Connect with us
no

Susastra

Sesepi Altar-Altar yang Membisu

Published

on


Oleh: Sahertian Emmy
Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika
Tinggal di Kupang


Minggu, 06 April 2020


Sesepi altar altar yang membisu…
Dalam hening kutinggalkan…
Dan kubawa madah-madahMu kembali ke rumahku
Tempat sahadatku dilafal pertama kali, melalui tali-tali pusar rahim ibuku
Yang  KAU tenun dengan seribu keajaiban dan kasih
Agar rumahku kembali penuh dengan tarian harapan…

Sesepi altar-altar yang membisu…
Dalam diam kukuras doa-doa…
Dan firmanMu yang tersimpan beku berlumut
Di tembok-tembok tak bertelinga dan tak berhati

Kubiar kosong tak berbekas
Kubawa dan kugelar di lubuk nuraniku pada malam aku berbaring

Pada subuh aku terbangun
Pada siang aku berjalan
Dan pada petang aku berdandan…
Agar jengkal mautku diperpendek
Dan jiwaku menjadi penuh dalam ziarah panjang
Bersama sesama yang terancam terpinggirkan

Sesepi altar-altar yang mengosong…
Biarkanlah menjadi kosong…
Agar tidak lagi dikotori oleh nafsu mengurung surga untuk diri sendiri…
Menimbun belas kasih untuk diri sendiri…
Mementingkan keselamatan untuk diri sendiri…
Maka sengat maut itu meluntur dan berlalu pergi…

Sesepi altar altar yang mengosong…
Dalam teduh kubawa makna simbolMu,
Yang selama ini dikurung dengan pualam untuk diberhalakan

Kini kutaruh di mezbah
Imanku…
Di rumahku…
Agar tak ada lagi jarak denganMu

Sesungguhnya, Tuhan tidak berjarak
Sahabat yang berada dekat…

Tuhan,
Mampirlah bersama kami di sini
Di rumah ini…

Karena sesungguhnya di sinilah tempatMu bertahta
Ketika kami terancam,
Engkau berada tanpa dijatah dan dijadwal
Ketika kami menderita,
Engkau meratap bersama kami
Ketika kami sakit,
Engkau melawat dan menjamah kami
Sesepi altar altar yang mengosong…

Selamat menghayati minggu sengsara Yesus di rumah.


Editor: Daniel Kaligis

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Susastra

Dari Rahim Bunda Tanah Melayu

Published

on

By


12 Januari 2022


Oleh: Jamal Rahman
Penulis adalah Penulis – Sastrawan Indonesia


Tetaplah mendayung dengan legukmu sendiri
Sebab Kulek dan Jungkong
Kan kehilangan pelabuhan
Tanpa buih-buih kecil di tanganmu
Biar suaramu tak segaduh ombak
Teriakanmu tak setajam lengking camar

Dari rahim bunda Tanah Melayu ini
Larungkanlah biduk penuh sunyi
Agar dayung dan peluh ikhlas bersemi
Karena badai gelombang adalah kenduri

Biarkan merdeka jiwa
Tepiskan kungkung kuasa
Tapi jangan kelahi tak tentu pasal
Kelak waktu menjadi muara
Menjelmalah musim teduh dari dalam doa


Natuna, 05 Mei 2017


Continue Reading

Daerah

Menggambar Wajahmu dengan Debu

Published

on

By


10 Januari 2022


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


Aku mengingatnya kembali, saat hujan ingin membangunkan dirimu, angin membuatmu tertidur, hujan itu, hanya dalam mimpiku, saat ini. Aku melihatmu pada daun-daun kering yang jatuh, waktu telah luluh, dan seberkas cahaya pagi yang aku simpan dalam sudut mataku.

Mungkin kau bisa mengenangnya, bila ingatanmu bukan lagi utuh tentang diriku, pesanmu. Pohon akasia yang kau pilih dengan paku, meninggalkan rindu, kau kerat pohon itu, menjadikannya perlambang perasaanmu. Dua burung gelatik mengintip dari ujung dahan, dan terbang dalam lamunan.

Dengan mengenangmu, kau temukan diriku sesuatu yang tak ingin kuberi arti, serupa pecahan waktu yang menyelinap pada ruas-ruas tubuhku, dan jalan angin yang lain menggambar wajahmu dengan debu, dingin, seperti awan kelabu yang ingin membuat langit biru, dibasuhnya debu itu dalam ragu. Disimpannya cahaya yang tak perlu.

Seperti dua arah yang bertemu, melewati batas perjalanan, tentang nilai yang rentan, kegamangan waktu juga ketentuan yang akan patah, akan tiba yang tidak pernah aku tunggu, hilang apa yang kucari, serta tujuan yang aku biarkan tanpa tuju, setelah itu biarlah aku tak pernah memilih apa-apa biar perlambang itu, aku baca dengan gumaman, yang menjadi tanda tanya untukmu. (*)

Continue Reading

Susastra

Sajak Sembilan Kata

Published

on

By


14 Desember 2018


Oleh: Dera Liar Alam
Gambar: Twilight Bira, South Sulawesi


I point to the cloud,
bouncing off your blue


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com