyut aroma santalum-album dari pulau sebelah menghisap mantra.

Dramaturgi, fiesta, pemanggil hujan meratapi langit, gunung, awan, lautan, perahu-perahu menjauh. Dewi dewa menitip mantra pada tangis fana bayi: o nea, aida oba tapim anasu, a serla muku salara dumu, so mi amuru, ilu aroko wong tamudu aida amidi…

Anak-anak baca persepsi, doa panjang-panjang.
Kurikulum berbisnis kertas dan mantra, mendaur bimbang pandemi.

Ruang kelas sepi dan mahal, guru-guru berkelekar orientasi kelamin-kelamin bidang studi petualang hilang ibu-bapa leluhurnya oleh mantra…

 

 

 

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com