Connect with us
no

Internasional

Selamat Datang di Albay

Published

on

Mayon Volcan. © Jess Bartolome, flickr.com

Oleh: Daniel Kaligis


Cinta, seperti tafsir misteri bencana. Gemuruh menderu-deru, alam memangsa siapa saja tanpa pernah memilih. Lalu, asumsi mengemas persepsi, menjadi teori untuk berbantah-bantah. Seakan cinta, nafsu lapar haus, letusan gunung dapat menyebabkan musim dingin vulkanik, semesta luka petaka kelaparan yang parah.

CÓMO ESTÁ, maligayang pagdating sa Albay 1814. Memandang Camarines Sur di utara, masih mengenang erupsi yang singgah di jantung Legazpi.

Panganoron dan Magayon bercinta menampik perjodohan dengan Pagtuga. Ayah tak setujuh anak perempuannya, Magayon, menjalin kasih dengan Panganoron. Magayon memilih pergi, melintas rimba menemu tualang cintanya. Namun, dikejar anak-panah beracun dari anak buah sang ayah.

Panganoron mau menolong kekasihnya Magayon yang sekarat, membungkuk dia, tetiba muncul para pencari dua kekasih itu. Mereka menusuk Panganoron dari belakang, lalu mengubur keduanya.

Waktu bergulir, tahun berganti, berlalu ribu ketika. Kubur dua kekasih itu menjadi gunung, diberi nama Mayon.

Camarines Sur adalah salah satu provinsi di Filipina. Legazpi merupakan ibukota Albay, di Region Bicol, di pulau Luzon, berbatas Camarines Sur.

Gunung Mayon punya sejarah panjang letusan mematikan. Hitung ketika, saat yang berlalu. Pada dua ratus enam tahun silam, 1 Februari 1814, diperkirakan ada seribu dua ratus orang terbunuh manakala aliran lava Mayon mengubur kota Cagsawa.

Misteri Perang dan Cinta

Berbalik enam ratus sembilan puluh dua kali peredaran bumi mengelilingi matahari. Hanya kebetulan saja disinggung karena ada persamaan tanggal: penobatan Edward III sebagai raja, dan letusan dasyat Mayon, sama-sama terjadi pada 1 Februari.

Sejarah punya jejak panjang, kadang tak sempat disentuh tinta, semisal cinta seorang Edward III. Hari itu, 1 Februari 1327 – Edward III yang masih remaja dinobatkan sebagai Raja Inggris, tetapi praktik kekuasaannya dipegang ibunya, Ratu Isabella dan kekasihnya, Roger Mortimer. Hanya sebuah ingatan, kisah penobatan Edward III tak ada hubungannya dengan gunung Mayon.

Masih tentang Edward III. Dia lahir 13 November 1312, dan meninggal pada 21 Juni 1377 di usia 64 tahun.  Edward III tercatat sebagai salah satu penguasa Inggris paling sukses pada Abad Pertengahan. Ia berkuasa selama lima puluh tahun dan membangun Inggris sebagai kekuatan militer terkuat di Eropa. Dia dinobatkan sebagai raja di usia empat belas tahun, setelah ayahnya dipaksa untuk mengundurkan diri. Setelah kemenangannya melawan Skotlandia, ia menyatakan dirinya sebagai pewaris tahta Perancis pada tahun 1337 dan memulai Perang Seratus Tahun.

Perang memberi efek untuk Inggris, kemenangannya dalam pertempuran Crécy dan pertempuran Poitiers mengarah kepada perjanjian Bretigny dan Edward III memperoleh banyak wilayah kekuasaan yang dipersembahkan bagi Inggris.


Berkisah tentang Inggris, ada misteri yang tak banyak dibincang, namun diketahui oleh dunia. Di balik ketenaran dan kuasa, terselip teriak panjang yang terdengar bermil-mil jauhnya. Raja Inggris, Edward II adalah pangeran Inggris pertama yang memegang gelar Prince of Wales. Penguasa ketujuh Dinasti Plantagenet itu dibunuh di Kastil Berkeley dengan cara sadis. Pembunuhan Edward II dilaksanakan atas perintah istrinya sendiri, Isabella of France.

Sebuah pembunuhan berlatar politik, demi memuluskan putranya Edward III menuju takhta, juga lantaran sakit hati perempuan yang dikhianati suami.


Edward II dirumorkan sebagai homoseksual atau biseksual.  Padahal Edward II menjadi ayah dari lima anak, yang ia dapatkan dari dua perempuan berbeda. Tetapi, disebut pula favorit Edward II adalah mereka yang dianggap kekasih sejenis — dari ksatria Gascon bernama Piers Gaveston, hingga seorang penguasa lokal Hugh Despenser — yang diberinya kemewahan dan kedudukan hingga memicu kekacauan politik dan berujung pada pelengserannya. Para bangsawan pun memberontak.

Medio 24 September 1327, pangeran Edward III yang pada saat itu belum genap berusia lima belas tahun, mengirim sepucuk surat kepada sepupunya, pangeran Hereford. Edward III menyampaikan kepadanya bahwa ayahnya dipaksa turun tahta pada Januari 1327 dan ditahan di Kastil Berkeley.


Inilah kematian mengatasnamakan perintah Tuhan, dan cinta misteri — pasangan sejenis dari Edward II, ditera dengan asumsi penulis-penulis abad empat belas itu sendiri.


Kematian mantan Raja Edward II diumumkan kepada parlemen di Lincoln, dan pemakamannya diadakan tiga bulan kemudian di Biara St Peter di Gloucester, sekarang Katedral Gloucester. Namun tak ada yang tahu penyebab kematiannya, karena metode pembunuhan tidak pernah dinyatakan secara resmi dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kisah kematian Edward II adalah kotak hitam yang tak pernah membicarakannya di depan publik.

Beberapa hanya mengatakan bahwa Edward II meninggal di Berkeley tanpa mengatakan seperti apa sebab-sebab kematiannya. Ada yang menyebut bahwa ia meninggal karena sebab alami, bahwa ia hidup di pagi hari dan mati di malam hari. Ada yang bilang, ia meninggal karena sakit, yang lain bilang ia meninggal karena kesedihan.


Kemudian, penulis sejarah akhir abad keempat belas hanya menyalin kronik-kronik sebelumnya, tak berhasil mengungkap apa benar-benar terjadi pada Edward II, sehingga mereka hanya mengulang fakta dalam tulisan yang disajikan penulis sebelumnya. Dua nama disebut sebagai pengeksekusi Edward II, yaitu Sir Thomas Gurney dan William Ockley.

Sir Thomas Gurney, yang melarikan diri ke Spanyol dan meninggal di sana pada tahun 1333, dan lelaki bersenjata William Ockley, tak ada kabar beritanya.

Selintas peristiwa, membekas sebagai luka pada badan sejarah. Cinta yang ditafsir bias dan ambigu, ceritanya masih ada dan nyata hingga hari ini.

Kenang sejarah, Februari hampir usai, dan kita boleh jadi masih dengan cinta yang sama.

Gunung Mayon


Balik lagi ke gunung Mayon. Simbol provinsi Albay itu menjulang 2462 meter di atas Teluk Albay, memiliki lereng atas sangat curam dengan kemiringan rata-rata 35 – 40 derajat, dibatasi kawah puncak kecil.

Sepanjang empat ratus tahun terakhir, tercatat letusan Mayon sudah terjadi sekitar lima puluh kali. Letusan pertama tercatat terjadi pada tahun 1616.


Albay adalah provinsi Filipina yang terletak di Region Bicol, di pulau Luzon. Provinsi ini berbatasan dengan provinsi Camarines Sur di bagian utara dan Sorsogon di bagian selatan, beribukota di Legazpi. Di bagian Timur Laut Albay terletak teluk Lagonoy yang bermuara di Laut Filipina. Gunung Mayon merupakan simbol utama yang sering dihubungkan dengan provinsi ini.

Tahun 2011, tercatat provinsi ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 1.193.825 jiwa atau 238.165 rumah tangga. Luas wilayahnya adalah 2.552,60 kilometer persegi, dan memiliki kepadatan penduduk 468 jiwa per kilometer persegi.

Tentang gunung berapi, sebagaimana kita ketahui, gunung berapi di bumi terbentuk sebab kerak terpecah menjadi lempeng-lempeng tektonik utama kaku mengambang di atas lapisan mantel yang lebih panas dan lunak. Gunung berapi sering ditemukan di batas divergen dan konvergen dari lempeng tektonik. Contohnya, di pegunungan bawah samudra seperti punggung tengah atlantik terdapat gunung berapi yang terbentuk dari gerak divergen lempeng tektonik saling menjauh.

Sementara di Cincin Api Pasifik terbentuk gunung berapi dari gerakan konvergen lempeng tektonik saling mendekat. Gunung berapi biasanya tidak terbentuk di wilayah dua lempeng tektonik bergeser satu sama lain.

Letusan atau erupsi gunung berapi menimbulkan berbagai bencana. Ancaman debu vulkanik terhadap penerbangan karena debu dapat merusak turbin mesin jet. Letusan besar dapat mempengaruhi suhu. Asap dan butiran asam sulfat yang dimuntahkan menghalangi matahari dan mendinginkan bagian bawah atmosfer bumi seperti troposfer. Material tersebut juga dapat menyerap panas yang dipancarkan dari bumi sehingga memanaskan stratosfer.

Tahun silam, pada Senin, 15 Januari 2018, karena curah hujan tinggi membikin puing-puing endapan di lereng Mayon mengalirkan lahar. Sehari sebelumnya, bahkan sepekan terakhir aktivitas gunung berbentuk kerucut sempurna itu terus meningkat. Erupsi dan reruntuh material berupa batu sudah terlihat. Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina, Phivolcs, dan Kantor Pertahanan Sipil setempat menyatakan tanda bahaya sebab ada pembentukan kubah lava baru di Mayon.

Aktivitas gunung itu, sebagian dapat dibaca pada halaman Mayon Volcano – Philippine Institute of Volcanology and Seismology, dan NASA Earth Observatory.

Gempa vulkanik dan batu-batu berjatuhan mengguncang puncak Mayon. Muntah lumpur, awan panas beracun mengancam kawasan sekitar gunung. Lebih dari seribu dua ratus orang diminta meninggalkan zona tujuh kilometer dari gunung Mayon.

Gunung Mayon berada di Provinsi Albay, Filipina. Dari Manila jaraknya 330 kilometer, dan hanya berapa kilometer saja di sebelah selatan Mayon terletak kota Legazpi. Gunung berapi aktif ini terletak di antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Filipina. Di mana Eurasia adalah lempeng tektonik terbesar ketiga, berada di daerah Eurasia, daratan yang terdiri dari benua Eropa dan Asia kecuali di daerah India, Jazirah Arab, dan timur Pegunungan Verkhoyansk di Siberia Timur.

Sisi timur lempeng Eurasia dibatasi lempeng Amerika Utara dan lempeng Filipina. Sisi selatannya dibatasi lempeng Afrika. Sisi baratnya dibatasi lempeng Amerika Utara. Lempeng Sunda merupakan bagian dari lempeng Eurasia yang rumit secara tektonik dan aktif secara seismik.

Berikutnya lempeng Filipina adalah lempeng tektonik di selatan lempeng Eurasia. Lokasi ini berada di Asia tenggara, di utaranya daratan china. Lempeng ini berbatasan lempeng India di laut Adaman. Di timur berbatas lempeng Pasifik dan sebelah selatan berbatasan lempeng Australia di laut Arafuru. Bentang alam lempeng ini dilalui rangkaian sirkum Pegunungan Muda, siklus Pasifik di bagian Filipina, Maluku, Sunda Kecil sampai ke Australia.

Sirkum Mediterania di bagian Melayu, Sumatera, dan Jawa. Hanya pulau Borneo tidak dilalui sirkum Pegunungan Muda. Lempeng ini bergerak ke arah Timur dan Barat laut. Prediksinya wilayah Asia Tenggara akan bertabrakan dengan Eurasia dan India. Sedangkan Lempeng India bergerak menanjak ke utara membikin posisi Pegunungan Himalaya berada di area yang lebih tinggi. Fakta geografis ini menyebabkan daerah tersebut sering terjadi bencana gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami.

Provinsi Albay berada pulau Luzon. Wilayah ini merujuk pada pulau terbesar di Filipina dan juga terpenting dalam bidang ekonomi dan politik. Luzon juga menunjudk kepada salah satu dari tiga kepulauan di negara tersebut, yang dua lainnya adalah Visayas dan Mindanao.

Luas wilayah Luzon adalah 104.688 kilometer persegi, dan merupakan pulau terbesar kelima belas dunia. Di pulau ini terdapat ibu kota negara, Manila, dan juga kota terpadat, kota Quezon. Luzon bergunung-gunung dan merupakan tempat dari Gunung Pulag, gunung tertinggi kedua di Filipina, dan Gunung Mayon. Pulau Luzon dibatasi di sisi barat oleh Laut China Selatan, di timur ada Laut Filipina, dan di utara Selat Luzon.

Letusan Mayon pada Agustus 2006 tak membunuh penduduk secara langsung. Namun, lewat empat bulan kemudian, angin topan menghantam lumpur vulkanik dari lereng Mayon menyebabkan longsor dan menewaskan seribu orang.

Medio Mei 2013, ada empat turis asing dan pemandu wisata lokal tewas ketika Mayon meletus. Pada letusan 2014, ada enam puluh tiga ribu orang mengungsi meninggalkan rumah mereka.

Lingkaran Api Pasifik

Menyebut Albay, ingatkan kita bahwa Indonesia berada pada busur Cincin Api Pasifik, atau dikenal sebagai Ring of Fire.

Daratan dan lautan dapat kita sebut titik yang membentuk Lingkaran Api Pasifik — dari arah barat daya, berlawanan arah jarum jam — meliputi Selandia Baru, Palung Kermadec, Palung Tonga, Palung Bougainville, Indonesia, Kepulauan Melayu, Palung Sunda, Kepulauan Filipina dan Palung Filipina, Pulau Taiwan dan Palung Taiwan, Palung Yap, Palung Mariana, Palung Izu Bonin, Palung Ryukyu, Kepulauan Jepang dengan Gunung Fuji dan Palung Jepang, Palung Kurile, Palung Aleutia, Alaska, Pegunungan Pantai Pasifik – dikenal sebagai Pacific Coast Range – dengan Gunung St. Helens, Palung Amerika Tengah, Amerika Tengah, dan Pegunungan pantai Pasifik di Amerika Selatan.

Saban menyebut Albay, teringatlah saya tentang Ring of Fire. Mengapa hal ini menjadi penting bagi Indonesia? Negara kita tepat berada pada Cincin Api Pasifik atau Circum-Pacific belt. Inilah yang jadi penyebab Indonesia sering mengalami gempa, karena Indonesia punya banyak gunung berapi.

Seperti dilaporkan Live Science, daerah ini diklaim sebagai sabuk gempa bumi terbesar di dunia oleh U.S. Geological Survey (USGS). Cincin Api Pasifik merupakan daerah yang memiliki banyak sesar, atau zona rekahan memanjang sekitar empat puluh ribu kilometer mulai dari Chile, Jepang, dan kemudian berhenti di Asia Tenggara. Gempa bumi biasanya terjadi di sepanjang patahan. Sekitar sembilan puluh persen gempa bumi di dunia, dan delapan puluh persen gempa bumi terbesar di dunia terjadi di sepanjang Cincin Api Pasifik.

Mari membuka lembar sejarah. Medio 1815, Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat meletus dan tercatat sebagai salah satu erupsi vulkanik terbesar dalam sejarah manusia. Berikutnya tercatat letus Gunung Toba di Sumatera Utara menyebabkan kepunahan henat atas makhluk hidup di alam semesta.

Masih ingat gempa dengan magnitude 7,0 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu, 5 Agustus 2018. Negeri kita berada di tengah-tengah daerah Cincin Api Pasifik, jalur gempa Sabuk Alpide, serta di atas beberapa lempengan tektonik, termasuk punya banyak gunung berapi, Indonesia adalah salah satu daerah paling aktif secara seismik di muka bumi ini.

Gempa dan bencana selalu mengakrab dengan kita, seperti kisah yang terus berulang. Laksana cinta, selalu ada sapanya, “selamat datang”.

Mengulang dua bait yang sudah tercatat pada pembuka tulisan ini, ini bait pertamanya. Panganoron dan Magayon bercinta menampik perjodohan dengan Pagtuga. Ayah tak setujuh anak perempuannya, Magayon, menjalin kasih dengan Panganoron. Magayon memilih pergi, melintas rimba menemu tualang cintanya. Namun, dikejar anak-panah beracun dari anak buah sang ayah. Bait berikutnya: Panganoron mau menolong kekasihnya Magayon yang sekarat, membungkuk dia, tetiba muncul para pencari dua kekasih itu. Mereka menusuk Panganoron dari belakang, lalu mengubur keduanya.

Kenang cerita cinta di Albay, misteri yang dibawa mati.

O, iya. Hampir saja lupa, Cómo está ditutur Kumusta ka? Serapan dari bahasa Spanyol, menanya kabar ‘how are you’, maligayang pagdating sa Albay adalah dialek Tagalog bermakna selamat datang di Albay. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Estorie

Ekspedisi Militer Eropa

Published

on

By


13 Agustus 2021


Image: A 19th century CE painting by Émil Signol titled “Taking of Jerusalem by the Crusaders, 15th July 1099”. Jerusalem was recaptured from the Muslims during the First Crusade, 1095-1202 CE. (Palace of Versailles, France)
Source: world history


Oleh: Daniel Kaligis


Di sana, gelak tawa kemenangan, sekaligus tangisan dan pekik kematian menggema di ruang-ruang bumi. Seindah apapun susastra ditera pada kertas sejarah, darah sudah tumpah, huruf-huruf ruah, musnah itu tak pernah dapat ditarik kembali lagi ke semesta, selain kenang… 

PEDANG tombak kampak panah pisau pelor pedang bermata maut dan cinta, siapa saja dapat dirasuki dogma mengatasnamakan tuhan-tuhan ketuhanan yang berseru pergilah ke segenap penjuru bumi kobarkan penguasaan koloni-koloni.

Padahal, kemanusiaan adalah intisari dari segala kisah cerita merindu damai sejahtera sebagai injil kekal dan suci di semestanya.

Kenangan untuk hari ini di masa silam, salah satunya adalah tentang pertikaian dan baku rampas situs yang dianggap suci. Perang Salib, pertikaian bertajuk ekspedisi militer Eropa untuk rebut kembali Tanah Suci yang diambil dalam penaklukan Arab.

Inilah tempur, dalam keyakinan para serdadu, bahwa, pada yudha itu mereka melakukan penitence, yakni pertobatan atas dosa-dosa.

Perang Salib Pertama berujung, 13 Agustus 1099, kalah pasukan Fatimiyah yang dipimpin Al-Malik Al-Afdal bin Badrul Jamali, penempur yang dikenal sebagai Al-Afdhal Syahansyah.

Perang, jangan terulang. (*)

Continue Reading

Internasional

Point of No Return Andre Vltchek

Published

on

By

Oleh: Linda Christanty


23 September 2020


DALAM saku celananya, Andre Vltchek selalu membawa batu pemberian ibunya. Batu itu berwarna hijau pirus. Ia tidak merelakannya untuk saya, sehingga Rossie Indira istrinya menengahi perdebatan kami soal batu tersebut dengan menyatakan akan membelikan batu sejenis untuk saya di sebuah toko batu di Jerman waktu ia mengunjungi ibu mertuanya.

Rossie menepati janji. Batu itu masih saya simpan. Karena tidak tahu namanya, saya menyebutnya Batu Andre. Menurut Rossie, saya dan Andre memiliki satu kesamaan sifat, di waktu tertentu kami bisa seperti kanak-kanak: lucu, menggemaskan, menyenangkan, menjengkelkan.

Andre juga mempunyai kamera yang dinamainya Kappa. Di Kuala Lumpur, Malaysia, beberapa tahun lalu, sesudah menghadiri satu acara bersama di George Town Literary Festival di Penang, Rossie dan Andre meminta saya menginap di kamar hotel mereka yang cukup luas agar kami dapat berjalan-jalan sebelum saya terbang ke Jakarta keesokan harinya, dan mereka terbang ke Bangkok. Sebelum kami meninggalkan hotel menuju taman, Andre berkata kepada Rossie, “Jadi Kappa tidak ikut?” Tidak usah. Okay.

Saya bertemu Rossie dan Andre pertama kali di Jakarta, karena diminta seorang teman menjadi editor edisi Bahasa Indonesia buku wawancara mereka dengan Pramoedya Ananta Toer. Teman ini lalu menghilang. Buku itu diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dengan judul  “Saya Terbakar Amarah Sendirian” pada 2006.

Editornya jadi dua orang, saya dan editor KPG. Beberapa tahun kemudian saya kembali bertemu pasangan ini. Mereka berencana pergi ke Aceh untuk penulisan buku Andre yang diberi judul, “Indonesia, Archipelago of Fear”.

Saya mengusulkan sejumlah nama untuk diwawancarai. Kami pun bertemu lagi di Aceh.

Andre telah menerbitkan sejumlah buku non-fiksi dan fiksi, juga membuat beberapa film dokumenter.

Ia meliput konflik bersenjata di banyak negara Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah, antara lain di Kashmir, India, Kongo, Peru, dan Turki. Ia menulis untuk Asahi Shimbun, The Guardian, dan Der Spiegel.

Tulisan-tulisannya juga dimuat CounterPunch.

Film dokumenternya tentang pembantaian 1965, “Terlena-Breaking of the Nation”, diluncurkan pada 2004, sedangkan “Rwanda Gambit”, tentang pembantaian di Rwanda, dilansir pada 2015.

Ia seringkali dekat dengan bahaya. Ia pernah bercerita sampai di muka kamp pelatihan milisi anti Presiden Bashar al-Assad di perbatasan Turki-Suriah. Temannya, sesama wartawan, yang nekad, berada amat dekat dengan kamp itu, yang didanai lembaga intelijen negara adikuasa, dan memotretnya. Milisi dalam kamp dilatih khusus untuk dimobilisasi. Ia juga bertemu anak-anak Turki yang tinggal di perbatasan Turki-Suriah. Mereka bercerita bahwa tidak ada bom jatuh di situ sebelum negara asing menyerang Presiden Assad.

Andre meliput aksi jalanan di Turki yang menentang serangan terhadap Suriah. Pemerintah Turki berbeda sikap dengan para pemrotes. Ia juga mewawancarai putra jenderal yang ayahnya dijebloskan dalam sel oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Di masa Erdogan paling sedikit seratus jenderal ditahan dengan tuduhan kudeta. Assad juga menganggap Erdogan tidak bisa dipercaya. Dalam wawancaranya di salah satu media berbahasa Inggris, Assad mengungkap kekecewaannya. Ia juga menjelaskan dalam wawancara itu bahwa foto pembantaian orang Sunni yang beredar dan dipercaya sebagai ulah rezim Assad merupakan kebohongan. Nama fotografernya samaran, Caesar. Setelah diselidiki tidak ada peristiwa yang dimaksud foto tersebut di Suriah. Tetapi foto itu beredar luas, termasuk di media-media sosial, dan turut menjadi pembenaran untuk menyerang Suriah.

Rossie menyertai banyak perjalanan Andre untuk liputan-liputannya. Sebagian perjalanan dan liputan itu berisiko. Saya pernah menyarankan Rossie agar menulis bukunya sendiri, karena pengalaman-pengalamannya yang kaya. Ia memang sudah menyiapkan naskahnya. Pada 2010, ia pertama kali menerbitkan buku seri perjalanan, “Surat dari Bude Ochie”.

Ketika bom buku mengguncang orang-orang Utan Kayu di Jakarta pada 15 Maret 2011, saya masih berada di Aceh. Sekretaris Jaringan Islam Liberal (JIL) waktu itu, Ade Juniarti, menjawab telepon saya dan menceritakan kronologinya secara rinci.

Seorang polisi setempat yang memeriksa bom tersebut kehilangan tangan kirinya. Tim gegana datang terlambat. Jaringan Islam radikal Jamaah Islamiyah (JI) dituduh bertanggung jawab. Saya teringat Rossie yang membantu Andre mewawancarai sejumlah orang JI di Indonesia untuk bukunya.

Pada hari itu juga saya menghubungi Rossie. Ia tengah mewawancarai narasumber, yang kebetulan salah seorang mentor peracik bom JI, ketika situasi pasca-pengeboman disiarkan televisi. Mereka berada di suatu tempat di Jakarta. Mereka sama-sama melihat ke layar televisi. Narasumbernya tertawa mendengar nama JI disebut sebagai pelaku. “Dia berkata, ‘Itu bukan bom kami. Bom kami tidak seperti itu,” kisah Rossie kepada saya, mengingat pernyataan narasumbernya.

Suatu hari, saat Andre di Jakarta, Rossie mengajak saya untuk bertemu mereka. Setelah makan siang, kami pergi ke toko buku di salah satu mall Jakarta.

Andre marah melihat buku ‘Mein Kampt’ Adolf Hitler dipajang berderet-deret dalam rak, sehingga pegawai-pegawai toko menjadi cemas. Manager toko tergopoh-gopoh menghampirinya, menanyakan apa yang terjadi, lalu menelepon seseorang dan akhirnya membawa kami ke sebuah ruangan di bagian dalam restoran di lantai tersebut.

Seorang lelaki tua duduk di hadapan kami. Usianya saya perkirakan lebih dari 70 tahun. Ia pemilik toko buku. Andre mengungkapkan kecemasannya melihat buku Hitler dipajang berderet-deret, yang bisa saja menginspirasi pembeli, terutama anak-anak muda, untuk membenarkan kebencian terhadap ras atau bangsa atau suku tertentu. Lelaki tua itu menyimak. Ia seolah memahami kecemasan Andre. Seminggu kemudian saya datang sendirian ke toko buku yang sama dan menemukan buku itu masih dipajang berderet-deret dalam rak.

Saya tidak selalu sependapat dengan Andre. Sejumlah tulisannya bahkan bertolak belakang dengan cara pandang dan pengetahuan saya. Tetapi di dunia ini saya bertemu sejumlah orang yang juga tidak sependapat dengan saya. Sebagian tetap berteman, sebagian lagi menjaga jarak.

Secara terus-terang, Andre menyebut dirinya ateis. Ia percaya kepada sosialisme, mengagumi Kuba dan China. Masa kecilnya jauh dari kesusahan.

Andre anak tunggal. Ayahnya seorang Ceko yang memimpin proyek nuklir pemerintah, posisi yang penting dan dihormati. Ibunya seniman keturunan Rusia-China. Sejak kecil Andre sudah terbiasa bepergian sendiri naik pesawat, dititipkan kepada pramugari dan sampai di tujuan untuk dijemput orangtuanya. Ia kemudian menjadi warga negara Amerika Serikat.

Rossie tidak hanya istri, tetapi juga kawan Andre paling setia. Ia mendirikan Badak Merah Semesta enam tahun lalu, sebuah penerbitan yang bertujuan menerbitkan buku-buku Andre dalam Bahasa Indonesia dan buku-buku lain yang dianggap penting.

Mengenang Andre hari ini adalah juga mengenang Rossie, yang tanpa dirinya sebagian liputan Andre mungkin tidak berjalan lancar.

Ketika mengetahui kabar kematian Andre di Istanbul, Turki, kemarin, Rossie muncul pertama kali dalam pikiran saya.

Ketika mobil yang membawa mereka menempuh perjalanan panjang dari Samsun ke Istanbul tiba di muka hotel tempat mereka menginap, Andre yang tidur lelap gagal dibangunkan Rossie. Salah satu novel Andre berjudul ‘Point of No Return’ yang kali ini benar-benar terjadi. Tim medis yang datang menyatakan ia sudah meninggal dunia.

Selamat jalan, Andre. Semoga ada orang-orang yang membantu Rossie di sana dan tidak makin mempersulit keadaannya. (*)


Foto: Andre Vltchek
Sumber Foto: NEWAGE


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Internasional

Menentang Arus Umum

Published

on

By

01 September 2020


Oleh: Linda Christanty


1 September at 20:09
Teman-teman tercinta,
Selamat pagi. Hari ini cerah. Mari membuka pikiran kita.


SEBELUM membaca penjelasan saya lebih jauh pagi ini—bagi yang ingin dan sempat, tidak ada salahnya kita mengingat tauladan Am siki, tokoh bijak dalam novel “Orang-Orang Oetimu” Felix K. Nesi, yang leluhurnya dipercaya lahir dari pohon lontar.

Am siki bersabda, “Jangan dibunuh, sekalipun itu orang jahat. Jangan diperkosa, sekalipun itu kuda”.

Beberapa hari lalu kita telah membaca berita tentang George Karel Rumbino alias Riko yang meninggal disiksa sesama tahanan di Mapolres Sorong, Papua Barat. Ia adik ipar Edo Kondolangit, penyanyi kesayangan kita, dan politikus dari partai berlambang banteng gemuk.

Menurut sebuah berita, keluarganya menyerahkan Riko ke kantor polisi, karena ia membunuh tetangganya. Dalam hal ini saya salut kepada keluarga Riko yang tidak mendukung tindakan salah yang dilakukan anggota keluarga mereka sendiri.

Dalam berita lain, dijelaskan bahwa ia merampok di satu rumah, memperkosa penghuninya, perempuan berusia 70an, dan akhirnya membunuh nenek itu. Dalam sel, tahanan lain menyiksanya. Ia meninggal dunia, karena lemas.

Kalau benar seperti itu kronologi kasusnya, maka ada dua orang yang harus kita bela:
1. Nenek korban perampokan, pemerkosaan dan pembunuhan.
2. Perampok dan pembunuh yang dibunuh.

Namun, isu yang beredar kemudian dikaitkan dengan tindak kekerasan aparat negara terhadap rakyat Papua.

Stereotipe memang mudah tercipta di tengah arus pembelaan kita saat ini terhadap rakyat Papua yang mengalami intimidasi, penyiksaan dan pembunuhan oleh aparat negara.

Stereotipe tentu saja tidak baik. Ia melegitimasi sebuah kesimpulan umum. Ia juga membuat kita melihat segala sesuatu secara  hitam-putih: orang Papua adalah korban aparat negara dan dengan demikian, tidak ada orang Papua yang menjadi pelaku kejahatan.

Meskipun kita semua berjuang melawan kejahatan kemanusiaan yang mengatasnamakan apa pun, kebenaran dan keadilan menjadi landasan dari perjuangan itu. Contoh lain, yang viral belakangan ini, kasus George Floyd di Amerika Serikat.

Kita juga dapat menemukan bahaya stereotipe pada kasus ini. Orang kulit hitam adalah korban (diskriminasi). Dengan demikian, orang kulit hitam tidak bersalah (dalam hal apa pun).

George Floyd yang kasusnya diberitakan banyak media belum lama ini dan diprofilkan sebagai pahlawan anti diskriminasi rasial, juga memiliki fakta lain yang tidak banyak diungkap atau katakanlah, ditutupi untuk menjadikan kasusnya sebuah momentum politik di Amerika Serikat:

George terlibat obat-obatan terlarang dan melanggar hukum. Ia tidak pantas menjadi pahlawan jika demikian. Ia lebih pantas disebut korban jika tindak kekerasan dan pelanggaran hukum oleh aparat negara menjadi penyebab kematiannya. Pelakunya harus dihukum berat, karena perbuatannya membuat korban kehilangan nyawa. Penyebab kematian George juga harus diperiksa, apakah murni oleh penganiayaan atau overdosis.

Kadangkala sebagian dari kita tidak mau membicarakan kasus-kasus ini secara kritis, karena melawan arus umum dan arus umum itu dipercaya tengah menyuarakan hak-hak asasi manusia. Ditambah lagi banyak sekali kasus kekerasan dan pembunuhan yang melibatkan aparat kepolisian selama ini.

Menentang arus umum, sama artinya dengan tidak memihak korban dan dianggap mendukung pelaku.

Hak-hak kemanusiaan Riko ataupun George tentu harus dibela, sedangkan kebenaran dan keadilan harus ditegakkan.

Dalam jurnalisme, kebenaran tidak pernah bersifat mutlak. Kebenaran hari ini dapat dibantah kebenaran yang ditemukan di kemudian hari melalui fakta baru.

Saya akan menggunakan kasus Jessica Wongso sebagai contoh. Ia dijebloskan ke penjara untuk menjalani hukuman selama dua puluh tahun dengan tuduhan membunuh Wayan Mirna. Banyak orang dan media meyakininya, tetapi sejumlah orang menganggap Jessica korban pengadilan sesat yang direkayasa demi kepentingan uang.

Saya termasuk orang yang ragu ia bersalah. Jika fakta lain ditemukan dan membuktikan Jessica tidak bersalah, misalnya, maka kebenaran yang sebelumnya diyakini telah gugur. Jessica pun harus dibebaskan dari hukuman.

Pembebasan itu tentunya tidak akan bisa membersihkan nama dan memulihkan kehidupan Jessica seperti sediakala.

Karena itu, aparat penegak hukum harus menjalankan aturan hukum dengan benar.

Hukuman terhadap seseorang harus berdasarkan bukti-bukti yang sah dan kuat secara hukum. Tapi hal yang sebaliknya sering terjadi di negara ini.

Bagaimana kalau Jessica tidak bersalah dan tetap menjalani hukuman sampai akhir, atau direkayasa kasus bunuh dirinya dengan melibatkan pembunuh bayaran yang disusupkan sebagai tahanan di penjara atau ia dibuat sakit parah hingga ajal menjemput, misalnya? Kita tidak perlu heran jika hal itu terjadi. Apa saja dapat dilakukan di sebuah negara yang aparat penegak hukumnya tidak pernah bebas dari suap.

Wartawan dididik untuk memeriksa fakta dan detail memberinya informasi penting.

Saya teringat pengalaman ketika menulis “Hikayat Kebo”. Saya harus menunggu sekitar satu minggu untuk mengetahui hasil uji forensik tentang penyebab kematian Kebo, seorang pemulung yang tinggal di belakang Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat; apakah ia meninggal dianiaya, lalu dibakar, atau ia dibakar hidup-hidup.

Semasa hidup Kebo gemar menyiksa istrinya. Ia memotong jarinya sendiri. Ia membakar gubuknya dalam keadaan mabuk dan membuat gubuk-gubuk tetangganya ikut terbakar. Kebo adalah pelaku dan juga korban kejahatan.

Pada hari yang ditetapkan, petugas bagian forensik menjelaskan kepada saya bahwa hasil forensik menunjukkan adanya jelaga dalam tenggorokan Kebo. Ia dibakar hidup-hidup.

Menganiaya orang itu kejam. Menganiaya orang, lalu membakarnya sampai mati itu lebih kejam lagi.

Saya menulis tentang Kebo untuk mengetahui praktik penegakan hukum di masa pasca Orde Baru atau di masa Reformasi, dan eksesnya terhadap kehidupan kebanyakan rakyat, seperti kita ini; ketimpangan sosial dan ekonomi masih berlanjut hingga sekarang. (*)


Editor: D.L.A.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com