Connect with us
no

Nasional

Potret Buram Hukum

Published

on

05 Agustus 2020



Oleh:
Sulistyowati Irianto
Guru Besar Antropologi Hukum
Fakultas Hukum Universitas Indonesia


Adakah kaitan antara kemajuan atau kemunduran demokrasi dan rule of law dengan pendidikan hukum?


HUBUNGAN antara praktik hukum dan pendidikan hukum seharusnya menjadi proses dialektika penting dalam rangka mencari penjelasan dan solusi komprehensif tentang perjalanan reformasi hukum bangsa kita hari ini. Bagaimanapun, mereka yang memiliki otoritas dan menjalankan lembaga penegakan hukum dan peradilan adalah para sarjana hukum, produk pendidikan hukum.

Kasus Joko Tjandra adalah puncak gunung es dari banyak kasus lain dan merupakan jendela akademik untuk mempertanyakan apa yang terjadi dengan lembaga penegakan hukum dan peradilan di negeri ini. Seberapa jauh cara kerja birokrasi hukum ditentukan oleh paradigma positivisme hukum dan segala manifestasinya yang mengakar dalam pendidikan hukum?

Adakah cukup ruang bagi para calon sarjana hukum untuk mengenal hubungan antara hukum dan konteks kemasyarakatan dengan dimensi kultural, ekonomi, politiknya; suatu pengetahuan yang amat dibutuhkan saat mereka menjadi penegak hukum? Semua penjelasan ini seharusnya berujung pada pengadilan (kecerdasan) akal budi, bukan politik akademik.

Potret Buram Kemunduran

Reformasi hukum berupa perumusan legislasi atau kebijakan dan revisinya memang dibutuhkan untuk cepat merespons berbagai permasalahan masyarakat. Namun, prosesnya harus mengikuti kaidah rule of law, tak bisa serampangan. Rule of law memastikan perlindungan warga negara terhadap negara atau sesamanya.

Rumusan hukum secara prosedural harus jelas, berkepastian, dan dapat diterapkan. Secara substansial harus bermuatan keadilan, mencakup perlindungan terhadap hak individual dan kelompok, dan memastikan mekanisme kontrol berupa peradilan yang independen.

Meski demikian, realitas yang kita saksikan dalam proses perumusan hukum di antaranya adalah revisi UU KPK yang meruntuhkan semangat pemberantasan korupsi banyak kalangan. Perumusan omnibus law, sungguh pun tujuannya baik untuk memangkas korupsi birokrasi, kurang melibatkan partisipasi publik yang luas. Pada masa pandemik ini, ketika korban kekerasan seksual justru meningkat, DPR mengeluarkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dari Prolegnas.

Dalam ranah penegakan hukum, Joko Tjandra begitu mudah melewati para penjaga gerbang keadilan. Namun, banyak orang lain mudah dipidana hanya karena mengkritik atasannya lewat medsos (kasus Saiful Mahdi); atau mempertahankan ruang hidupnya (banyak kasus agraria seperti Budi Pego), ataupun korban pelecehan seksual yang didakwa balik pencemaran nama baik (Baiq Nuril).

Belum lagi kasus pidana dengan dakwaan pasal karet seperti penodaan agama dan ITE. Terakhir, pembiaran intoleransi terhadap minoritas kepercayaan atau masyarakat adat (Sunda Wiwitan).

Secara antropologis, penggerak lembaga penegakan hukum dan peradilan adalah para aktor penegak hukum. Tampak paham positivisme hukum menjadi habitus bagi mereka. Paham ini memisahkan eksistensi hukum dari substansinya.

Eksistensi hukum yang terkait otoritas penegakan hukum harus tetap berjalan sesuai bunyi teks hukum, yang dianggap kebenaran dan kepastian tunggal. Tidak soal substansi hukum memperhitungkan rasa adil, merugikan pihak tertentu, ketinggalan zaman, atau tidak.

Perubahan tafsir terhadap teks dianggap akan mengguncang secara institusional. Padahal, kaidah rule of law mengatakan bahwa hukum dan penafsirannya harus mengandung keadilan, termasuk keadilan kekinian. Kepastian hukum memang penting, tetapi bagaimana mengakomodasi substansi keadilan masyarakat?

Sesungguhnya, keadilan hukum yang bersifat prosedural dan teknikal tidak identik dengan keadilan substansial. Hukum tidak berada di ruang kosong, tetapi berada dalam keseharian hidup masyarakat dan budayanya.

Keadilan prosedural dan teknikal dalam kenyataannya sangat bisa dimanipulasi. Inilah realitasnya mengapa muncul kasus Joko Tjandra yang lolos dari cengkeraman pidana, tetapi di waktu yang sama muncul korban-korban hukum untuk tindakan yang tidak layak dipidana.

Pendidikan Hukum

Di Amerika Serikat, mahasiswa belajar hukum melalui tahap pra-universitas (college) tiga tahun, memilih mata kuliah yang disukainya dalam konteks liberal arts. Mereka masuk sekolah hukum setingkat S-2 dengan kepala sudah penuh dengan berbagai pengetahuan sosial-humaniora; dan kelak akan lulus sebagai sarjana hukum yang lengkap.

Di Belanda, mereka yang ingin masuk universitas sudah diarahkan sejak SMA ke VWO (Voorbereidend Wetenschappelijk Onderwijs), jumlahnya sekitar 15 persen saja dari angkatan, selebihnya masuk ke sekolah kejuruan, kelak menjadi tenaga profesional. Di Indonesia, siapa pun lulusan SMA bisa masuk fakultas hukum.

Menurut epistemologinya, ilmu hukum memiliki dua ranah. Pertama, ilmu doktrin, dogma, meliputi hukum pidana, perdata, dan acara. Kedua adalah ilmu kenyataan hukum, seperti sosiologi hukum, antropologi hukum, yang pada dasarnya studi hukum interdisiplin. Itu sebabnya, sekolahnya disebut fakultas hukum, bukan fakultas undang-undang.

Di S-1 fakultas hukum kita, mahasiswa harus mengambil banyak kuliah wajib fakultas. Tampaknya pengetahuan dasar hukum dianggap tidak terbatas kuliah pidana, perdata, dan acara. Semakin banyak dosen mendefinisikan kuliahnya sebagai pengetahuan dasar hukum dan menjadikannya kuliah wajib. Mahasiswa masih harus mengambil kuliah wajib peminatan.

Barangkali ada soal dengan semakin banyak mata kuliah, semakin banyak pendapatan! Kesempatan mahasiswa mengambil kuliah pilihan jadi amat terbatas. Dominasi kuliah hukum arus umum, black letter, sangat kuat. Padahal, tak semua lulusan S-1 akan menjadi corporate lawyer, tetapi juga hakim, jaksa, advokat hak asasi manusia, pegawai pemerintah, aktivis, dan lobbyist isu kemanusiaan dan lingkungan. Mereka butuh pengetahuan tentang hubungan hukum dengan konteks kemasyarakatan dengan berbagai isunya.

Apabila kurikulum pendidikan hukum S-1 bersifat black letter, di manakah ruangnya agar ilmu hukum dapat dipelajari secara lengkap? Tampaknya kurikulum S-1 sampai S-3 menampilkan karakter black letter yang sama kuatnya, padahal semakin tinggi strata suatu program studi seharusnya semakin bersifat interdisiplin.

Kelahiran studi interdisiplin didorong oleh kebutuhan merespons masalah masyarakat. Kemampuan merespons ini membutuhkan paradigma baru dalam melihat hukum. Tentu saja studi pascasarjana adalah tulang punggung produksi pengetahuan, daya dukung yang diharapkan bagi reputasi world class research based university.

Pembenahan Kurikulum

Seharusnya kuliah-kuliah kenyataan hukum beserta kebaruan metodologinya dapat disediakan di tingkat S-2 agar mahasiswa mengerti ilmu hukum secara lebih lengkap dan berwawasan luas tentang bekerjanya hukum dalam masyarakat.

Mahasiswa S-3 seharusnya diarahkan agar mampu mengonseptualisasi semua pengetahuan teoretik hukum dan menyintesiskannya dengan data penelitiannya dari masyarakat. Dengan demikian, ia mampu melahirkan gagasan konseptual baru, menjadi pembaru hukum dalam berbagai dimensi, termasuk menjadi desainer pembangunan hukum yang dibutuhkan negeri ini.

Perdebatan teoretik dalam proses dialektika antara praktik hukum dan pendidikan hukum hendaknya berakhir pada kecerdasan akal budi. Apakah yang paling dibutuhkan bangsa ini untuk membenahi distorsi rule of law dan memperbaiki kualitas demokrasi.

Bagaimanakah keadilan hukum dapat didekatkan dengan keadilan substansi. Baik buruknya praktik hukum dapat ditelusuri dari hulunya, yaitu kurikulum dan kualitas penyelenggaraan pendidikan hukum.

Ilmu hukum tak bisa lagi dikungkung dalam romantisme akademik masa lalu dan dikukuhkan dalam rezim administratif-birokratik pendidikan tinggi yang kaku dan sukar berubah. Pendidikan hukum tak bisa lagi dilakukan business as usual, sebagai tempat mencari uang saja, tetapi harus menjadi center of excellence, sumber produksi pengetahuan tentang segala persoalan hukum.

Masyarakat menuntut lahirnya profesi hukum dengan pengetahuan dasar dan keterampilan hukum yang kuat, sekaligus mampu membangun budaya berkeadilan. (*)


Editor: Daniel Kaligis


Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Menko PMK Tinjau Produsen Oksigen

Published

on

By

06 Juli 2021


MENTERI Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy, hari ini, 06 Juli 2021, meninjau dua produsen oksigen besar di Indonesia, yakni PT Aneka Gas Industri di Cibitung, dan PT Air Products Indonesia, untuk memastikan kapasitas produksi oksigen aman di tengah lonjakan kasus COVID-19.

Saat ini, PT Aneka Gas Industri mampu memproduksi oksigen hingga 977,4 ton per hari, yang mana sekitar 95% produksinya dialokasikan untuk Rumah Sakit yang menangani pasien COVID-19.

Sementara PT Air Products Indonesia, dilaporkan mampu memproduksi 310 ton per hari dari pabrik di Cikarang dan Gresik.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengalihkan 90% oksigen industri ke medis, kedua produsen oksigen tersebut berkomitmen penuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen medis di Rumah Sakit yang terus meningkat. (*)


Sumber: Kemenkopmk
Teks dan Gambar: Halaman Kementerian Kesehatan RI


Editor: Parangsula


Continue Reading

Nasional

Mungkinkah Indonesia tanpa Feminis

Published

on

By

Medio 2019


Oleh: Misiyah Misi
Direktur Institut Kapal Perempuan


Feminis di Indonesia memiliki sejarah panjang berkontribusi dalam pembentukan bangsa Indonesia.
Feminisme intinya ialah paham yang mengakui adanya penindasan terhadap perempuan sekaligus upaya untuk membebaskannya.


HARI-HARI ini ber­edar di media sosial tagar #Indonesiatanpafeminis yang membawa pesan atau tepatnya melakukan stigma bahwa feminis adalah ancaman bagi perempuan Indonesia.

Tentu bukan tanpa kesengajaan jika tagar itu muncul menyusul reaksi penolakan dan pemutarbalikan konten Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Dari konten dan cara propagandanya, dapat diindikasikan bahwa perihal itu digaungkan sekelompok kalangan konservatif yang sama. Tanpa bermaksud menanggapi berlebihan, masalah ini tetap membutuhkan respons yang substantif untuk menggugurkan stigma mereka terhadap feminis.

Mereka mesti tahu bahwa feminis di Indonesia memiliki sejarah panjang berkontribusi dalam pembentukan bangsa Indonesia.

Mengapa mereka mengobarkan stigma terhadap feminis, mungkin mereka tidak memahami dengan benar maknanya serta tidak memahami relevansi feminisme dengan kehidupan sehari-hari dirinya sebagai perempuan.

Untuk itu, saya merasa penting menjelaskan pemahaman dasar dari feminisme dan feminis. Feminisme intinya ialah paham yang mengakui adanya penindasan terhadap perempuan sekaligus upaya untuk membebaskannya.

Kata kuncinya ialah ada kesadaran kritis terhadap ketidakadilan yang terjadi pada perempuan dan kesadaran itu dibarengi dengan upaya untuk membebaskannya. Orang yang mempunyai kesadaran dan melakukan aksi itu ialah feminis.

Dalam sejarah, kita mempunyai sederet nama perempuan yang memiliki kesadaran kritis dan melakukan perlawanan. Mereka ialah pahlawan perempuan yang namanya sangat kita kenal atau perempuan-perempuan tidak dikenal dan tidak ditulis.

Pahlawan seperti Kartini, Roehana Koeddoes, Dewi Sartika, dan Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan atas dasar kesadaran kritis terhadap kaumnya.

Kartini dikenal dengan perlawanannya terhadap feodalisme dan segala bentuk norma-norma yang mengekang perempuan. Roehana Koeddoes ialah sang pemula jurnalis perempuan yang menggunakan media untuk mendidik kaum bumiputra.

Para pejuang perempuan itu bergerak memperjuangkan kaumnya mendapatkan pendidikan yang sama, perlakuan yang setara, dan akses mendapatkan kualitas hidup yang baik.

Kita juga mengenal Kongres Perempuan pertama pada 1928 sebagai tonggak sejarah dalam memperjuangkan hak-hak perempuan sekaligus memperkukuh nasionalisme bangsa dalam melawan kolonial.

Jika ingin contoh lebih dekat dan terkini, para penentang feminis dapat melakukan selusur sejarah perempuan dalam silsilah keluarga masing-masing. Pada umumnya, silsilah keluarga perempuan ini mengangkat kisah-kisah perempuan kuat dan memiliki daya, tetapi tidak jarang juga kisah pilu perempuan terkuak.

Kita bisa menemukan masalah perempuan yang selama ini tersembunyi, misalnya, beban kerja, pengekangan, penelantaran, pengabaian, anggapan dan perlakuan perempuan lebih rendah, perkawinan paksa, perkawinan anak, putus sekolah, serta pelecehan seksual.

Feminis mengangkat masalah ini sebagai masalah sosial supaya mendapatkan jalan keluar untuk memecahkannya.

Kalangan yang mengobarkan Indonesia tanpa feminis mungkin lupa kalau ia menikmati hasil jerih payah dari feminis. Saat ini mereka leluasa mengakses informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, peluang kerja, media sosial yang dipakai untuk dirinya, bahkan melawan pejuangnya.

Bahkan, mungkin ada juga yang meminta perlindungan hukum melalui Undang-Undang Nomor: 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, memanfaatkan layanan persalinan, pemeriksaan dini kanker serviks, dan segala jenis pemeriksaan kesehatan reproduksi melalui Jaminan Kesehatan Nasional.

Anak-anak disediakan fasilitas kartu Indonesia pintar (KIP) dan Program Keluarga Harapan (PKH) untuk menempuh pendidikan dua belas tahun, tidak akan dapat meraihnya jika mereka dibelenggu dengan norma-norma konservatif.

Berulang kali kalangan antifeminis itu juga menutup mata terhadap kasus-kasus perkosaan dan pembunuhan anak di bawah umur di Bengkulu, Papua, perkosaan balita di Bogor, perkosaan murid oleh gurunya, perkosaan manula, dan mengingkari perkosaan massal 1998.

Data BPS 2016 menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan, membutuhkan kita untuk tergerak sadar dan bertindak.

Para penolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual mesti berpikir ulang terlebih ketika ustaz Tengku Zulkarnain mengakui kesalahannya secara resmi melalui media bahwa tuduhannya terhadap Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tidak terbukti.

Ia mencabut ceramahnya dan menyatakan tidak menemukan pasal yang ia tuduhkan bahwa dalam Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tidak ditemukan perihal pemerintah melegalkan zina.

Sudah saatnya mengoreksi stigma yang menyudutkan feminis. Menganggap tidak cocok untuk perempuan Indonesia karena feminis tidak islami dan datang dari Barat.

Di negara-negara Islam, kita mengenal feminis seperti Nawal al-Sa’dawi dari Mesir, Fatimah Mernisi dari Maroko, Riffat Hasan dari Pakistan, Amina Wadud Muhsin dari Malaysia. Bahkan, dari Saudi Arabia pun dikenal feminis Fauziah Abul Kholid.

Mereka menggunakan daya kritisnya untuk mengamalkan agama yang dianut agar menjadi lebih adil bagi semua manusia, khususnya perempuan.

Dalam konteks Indonesia, menguatnya norma-norma konservatif makin menghambat kemajuan perempuan, membutuhkan kehadiran pihak memiliki pemikiran dan komitmen dengan perspektif keadilan gender.

Dengan demikian, feminis dibutuhkan keberadaannya untuk mengangkat masalah perempuan, menyuarakan aspirasi dan kepentingannya. Menggerakkan semua pihak untuk melakukan perubahan bersama-sama.

Mengubah dari yang timpang menjadi setara, dari perlakuan diskriminatif menjadi adil, serta dari bahaya kekerasan menjadi rasa aman dan penuh perlindungan di semua ranah keluarga, masyarakat, dan negara. (*)


Editor: Daniel Kaligis


Continue Reading

Daerah

Proyek Panik Pandemi

Published

on

By

Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.

04 Maret 2021


Oleh: Daniel Kaligis


Torang manyanyi: love is all that I can give to you, love is more than just a game for two . . .
Sudah dicatat: Global financial crisis, billions of human beings living below the poverty line, thousands dying needlessly from war, malnutrition or easily curable diseases and thousands more dying. Maar, history pernah dibongkarbangkir semau mindset orde…


ILUSI berlayar dalam badai, pandemi ini perang. Walau, kita coba menelisik pertalian soal hari ini dari benang merah persoalan kusut hari silam. Jawabnya bias dan ngambang.

Suraro, serdadu, tentara. Lelaki penempur itu berkisah pada saya — cerita tentang suatu masa. Siapa dia? Babad apa? Tidak penting, sebab perang masih berlangsung sekarang. Persaingan bisnis. Pergulatan kata. Kuasa cari perhatian. Ulangi, pandemi ini perang.

Dengar tuturnya. “Bekas suraro, bahkan ada yang nda pernah dapa doi pension, kong boleh jadi dorang nda pernah dipensionkan negara yang bergelut dengan sistem dan perpolitikan menelantarkan sejumlah perkara rakyat sampe sekarang. Torang boleh bilang, masa silam adalah neraka pergolakan. Battalion-battalion, kompi-kompi, rancang strategi baku lawang pangmalawang baku hajar. Dinding berkuping, bicara sembarang ditahan, manusia memangsa manusia.” Begitu bacirita dengan oma Keke, puluhan tahun lalu soal perang sudara yang berkobar di tanah Sulawesi dan di sejumlah daerah.

Saya parafrase: La Estoriê 03 March1857 — Prancis dan Britania Raya menyatakan perang terhadap Cina — 1878 —  Bulgaria merdeka dari Ottoman — 1918 —  Jerman, Austria, Rusia menandatangani Traktat Brest-Litovsk hentikan keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia Pertama. Pada ketika sama, Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia beroleh kemerdekaan. Catatan perang yang usang, 2020.

Entah ada pertaliannya: perang seiring pandemi, tahun-tahun jadi pengalaman, ditutur berulang-ulang. Dilupa karena kesusahan dan kesenangan: Medio 1918 ada Flu Spanyol. Siddharth Chandra, PhD, direktur di Michigan State University, dalam penelitiannya terkini terkait Flu Spanyol, menyebut bahwa di daerah Jawa dan Madura, ada lebih kurang 4,37 juta korban jiwa dari penduduk yang berjumlah sekitar 60 juta orang saat itu. Demikian diberitakan detik.com.

Apa maunya pandemi? Menjaga jarak sudah dari dulu. Namun, persaingan bisnis mengendap-endap. Berita, semacam pelintir-pelintir segala syarat berpergian. Setelah terkurung, apakah rakyat terus akan disuapi makan-minumnya oleh negara? Mustahil.

Virus berusia tua, pernah dianggap enteng, dikira renta. Lalu, ketika takut menyerang, menyamar baru, mengancam mati, kejam dalam kelam sosialisasi: asumsi dan persepsi, entah cocoklogi, tapi sudah ada sejumlah korban.

Kembali pada ilusi perang: Waktu berganti di hari sama lima tahun silam, dengan sejumlah kawan mendiskusikan perang. Saya berbagi video mesin perang canggih di media sosial, kawan-kawan menanggapi. “Prihatin pada hasrat menggelora. Cakar, taring, serta raung bagai anjing liar-anjing liar berebut tulang,” ujar kawan dari Wanua, Geovani Nomura Iskar.

Tentang mesin perang – yang dalam asumsi saya – itu adalah senjata canggih, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan America sudah punya something similar. Kalau ini punya Israel, aku gak kaget lagi,” ujar kawan yang bermukim di London itu.

Hari sama di tahun beda, 2012. Saya menera kutipan, Book of Nature: and when all the pretty blossom had fallen from our branches, we found that we were one tree, and not two. Dari depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, di situ, menerawang awal kemarau nan manja. Metafora airmata di baris terujung tawa gemasmu. Tandus makin berbekas di carang-carang meliar, bianglala pudar di pangku kabut. Ilusi kita berlayar dalam badai.

Perang Asumsi Persepsi

Perang membikin carang-carang patah. Rakyat, seperti carang. Bagaimana? Patah arang. Berapa tahun silam kawan-kawan masih boleh melancong ke mana-mana, boleh menikmat jajan alamiah dari rak-rak pedagang kecil, belanja dari lapak di sudut-sudut persimpangan. Mudah beroleh penawar generic di tengah bombardemen iklan apa saja.

Hari itu di 2012, depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, saya ngobrol virtual menjawab Nita Tjindarbumi dari Jakarta. Katanya, “Belum dua puluh empat kunikmati kesendirian ini, setelah usai kisah kita, kini aku menghadapi sebuah tawaran manis yang sulit untuk kutampik. Ah, cinta ternyata tumbuh di mana-mana meski kadang di tempat yang salah. Oh, tentu saja kita akan bisa menemukan pembenaran atas kekeliruan yang masih bisa kita carikan jalan keluarnya. Selamat datang cinta. Ini kisah cinta baruku, bagaimana kisah cintamu Aj Boesra, Sandra Palupi, Novline Lidia, Daniel Kaligis, Evert Maxmillan Pangajouw, Ria Tjindarbumi, Sari Wiryono, Anastasya Bee, Dima Here Wila, Gyanthie Widjajanto, dan semua teman pesbukku lainnya? Happy week end.” Seperti itu Nita mengajak kawan-kawan berdiskusi.

Sandra Palupi bilang, “Cintaku aman-aman, dan berusaha kunikmati. Seperti berada di gelayut roller coaster kata Bon Jovi, menikmati apapun.”

Menjawab Nita, Aj Boesra sebut, “Cintaku di ujung Papua.”

Kata bersambut kata. Aj Boesra menuding capital letter yang dilontar Karjo Aduhai: “cinta itu buta”, berhuruf besar pangkal ke ujung kalimat itu, menanggap cerita Nita. Padahal, Karjo sebutkan yang mana dia mengutip ujaran, dalam mana – ujaran itu adalah fakta dalam hidup manusia.

Duhai, senandung sajak-sajak disambung pertikaian kata. Aj Boesra kian meradang.

“Karjo ya? Mataku masih awas. Ga perlu nulis gede-gede kayak baru punya laptop. Anak muda mau pamer,” ketus Aj Boesra. Ditimpali Nita, “Karjo, ngapain pake kapital, gak sopan banget tuh!”

Huruf besar jadi tertuduh. Asumsi mengalir. Perang, mungkin saja membesar.

Saya bilang dalam renung sunyi ketika itu, “Cinta berkelahi. Cinta berasumsi. Cinta persepsi. Perang bersetubuh dengan kata dan tafsir. Sambal meneguk Dima Here Wila yang menjawab Nita Tjindarbumi:

“Ah, bagaimana mungkin kau bilang mencintai aku. Kau terlalu asyik dengan dirimu sendiri. Kau begitu sibuk dengan pekerjaan dan teman-temanmu.”

Kental, mengalun cerita cinta Dima Here Wila:


Jika benar, kau mencintai aku, seperti yang kau bilang
Mungkin aku tak akan selalu sendirian menjalani hari-hariku.
Aku merasa kau semakin jauh.

Aku tak mengenalmu lagi, kau asing bagiku.
Seolah-olah kau sengaja berlari menjauh meninggalkan aku.

Mungkinkah kau mencintai aku, sedang kau tak pernah menghabiskan waktu bersamaku?

Hari-hariku sepi tanpa gelak tawamu.
Hari-hariku lewat tanpa godamu.
Hari-hariku berlalu tanpa dirimu.
Tanpa cintamu.

Dan aku masih sendiri tanpa kepastian.
Tapi sungguh, aku menikmati kesendirianku.

Jadi, jangan datang dengan kata-kata cinta semu-mu.
Karena bagiku, cinta adalah kebersamaan kita.
Tertawa bersama.
Bercanda dan gurau bersama.
Melewati hari bersama.

Dan aku akan tetap menikmati hari-hariku,
walau sendiri tanpa cintamu.
Tanpa dirimu.


Saya malah panik membaca sajak-sajak. Dalam jiwa terantuk perseteruan tafsir. Asumsi menjalar, meliar. Lalu, malam seakan persepsi gulita di rimba belantara, gelap Wanua yang jauh di pelosok. Di kota-kota dunia, cahaya menembus tulang siang malam benderang. Hati kelam.

Masih meresap sajak Dima: “Cinta itu ajaib, ini kisahku, mbak Nita. Berharap anda menikmati akhir pekanmu bersama keluarga,” kata perempuan yang menetap di Kupang, Nusa Tenggara Timur itu.

Uang dan Mesin Perang

Hari berganti, tiga, empat, lima, putaran masa. Tahun berlalu. Asumsi dan fakta, jutaan orang mati karena perang. Boleh tahu berapa yang mati karena asumsi? Sebuah kutipan di halaman World without Wars and Violence, “Stockholm International Peace Research Institute — at 15 April 2013, announced that the year 2012 saw an estimated US$ 1.750.000.000.000 spent on weapons and the military machine.”

Hey Dima Here Wila, I’m sorry, saya tidak mengabari. Berapa kali saya datangi Kupang, Soe, Kefamenanu, Timur Tengah Selatan, Oelfaub, Wini. Melayari Sunda Kecil. Memotret laut, nelayan, dan takjub pada alir samuderamu. Jangan-jangan proyek-proyek juga menjadi perang di situ.

Waktu. Semua berubah, namun kenang — sistem yang kita jalani saat ini rusak. Seperti itu persepsi saya. Mungkin sistem tak dapat diperbaiki, sebab dalam praksis sistem, manusia tak menghargai kehidupan manusia. Sistem hanya menghargai materi dan orang-orang yang punya uang.

Terkenang nama, ‘Soe – Kefamenanu – Oelfaub’ itu nama proyek jalan di Nusa Tenggara Timur. Saya pernah melintasinya. Jalan dikerjakan pada tahun anggaran 2019 – 2020. Pemberitaan di daerah pernah meliputnya. Boleh baca berita yang ditulis Petrus Usboko di timexkupang.com, 21 Agustus 2020.

Orang-orang sibuk sosialisasi. Pandemi, sebagian ada di titik realokasi. Panik sebab pemberitaan. Mesin perang mungkin saja dalam bentuk yang lebih lembut semacam protokol yang menarik sejumlah rupiah dengan keuntungan berlipat-lipat, dan ada di raut kita yang hilang identitas.

Berapa waktu lalu, saya video mesin perang, dan berujar di status media sosial, bahwa, ke depan, uang dan sumberdaya akan terus berhambur untuk mencipta dan membeli mesin perang. Menanggap video itu, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan Amerika sudah punya something similar. Kalo ini punya Israel aku gak kaget lagi,” kata kawan yang bermukim di London, England itu.

Geovani Nomura Iskar, kawan saya dari Wanua menanggap, “Prihatin dengan hasrat yang menggelora. Cakar-cakar, taring, serta raung bagai anjing-anjing liar berebut tulang.”

Ini soal yang bikin Altje Wantania bertanya, “Apakah perang memang harus selalu diselesaikan dengan perang?”

Semestinya, perang jangan dijawab perang. Walau adab purba masih dipelihara: perang dibayar perang dan kelihatannya seperti tak pernah akan lunas.

“Ketika perang dibayar perang, kematian dibalas kematian, punahlah kehidupan,” tegas Altje Wantania.

History dendam berujung sia-sia: perang hari ini melawan ego dan keserakahan diri.

Saya mengulang lamunan sambal menembang The Night Watch: halaman senja, malam mengendus tiap aromamu lebih kelam dari yang pernah dikenang dalam ingatan, angin mengusik rambutnya terurai. digesek biola, melody merasuki lorong-lorong, ia bernyanyi: anak-anak dibesarkan dalam prasangka, seperti perempuan-perempuan miskin yang tak punya pilihan; duhai jejak-jejak rindu, senyummu gelisah, kawan di masa silam, mata serupa luna malam ini, bertengger di pucuk gelap, dan kabut memutih basah oleh cahaya.

Tahun silam membaca tulisan Linda Christanty, bertarik 05 April 2020, Tiada ‘Kebetulan’ di Dunia. Saya mengutip tiga baitnya untuk anda:

“Perang di dunia obat-obatan ataupun farmasi sebenarnya sama kejamnya dengan perang yang menggunakan senjata pemusnah massal. Perang ini cukup sunyi dan tersembunyi, tetapi uniknya media tanpa sengaja terkadang membantu kita untuk mengetahui bocorannya.”

“Obat-obatan untuk penyakit-penyakit tertentu telah ditemukan misalnya, tetapi para penemunya dibunuh dan penemuan-penemuan itu kemudian tidak berbuah menjadi produk penting untuk menyelamatkan nyawa banyak manusia.”

“Ada pil yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, harganya murah dan efek sampingnya tertanggungkan, tetapi  tiba-tiba ada orang yang mendukung pemberian vaksin yang efek sampingnya masih misterius.”

Aktivis perempuan itu menyebut, bahwa pandemi yang terjadi sekarang ini sayup-sayup menyuarakan ‘sudah saatnya uang tunai tak lagi digunakan’, karena pertukaran uang kertas dan koin menjadi sarana pemindahan virus. Orang-orang yang tidak punya cukup uang di bank akan mati lebih cepat, oleh virus dan perkembangan teknologi.

Laste

Persitiwa hari ini dapat ditarik pertaliannya dari kejadian-kejadian kecil, yang mungkin saja luput dari perhatian khalayak.

‘Proyek Panik Pandemi’ hanya judul, mestinya ditera dengan tanda tanya. Tafsir. Huruf-huruf kapital mengundang asumsi, pada sub judul ‘Perang Asumsi Persepsi’ saya coba mengulas sedikit tentang tafsi. Orang-orang menyusun, mengenali, dan menafsir informasi sensoris guna memberi gambaran pemahaman tentang prilaku dan tentang segala bentuk informasi yang mereka peroleh di lingkungan sekitarnya. Termasuk tentang tontonan dan media.

Menakala mengedit tulisan Linda, saya memilih kalimat ini: “Seorang bekas mata-mata menulis pesan di media sosialnya: ‘Kapan burung bernyanyi? Di musim semi.’ Pesan ini tidak bermakna apa-apa bagi orang-orang yang selalu memperlakukan berita atau tulisan di media sebagai surat dari orangtua mereka. Tetapi bagi mata-mata lain atau koleganya, pesan ini sebuah sandi.”

Apalah perang, garang menyerang. Bumi, alam semesta, satu-satunya lokasi di mana orang-orang menetap. Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik, damai.

Krisis global, ketakutan miliaran manusia hidup di bawah garis miskin. Mindset di-drive, sejumlah isu. Namun, enyahkanlah panik. Kita butuh jawaban dari sejumlah soal. Kita butuh informasi yang mendidik dan membuka cara pandang.

Ulangi: Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik damai. Berdamai dengan asumsi. Berdamai dengan persepsi. Berdamai dan bercintakasih dengan sesama.

Mari berdamai. (*)


Gambar: Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.
Sumber gambar: iedunote


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com