Connect with us
no

Daerah

PSBB dan Semangkuk Mie

Published

on

Oleh: Daniel Kaligis


Membaca cerita di halamanmu, menonton berita, derita, sukacita, gegap gempita. Seberapa banyak orang menertawai kebimbangan, haus lapar, dan Tuhan yang suka humor: umat manusia liburan di rumah sendiri


NONTON – Love Hurts – Nazareth Live-Auftritt im ORF, 1975 – seraya mencatat artikel ini. Kaum jelata membayangkan kebahagian, gembira bersama, menghibur diri sendiri atas banyak ketakutan yang merasuk sepanjang perjalanan hidup.

Duhai haus lapar. Jangan-jangan bencana melebar, memanjang waktunya dan kita semua tidak dapat bekerja mencari sesuap rejeki untuk membeli kebutuhan hidup, pangan dan sandang. Ada kawan mencatat, bencana bukan dari Tuhan. Petaka ini dirancang Setan menguji manusia di akhir zaman, kata kawan itu.

Padahal, termonologi akhir zaman sudah digeluti manusia ribuan waktu dan beratus zaman. Kita mengulang kejadian dan peristiwa lama: wabah, manusia tinggal di pertapaannya. Kembali ke rumah, atau memilih menularkan atau sebaliknya terpapar, tertular, tiba pada ujung hidup karena tidak mampu diobati. Sederet teori nubuat menjadi palsu seiring waktu berlalu. Orang-orang berkumpul, diteriaki, didoakan, ternyata semakin banyak yang tertular. Pengetahuan dan fakta menyatakan, orang-orang lebih butuh pengobatan dan rumah sakit, ketimbang doa dan huru-hara semacam teori penyembuhan atas nama segala dewa yang tergambar dalam mindset.

Coba mencatat. Dan kau tahu, menulis hal sederhana tidak sesederhana seperti yang dibayangkan, apalagi sekarang terkurung pembatasan sosial berskala besar, walau belum lockdown.

Kita mulai saja!

Dari sini, di balik nako, boleh memandang langit barat cerah. Lorong 59 di samping kanan. Sisi kiri dan bagian belakang adalah pemukiman, gedung, hospital, setapak, pangkalan sepi, warung kopi kurang pengunjung.

Sas-sus seseorang tertular di jalan seberang membuat seisi rumah berbincang. Saya ngobrol dengan Christ di ruang bawah, depan dapur. Dia cerita kantornya yang saban minggu pada dua bulan terakhir selalu bikin rapat. “Belum sempat implementasi strategi yang dibuat, sudah meeting lagi. Kami di level managerial sibuk. Mumet mempersiapkan bahan presentasi. Boleh jadi boss sementara memutar otak untuk kepentingan ribuan karyawannya, tapi saya melihat itu sebagai kepanikan sebab ada pandemi, dan situasi ini belum pernah terjadi. Sekarang malah jadwal meeting tidak menentu, bayangkan dua hari lalu kami meeting, besok rencana ada meeting lagi,” dengus Christ.

Kami ngobrol panjang lebar tentang resiko Pembatasan Sosial Berskala Besar. Beberapa pertanyaan kunci. Sejumlah nasabah besar mulai menarik simpanannya di bank, pemerintah menelurkan regulasi, bagaimana memberi makan warga yang disuruh tinggal di rumah. Ada jaminan? Siapa menjamin bahwa sumbangan bencana tersalur pada warga yang benar-benar butuh makan minum dan kebutuhan harian mereka dan keluarganya?

Berapa saat lalu, sebelum ngobrol di ruang bawah, kami menguji ‘nyali’ dalam kota, berkeliling dengan mobil. Beberapa ruas jalan sepi, kami ke foodmart membeli sedikit makanan instan sebelum berbalik ke rumah. Tiba di rumah, didikan air, memasak mie instan campur telur dan rawit. Lalu ngobrol banyak hal.

Pembatasan Sosial Berskala Besar akan berdampak. Bagi buruh dan karyawan, pemutusan hubungan kerja kian lebar peluangnya. Bagaimana dengan warga yang mengais sehari untuk makan sehari? Bagaimana dengan urban dan warga pendatang yang jadi warga sementara, pelajar, mahasiswa, pekerja serabutan, mereka yang menempati berbagai ruang, kos, rumah sewa, apartemen, dan seterusnya. Seperti apa nasib satpam, penjaga kantor dan gedung, pengendara mobil motor online? Siapa yang menjamin mereka? Masih banyak soal belum terjawab, bahkan terbentur berbagai teori. Entah tafsir, entah konspirasi.

Fenomena Kota-Kota di Dunia

Saya membaca berita, lockdown di beberapa kota di dunia. Di utara Rishikesh, polisi menghukum pelancong yang mengabaikan regulasi pembatasan di India. Vivek Kumar, jurnalis SBSHindi, Sabtu, 11 April 2020, memberitakan yang mana Polisi Rishikesh mengganjar para turis untuk menulis di secarik kertas sebanyak lima ratus kali kalimat ‘saya melanggar aturan, saya menyesal’.

Di India, Perdana Menteri Narendra Modi menginstruksikan warganya untuk tinggal di rumah. Ada berapa pengecualian untuk pekerjaan penting, belanja makanan, dan kunjungan medis. Keluyuran untuk hal yang tidak penting dilarang. Seperti itu aturannya di beberapa kota di dunia. Di negeri berpenduduk lebih kurang 1,3 miliar orang itu terkonfirmasi 8000 kasus Covid-19.

Berita Polisi Rishikesh mengganjar para turis untuk menulis di kertas sebanyak lima ratus kali kalimat ‘saya melanggar aturan, saya menyesal’ menjadi viral di berbagai media. Ada dua kontributor NPR, Sushmita Pathak melaporkan dari Mumbai, dan Daniel Estrin melaporkan dari Yerusalem, menyebut bahwa pelancong yang mendapat ganjaran itu berasal dari Australia, Austria Israel, dan Meksiko.

Sungai Gangga di Rishikesh memang poin strategis para pelancong. Orang-orang keluyuran di tepinya. Rishikesh juga masyur sebagai pusat yoga di India. Lokasi itu menjadi semakin terkenal manakala The Beatles bertandang ke sana medio 1968.

Di Vietnam, seperti ditulis Eka Yudha Saputra, Editor TEMPO.CO, Selasa, 14 April 2020, dalam tajuk ‘Vietnam Punya ATM Beras Gratis untuk Bantu Warga Selama Corona’, memberitakan yang mana pengusaha dan donatur di sana menyiapkan ATM beras gratis untuk warga yang tidak mampu membeli makan selama wabah virus Corona. “Vietnam telah memberlakukan lockdown dan pembatasan sosial yang secara efektif menutup banyak bisnis kecil dan ribuan orang kehilangan pekerjaan, meski Vietnam hanya memiliki 265 kasus virus Corona tanpa kematian hingga minggu silam, di mana angka itu yang sangat rendah dibanding negara lain di seluruh dunia. Pengusaha dan donatur telah membuat mesin ATM yang mengeluarkan beras gratis di beberapa kota di sana untuk membantu mereka yang kehilangan penghasilan selama krisis.”

Hampir semua kota di dunia sudah melakukan pembatasan. Ada yang memang mengunci diri, mengunci pintu-pintu masuk-keluar wilayahnya. Saya membaca cerita dari kampung, mendapat kabar dari kawan kerabat, jalan-jalan dijaga, pengawalan wilayah sudah berlangsung.

Sabtu, 18 Apr 2020, sebagaimana ditulis Hermawan Mappiwali, di detikNews, di Makassar, Polisi gabungan dari Polda Sulawesi Selatan dan Polrestabes Makassar bakal membuat pos-pos penjagaan menjelang penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar untuk memudahkan polisi membatasi gerak warga saat PSBB.

Di Jakarta, manakala Pembatasan Sosial Berskala Besar diberlakukan, polisi menyebut ada berapa poin yang disinyalir menjadi target kejahatan pencurian dan perampokan.

Di New York, Amerika Serikat, seperti ditulis JawaPos, nanti pekan depan, Departemen Kesehatan negara bagian itu akan memulai tes antibodi berskala besar. Aksi itu adalah langkah awal untuk memutuskan kapan dan bagaimana New York dapat membuka kembali perekonomiannya di tengah pandemi Covid-19.

Tantangan Regulasi dan Peran

Regulasi terkait pembatasan dasarnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Pada regulasi itu jelas disebut, penyelenggaraan karantina merupakan tanggungjawab pemerintah pusat, dalam hal ini adalah Kementerian Kesehatan, dan dapat melibatkan pemerintah daerah. Di mana aksi pembatasan, sebagaimana dituangkan dalam regulasi, yaitu upaya mencegah dan menangkal keluar atau masuknya penyakit dan atau faktor risiko kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat.

Kedaruratan kesehatan masyarakat mengindikasi kejadian kesehatan masyarakat yang bersifat luar biasa dengan ditandai penyebaran penyakit menular dan atau kejadian yang disebabkan oleh radiasi nuklir, pencemaran biologi, kontaminasi kimia, bioterorisme, dan pangan yang menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi menyebar lintas wilayah, atau lintas negara.

Di sini, uji coba pembatasan kegiatan mulai dua hari lalu, dan akan berlaku tiga hari – sampai hari ini. Sesudah uji coba Pembatasan Sosial Berskala Besar mulai berlaku.

Meski, di sini saya masih sering ke pasar. Melihat keramaian, orang berdesak mengakali hidup bagaimana menghasilkan uang dan keuntungan. Namun, hari ini beberapa lorong saya lihat dihalang kayu dan bambu.

Entah siapa membuat meme menggelitik soal Pembatasan Sosial Berskala Besar. Dulu, pulang kampung selalu dinantikan, kini pulang kampung diteliti, ditanyai berbagai soal dan alasan, dan dikarantina seberapa hari menunggu gejala, menunggu entah seperti apa keputusan yang sering bercabang tergantung pendekatan dan negosiasi.

Padahal, Pembatasan Sosial Berskala Besar dan karantina punya definisi beda. “Dalam karantina, penduduk di suatu wilayah tertentu, di kawasan RT dan RW, kelurahan, kabupaten atau kota, dan di rumah sakit, itu tidak boleh keluar. Sementara dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar, masyarakat masih dapat beraktivitas, tetapi sejumlah kegiatan masyarakat dibatasi.” Seperti itu penjelasan Oscar Primadi, Sekjen Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kawan saya, Bivitri Susanti, Researcher di Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia, sebelum regulasi pembatasan diketuk menera ‘Catatan Hukum Tentang Lockdown’. Dia menulis yang mana lockdown itu tidak bisa hanya berupa instruksi supaya orang diam di rumah saja. Karena banyak orang yang harus keluar untuk kerja untuk bisa makan, bayar cicilan, juga untuk ongkos ke dokter bila kena gejala Covid-19, bahkan sekadar untuk beli pulsa untuk telepon Dinkes kalau harus dijemput karena gejala yang parah.

Tentang regulasi, Bivitri Susanti menyebut pentingnya dasar hukum, agar Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah nanti begitu mau menggunakan sumberdaya-sumberdaya seperti APBN, APBD, fasilitasi umum, dan menggunakan wewenang untuk memerintahkan warga negara, perusahaan-perusahaan, dll, dasar hukumnya jelas. “Jadi, tidak ada akibat-akibat seperti tindak pidana korupsi, pelanggaran HAM, dll. Pemerintah harus tunduk kepada hukum juga, tidak bisa main ngasih perintah,” demikian diurai Bivitri.

Regulasi sudah diketuk, peran mulai mengemuka.

Berdiskusi online dengan banyak kawan, beroleh sejumlah data. Membaca peran, uluran tangan bermuka politik di banyak tempat. Kepentingan kuasa selalu bertahta dalam bentuk sumbangan, untuk makan minum, untuk halau virus, masker, hand sanitizer, dan sejumlah pengaman yang tak aman bagi kebutuhan yang rawan. Saya membaca berita, zaman sangat terbaca dan boleh ditafsir: pembagian masker, hand sanitizer, beras, telur, minyak goreng, gula, mie instan, dan hampir semua bantuan pakai logo partai dan gambar-gambar penguasa.

Di lain sisi, sejumlah filantropi memberi tanpa mencatat namanya.

Saya mengutip Dr Denni Pinontoan dalam esainya, ‘Ketika Pdt. R.M Luntungan Memerangi Wabah Kutu Busuk’ ditulisnya, Senin, 20 April 2020. Pinontoan menyebut, bahwa berteologi adalah ‘aksi’. Iman itu tindakan melawan, memerangi kuasa-kuasa yang dapat membuat manusia mengalami ketidaktenangan.

Ambil saripatinya, saya menyebut apa yang ditera Pinontoan itu sebagai tindakan membatasi. Gerak aktif, peran yang diinisiasi manusia itu sendiri untuk menghadapi tekanan, atau serangan. Entah peran itu sudah biasa, atau malah peran itu melawan kebiasaan-kebiasaan yang sudah terstruktur dalam pikiran, di mana peran itulah kuasa untuk mempertahankan eksistensi manusia.

Atas nama cinta pada negeri, Sulistyowati Irianto, Guru Besar Antropologi Hukum – Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dalam statusnya, Minggu, 19 April 2020, dia bilang, “Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini.”

Irianto, dalam tiga bait berikut ini saya kutip pesannya:

Dalam situasi pandemi, merespon berbagai macam kritik terhadap pemerintah dalam hal kelambatan, kegagapan, dan kebijakan yang dianggap tidak tepat, serta penerapan kebijakan di akar rumput yang terdistorsi, bahkan ditenggarai ada kasus-kasus represif; kita juga harus melihat secara komprehensif, pemerintah bukannya tidak berbuat apa-apa. Banyak yang dibuat, tetapi permasalahan begitu besar: “Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini.”

Hal yang saya ingin bilang, mari kita terus menumbuhkan kesadaran kolektif, menggalang kerjasama di antara warga masyarakat sipil, gerakan sosial, untuk menolong diri sendiri. Terlepas dari skema kebijakan atau program pemerintah sampai atau tidak sampai kepada kita: “Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini.”

Sejarah membuktikan, bangsa Indonesia selalu selamat menghadapi cobaan yang berat sepanjang perjalanan, itu berkat gerakan masyarakat sipil yang kuat. Cinta kepada negeri adalah pengikat kita semua: “Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini.”

Laste

Balik lagi pada soal di awal tulisan ini. Obrolan di ruang depan depan dapur, saya dan Christ. Duduk berseberangan, di depan meja telah tersaji masing-masing semangkok mie instan. Seperti para jelata membayangkan kebahagian, gembira bersama, menghibur diri sendiri atas banyak ketakutan yang merasuk sepanjang perjalanan hidup.

Tanya membentur berbagai soal, tidak semua dapat kami jawab. Menyeruput mie, menuntas hasrat, entah lapar, entah panik.

Kota-kota di tanah air seperti gemar pada terminologi yang tergolong baru, diimplementasi dengan pendekatan masing-masing, ini dia: Pembatasan Sosial Berskala Besar. 

Pikiran menerawang. Tadi di foodmart, usai memindah belanja dari keranjang ke dalam karton, masih sempat kami berbagi selembar dua uang ribuan bagi penjaga pintu dan petugas yang mengatur dan mengangkut belanjaan.

Sementara menulis artikel ini, saya membaca pesan di dinding media sosial. Ditulis Rinto Taroreh, Tonaas Wanua Warembungan, “Hidup selalu menemukan jalan. Dalam setiap situasi ada pelajaran jika kita mau belajar,” demikian diteranya, 2 April 2020.

Punya catatan kecil tentang pembatasan-pembatasan, dan tentang keterbatasan. Pengalaman menjalani orde dalam Indonesia: pemiskinan terstruktur pernah dialami rakyat, dan bekasnya masih ada sampai saat ini. Dalam pada kondisi itu di masa lalu, semangkuk mie instan adalah hidangan mewah bagi saya. Bahkan semangkuk boleh bagi untuk beberapa orang. Kami mengunyah mie sebagai lauk nasi, kuahnya dibikin banyak, untuk ganjal perut, asal lapar terobati. Cerita masa silam itu kadang terulang, lalu saya tertawa sendiri. Betapa asyik menertawai derita.

Punya kebiasaan bantu di rumah dari dulu sampai sekarang. Bersihin got dan jalan, ngangkat air, cuci, masak, jualan, tanpa imbalan dan tidak pernah nabung. Dulu malah biasa nyangkul di kebun, biasa sehari makan sekali atau bahkan tidak makan sekalipun.

Hari ini, semangkuk mie mungkin gampang diraih bagi mereka yang punya duit. Bagaimana nasib mereka yang tidak punya penghasilan? Ekonomi mampet sudah pasti dapur tidak berasap. Maka, berbagi dengan orang-orang terdekat di lingkungan kita sudah sangat membantu mereka menghadapi krisis dan pandemi.

Kata sang kawan masih terngiang, ‘jangan pernah berhenti mencintai negeri ini’.
Ada ‘Pembatasan Sosial Berskala Besar’, bukan halangan untuk berbagi.

Obrolan saya sudahi. O iya, saya masih punya semangkok mie, siapa saja yang berada di dekat kediaman saya boleh memintanya. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

S.O.B Law Investigation – Andi Jamal: Penjarakan Mafia Tanah

Published

on

By

14 Juni 2021


Oleh: Jefriar Dunda
Biro Sulawesi Selatan


TeropongAlor—  Somba Opu | PEMBERANTASAN praktik mafia tanah di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terus didesak. Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan beberapa kali pertemuan dan membahas langkah strategis, di antaranya DPP LSM Gempa, Yayasan Bantuan Hukum Kompak Indonesia, Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia di Gowa dan Sulawesi Selatan, dan Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Pemantauan tim redaksi hingga 14 Juni 2021, desakan lembaga swadaya itu dinyatakan dalam bentuk spanduk yang dipasang di sejumlah titik seputaran Tombolo dan Somba Opu. “Telah berduka rakyat Gowa atas matinya penegakan hukum tentang pemberantasan mafia tanah di kabupaten Gowa. Ingat ketegasan Kapolri untuk memberantas mafia tanah, jangan gadaikan keadilan untuk rakyat, para mafia tanah wajib dihukum dan dipenjara, begitu juga oknum yang membekinginya.” Demikian spanduk yang dipajang Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Spanduk adalah bentuk protes dan interupsi masyarakat terhadap aparat yang tidak bekerja maksimal, dan diduga bersandiwara. “Sejauh ini permintaan penindakan kepada oknum penyidik dalam kasus mafia tanah, terindikasi membekingi terlapor pengguna surat palsu dengan cara membuat keterangan palsu dalam SP2HP yang dijadikan alasan penghentian penyelidikan. Perintah pimpinan hanya boleh efektif bila pemberantasan kejahatan hukum dimulai dari jajaran institusi yang mengawal hukum, bukan justeru mengincar pihak lain. Ini namanya bersandiwara,” kata Padeng Gervasius, SH, menyinggung tuntutan masyarakat untuk memberantas mafia tanah di Gowa.

Pasca-Rapat Dengar Pendapat yang sudah digelar DPRD Gowa, 04 Mei 2021, silam, tuntutan pemberantasan mafia tanah kian menguat di Gowa, utamanya menyorot mekanisme pembatalan sertifikat cacad hukum administratif dalam penerbitannya sebagaimana diatur dalam Pasal 110 jo. Pasal 108 ayat (1) Permen Agraria/BPN 9/1999. “Tuntutan kami jelas, cabut dan batalkan dokumen yang diterbitkan BPN Gowa yang cacad administratif. Ada regulasi tentang pembatalan. Permohonan dapat dilakukan jika diduga terdapat cacat hukum administratif dalam penerbitan sertifikat itu sebagaimana diatur Pasal 106 ayat (1) jo Pasal 107 Permen Agraria/BPN 9/1999,” tutur Amiruddin SH Kr. Tinggi, dari DPP LSM Gempa. (*)


Hak jawab selalu diberikan kepada semua pihak bila pemberitaan bertolak belakang dengan fakta dan data.


Continue Reading

Daerah

Proyek Panik Pandemi

Published

on

By

Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.

04 Maret 2021


Oleh: Daniel Kaligis


Torang manyanyi: love is all that I can give to you, love is more than just a game for two . . .
Sudah dicatat: Global financial crisis, billions of human beings living below the poverty line, thousands dying needlessly from war, malnutrition or easily curable diseases and thousands more dying. Maar, history pernah dibongkarbangkir semau mindset orde…


ILUSI berlayar dalam badai, pandemi ini perang. Walau, kita coba menelisik pertalian soal hari ini dari benang merah persoalan kusut hari silam. Jawabnya bias dan ngambang.

Suraro, serdadu, tentara. Lelaki penempur itu berkisah pada saya — cerita tentang suatu masa. Siapa dia? Babad apa? Tidak penting, sebab perang masih berlangsung sekarang. Persaingan bisnis. Pergulatan kata. Kuasa cari perhatian. Ulangi, pandemi ini perang.

Dengar tuturnya. “Bekas suraro, bahkan ada yang nda pernah dapa doi pension, kong boleh jadi dorang nda pernah dipensionkan negara yang bergelut dengan sistem dan perpolitikan menelantarkan sejumlah perkara rakyat sampe sekarang. Torang boleh bilang, masa silam adalah neraka pergolakan. Battalion-battalion, kompi-kompi, rancang strategi baku lawang pangmalawang baku hajar. Dinding berkuping, bicara sembarang ditahan, manusia memangsa manusia.” Begitu bacirita dengan oma Keke, puluhan tahun lalu soal perang sudara yang berkobar di tanah Sulawesi dan di sejumlah daerah.

Saya parafrase: La Estoriê 03 March1857 — Prancis dan Britania Raya menyatakan perang terhadap Cina — 1878 —  Bulgaria merdeka dari Ottoman — 1918 —  Jerman, Austria, Rusia menandatangani Traktat Brest-Litovsk hentikan keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia Pertama. Pada ketika sama, Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia beroleh kemerdekaan. Catatan perang yang usang, 2020.

Entah ada pertaliannya: perang seiring pandemi, tahun-tahun jadi pengalaman, ditutur berulang-ulang. Dilupa karena kesusahan dan kesenangan: Medio 1918 ada Flu Spanyol. Siddharth Chandra, PhD, direktur di Michigan State University, dalam penelitiannya terkini terkait Flu Spanyol, menyebut bahwa di daerah Jawa dan Madura, ada lebih kurang 4,37 juta korban jiwa dari penduduk yang berjumlah sekitar 60 juta orang saat itu. Demikian diberitakan detik.com.

Apa maunya pandemi? Menjaga jarak sudah dari dulu. Namun, persaingan bisnis mengendap-endap. Berita, semacam pelintir-pelintir segala syarat berpergian. Setelah terkurung, apakah rakyat terus akan disuapi makan-minumnya oleh negara? Mustahil.

Virus berusia tua, pernah dianggap enteng, dikira renta. Lalu, ketika takut menyerang, menyamar baru, mengancam mati, kejam dalam kelam sosialisasi: asumsi dan persepsi, entah cocoklogi, tapi sudah ada sejumlah korban.

Kembali pada ilusi perang: Waktu berganti di hari sama lima tahun silam, dengan sejumlah kawan mendiskusikan perang. Saya berbagi video mesin perang canggih di media sosial, kawan-kawan menanggapi. “Prihatin pada hasrat menggelora. Cakar, taring, serta raung bagai anjing liar-anjing liar berebut tulang,” ujar kawan dari Wanua, Geovani Nomura Iskar.

Tentang mesin perang – yang dalam asumsi saya – itu adalah senjata canggih, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan America sudah punya something similar. Kalau ini punya Israel, aku gak kaget lagi,” ujar kawan yang bermukim di London itu.

Hari sama di tahun beda, 2012. Saya menera kutipan, Book of Nature: and when all the pretty blossom had fallen from our branches, we found that we were one tree, and not two. Dari depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, di situ, menerawang awal kemarau nan manja. Metafora airmata di baris terujung tawa gemasmu. Tandus makin berbekas di carang-carang meliar, bianglala pudar di pangku kabut. Ilusi kita berlayar dalam badai.

Perang Asumsi Persepsi

Perang membikin carang-carang patah. Rakyat, seperti carang. Bagaimana? Patah arang. Berapa tahun silam kawan-kawan masih boleh melancong ke mana-mana, boleh menikmat jajan alamiah dari rak-rak pedagang kecil, belanja dari lapak di sudut-sudut persimpangan. Mudah beroleh penawar generic di tengah bombardemen iklan apa saja.

Hari itu di 2012, depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, saya ngobrol virtual menjawab Nita Tjindarbumi dari Jakarta. Katanya, “Belum dua puluh empat kunikmati kesendirian ini, setelah usai kisah kita, kini aku menghadapi sebuah tawaran manis yang sulit untuk kutampik. Ah, cinta ternyata tumbuh di mana-mana meski kadang di tempat yang salah. Oh, tentu saja kita akan bisa menemukan pembenaran atas kekeliruan yang masih bisa kita carikan jalan keluarnya. Selamat datang cinta. Ini kisah cinta baruku, bagaimana kisah cintamu Aj Boesra, Sandra Palupi, Novline Lidia, Daniel Kaligis, Evert Maxmillan Pangajouw, Ria Tjindarbumi, Sari Wiryono, Anastasya Bee, Dima Here Wila, Gyanthie Widjajanto, dan semua teman pesbukku lainnya? Happy week end.” Seperti itu Nita mengajak kawan-kawan berdiskusi.

Sandra Palupi bilang, “Cintaku aman-aman, dan berusaha kunikmati. Seperti berada di gelayut roller coaster kata Bon Jovi, menikmati apapun.”

Menjawab Nita, Aj Boesra sebut, “Cintaku di ujung Papua.”

Kata bersambut kata. Aj Boesra menuding capital letter yang dilontar Karjo Aduhai: “cinta itu buta”, berhuruf besar pangkal ke ujung kalimat itu, menanggap cerita Nita. Padahal, Karjo sebutkan yang mana dia mengutip ujaran, dalam mana – ujaran itu adalah fakta dalam hidup manusia.

Duhai, senandung sajak-sajak disambung pertikaian kata. Aj Boesra kian meradang.

“Karjo ya? Mataku masih awas. Ga perlu nulis gede-gede kayak baru punya laptop. Anak muda mau pamer,” ketus Aj Boesra. Ditimpali Nita, “Karjo, ngapain pake kapital, gak sopan banget tuh!”

Huruf besar jadi tertuduh. Asumsi mengalir. Perang, mungkin saja membesar.

Saya bilang dalam renung sunyi ketika itu, “Cinta berkelahi. Cinta berasumsi. Cinta persepsi. Perang bersetubuh dengan kata dan tafsir. Sambal meneguk Dima Here Wila yang menjawab Nita Tjindarbumi:

“Ah, bagaimana mungkin kau bilang mencintai aku. Kau terlalu asyik dengan dirimu sendiri. Kau begitu sibuk dengan pekerjaan dan teman-temanmu.”

Kental, mengalun cerita cinta Dima Here Wila:


Jika benar, kau mencintai aku, seperti yang kau bilang
Mungkin aku tak akan selalu sendirian menjalani hari-hariku.
Aku merasa kau semakin jauh.

Aku tak mengenalmu lagi, kau asing bagiku.
Seolah-olah kau sengaja berlari menjauh meninggalkan aku.

Mungkinkah kau mencintai aku, sedang kau tak pernah menghabiskan waktu bersamaku?

Hari-hariku sepi tanpa gelak tawamu.
Hari-hariku lewat tanpa godamu.
Hari-hariku berlalu tanpa dirimu.
Tanpa cintamu.

Dan aku masih sendiri tanpa kepastian.
Tapi sungguh, aku menikmati kesendirianku.

Jadi, jangan datang dengan kata-kata cinta semu-mu.
Karena bagiku, cinta adalah kebersamaan kita.
Tertawa bersama.
Bercanda dan gurau bersama.
Melewati hari bersama.

Dan aku akan tetap menikmati hari-hariku,
walau sendiri tanpa cintamu.
Tanpa dirimu.


Saya malah panik membaca sajak-sajak. Dalam jiwa terantuk perseteruan tafsir. Asumsi menjalar, meliar. Lalu, malam seakan persepsi gulita di rimba belantara, gelap Wanua yang jauh di pelosok. Di kota-kota dunia, cahaya menembus tulang siang malam benderang. Hati kelam.

Masih meresap sajak Dima: “Cinta itu ajaib, ini kisahku, mbak Nita. Berharap anda menikmati akhir pekanmu bersama keluarga,” kata perempuan yang menetap di Kupang, Nusa Tenggara Timur itu.

Uang dan Mesin Perang

Hari berganti, tiga, empat, lima, putaran masa. Tahun berlalu. Asumsi dan fakta, jutaan orang mati karena perang. Boleh tahu berapa yang mati karena asumsi? Sebuah kutipan di halaman World without Wars and Violence, “Stockholm International Peace Research Institute — at 15 April 2013, announced that the year 2012 saw an estimated US$ 1.750.000.000.000 spent on weapons and the military machine.”

Hey Dima Here Wila, I’m sorry, saya tidak mengabari. Berapa kali saya datangi Kupang, Soe, Kefamenanu, Timur Tengah Selatan, Oelfaub, Wini. Melayari Sunda Kecil. Memotret laut, nelayan, dan takjub pada alir samuderamu. Jangan-jangan proyek-proyek juga menjadi perang di situ.

Waktu. Semua berubah, namun kenang — sistem yang kita jalani saat ini rusak. Seperti itu persepsi saya. Mungkin sistem tak dapat diperbaiki, sebab dalam praksis sistem, manusia tak menghargai kehidupan manusia. Sistem hanya menghargai materi dan orang-orang yang punya uang.

Terkenang nama, ‘Soe – Kefamenanu – Oelfaub’ itu nama proyek jalan di Nusa Tenggara Timur. Saya pernah melintasinya. Jalan dikerjakan pada tahun anggaran 2019 – 2020. Pemberitaan di daerah pernah meliputnya. Boleh baca berita yang ditulis Petrus Usboko di timexkupang.com, 21 Agustus 2020.

Orang-orang sibuk sosialisasi. Pandemi, sebagian ada di titik realokasi. Panik sebab pemberitaan. Mesin perang mungkin saja dalam bentuk yang lebih lembut semacam protokol yang menarik sejumlah rupiah dengan keuntungan berlipat-lipat, dan ada di raut kita yang hilang identitas.

Berapa waktu lalu, saya video mesin perang, dan berujar di status media sosial, bahwa, ke depan, uang dan sumberdaya akan terus berhambur untuk mencipta dan membeli mesin perang. Menanggap video itu, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan Amerika sudah punya something similar. Kalo ini punya Israel aku gak kaget lagi,” kata kawan yang bermukim di London, England itu.

Geovani Nomura Iskar, kawan saya dari Wanua menanggap, “Prihatin dengan hasrat yang menggelora. Cakar-cakar, taring, serta raung bagai anjing-anjing liar berebut tulang.”

Ini soal yang bikin Altje Wantania bertanya, “Apakah perang memang harus selalu diselesaikan dengan perang?”

Semestinya, perang jangan dijawab perang. Walau adab purba masih dipelihara: perang dibayar perang dan kelihatannya seperti tak pernah akan lunas.

“Ketika perang dibayar perang, kematian dibalas kematian, punahlah kehidupan,” tegas Altje Wantania.

History dendam berujung sia-sia: perang hari ini melawan ego dan keserakahan diri.

Saya mengulang lamunan sambal menembang The Night Watch: halaman senja, malam mengendus tiap aromamu lebih kelam dari yang pernah dikenang dalam ingatan, angin mengusik rambutnya terurai. digesek biola, melody merasuki lorong-lorong, ia bernyanyi: anak-anak dibesarkan dalam prasangka, seperti perempuan-perempuan miskin yang tak punya pilihan; duhai jejak-jejak rindu, senyummu gelisah, kawan di masa silam, mata serupa luna malam ini, bertengger di pucuk gelap, dan kabut memutih basah oleh cahaya.

Tahun silam membaca tulisan Linda Christanty, bertarik 05 April 2020, Tiada ‘Kebetulan’ di Dunia. Saya mengutip tiga baitnya untuk anda:

“Perang di dunia obat-obatan ataupun farmasi sebenarnya sama kejamnya dengan perang yang menggunakan senjata pemusnah massal. Perang ini cukup sunyi dan tersembunyi, tetapi uniknya media tanpa sengaja terkadang membantu kita untuk mengetahui bocorannya.”

“Obat-obatan untuk penyakit-penyakit tertentu telah ditemukan misalnya, tetapi para penemunya dibunuh dan penemuan-penemuan itu kemudian tidak berbuah menjadi produk penting untuk menyelamatkan nyawa banyak manusia.”

“Ada pil yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, harganya murah dan efek sampingnya tertanggungkan, tetapi  tiba-tiba ada orang yang mendukung pemberian vaksin yang efek sampingnya masih misterius.”

Aktivis perempuan itu menyebut, bahwa pandemi yang terjadi sekarang ini sayup-sayup menyuarakan ‘sudah saatnya uang tunai tak lagi digunakan’, karena pertukaran uang kertas dan koin menjadi sarana pemindahan virus. Orang-orang yang tidak punya cukup uang di bank akan mati lebih cepat, oleh virus dan perkembangan teknologi.

Laste

Persitiwa hari ini dapat ditarik pertaliannya dari kejadian-kejadian kecil, yang mungkin saja luput dari perhatian khalayak.

‘Proyek Panik Pandemi’ hanya judul, mestinya ditera dengan tanda tanya. Tafsir. Huruf-huruf kapital mengundang asumsi, pada sub judul ‘Perang Asumsi Persepsi’ saya coba mengulas sedikit tentang tafsi. Orang-orang menyusun, mengenali, dan menafsir informasi sensoris guna memberi gambaran pemahaman tentang prilaku dan tentang segala bentuk informasi yang mereka peroleh di lingkungan sekitarnya. Termasuk tentang tontonan dan media.

Menakala mengedit tulisan Linda, saya memilih kalimat ini: “Seorang bekas mata-mata menulis pesan di media sosialnya: ‘Kapan burung bernyanyi? Di musim semi.’ Pesan ini tidak bermakna apa-apa bagi orang-orang yang selalu memperlakukan berita atau tulisan di media sebagai surat dari orangtua mereka. Tetapi bagi mata-mata lain atau koleganya, pesan ini sebuah sandi.”

Apalah perang, garang menyerang. Bumi, alam semesta, satu-satunya lokasi di mana orang-orang menetap. Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik, damai.

Krisis global, ketakutan miliaran manusia hidup di bawah garis miskin. Mindset di-drive, sejumlah isu. Namun, enyahkanlah panik. Kita butuh jawaban dari sejumlah soal. Kita butuh informasi yang mendidik dan membuka cara pandang.

Ulangi: Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik damai. Berdamai dengan asumsi. Berdamai dengan persepsi. Berdamai dan bercintakasih dengan sesama.

Mari berdamai. (*)


Gambar: Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.
Sumber gambar: iedunote


Continue Reading

Alor

C-19: Alor Kian Pulih

Published

on

By

02 Maret 2021


Data Penyebaran Nasional


Sumber Gambar: Satuan Tugas Penanganan COVID-19


Liputan: Tim Redaksi


Kalabahi — teropongalor.com SECARA Nasional, pasca-Covid-19, keadaan semakin membaik oleh upaya berbagai pihak. Pemerintah, dalam hal ini di ibukota negara, sebagaimana dipublikasikan Kementrian Kesehatan RI, saat ini sedang berlangsung vaksinasi Covid-19 Tahap Dua dengan prioritas sasaran Lansia ber-KTP DKI Jakarta. Sebagaimana diberitakan, lansia yang akan mendapatkan Vaksinasi Covid-19 dapat mengisi formulir pendaftaran melalui dki.kemkes.go.id. Setelah mendaftar para Lansia diharapkan dapat menunggu pesan notifikasi dari Puskesmas atau RSUD terkait lokasi dan penjadwalan vaksinasi, sebelum berkunjung ke fasilitas kesehatan untuk menghindari kerumunan.

Sumber Gambar: Satuan Tugas Penanganan COVID-19


Di Kabupaten Alor, Pemerintah terus melakukan upaya pencegahan dan ternyata berhasil. Data yang dihimpun Satuan Covid-19 hingga hari ini, Selasa, 02 Maret 2021, dari 107 yang terkonfirmasi Covid-19, sudah 92 orang dinyatakan sembuh. “Secara keseluruhan kita di Alor ada banyak kemajuan dalam penanganan Covid-19. Jadi, masih ada tersisa 7 orang melakukan isolasi mandiri, dan 2 orang dalam perawatan. Kami pemerintah tetap ketat menerapkan protokol kesehatan,” kata Sekda Alor, Drs. Soni O. Alelang, ketika ditemui tim redaksi teropongalor.com di ruang kerjanya.

Alelang, yang juga adalah Wakil Ketua Tiga – Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Alor, mengharapkan dalam waktu dekat Alor sudah terbebas dari pandemi. “Kami mengharapkan semua masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan, dan Aparatur Sipil Negara kiranya menjadi garda depan dalam upaya bersama memutus rantai penyebaran virus.” (*)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com