Connect with us
no

Internasional

Point of No Return Andre Vltchek

Published

on

Oleh: Linda Christanty


23 September 2020


DALAM saku celananya, Andre Vltchek selalu membawa batu pemberian ibunya. Batu itu berwarna hijau pirus. Ia tidak merelakannya untuk saya, sehingga Rossie Indira istrinya menengahi perdebatan kami soal batu tersebut dengan menyatakan akan membelikan batu sejenis untuk saya di sebuah toko batu di Jerman waktu ia mengunjungi ibu mertuanya.

Rossie menepati janji. Batu itu masih saya simpan. Karena tidak tahu namanya, saya menyebutnya Batu Andre. Menurut Rossie, saya dan Andre memiliki satu kesamaan sifat, di waktu tertentu kami bisa seperti kanak-kanak: lucu, menggemaskan, menyenangkan, menjengkelkan.

Andre juga mempunyai kamera yang dinamainya Kappa. Di Kuala Lumpur, Malaysia, beberapa tahun lalu, sesudah menghadiri satu acara bersama di George Town Literary Festival di Penang, Rossie dan Andre meminta saya menginap di kamar hotel mereka yang cukup luas agar kami dapat berjalan-jalan sebelum saya terbang ke Jakarta keesokan harinya, dan mereka terbang ke Bangkok. Sebelum kami meninggalkan hotel menuju taman, Andre berkata kepada Rossie, “Jadi Kappa tidak ikut?” Tidak usah. Okay.

Saya bertemu Rossie dan Andre pertama kali di Jakarta, karena diminta seorang teman menjadi editor edisi Bahasa Indonesia buku wawancara mereka dengan Pramoedya Ananta Toer. Teman ini lalu menghilang. Buku itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan judul  “Saya Terbakar Amarah Sendirian” pada 2006.

Editornya jadi dua orang, saya dan editor KPG. Beberapa tahun kemudian saya kembali bertemu pasangan ini. Mereka berencana pergi ke Aceh untuk penulisan buku Andre yang diberi judul, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Saya mengusulkan sejumlah nama untuk diwawancarai. Kami pun bertemu lagi di Aceh.

Andre telah menerbitkan sejumlah buku non-fiksi dan fiksi, juga membuat beberapa film dokumenter.

Ia meliput konflik bersenjata di banyak negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah, antara lain di Kashmir, India, Kongo, Peru, dan Turki. Ia menulis untuk Asahi Shimbun, The Guardian, dan Der Spiegel.

Tulisan-tulisannya juga dimuat CounterPunch.

Film dokumenternya tentang pembantaian 1965, “Terlena-Breaking of the Nation”, diluncurkan pada 2004, sedangkan “Rwanda Gambit”, tentang pembantaian di Rwanda, dilansir pada 2015.

Ia seringkali dekat dengan bahaya. Ia pernah bercerita sampai di muka kamp pelatihan milisi anti Presiden Bashar al-Assad di perbatasan Turki-Suriah. Temannya, sesama wartawan, yang nekad, berada amat dekat dengan kamp itu, yang didanai lembaga intelijen negara adikuasa, dan memotretnya. Milisi dalam kamp dilatih khusus untuk dimobilisasi. Ia juga bertemu anak-anak Turki yang tinggal di perbatasan Turki-Suriah. Mereka bercerita bahwa tidak ada bom jatuh di situ sebelum negara asing menyerang Presiden Assad.

Andre meliput aksi jalanan di Turki yang menentang serangan terhadap Suriah. Pemerintah Turki berbeda sikap dengan para pemrotes. Ia juga mewawancarai putra jenderal yang ayahnya dijebloskan dalam sel oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Di masa Erdogan paling sedikit seratus jenderal ditahan dengan tuduhan kudeta. Assad juga menganggap Erdogan tidak bisa dipercaya. Dalam wawancaranya di salah satu media berbahasa Inggris, Assad mengungkap kekecewaannya. Ia juga menjelaskan dalam wawancara itu bahwa foto pembantaian orang Sunni yang beredar dan dipercaya sebagai ulah rezim Assad merupakan kebohongan. Nama fotografernya samaran, Caesar. Setelah diselidiki tidak ada peristiwa yang dimaksud foto tersebut di Suriah. Tetapi foto itu beredar luas, termasuk di media-media sosial, dan turut menjadi pembenaran untuk menyerang Suriah.

Rossie menyertai banyak perjalanan Andre untuk liputan-liputannya. Sebagian perjalanan dan liputan itu berisiko. Saya pernah menyarankan Rossie agar menulis bukunya sendiri, karena pengalaman-pengalamannya yang kaya. Ia memang sudah menyiapkan naskahnya. Pada 2010, ia pertama kali menerbitkan buku seri perjalanan, “Surat dari Bude Ochie”.

Ketika bom buku mengguncang orang-orang Utan Kayu di Jakarta pada 15 Maret 2011, saya masih berada di Aceh. Sekretaris Jaringan Islam Liberal (JIL) waktu itu, Ade Juniarti, menjawab telepon saya dan menceritakan kronologinya secara rinci.

Seorang polisi setempat yang memeriksa bom tersebut kehilangan tangan kirinya. Tim gegana datang terlambat. Jaringan Islam radikal Jamaah Islamiyah (JI) dituduh bertanggung jawab. Saya teringat Rossie yang membantu Andre mewawancarai sejumlah orang JI di Indonesia untuk bukunya.

Pada hari itu juga saya menghubungi Rossie. Ia tengah mewawancarai narasumber, yang kebetulan salah seorang mentor peracik bom JI, ketika situasi pasca-pengeboman disiarkan televisi. Mereka berada di suatu tempat di Jakarta. Mereka sama-sama melihat ke layar televisi. Narasumbernya tertawa mendengar nama JI disebut sebagai pelaku. “Dia berkata, ‘Itu bukan bom kami. Bom kami tidak seperti itu,” kisah Rossie kepada saya, mengingat pernyataan narasumbernya.

Suatu hari, saat Andre di Jakarta, Rossie mengajak saya untuk bertemu mereka. Setelah makan siang, kami pergi ke toko buku di salah satu mall Jakarta.

Andre marah melihat buku ‘Mein Kampt’ Adolf Hitler dipajang berderet-deret dalam rak, sehingga pegawai-pegawai toko menjadi cemas. Manager toko tergopoh-gopoh menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi, lalu menelepon seseorang dan akhirnya membawa kami ke sebuah ruangan di bagian dalam restoran di lantai tersebut.

Seorang lelaki tua duduk di hadapan kami. Usianya saya perkirakan lebih dari 70 tahun. Ia pemilik toko buku. Andre mengungkapkan kecemasannya melihat buku Hitler dipajang berderet-deret, yang bisa saja menginspirasi pembeli, terutama anak-anak muda, untuk membenarkan kebencian terhadap ras atau bangsa atau suku tertentu. Lelaki tua itu menyimak. Ia seolah memahami kecemasan Andre. Seminggu kemudian saya datang sendirian ke toko buku yang sama dan menemukan buku itu masih dipajang berderet-deret dalam rak.

Saya tidak selalu sependapat dengan Andre. Sejumlah tulisannya bahkan bertolak belakang dengan cara pandang dan pengetahuan saya. Tetapi di dunia ini saya bertemu sejumlah orang yang juga tidak sependapat dengan saya. Sebagian tetap berteman, sebagian lagi menjaga jarak.

Secara terus-terang, Andre menyebut dirinya ateis. Ia percaya kepada sosialisme, mengagumi Kuba dan China. Masa kecilnya jauh dari kesusahan.

Andre anak tunggal. Ayahnya seorang Ceko yang memimpin proyek nuklir pemerintah, posisi yang penting dan dihormati. Ibunya seniman keturunan Rusia-China. Sejak kecil Andre sudah terbiasa bepergian sendiri naik pesawat, dititipkan kepada pramugari dan sampai di tujuan untuk dijemput orangtuanya. Ia kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat.

Rossie tidak hanya istri, tetapi juga kawan Andre paling setia. Ia mendirikan Badak Merah Semesta enam tahun lalu, sebuah penerbitan yang bertujuan menerbitkan buku-buku Andre dalam Bahasa Indonesia dan buku-buku lain yang dianggap penting.

Mengenang Andre hari ini adalah juga mengenang Rossie, yang tanpa dirinya sebagian liputan Andre mungkin tidak berjalan lancar.

Ketika mengetahui kabar kematian Andre di Istanbul, Turki, kemarin, Rossie muncul pertama kali dalam pikiran saya.

Ketika mobil yang membawa mereka menempuh perjalanan panjang dari Samsun ke Istanbul tiba di muka hotel tempat mereka menginap, Andre yang tidur lelap gagal dibangunkan Rossie. Salah satu novel Andre berjudul ‘Point of No Return’ yang kali ini benar-benar terjadi. Tim medis yang datang menyatakan ia sudah meninggal dunia.

Selamat jalan, Andre. Semoga ada orang-orang yang membantu Rossie di sana dan tidak makin mempersulit keadaannya. (*)


Foto: Andre Vltchek
Sumber Foto: NEWAGE


Editor: D.L.A.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Estorie

Ekspedisi Militer Eropa

Published

on

By


13 Agustus 2021


Image: A 19th century CE painting by Émil Signol titled “Taking of Jerusalem by the Crusaders, 15th July 1099”. Jerusalem was recaptured from the Muslims during the First Crusade, 1095-1202 CE. (Palace of Versailles, France)
Source: world history


Oleh: Daniel Kaligis


Di sana, gelak tawa kemenangan, sekaligus tangisan dan pekik kematian menggema di ruang-ruang bumi. Seindah apapun susastra ditera pada kertas sejarah, darah sudah tumpah, huruf-huruf ruah, musnah itu tak pernah dapat ditarik kembali lagi ke semesta, selain kenang… 

PEDANG tombak kampak panah pisau pelor pedang bermata maut dan cinta, siapa saja dapat dirasuki dogma mengatasnamakan tuhan-tuhan ketuhanan yang berseru pergilah ke segenap penjuru bumi kobarkan penguasaan koloni-koloni.

Padahal, kemanusiaan adalah intisari dari segala kisah cerita merindu damai sejahtera sebagai injil kekal dan suci di semestanya.

Kenangan untuk hari ini di masa silam, salah satunya adalah tentang pertikaian dan baku rampas situs yang dianggap suci. Perang Salib, pertikaian bertajuk ekspedisi militer Eropa untuk rebut kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan Arab.

Inilah tempur, dalam keyakinan para serdadu, bahwa, pada yudha itu mereka melakukan penitence, yakni pertobatan atas dosa-dosa.

Perang Salib Pertama berujung, 13 Agustus 1099, kalah pasukan Fatimiyah yang dipimpin Al-Malik Al-Afdal bin Badrul Jamali, penempur yang dikenal sebagai Al-Afdhal Syahansyah.

Perang, jangan terulang. (*)

Continue Reading

Internasional

Cara Hidup Baduy vs C-19

Published

on

By


02 Juli 2021



Oleh: Dave Tielung
Editor: Daniel Kaligis


Cara hidup masyarakat Baduy adalah antitesa terhadap doktrin fundamental dari liberalisme: sakralitas terletak pada individu. Bagi orang Baduy, sakralitas ada pada landskap dan komunitas, bukan pada individu.


MASYARAKAT adat Baduy hingga saat ini belum ada yang terpapar Covid 19. Walaupun berada di wilayah kabupaten yang termasuk zona merah, menurut laporan dinas kesehatan setempat hingga saat ini sejak kasus Covid merebak di Indonesia, belum ada satupun masyarakat Baduy yang terpapar. Hal ini dibuktikan dengan hasil laporan rapid test bahkan PCR yang dilakukan secara masal di tempat itu.

Banyak yang bertanya, apa rahasianya? Mungkin rahasianya adalah dari cara hidup kolaboratif dengan alam sekitar.

Mereka bisa dan terbiasa hidup terisolasi dari dunia luar yang modern. Jauh dari dunia modern, mereka mampu untuk hidup secara berkelanjutan (sustainable living).

Kehidupan mereka adalah bentuk resistensi terhadap cara hidup masyarakat kapitalis modern yang sangat bergantung pada rantai pasokan komoditas yang menunjang pertumbuhan ekonomi. Hilang salah satu rantai, maka, kehidupan bermasyarakat bisa berantakan. Satu mall tutup saja sudah banyak yang resah.

Sementara itu masyarakat Baduy dalam membuktikan bahwa mereka bisa hidup bahagia di luar sihir kapitalisme dan modernisme.

Mungkin sulit anak generasi saat ini untuk bisa membayangkan ada masyarakat yang boleh hidup bertahun-tahun tanpa smartphone.

Kita mungkin mengaggap mereka hidup terkebelakang dan masih mempercayai banyak tahyul konyol dan sesat. Tidak jarang misi untuk mengabarkan injil beberapa kali dilakukan di tempat itu. Ada besar harapan bagi mereka untuk bisa menerima Yesus sebagai juru selamat dan meinggalkan cara hidup dan keyakinan yang lama. Dengan demikian kehidupan mereka akan lebih diberkati setelah itu.

Pada kenyataanya, di saat pandemi, sementara kita harus melupakan gedung-gedung gereja yang mewah untuk berkumpul beribadah, mereka bisa dengan bebas leluasa menjalankan keyakinannya.

Dari sini kita bisa lihat siapa yang kehidupannya diberkati di masa pandemi ini. Jangan-jangan doa yang mereka panjatkan lebih didengar, ketimbang doa-doa kita.

Memang ada perbedaan besar soal konsep berkat di sini. Berkat dalam pandangan gereja saat ini cenderung mengarah pada kuantifikasi pertambahan kapital. Karena itu syarat untuk mendapatkan berkat yang lebih adalah dengan ‘memberi pajak berkat’ kepada gereja sesuai dengan perintah Firman Tuhan — kalau para boss, boleh nunggak dulu, atau boleh dicicil ‘katanya’.

Di sisi lain, orang Baduy menganggap keberkahan adalah kualitas hidup. Agar tetap seperti itu alam lingkungan sebagai penunjang hidup harus tetap lestari.

Tidak hanya sebagai resistensi terhadap gaya hidup kapitalis moderen, cara hidup masyarakat Baduy adalah antitesa terhadap doktrin fundamental dari liberalisme: sakralitas terletak pada individu. Bagi orang Baduy, sakralitas ada pada landskap dan komunitas, bukan pada individu.

Tidak heran mereka sangat respek dan hormat terhadap gunung, sungai dan pohon-pohon. Tempat-tempat itu tidak bisa diperlakukan secara sembarang. Kehidupan mereka sepenuhnya ditunjang oleh kelestarian alam di sekitar mereka.

Tiba pada bagian refleksi. Saya selama ini beranggapan bahwa untuk mengatasi ancaman eksistensi (existential threat), manusia mau tidak mau harus memelihara dan menjaga alam ini. Tentu ini adalah hal yang normatif.

Namun belakangan saya menyadari ada hal yang keliru dari dasar berpikir seperti ini, karena manusia tidak bisa memelihara alam. Yang benar adalah alam-lah yang memelihara manusia.

Landasan berpikir bahwa manusia harus memelihara alam berangkat dari konsep pemeliharaan (stewardship). Sebagaimana dikatakan Locke, manusia diberi tanggung jawab oleh Tuhan sang pencipta untuk menjaga dan merawat alam ini, dengan demikian dari situ manusia dapat mengusahakan hasil darinya.

Tentu ini adalah hal yang mulia, namun secara dasar berpikir ada hal yang problematis.

Dengan cara berpikir seperti ini, mengakibatkan alam dan manusia berdiri pada hirarki yang tidak setara manusia berada di atas dan alam berada di bawahnya. Akibatnya selama manusia menghasilkan sesuatu yang baik dari alam ini untuk kebutuhan manusia, maka itu adalah bentuk dari pemeliharaan (stewardship).

Sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan, maka sebagian dari hasil itu dipersembahkan untuk Tuhan. Pada tahap ini relasi antara manusia dan alam menjadi urusan antara manusia dan Tuhan saja. Alam tidak lagi menjadi bagian dari negosiasi itu. 

Landasan berpikir seperti inilah yang menjadi titik tolak pendekatan ekoteologi saat ini. Tidak heran antroposentrisme masih tetap menjadi perdebatan hangat dalam ekoteologi.

Dalam pandangan masyarakat adat, alam-lah yang memelihara mereka, bukan sebaliknya.

Hubungan manusia dan alam adalah hubungan yang simetris. Inilah alasannya kenapa mereka sangat berhat-hati dalam pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di sekitar mereka. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap landskap yang dianggap sakral. Mereka tidak bisa sembarang untuk menebang pohon, membuka ladang baru tanpa melakukan ritual terlebih dahulu.

Melanggar aturan adat tersebut dapat berakibat fatal terhadap hidup mereka.

Hidup berkolaborasi dengan alam adalah hidup dalam relasi yang tidak hirarkis.

Bookchin mengingatkan selama kita masih mempertahankan konsep hirarki, kepunahan ekologis itu tidak terhindarkan.

Di masa krisis pandemi saat ini, kita perlu dengan kerendahan hati belajar dari masyarakat Baduy. Belajar bagaimana cara hidup mereka. Belajar untuk menyadari bahwa alam-lah yang menjaga dan menghidupkan kita. Dengan demikian, rasa hormat dan takjub terhadap alam akan berdampak pada hidup yang berkelanjutan.

Sebagaimana kata salah satu tetua adat Baduy: “Jika perjalanan manusia akhlaknya sudah tidak sesuai dengan amanah leluhur, atau tidak sesuai dengan penjaga alam, maka, keresahan akan timbul.”

Rahayu. (*)


Sumber Foto: artworld.indeksnews.com
Suku Baduy: The Way of Life Ethnic People in Banten, West Java


Continue Reading

Internasional

Menentang Arus Umum

Published

on

By

01 September 2020


Oleh: Linda Christanty


1 September at 20:09
Teman-teman tercinta,
Selamat pagi. Hari ini cerah. Mari membuka pikiran kita.


SEBELUM membaca penjelasan saya lebih jauh pagi ini—bagi yang ingin dan sempat, tidak ada salahnya kita mengingat tauladan Am siki, tokoh bijak dalam novel “Orang-Orang Oetimu” Felix K. Nesi, yang leluhurnya dipercaya lahir dari pohon lontar.

Am siki bersabda, “Jangan dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Jangan diperkosa, sekalipun itu kuda”.

Beberapa hari lalu kita telah membaca berita tentang George Karel Rumbino alias Riko yang meninggal disiksa sesama tahanan di Mapolres Sorong, Papua Barat. Ia adik ipar Edo Kondolangit, penyanyi kesayangan kita, dan politikus dari partai berlambang banteng gemuk.

Menurut sebuah berita, keluarganya menyerahkan Riko ke kantor polisi, karena ia membunuh tetangganya. Dalam hal ini saya salut kepada keluarga Riko yang tidak mendukung tindakan salah yang dilakukan anggota keluarga mereka sendiri.

Dalam berita lain, dijelaskan bahwa ia merampok di satu rumah, memperkosa penghuninya, perempuan berusia 70an, dan akhirnya membunuh nenek itu. Dalam sel, tahanan lain menyiksanya. Ia meninggal dunia, karena lemas.

Kalau benar seperti itu kronologi kasusnya, maka ada dua orang yang harus kita bela:
1. Nenek korban perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan.
2. Perampok dan pembunuh yang dibunuh.

Namun, isu yang beredar kemudian dikaitkan dengan tindak kekerasan aparat negara terhadap rakyat Papua.

Stereotipe memang mudah tercipta di tengah arus pembelaan kita saat ini terhadap rakyat Papua yang mengalami intimidasi, penyiksaan dan pembunuhan oleh aparat negara.

Stereotipe tentu saja tidak baik. Ia melegitimasi sebuah kesimpulan umum. Ia juga membuat kita melihat segala sesuatu secara  hitam-putih: orang Papua adalah korban aparat negara dan dengan demikian, tidak ada orang Papua yang menjadi pelaku kejahatan.

Meskipun kita semua berjuang melawan kejahatan kemanusiaan yang mengatasnamakan apa pun, kebenaran dan keadilan menjadi landasan dari perjuangan itu. Contoh lain, yang viral belakangan ini, kasus George Floyd di Amerika Serikat.

Kita juga dapat menemukan bahaya stereotipe pada kasus ini. Orang kulit hitam adalah korban (diskriminasi). Dengan demikian, orang kulit hitam tidak bersalah (dalam hal apa pun).

George Floyd yang kasusnya diberitakan banyak media belum lama ini dan diprofilkan sebagai pahlawan anti diskriminasi rasial, juga memiliki fakta lain yang tidak banyak diungkap atau katakanlah, ditutupi untuk menjadikan kasusnya sebuah momentum politik di Amerika Serikat:

George terlibat obat-obatan terlarang dan melanggar hukum. Ia tidak pantas menjadi pahlawan jika demikian. Ia lebih pantas disebut korban jika tindak kekerasan dan pelanggaran hukum oleh aparat negara menjadi penyebab kematiannya. Pelakunya harus dihukum berat, karena perbuatannya membuat korban kehilangan nyawa. Penyebab kematian George juga harus diperiksa, apakah murni oleh penganiayaan atau overdosis.

Kadangkala sebagian dari kita tidak mau membicarakan kasus-kasus ini secara kritis, karena melawan arus umum dan arus umum itu dipercaya tengah menyuarakan hak-hak asasi manusia. Ditambah lagi banyak sekali kasus kekerasan dan pembunuhan yang melibatkan aparat kepolisian selama ini.

Menentang arus umum, sama artinya dengan tidak memihak korban dan dianggap mendukung pelaku.

Hak-hak kemanusiaan Riko ataupun George tentu harus dibela, sedangkan kebenaran dan keadilan harus ditegakkan.

Dalam jurnalisme, kebenaran tidak pernah bersifat mutlak. Kebenaran hari ini dapat dibantah kebenaran yang ditemukan di kemudian hari melalui fakta baru.

Saya akan menggunakan kasus Jessica Wongso sebagai contoh. Ia dijebloskan ke penjara untuk menjalani hukuman selama dua puluh tahun dengan tuduhan membunuh Wayan Mirna. Banyak orang dan media meyakininya, tetapi sejumlah orang menganggap Jessica korban pengadilan sesat yang direkayasa demi kepentingan uang.

Saya termasuk orang yang ragu ia bersalah. Jika fakta lain ditemukan dan membuktikan Jessica tidak bersalah, misalnya, maka kebenaran yang sebelumnya diyakini telah gugur. Jessica pun harus dibebaskan dari hukuman.

Pembebasan itu tentunya tidak akan bisa membersihkan nama dan memulihkan kehidupan Jessica seperti sediakala.

Karena itu, aparat penegak hukum harus menjalankan aturan hukum dengan benar.

Hukuman terhadap seseorang harus berdasarkan bukti-bukti yang sah dan kuat secara hukum. Tapi hal yang sebaliknya sering terjadi di negara ini.

Bagaimana kalau Jessica tidak bersalah dan tetap menjalani hukuman sampai akhir, atau direkayasa kasus bunuh dirinya dengan melibatkan pembunuh bayaran yang disusupkan sebagai tahanan di penjara atau ia dibuat sakit parah hingga ajal menjemput, misalnya? Kita tidak perlu heran jika hal itu terjadi. Apa saja dapat dilakukan di sebuah negara yang aparat penegak hukumnya tidak pernah bebas dari suap.

Wartawan dididik untuk memeriksa fakta dan detail memberinya informasi penting.

Saya teringat pengalaman ketika menulis “Hikayat Kebo”. Saya harus menunggu sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil uji forensik tentang penyebab kematian Kebo, seorang pemulung yang tinggal di belakang Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat; apakah ia meninggal dianiaya, lalu dibakar, atau ia dibakar hidup-hidup.

Semasa hidup Kebo gemar menyiksa istrinya. Ia memotong jarinya sendiri. Ia membakar gubuknya dalam keadaan mabuk dan membuat gubuk-gubuk tetangganya ikut terbakar. Kebo adalah pelaku dan juga korban kejahatan.

Pada hari yang ditetapkan, petugas bagian forensik menjelaskan kepada saya bahwa hasil forensik menunjukkan adanya jelaga dalam tenggorokan Kebo. Ia dibakar hidup-hidup.

Menganiaya orang itu kejam. Menganiaya orang, lalu membakarnya sampai mati itu lebih kejam lagi.

Saya menulis tentang Kebo untuk mengetahui praktik penegakan hukum di masa pasca Orde Baru atau di masa Reformasi, dan eksesnya terhadap kehidupan kebanyakan rakyat, seperti kita ini; ketimpangan sosial dan ekonomi masih berlanjut hingga sekarang. (*)


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com