Connect with us
no

Opini

Penulis Terkenal, Telur Ayam, dan Kemiskinan

Published

on

Oleh: Daniel Kaligis


Wednesday, 25 April 2018
Status disepuh, terbitlah history:
Dari bilik-bilik di Timur Indonesia


SUATU malam di Marina, sing-song girls tawarkan beer. Datanglah dua, lalu berbotol-botol, sekaleng es-batu, jepitan dan sendok. Rasa kita menggenit. Kacang goreng, pe̍h-ōe-jī as mixed vegetables  tersaji.

Text massif — nowadays: entah bagaimana memercaya sejarah, walau sekarang banyaklah penulis terkenal. Socialmedia beri space lebar kepada semua mahluk yang kenal tulis-baca. Manakala siuman, dengan mudah status-status dijalar mata — status filosofis, status lebay, status doa ayat-ayat, status memaki, status video gambar-gambar foto-foto, status copas.

Bila saja bebek dan ayam leghorn dapat diajari gadget hingga mahir, betapa mereka akan menulis bencana telur: Bertanya-lah mereka tentang telurnya dalam pertalian dengan sejarah paskah. Atau telur palsu yang tidak pernah melibatkan pendapat arus bawah, bebek dan ayam.

Siapa mampu gugat ketika kosakata ‘ayam-kampus’ disebut dengan semacam perasa mesum dalam bilik neuron?

Kemarin sore bercengkrama dengan anak-anak penjual gorengan, saya bertanya harga sambal. Mereka bilang, sambalnya gratis, asal beli gorengan. Hey! Harga merica selalu berfluktuasi, dan mampu menggoyang perpolitikan pasar bapece. Banyak orang tak berselera bila makannya tak pedas. “Kiapa kang, jual gorengan, depe rica nyak ada harga kasiang?”

Ngebakso pakai sambal. Makan ki-ef-si ada depe sauce sambal. Minum captikus tola-tola ikang pidis. Bubur-Manado makan dengan sambal roa. Pizza ada sambalnya. Pisang goreng apalagi, tak nikmat tanpa rawit tanpa sambal.

Kong, ngoni bayangkan jo makang nda peke rica bagimana depe rasa!

Balik ke cerita Marina. Bersukarialah dalam kemudaan. Siapa muda, siapa tua merasa tetap muda, bahasanya dipeleset ‘berjiwa muda’, padahal so tua torang sayang dan masih haus kasih-sayang dan susu. Boleh tertawa!

Pace naik pentas, melantun ‘help me make it through the night’. Diganti perempuan bahenol menembang dangdut. Penonton riuh bersorak. Ada debar sunyi di jiwa, siapa tau? Orang-orang di sini sibuk dengan pemikiran masing-masing.

Lampu bertebar cahaya warna-warni. Laut kelam. Sorot di kejauhan, kapal lewat. Ada kawan pamit berpindah lokasi, cari malam lain, cari kesenangan penghibur bagi hati.

Ada pengunjung baru tiba. Waiters and waitresses membersih meja, menambah botol-botol, menambah kacang goreng, menambah sekaleng es-batu. Mengalkulasi bill. Mengambil gambar, tersenyum. Mengatur letak celana. Berbisik pada temannya, cekikikan.

Sekitar delapan tahun silam, saya mengomentari status kemiskinan: poverty is hunger. poverty is lack of shelter. poverty is being sick and not being able to see a doctor. poverty is not being able to go to school, not knowing how to read, not being able to speak properly. poverty is not having a job, fear for the future and living one day at a time. poverty is loosing a child to illness brought about by unclean water. poverty is powerlessness, lack of freedom.

Kemiskinan jadi cerita turun-temurun. Digubah sebagai proposal project memicu investation and account payable. Namun, dalam kemiskinan itu banyak juga orang-orang gemuk. Saya termasuk pada bagian yang gemuk itu.

Kita, lebih banyak berpura-pura. Berpura-pura senang gembira. Berpura-pura sedih. Berpura-pura kaya. Berpura-pura miskin. Dan saya, susah berpura-pura kurus.

Lanjut komen tentang kemiskinan: poverty is a call to action to change the world so that many more may have enough to eat, adequate shelter, access to education and protection from violence.

Mary Maureen, kawan di negeri seberang, menjawab komen saya dan bertanya: Then who it is to blame? Who’s job is it to fight for freedom fr poverty? Those people that are power hungry, promised to changes the world, actually are the one causing it. Too bad, but that’s the way it is…

Kau boleh punya pemikiran sendiri.
Bebaslah menafsir. Merdekalah dirimu berpikir dan berstatus.

Di pojok tersudut, jiwa memain syair tua:


and solitaire’s the only game in town
and every road that takes him, takes him down
and by himself, it’s easy to pretend
he’ll never love again

#solitaire


Di sini, dari balik nako, tempat di mana mata leluasa menatap matahari turun di langit barat, April 2018. (*)


Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Alor

Putra Alor Irjen Johanis Asadoma Ditunjuk Jadi Kapolda NTT

Published

on

By

Putra Alor Irjen Johanis Asadoma Ditunjuk Jadi Kapolda NTT

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menerbitkan surat telegram (ST) berisi sejumlah rotasi jabatan di lingkungan Polri. Salah satunya penunjukan Irjen Johannis Asadoma yang sebelumnya menjabat sebagai Kadiv Hubinter Polri diangkat sebagai Kapolda NTT, menggantikan Irjen Setyo Budiyanto.

Sebagaimana Teropongalor.com mengutip dari akun FB Laa Adipapa.

Surat Telegram Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo nomor : ST/2224/X/KEP/2022, tertanggal 14 Oktober 2022 yang mana tertuang dalam poin delapan: Irjen Pol Drs. Johanis Asadoma, M.Hum. NRP 66010508 Kadivhubinter Polri Diangkat dlm jaabatan baru sebagai Kapolda NTT TTK.

Surat telegram yang tertanggal 14 Oktober 2022 pada poin tujuh juga menyebut Kapolda NTT Irjen Setyo Budiyanto diangkat sebagai Kapolda Sulawesi Utara.

Sumber berita: https://radamuhu.com/2022/10/14/putra-alor-irjen-johanis-asadoma-ditunjuk-jadi-kapolda-ntt/

Continue Reading

Opini

Teknik Pengendalian Baru

Published

on

By


25 Januari 2022


Penyebaran informasi yang cepat dan beragam-ragam di internet dianggap praktik demokrasi dan pemenuhan hak atas informasi. Padahal itu sebuah teknik pengendalian baru dari imperialisme. Menebar jaring dulu, menjerat kemudian.


Oleh: Linda Christanty
Penulis adalah Penulis dan Sastrawan


SEJUMLAH teman berkata, bahwa kebanyakan anak muda generasi milenial itu apolitis. Menurut mereka, keapolitisan itu yang membedakan generasi milenial dengan generasi muda masa Orba yang politis. Kesimpulan mereka tidak layak dipercaya. Di masa Orba, kebanyakan anak muda juga apolitis.

Teman-teman tentu ingat bagaimana kelompok anak muda kritis di kampus-kampus masa Orba misalnya dianggap anomali di tengah kecenderungan umum yang tidak kritis atau ogah berurusan dengan rezim. Jadi jangan suka menuduh-nuduh generasi milenial dan generasi-generasi sesudahnya. Selama hidup kita masih di bawah kendali pihak lain, wajar orang merasa takut. Oleh karena itu, pemberontak kita sebut pejuang. Selebihnya, massa.

Perbedaan masa dulu dan sekarang terletak pada penyebaran informasi.

Perkembangan teknologi digital membuat sebaran atau daya jangkau informasi lebih luas dan lebih cepat sampai kepada sasaran atau tujuan. Memobilisasi orang juga lebih mudah. Berguna untuk tujuan baik. Berpotensi juga untuk menjadi neraka kemanusiaan jika dimanfaatkan para kriminal.

Penyebaran informasi yang cepat dan beragam-ragam di internet dianggap praktik demokrasi dan pemenuhan hak atas informasi. Padahal itu sebuah teknik pengendalian baru dari imperialisme. Menebar jaring dulu, menjerat kemudian. Menganggap dunia saat ini bebas sensor jelas mengubur kewaspadaan kita. Kontrol telah disamarkan melalui situs-situs pemeriksa fakta.

Kita tengah memasuki tataran lanjut imperialisme. Neo neo imperialisme. Salah satunya, melalui sebaran virus buatan ini di seluruh dunia, mutasi-mutasinya, dan tahap vaksinnya tidak cukup dua kali, tetapi berkali-kali dan kalau bisa sampai akhir zaman. Kita dikendalikan oleh imperialis dan kaki tangannya. DNA kita dirusak.

Mungkin kalau kamu bisa menerawang ribuan tahun ke depan, kamu akan terkejut menjadi leluhur makhluk bermata satu, bertaring, dan melata seperti buaya, sehingga waktu itu orang-orangtua tidak lagi memberi nama kepada anak mereka, karena makhluk seperti itu tidak lagi membutuhkan akte kelahiran dan KTP.

Makhluk ini bahkan tidak bisa mengucap kata ‘ompung’, ‘embah’, ‘kakek’, ‘nenek’, ‘mama’, ‘papa’, ‘ayah’, ‘bunda’. Waktu itu bahasa-bahasa manusia sudah punah.

Coba temukan bukti imperialisme ini tanpa repot-repot. Amati internet. Ketik ‘virus’. Dari kebanyakan informasi yang muncul, analisis dan buat kesimpulan. Rata-rata kesimpulan orang: dunia kita tidak akan sama lagi dan tidak akan normal lagi.

Nah, itu tujuannya. Kebutuhan-kebutuhan di dunia yang tidak normal itu apa saja? Nah, yang membuat aturan dan memproduksi mendapat keuntungan. Media kita turut mensirkulasi informasi yang sama.

Di masa pendudukan Jepang di Indonesia, pertanian hancur karena hama bekicot. Hama ini disebar oleh penjajah. Akhirnya bekicot dimakan karena pangan minim. Ahli gizi agen ganda pendukung penjajah sekaligus penghibur rakyat menyatakan bekicot berprotein tinggi dan rakyat tidak butuh daging lain, katanya. Virus disebar dan tidak bisa dimakan. Lebih buruk dari bekicot.

Tahun lalu, peneliti-peneliti hebat bangsa sendiri berusaha membuat vaksin untuk pertahanan bangsa dan saya percaya mereka berupaya keras agar tidak membuat kita menjadi leluhur makhluk melata bermata satu bertaring, tiba-tiba lembaganya malah dibubarkan. Ya Tuhan, selamatkanlah rakyat tak berdaya di negeri ini. (*)

Continue Reading

Opini

Mbak Katy Pedagang Asongan

Published

on

By


21 Desember 2021


Dengan sopan, secara pelan-pelan. Ya, dengan sopan dia menawarkan barang dan jasanya kepada saya, secara pelan-pelan. Tidak maksa sama sekali.


Oleh: Nuniek Tirta Sari
Editor: Dera Liar Alam
Foto: Mbak Katy/ @nuniektirta


ANDAIKAN semua pedagang asongan berguru pada Mba Katy gimana caranya jualan tanpa mengganggu, pasti dagangannya lebih laku.

Saya yang selama seminggu di Canggu tak tergoyahkan oleh pedagang asongan, bukan karena tidak kasihan tapi lebih karena merasa terganggu sebab mereka sering memaksakan, di hari terakhir itu mau membeli barang dan jasa pijat Mbak Katy dengan sukacita.

Saya tanya, apa rahasianya?

Mbak Katy bilang: “Kalau saya senyum dan orang itu balas senyum, saya baru berani tawarkan dagangan saya. Kalau saya senyum tapi dia tidak balas senyum, saya ngga berani karena mungkin orang itu lagi nggak mau diganggu.”

Autoresponse saya selalu balas senyum. Tapi senyum saya itu tidak otomatis terkonversi lagi menjadi penjualan. Lalu apa rahasia Mbak Katy selanjutnya?

Dengan sopan, secara pelan-pelan. Ya, dengan sopan dia menawarkan barang dan jasanya kepada saya, secara pelan-pelan. Tidak maksa, sama sekali.

Saya sangat tidak tahan dengan orang agresif, tidak suka dibujuk-bujuk apalagi dipaksa. Makin diagresifin, makin saya galakin.

Yang Mbak Katy lakukan hanyalah duduk diam di samping saya yang sedang sendirian. Ikut memantau anak saya yang sedang surfing di kejauhan. Saya jajan risol gunting dan saya tawarkan ke Mbak Katy juga sekalian, dengan sopan dia menolak. Masih kenyang, katanya.

Obrolan mengalir lancar dari situ, seperti kawan lama saja.

Aneh, padahal saya yang introvert biasanya malas ngobrol dengan orang yang tak dikenal. Kemudian tanpa diminta lagi, saya akhirnya minta juga untuk pijat kaki dengan bonus gelang untuk anak saya.

Kalau kamu ke pantai Canggu dan perlu gelang tangan atau karet rambut, pijat tangan atau kaki hanya dengan selembar 50 atau 100ribu, silakan hubungi Mba Katy di +62 858-2926-xxxx. Saya sudah minta izin untuk share nomornya dan foto ini juga.

Mbak Katy ngga setiap hari ada di pantai Canggu karena anaknya masih kecil-kecil, tapi suaminya kerja di cafe sana. Jadi janjian dulu aja beberapa hari sebelumnya. Kalau ketemu, salam dari saya ya. (*)


Throwback 28 September 2021
Pantai Nelayan, Canggu, Bali
@nuniektirta


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com