Connect with us
no

Internasional

Perang Biologi VS Perang Teks

Published

on


Medio 2020


Oleh: Daniel Kaligis


Tahun 2003 merebak perkara avian influenza. Kabar miring, ada yang sengaja menginstal virus itu di negara kita. Sekarang, halaman sosial, status-staus dipenuhi propaganda corona.

Rakyat was-was. Tapi, virus intoleransi yang menindas di banyak lokasi belum membuka ‘mata regulasi penanggulangannya’. Atau, jangan-jangan virus itu sama penting dengan investasi. Jawab sendiri.


JENEWA, Rabu, 22 Januari 2020, silam, World Health Organization bikin pertemuan darurat membahas virus corona. Setiap jengkal berita selalu menyelip terminologi itu, corona lagi corona lagi, yang lain dong.

Saya, sejenak membaca Roger Boesche. ‘Kautilya’s Arthasastra on War and Diplomacy in Ancient India’, The Journal of Military History 67, Januari (2003). Menemu perang teks sebagai propaganda berusia uzur.

O iya, dalam uraian ini, saya menggunakan terminologi ‘perang teks’ dalam makna negatif. Anda tentu punya argumentasi sendiri tentang ‘perang teks’. Silakan saja.

Perang teks sudah terdokumentasi sejak awal sejarah manusia. Beberapa contoh, sebagai berikut: Inskripsi Behistun, sekitar tahun 515 sebelum masehi menggambarkan kenaikan Darius yang Agung ke tahta Persia merupakan contoh propaganda, yakni upaya disengaja, sistematis dalam membentuk persepsi, memanipulasi kognisi, memengaruhi langsung perilaku agar memberikan respon sesuai yang dikehendaki pelaku propaganda, yaitu Darius Agung.

Dalam inskripsi Behistun, Darius menyatakan dirinya berjaya dalam semua pertempuran selama periode pergolakan, dan menghubungkan keberhasilannya dengan ‘karunia dari sang Ahura Mazda’.

Darius Agung berhasil meyakinkan rakyat. Pada zaman itu, Ahura Mazdā, atau dikenal sebagai Ohrmazd, Ahuramazda, Hormazd, Aramazd adalah Tuhan tertinggi pada kepercayaan Zoroastrianisme. Ahura Mazda adalah pencipta penegak asha atau kebenaran. Ahura Mazda bersifat mahatahu, tetapi tidak mahakuasa, namun Ahura Mazda akan menghancurkan segala kejahatan.

Ahura Mazda pertama kali muncul pada periode Akhemeniyah. Agama Tua di Iran ini mempercayai Ahura Mazda dengan arti Ahura sebagai cahaya dan Mazda sebagai kebijakan.

Tercatat berusia ribuan tahun, kisah propaganda Arthashastra, ditulis Chanakya, sekitar 350 – 283 tahun sebelum masehi, profesor di Universitas Takshashila, membahas perang teks atau propaganda secara detail, termasuk cara menyebarkan propaganda dan pemakaiannya dalam peperangan. Muridnya, Chandragupta Maurya, sekitar 340 – 293 tahun sebelum masehi, menggunakan tabiat ‘perang teks’ untuk jadi pemimpin Kekaisaran Maurya. Propaganda dipakai untuk memengaruhi khalayak, pun upaya ini dapat menggulingkan kekuasaan.

Propaganda sebagai perang teks masa silam menggunakan kultus individu, seseorang digambarkan sebagai dewa, sebagai penyelamat. Penguasa digambarkan secara biologi diturunkan oleh sesuatu kuasa dari langit, lalu menyamar jadi manusia.

Balik lagi soal virus yang sudah kita singgung pada pembuka tulisan ini.

Di tanah air, pada hari yang sama dengan pertemuan darurat WHO, terkait virus yang dikenali sebagai 2019-nCoV, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, drg. R. Vensya Sitohang M.Epid, dalam konferensi pers di Ruang Naranta, Kemenkes RI, menyebut bahwa, “Vaksin belum ada dan juga obatnya tidak ada untuk virus corona.” Seperti itu ditulis Silfa Humairah Utami dan Risna Halidi, di suara.com, Rabu, 22 Januari 2020.

Apa daya, takut terus disebar. Sejarah punya kisah yang masih berlanjut sampai hari ini, manusia mengenal senjata nuklir — termasuk senjata radiological, senjata biologi, senjata kimia, dan bahan peledak. Dunia mengenalnya sebagai weapons of mass destruction (WMD). Alat yang dirancang membunuh manusia dalam skala besar, menargetkan masyarakat awam dan personel militer. Sejumlah tipe WMD dianggap berpotensi meneror psikologis daripada kegunaan secara militer.

Memori Perang

Ingatkah kita tentang ‘The 3rd Persian Gulf War’? Perserikatan Bangsa-Bangsa, terkait Perang Irak, pada 02 Maret 2004 menelurkan sebuah laporan menyatakan bahwa senjata pemusnah massal – atau apa yang disebut pada paragraf sebelumnya sebagai WMD – tidak ditemukan di Irak setelah tahun 1994. Masih jadi pertanyaan, anda boleh berasumsi, seperti apa perpolitikan di tataran internasional itu.

Perang kontroversial berlanjut tanpa jawaban sampai hari ini. Media menulisnya, fakta konflik belum padam. Gina Pace, Jurnalis CBSNews.com, 26 September 2005, menera judul ‘Undeclared Civil War In Iraq’,  inilah peperangan antara para pemberontak, koalisi, dan tentara baru Irak, perang saudara antar kelompok mayoritas Syi’ah dan minoritas Sunni yang masih menyala sampai sekarang.

Drama Operasi Pembebasan Irak dipecut invasi tahun 2003. Okupasi dilakukan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat dan Britania Raya mengakibatkan berlanjutnya peperangan antara para pemberontak dengan pasukan koalisi. Tentara Baru Irak lalu dibentuk untuk menggantikan tentara lama Irak setelah dibubarkan koalisi. Mengharap tentara baru ambil alih tugas koalisi setelah mereka pergi dari Irak.

Mari kembali mengingat. Sebelum invansi, pemerintah Amerika Serikat dan Britania Raya menuduh Irak sedang berusaha membuat senjata pemusnah massal yang mengancam kemanan nasional mereka, berikut koalisi, dan sekutu regional. Medio 2002, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menerbitkan Resolusi 1441 mewajibkan Irak bekerjasama membuktikan bahwa negara itu tidak berada dalam suatu usaha membuat senjata pemusnah massal. United Nations Monitoring, Verification and Inspection Commission, Hans Blix, menyebut tidak ditemukan senjata pemusnah massal di Irak.

Senjata pemusnah, atau teks pemusnah. Manusia terjajah teks. Teori tak dimengerti, diskusi tak kelar tak paham, lalu berbagi. Kemudian berkisah pada lawan bicara. Tersebarlah teks, dan jadi keyakinan.

Virus menjadi senjata. Teks menjadi senjata. Propaganda entah apa maunya.

Argumen sungguh banyak mendukung tesis. Namun, banyaklah juga pertanyaan tentang teks dalam tesis. Mengapa dunia membagi diri dalam dua narasi besar, lalu sederet debat mengangah: mengapa ada yin-yang, putih hitam, besar kecil, kuat lemah, dan seterusnya. Semua menyasar terminologi selaras dan imbang.

Dunia membidik equilibrium. Teks-teks disebar, kekuasaan takut bila ada banyak kelompok punya keyakinan sendiri. Terciptalah tuhan-tuhan. O lord, mengapa petaka tuan menjadi tuhan tak pernah diperguncing, atau ketika bapakisme mendominasi gender, kaum perempuan tetap mau ditata ‘wani piro’, dibeli dengan mas kawin lalu ditendang istri-istri muda.

Perang teramat mudah jadi bisnis. Penjajahan mengubah praksisnya sebagai virus dan bakteri merugikan.

Mari telisik ceritanya:
Medio 2003, gonjang-ganjing isu merebaknya avian influenza. Setelah avian influenza marak di luar negeri, Indonesia kebagian dampak. Ketika itu, avian influenza mulai terdeteksi karena terdapat ayam mati tiba-tiba di berapa daerah. Peternak alami kerugian, produksi terhenti. Setelah avian influenza dikabarkan masuk, beberapa bulan kemudian pemerintah umumkan bahwa Indonesia positif terdampak avian influenza jenis H5N1.

Ini bioterorisme, katanya pemerintah tanggap. Pada 13 Maret 2006, Kepala negara luncurkan Komite Nasional pengendalian Flu Burung dan kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI). Cepat tanggap, bela rakyat, ada solusi?

Tapi, ada isu miring. Kuasa yang bertenger dengan tag membela rakyat ‘katanya terlibat dengan sengaja’ memasukan avian influence ke dalam negeri. Media kobarkan ngeri, rakyat yang punya ayam, bebek, burung, dan babi, terancam. Ternak rakyat disasar gusar.

Dari investor.id, Jumat, 11 Januari 2013 menyebut, ada epidemik ratusan ribu itik mati tertular flu burung di Brebes, Jawa Timur, Jawa Barat, DIY, Banten dan Sulawesi Selatan, yang selanjutnya diteliti akademisi Unari, CA Nidom. Dia menyatakan bahwa virus baru itu bukan hasil mutasi, melainkan buatan manusia. Nidom menduga bahwa ini merupakan bioterorisme.

Masih dari sumber sama, beritasatu: Varian baru flu burung pertama ditemukan di Danau Qinghai, Tiongkok. Padahal, Indonesia bukan tempat migrasi burung dari Tiongkok, tetapi ketika masuk ke Indonesia, daerah pertama yang terjangkiti adalah Sumatera kemudian secara bersamaan merambat langsung Brebes dan dalam waktu cepat menyebar ke dua puluh empat kabupaten di Indonesia. Sekertaris Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis, Emil Agustiono, mencium aroma tidak sedap, dan mengatakan, bahwa terdapat pihak yang sengaja memasukkan jenis varian flu burung, H5N1 clade 2.3.2, untuk disebarkan ke Indonesia. Hal ini dapat dimasukkan dalam kejahatan bioterorisme.

Keyakinan hari ini dibangun atas sejumlah pengalaman. Tahun silam, manakala neraca dagang miring dan berat di import — menurut kabar media — pemerintah mempertemukan empat puluh Taipan di Istana Bogor. Tujuannya untuk menupuk cadangan devisa. Presiden mengajak para pengusaha kakap itu untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Saya kira, upaya pemerintah itu positif. Memperkuat ketahanan ekonomi nasional memang harus dikerjakan dalam ‘kerja kerja kerja’. Namun, terminologi yang menarik perhatian dari pertemuan itu bagi saya adalah soal taipan. Manakala infrastruktur tumbuh pesat, harga bahan bakar seragam di seluruh tanah air, tak salah kita memuji keuletan sistem dalam membenah perekonomian dan hak rakyat.

Walau, Taipan-Taipan di daerah masih coba ‘nakal’. Saat mengunjungi berapa daerah, saya menjumpai kelangkaan. Antrian mengular tunggu bahan bakar bensin solar. Harga tidak seperti biasa. Gas masih sering langka. Komoditas pertanian bermain pada elastisitas yang kadang tak terkontrol. Tapi, nanti dulu. Bicara taipan setelah dua bait berikut ini ya. Sekarang mari sedikit lagi mengusik dan menengok pergulatan pasar.

Ketika harga kopra anjlok, mencibirlah kita tentang harga diri identitas. Buruh tani bergaji per hari kurang dari sembilan puluh ribu apa terusik ketika isu harga minyak goreng melambung? Tentu terusik! Namun dia tidak beroleh keuntungan apa-apa atas isu harga kopra anjlok. Bila harga kopra membaik, tentu pemilik usaha perkebunan sekala besar yang mendulang untung.

Dollar menguat value-nya terhadap berbagai mata uang di dunia, kampanye miring pasti nyaring ‘katanya’ bela rakyat. Tapi, rakyat seyogyanya menjadi tidak penting didengar ketika saya duduk di kursi kuasa, sebab saya hanya butuh mereka mencontreng angka-angka.

Membuka beberapa referensi, saya menemukan kata ‘oxyuranus’, nama latin dari seekor ular gesit berekor tajam dan sangat berbisa. Bila anda berkesempatan ke Australian Museum, anda boleh mendalami lebih jauh tentang oxyuranus microlepidotus. Oxyuranus ada di Australia dan Papua. Digambarkan dalam legenda Aborigin tentang seekor ular yang merentangkan badannya di langit seperti pelangi. Oxyuranus adalah salah satu dari lima ular paling mematikan di dunia, dia-lah Taipan itu.

Walau, di jagad maya saya juga beroleh pengertian lain tentang Taipan. Istilah Taipan, dikisahkan pertama digunakan untuk menyebutkan pebisnis asing di China atau Hong Kong abad sembilan belas dan awal abad dua puluh satu. Orang canton dewasa ini menggunakannya lebih umum untuk beberapa pemimpin bisnis pribuminya. Arti literalnya adalah kelas atas, yang dapat dibandingkan dengan Big Shot dalam isilah slang Inggris.

Dulu istilah ini secara umum digunakan mengacu kepada pemimpin bisnis senior dan pengusaha di Hongkong ketika di bawah kendali Inggris. Istilah ini pertamakali masuk dalam bahasa Inggris dalam register Canton 28 Oktober 1834. Sejarah variasi speliling memasukkan taepan, typan, dan tai-pan. Taipan diartikan seorang pengusaha besar yang punya imperium bisnis luas.

Istilah Taipan menyebarluas keluar China dan mendunia setelah terbitan cerita pendek ‘The Taipan’ oleh Somerset Maugham tahun 1922 dan novel Tai-Pan oleh James Clavell tahun 1966.

Tilik saya berikut ini bukan soal taipan, namun tentang kegigihan. Perekonomian China tumbuh pesat karena kerja smart dan mampu menjadi pesaing Amerika dan banyak negara di Asia dan Eropa.

Saya ngobrol dengan Kikko, kawan saya yang menetap di Singapore tentang tanah air. Tentang kekuatan bisnis yang kian meraja dan inovasi. Dia bilang, “Kerabat saya di kampung berternak. Sukses atau tidak sukses bukan ukuran, yang saya tahu mereka itu tekun dan setia menjalankan usahanya dengan belajar dari pengalaman.” Kata dia, orangtuanya dulu punya banyak kepunyaan, tetapi musnah karena tidak dimanage dengan baik. Ini jadi pelajaran.

Tajuk di sindonews.com, 30 Juni 2018 menarik perhatian saya: Kekuatan ekonomi China saat ini telah mendekati Amerika Serikat, bahkan di beberapa tempat, produk-produk China telah menggeser produk Amerika di kancah global. Profesor bisnis kenamaan China Zhang Weining menjelaskan mengapa China saat ini dapat mengambil-alih ekonomi global dari tangan Amerika. Ini kata Zhang terjadi karena perbedaan besar cara pandang masyarakat di antara negara tersebut yang telah membuat ekonomi China meningkat tajam.

Ini saya petik dari kata Zhang yang ditulis sindonews, bahwa, orang China hanya peduli siapa yang bisa menjadi lebih kaya, dan bagaimana cara untuk menjadi kaya tanpa melanggar norma. Orang China lebih banyak berdebat tentang model bisnis dan teknologi baru. Sementara, orang Amerika Serikat masih terobsesi pada politik sehingga menyedot energi dan waktu. Padahal energi dan waktu tersebut dapat digunakan untuk bekerja mengembangkan teknologi dan bisnis baru.

Teks, tesis, dan keyakinan. Bagaimana menggambarkan kondisi perekonomian dan kebijakan dalam negeri bila tanpa pembanding. Sementara obrolan kita masih di situ-situ saja. Kafir-kafiran, ular-ularan, hoax-hoaxan. Value tercipta dari inovasi, kerja smart dan terus tekun. Saya sendiri masih jadi penonton terhadap kemajuan dunia.

Perang teks. Pernahkah anda mendengar kubu Blok Barat dan kubu Blok Timur perang secara terbuka? Hanya teori, perang dingin, perang teknologi, bumi bulat bumi datar tetap kabur pemahamannya, walau dunia dan jagat sudah jadi saksi bahwa tidak ada wajah yang persegi, seperti itu juga wajah bumi. Semua mencari keuntungan ekonomi dari sumberdaya yang terbatas dan harus diakali.

Saya lanjut obrolan dengan kawan di Singapore itu seraya bertanya, “Bagaimana menyaingi kapitalisme kalau mindset rakyat tak dicerahkan? Kapan rakyat dikapitalisasi disuntik modal agar dapat berdaya hadapi pasar bebas?” Dia dan saya tak punya kata sepakat, masing-masing punya argumentasi sendiri.

Bagi dia, bagaimana terus bekerja, berinovasi dan cari peluang. Saya masih berkutat pada perubahan mindset dan menertawai kotbah-kotbah.

Lalu, kami sama-sama tertawa. Orang-orang terjajah teks. Kami harus terus mengkapitalisasi diri sendiri, walau saya masih banyak hutang. Anda punya hutang? Bila punya, tertawa saja. Tapi, berusahalah melunasinya. Jangan tunggu pemerintah melunasi hutang anda, jangan tunggu kiamat.

Perang teks entah kapan selesai, dan sangat mungkin tidak akan pernah selesai, sebab manusia akan senantiasa bergelut dengan teks.

Propagare, katanya orang seberang. Kegiatan mengembangkan memekarkan rangkaian pesan bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan orang-orang. Informasi dirancang dikemas tidak obyektif untuk memengaruhi siapa saja yang mendengar, melihat, dan menontonnya.

Kultus individu dalam perang teks di negara kita menggunakan gelar-gelar. Kuasa dari langit mana menginspirasi teks, lalu mandi di kolam dapat membuat bunting? Tertawalah terbahak-bahak sebab kuasa dari langit itu masih bertahta walau sudah minta maaf.

Nafsu biologis berkuasa membanjirkan ibukota negara. Tapi, kita semua tahu, bahwa hujan memang sementara musimnya, air mengalir ‘katanya’ masuk ke tanah. Dan, seperti itu teks-teks juga masuk ke dalam tanah, berperang dengan cacing-cacing intoleransi yang menari dan lahir di jalan-jalan demokrasi terpaksa dan basi.

Di negara lain khotbah tentang kiamat sudah tak laku. Di negeri kita khotbah adalah propaganda, adalah perang teks.

Mari perhatikan seksama: dunia sementara beranjak, begitu banyak manusia bergiat, berinovasi, mencipta berbagai kemudahan, menumbuhkan damai sejahtera, menziarahi surga-surga yang indah di bumi.

Kita di negeri ini cuma kebagian surga dari bom panci dan berbagai isu palsu yang membuat otak terus melarat dan terjajah. Kita di sini berperang teks, mengaku paling benar dengan segala asumsi persepsi alasan, macam-macam bentuk dan tabiatnya.

Namun, perang terus berlanjut, jejaknya dapat kita ikuti. Berapa banyak jadi korban? Siapa yang nanti memainkan ‘kultus individu modern’, menawar penawar obat dan bantuan. Huruf-huruf tidak menyembuhkan teks, selain merangkainya kembali, sebagai ucapan, terima kasih, status-status, doa-doa bercampur makian dan berkat. Seperti itu.

Pilih huruf, pilih teks. Hentikan perang, termasuk perang teks, propaganda menindas, yang memunah kemanusiaan. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Estorie

Ekspedisi Militer Eropa

Published

on

By


13 Agustus 2021


Image: A 19th century CE painting by Émil Signol titled “Taking of Jerusalem by the Crusaders, 15th July 1099”. Jerusalem was recaptured from the Muslims during the First Crusade, 1095-1202 CE. (Palace of Versailles, France)
Source: world history


Oleh: Daniel Kaligis


Di sana, gelak tawa kemenangan, sekaligus tangisan dan pekik kematian menggema di ruang-ruang bumi. Seindah apapun susastra ditera pada kertas sejarah, darah sudah tumpah, huruf-huruf ruah, musnah itu tak pernah dapat ditarik kembali lagi ke semesta, selain kenang… 

PEDANG tombak kampak panah pisau pelor pedang bermata maut dan cinta, siapa saja dapat dirasuki dogma mengatasnamakan tuhan-tuhan ketuhanan yang berseru pergilah ke segenap penjuru bumi kobarkan penguasaan koloni-koloni.

Padahal, kemanusiaan adalah intisari dari segala kisah cerita merindu damai sejahtera sebagai injil kekal dan suci di semestanya.

Kenangan untuk hari ini di masa silam, salah satunya adalah tentang pertikaian dan baku rampas situs yang dianggap suci. Perang Salib, pertikaian bertajuk ekspedisi militer Eropa untuk rebut kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan Arab.

Inilah tempur, dalam keyakinan para serdadu, bahwa, pada yudha itu mereka melakukan penitence, yakni pertobatan atas dosa-dosa.

Perang Salib Pertama berujung, 13 Agustus 1099, kalah pasukan Fatimiyah yang dipimpin Al-Malik Al-Afdal bin Badrul Jamali, penempur yang dikenal sebagai Al-Afdhal Syahansyah.

Perang, jangan terulang. (*)

Continue Reading

Internasional

Point of No Return Andre Vltchek

Published

on

By

Oleh: Linda Christanty


23 September 2020


DALAM saku celananya, Andre Vltchek selalu membawa batu pemberian ibunya. Batu itu berwarna hijau pirus. Ia tidak merelakannya untuk saya, sehingga Rossie Indira istrinya menengahi perdebatan kami soal batu tersebut dengan menyatakan akan membelikan batu sejenis untuk saya di sebuah toko batu di Jerman waktu ia mengunjungi ibu mertuanya.

Rossie menepati janji. Batu itu masih saya simpan. Karena tidak tahu namanya, saya menyebutnya Batu Andre. Menurut Rossie, saya dan Andre memiliki satu kesamaan sifat, di waktu tertentu kami bisa seperti kanak-kanak: lucu, menggemaskan, menyenangkan, menjengkelkan.

Andre juga mempunyai kamera yang dinamainya Kappa. Di Kuala Lumpur, Malaysia, beberapa tahun lalu, sesudah menghadiri satu acara bersama di George Town Literary Festival di Penang, Rossie dan Andre meminta saya menginap di kamar hotel mereka yang cukup luas agar kami dapat berjalan-jalan sebelum saya terbang ke Jakarta keesokan harinya, dan mereka terbang ke Bangkok. Sebelum kami meninggalkan hotel menuju taman, Andre berkata kepada Rossie, “Jadi Kappa tidak ikut?” Tidak usah. Okay.

Saya bertemu Rossie dan Andre pertama kali di Jakarta, karena diminta seorang teman menjadi editor edisi Bahasa Indonesia buku wawancara mereka dengan Pramoedya Ananta Toer. Teman ini lalu menghilang. Buku itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan judul  “Saya Terbakar Amarah Sendirian” pada 2006.

Editornya jadi dua orang, saya dan editor KPG. Beberapa tahun kemudian saya kembali bertemu pasangan ini. Mereka berencana pergi ke Aceh untuk penulisan buku Andre yang diberi judul, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Saya mengusulkan sejumlah nama untuk diwawancarai. Kami pun bertemu lagi di Aceh.

Andre telah menerbitkan sejumlah buku non-fiksi dan fiksi, juga membuat beberapa film dokumenter.

Ia meliput konflik bersenjata di banyak negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah, antara lain di Kashmir, India, Kongo, Peru, dan Turki. Ia menulis untuk Asahi Shimbun, The Guardian, dan Der Spiegel.

Tulisan-tulisannya juga dimuat CounterPunch.

Film dokumenternya tentang pembantaian 1965, “Terlena-Breaking of the Nation”, diluncurkan pada 2004, sedangkan “Rwanda Gambit”, tentang pembantaian di Rwanda, dilansir pada 2015.

Ia seringkali dekat dengan bahaya. Ia pernah bercerita sampai di muka kamp pelatihan milisi anti Presiden Bashar al-Assad di perbatasan Turki-Suriah. Temannya, sesama wartawan, yang nekad, berada amat dekat dengan kamp itu, yang didanai lembaga intelijen negara adikuasa, dan memotretnya. Milisi dalam kamp dilatih khusus untuk dimobilisasi. Ia juga bertemu anak-anak Turki yang tinggal di perbatasan Turki-Suriah. Mereka bercerita bahwa tidak ada bom jatuh di situ sebelum negara asing menyerang Presiden Assad.

Andre meliput aksi jalanan di Turki yang menentang serangan terhadap Suriah. Pemerintah Turki berbeda sikap dengan para pemrotes. Ia juga mewawancarai putra jenderal yang ayahnya dijebloskan dalam sel oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Di masa Erdogan paling sedikit seratus jenderal ditahan dengan tuduhan kudeta. Assad juga menganggap Erdogan tidak bisa dipercaya. Dalam wawancaranya di salah satu media berbahasa Inggris, Assad mengungkap kekecewaannya. Ia juga menjelaskan dalam wawancara itu bahwa foto pembantaian orang Sunni yang beredar dan dipercaya sebagai ulah rezim Assad merupakan kebohongan. Nama fotografernya samaran, Caesar. Setelah diselidiki tidak ada peristiwa yang dimaksud foto tersebut di Suriah. Tetapi foto itu beredar luas, termasuk di media-media sosial, dan turut menjadi pembenaran untuk menyerang Suriah.

Rossie menyertai banyak perjalanan Andre untuk liputan-liputannya. Sebagian perjalanan dan liputan itu berisiko. Saya pernah menyarankan Rossie agar menulis bukunya sendiri, karena pengalaman-pengalamannya yang kaya. Ia memang sudah menyiapkan naskahnya. Pada 2010, ia pertama kali menerbitkan buku seri perjalanan, “Surat dari Bude Ochie”.

Ketika bom buku mengguncang orang-orang Utan Kayu di Jakarta pada 15 Maret 2011, saya masih berada di Aceh. Sekretaris Jaringan Islam Liberal (JIL) waktu itu, Ade Juniarti, menjawab telepon saya dan menceritakan kronologinya secara rinci.

Seorang polisi setempat yang memeriksa bom tersebut kehilangan tangan kirinya. Tim gegana datang terlambat. Jaringan Islam radikal Jamaah Islamiyah (JI) dituduh bertanggung jawab. Saya teringat Rossie yang membantu Andre mewawancarai sejumlah orang JI di Indonesia untuk bukunya.

Pada hari itu juga saya menghubungi Rossie. Ia tengah mewawancarai narasumber, yang kebetulan salah seorang mentor peracik bom JI, ketika situasi pasca-pengeboman disiarkan televisi. Mereka berada di suatu tempat di Jakarta. Mereka sama-sama melihat ke layar televisi. Narasumbernya tertawa mendengar nama JI disebut sebagai pelaku. “Dia berkata, ‘Itu bukan bom kami. Bom kami tidak seperti itu,” kisah Rossie kepada saya, mengingat pernyataan narasumbernya.

Suatu hari, saat Andre di Jakarta, Rossie mengajak saya untuk bertemu mereka. Setelah makan siang, kami pergi ke toko buku di salah satu mall Jakarta.

Andre marah melihat buku ‘Mein Kampt’ Adolf Hitler dipajang berderet-deret dalam rak, sehingga pegawai-pegawai toko menjadi cemas. Manager toko tergopoh-gopoh menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi, lalu menelepon seseorang dan akhirnya membawa kami ke sebuah ruangan di bagian dalam restoran di lantai tersebut.

Seorang lelaki tua duduk di hadapan kami. Usianya saya perkirakan lebih dari 70 tahun. Ia pemilik toko buku. Andre mengungkapkan kecemasannya melihat buku Hitler dipajang berderet-deret, yang bisa saja menginspirasi pembeli, terutama anak-anak muda, untuk membenarkan kebencian terhadap ras atau bangsa atau suku tertentu. Lelaki tua itu menyimak. Ia seolah memahami kecemasan Andre. Seminggu kemudian saya datang sendirian ke toko buku yang sama dan menemukan buku itu masih dipajang berderet-deret dalam rak.

Saya tidak selalu sependapat dengan Andre. Sejumlah tulisannya bahkan bertolak belakang dengan cara pandang dan pengetahuan saya. Tetapi di dunia ini saya bertemu sejumlah orang yang juga tidak sependapat dengan saya. Sebagian tetap berteman, sebagian lagi menjaga jarak.

Secara terus-terang, Andre menyebut dirinya ateis. Ia percaya kepada sosialisme, mengagumi Kuba dan China. Masa kecilnya jauh dari kesusahan.

Andre anak tunggal. Ayahnya seorang Ceko yang memimpin proyek nuklir pemerintah, posisi yang penting dan dihormati. Ibunya seniman keturunan Rusia-China. Sejak kecil Andre sudah terbiasa bepergian sendiri naik pesawat, dititipkan kepada pramugari dan sampai di tujuan untuk dijemput orangtuanya. Ia kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat.

Rossie tidak hanya istri, tetapi juga kawan Andre paling setia. Ia mendirikan Badak Merah Semesta enam tahun lalu, sebuah penerbitan yang bertujuan menerbitkan buku-buku Andre dalam Bahasa Indonesia dan buku-buku lain yang dianggap penting.

Mengenang Andre hari ini adalah juga mengenang Rossie, yang tanpa dirinya sebagian liputan Andre mungkin tidak berjalan lancar.

Ketika mengetahui kabar kematian Andre di Istanbul, Turki, kemarin, Rossie muncul pertama kali dalam pikiran saya.

Ketika mobil yang membawa mereka menempuh perjalanan panjang dari Samsun ke Istanbul tiba di muka hotel tempat mereka menginap, Andre yang tidur lelap gagal dibangunkan Rossie. Salah satu novel Andre berjudul ‘Point of No Return’ yang kali ini benar-benar terjadi. Tim medis yang datang menyatakan ia sudah meninggal dunia.

Selamat jalan, Andre. Semoga ada orang-orang yang membantu Rossie di sana dan tidak makin mempersulit keadaannya. (*)


Foto: Andre Vltchek
Sumber Foto: NEWAGE


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Internasional

Menentang Arus Umum

Published

on

By

01 September 2020


Oleh: Linda Christanty


1 September at 20:09
Teman-teman tercinta,
Selamat pagi. Hari ini cerah. Mari membuka pikiran kita.


SEBELUM membaca penjelasan saya lebih jauh pagi ini—bagi yang ingin dan sempat, tidak ada salahnya kita mengingat tauladan Am siki, tokoh bijak dalam novel “Orang-Orang Oetimu” Felix K. Nesi, yang leluhurnya dipercaya lahir dari pohon lontar.

Am siki bersabda, “Jangan dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Jangan diperkosa, sekalipun itu kuda”.

Beberapa hari lalu kita telah membaca berita tentang George Karel Rumbino alias Riko yang meninggal disiksa sesama tahanan di Mapolres Sorong, Papua Barat. Ia adik ipar Edo Kondolangit, penyanyi kesayangan kita, dan politikus dari partai berlambang banteng gemuk.

Menurut sebuah berita, keluarganya menyerahkan Riko ke kantor polisi, karena ia membunuh tetangganya. Dalam hal ini saya salut kepada keluarga Riko yang tidak mendukung tindakan salah yang dilakukan anggota keluarga mereka sendiri.

Dalam berita lain, dijelaskan bahwa ia merampok di satu rumah, memperkosa penghuninya, perempuan berusia 70an, dan akhirnya membunuh nenek itu. Dalam sel, tahanan lain menyiksanya. Ia meninggal dunia, karena lemas.

Kalau benar seperti itu kronologi kasusnya, maka ada dua orang yang harus kita bela:
1. Nenek korban perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan.
2. Perampok dan pembunuh yang dibunuh.

Namun, isu yang beredar kemudian dikaitkan dengan tindak kekerasan aparat negara terhadap rakyat Papua.

Stereotipe memang mudah tercipta di tengah arus pembelaan kita saat ini terhadap rakyat Papua yang mengalami intimidasi, penyiksaan dan pembunuhan oleh aparat negara.

Stereotipe tentu saja tidak baik. Ia melegitimasi sebuah kesimpulan umum. Ia juga membuat kita melihat segala sesuatu secara  hitam-putih: orang Papua adalah korban aparat negara dan dengan demikian, tidak ada orang Papua yang menjadi pelaku kejahatan.

Meskipun kita semua berjuang melawan kejahatan kemanusiaan yang mengatasnamakan apa pun, kebenaran dan keadilan menjadi landasan dari perjuangan itu. Contoh lain, yang viral belakangan ini, kasus George Floyd di Amerika Serikat.

Kita juga dapat menemukan bahaya stereotipe pada kasus ini. Orang kulit hitam adalah korban (diskriminasi). Dengan demikian, orang kulit hitam tidak bersalah (dalam hal apa pun).

George Floyd yang kasusnya diberitakan banyak media belum lama ini dan diprofilkan sebagai pahlawan anti diskriminasi rasial, juga memiliki fakta lain yang tidak banyak diungkap atau katakanlah, ditutupi untuk menjadikan kasusnya sebuah momentum politik di Amerika Serikat:

George terlibat obat-obatan terlarang dan melanggar hukum. Ia tidak pantas menjadi pahlawan jika demikian. Ia lebih pantas disebut korban jika tindak kekerasan dan pelanggaran hukum oleh aparat negara menjadi penyebab kematiannya. Pelakunya harus dihukum berat, karena perbuatannya membuat korban kehilangan nyawa. Penyebab kematian George juga harus diperiksa, apakah murni oleh penganiayaan atau overdosis.

Kadangkala sebagian dari kita tidak mau membicarakan kasus-kasus ini secara kritis, karena melawan arus umum dan arus umum itu dipercaya tengah menyuarakan hak-hak asasi manusia. Ditambah lagi banyak sekali kasus kekerasan dan pembunuhan yang melibatkan aparat kepolisian selama ini.

Menentang arus umum, sama artinya dengan tidak memihak korban dan dianggap mendukung pelaku.

Hak-hak kemanusiaan Riko ataupun George tentu harus dibela, sedangkan kebenaran dan keadilan harus ditegakkan.

Dalam jurnalisme, kebenaran tidak pernah bersifat mutlak. Kebenaran hari ini dapat dibantah kebenaran yang ditemukan di kemudian hari melalui fakta baru.

Saya akan menggunakan kasus Jessica Wongso sebagai contoh. Ia dijebloskan ke penjara untuk menjalani hukuman selama dua puluh tahun dengan tuduhan membunuh Wayan Mirna. Banyak orang dan media meyakininya, tetapi sejumlah orang menganggap Jessica korban pengadilan sesat yang direkayasa demi kepentingan uang.

Saya termasuk orang yang ragu ia bersalah. Jika fakta lain ditemukan dan membuktikan Jessica tidak bersalah, misalnya, maka kebenaran yang sebelumnya diyakini telah gugur. Jessica pun harus dibebaskan dari hukuman.

Pembebasan itu tentunya tidak akan bisa membersihkan nama dan memulihkan kehidupan Jessica seperti sediakala.

Karena itu, aparat penegak hukum harus menjalankan aturan hukum dengan benar.

Hukuman terhadap seseorang harus berdasarkan bukti-bukti yang sah dan kuat secara hukum. Tapi hal yang sebaliknya sering terjadi di negara ini.

Bagaimana kalau Jessica tidak bersalah dan tetap menjalani hukuman sampai akhir, atau direkayasa kasus bunuh dirinya dengan melibatkan pembunuh bayaran yang disusupkan sebagai tahanan di penjara atau ia dibuat sakit parah hingga ajal menjemput, misalnya? Kita tidak perlu heran jika hal itu terjadi. Apa saja dapat dilakukan di sebuah negara yang aparat penegak hukumnya tidak pernah bebas dari suap.

Wartawan dididik untuk memeriksa fakta dan detail memberinya informasi penting.

Saya teringat pengalaman ketika menulis “Hikayat Kebo”. Saya harus menunggu sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil uji forensik tentang penyebab kematian Kebo, seorang pemulung yang tinggal di belakang Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat; apakah ia meninggal dianiaya, lalu dibakar, atau ia dibakar hidup-hidup.

Semasa hidup Kebo gemar menyiksa istrinya. Ia memotong jarinya sendiri. Ia membakar gubuknya dalam keadaan mabuk dan membuat gubuk-gubuk tetangganya ikut terbakar. Kebo adalah pelaku dan juga korban kejahatan.

Pada hari yang ditetapkan, petugas bagian forensik menjelaskan kepada saya bahwa hasil forensik menunjukkan adanya jelaga dalam tenggorokan Kebo. Ia dibakar hidup-hidup.

Menganiaya orang itu kejam. Menganiaya orang, lalu membakarnya sampai mati itu lebih kejam lagi.

Saya menulis tentang Kebo untuk mengetahui praktik penegakan hukum di masa pasca Orde Baru atau di masa Reformasi, dan eksesnya terhadap kehidupan kebanyakan rakyat, seperti kita ini; ketimpangan sosial dan ekonomi masih berlanjut hingga sekarang. (*)


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com