Connect with us
no

Susastra

Sketsa Cacat

Published

on


Oleh: D.L.A. 2009


Anakku sudah lahir…
Tanpa kaki, tanpa tangan dan mata,
Supaya aku menyenangi cacatnya.
Bila malam, tawa anakku menyayat…

Nyonya genit dengan segelas whisky duduk menenangkan sakit jiwa.
Warung-warung baru membuka tenda di emper Gunung Agung, pusat pertokoan yang tak pernah sepi copet dan pecun…

Senja mengintai partikel-partikel sunyi, mengamarkan purnama tak lagi mau turun.
Buntingmu sudah segenap dendam…


NAMA KU-EJA, konsonan lalu vokal tak beraturan: konsonan, vokal, konsonan, bagi anakku yang baru lahir dan mendirikan partai. Tetangga enggan memanggilnya, “Susah sih nyebutnya,” dengus mereka.

Tentara dan polisi lalu mengadili namanya di koran-koran. Pengamat politik menuding keengganan tetangga sebagai kewajaran. Dan memang, mereka enggan belajar mengejanya.

Dosa apa yang dibuat kata, hingga kalimat menuduh makar bagi ayah dari anak semata wayang, yang di negeri seberang bukan lagi barang baru. Yang lahir duluan, malah sudah beranak-pinak dan menjelmakan peradaban. Walau tak sadar peradaban itu purba.

Anakku.

Sudah pinter berdiri, tidak polio walau tak diimun, maklum tak punya kaki. Ia tak doyan ASI, ibunya sudah jadi tiri karena negara membiarkan tabir gender jadi misteri. Kami berdua lebih sering ngobrol sambil makan ketela dari Papua. “Kita mesti menanamnya di ladang kita, ayah! Sebagai bekal seandainya krisis pangan datang lagi di wanua kita,” anakku mengomel sambil menelan kulum ketela colo bubuk.

Sayur-mayur hijau tinggal kenangan ladang revolusi. Kutanami lagi, agar bersemi bagi anakku tersayang. Ia mengikuti ke mana paculku menggali, ia menutup lubang dengan menggulingguling badan supaya tanah rata dan liat dengan bumi.


Tujuh tahun silam anakku masih merah belia dan mulus, sekarang penuh lumpur karena sering main di tepi sungai sambil mengintip bangau sawah yang memanjakan kakinya di air dangkal.

Hari ini, seperti biasa, kami ngobrol di atas bale-bale sambil makan ketela dengan lahap. Aku mengajari anakku tanpa sendok dan garpu, lalu membisikkan keraguan teori kalkulus dan menyimpan memori ibunya cantik seperti monyet birahi. Mengendus-endus anakku makan. Dan aku boleh menangis setelah ia kenyang. “Ibumu masih padat menggairahkan, nak.”

Matahari dungu, sinarnya terhalang daun bambu dan atap rumah kecilku. Aku lebih dalam memperhatikan berkas-berkas sinar yang jatuh dari celah tirisan yang banyak lobangnya. Kemana mataku, anakku selalu melirik dan menertawai kebosananku menghitung lobang demi lobang yang kian hari kian makmur melebar, memberi kami langit yang luas untuk memuja mendung. Anakku, matahariku. Makan dengan lelap dan lahap. Maaf! Ayah memaki peranmu yang mengancam perang nuklir. Sawah kita diairi privatisasi, sesungguhnya perang yang nanti bukan lagi memperebutkan area minyak dan logam, tapi merampoki air dari kutub hukum adat.


Perjalanan panjang, debar hati memaknai bahwa ruang-ruang sudah sunyi. Nyonya genit, whisky merembes pelan, debar bertambah kencang dan tak beraturan. Dimakinya dinding penuh coretan. Dibeber semua kemesuman kencing tertahan, atau biar saja pagi gelap bagi malu menatap cermin, ia tidak muda lagi. Kerut-kerut di raut dinginnya seakan garis bekas pedati di jalan tanah. Lampu-lampu padam, dan kisah koran tentang pembunuhan di gang tujuhbelas, pagi itu diteguknya. “Anakku sudah dewasa,” hembus nyonya di nafasnya wangi alkohol.

Taksi melaju mundur dan berhenti di entrance-gate motel. Nyonya turun. Dengan enggan menyodorkan puluhan ribu ke sopir yang gemas memegangi paha nyonya di setiap kelokan. “Sampai jumpa, orang gila.” Nyonya mengedip lalu menghilang di pintu motel.

Pelayan menghidupkan water heater, lalu mengetuk membawakan segelas sirop dingin di nampan bertatah tissue. Bubur ayam, pil, dan bumbu pedas sarapan nyonya. Diraihnya remote, easy listening menurunkan debarnya dalam tub, tangannya bergerak-gerak memainkan jari di air berbusa. Sekali-kali menebar air ke raut lalu membenam seluruh tubuhnya yang gamang.

Badan berbalut kimono, nyonya meraih sirop dan menyeruput hingga tandas, menuju bed lalu pulas, sampai sore membangunkan mimpi buruknya.


Handphone berderak-derak di meja pojok dibiar. Kakinya meregang-regang, merenung kejadian di taksi. Senyum merekah, ngantuknya datang lagi.

Motel di tepi teluk, dengan leluasa mata boleh membaca derai gelombang. Pepohonan hijau tua ada di tiap sisi bangunan dengan pondok-pondok kecil berpayung parasut warna-warni dan lampu taman redup, kontras dengan wall batu berlumut liar yang menjadi latar. Malam dari terrace, laut terlihat hitam, sesekali titik cahaya melintas jauh di ufuk, lalu hilang. Untuk masuk ke lokasi itu, dari highway membelok tajam, mengikuti setapak tanah, melintas padang luas dengan pepohonan rendah arah timur laut. Member saja boleh nginap di sana.


Pesan-pesan di layer hand phone satu-satu dibaca:

Msh bo2 ya? Lu ga ktr Mod, ada excutf bru, hndsome sx lo. Qo hpmu gak d-angkat say? Met istrht ya.. mmmmuach….mmmuach!!! Sry duitnya krg, tgl tua sich. Ini nomer siapa y? u serve me better, tx! Mama lulu ud ditransfr duitnya, tx GBU mom!….mmmuach!! Need u some how, bsk sy dr tkyo 17.50, ktm dtmpt biasa…Arigato!!! Mama qo ga djwb??? Lg nunggu d dpn sogo. Ordinary place. Ada dmna? BLZ!!!


Anjing peking nyebrang ditendang subculture yang nangkring di trotoar jalan Bumi, tuts-tuts organ tanpa bunyi dipencet-pencet. Gitar butut dawai lima, masih merdu merayu. Lengking kondektur memaksa lari penumpang memenuhi bus, sore kembali bergelayut.

Aroma sate jalan Jaksa ditonton pengemis bocah, ia meludahkan ngilernya seraya memaki laparnyA, “Pelit lu!” umpatnya sambil berlalu meninggalkan hawa apek di udara kampungnya yang sudah jadi ibukota. Dua hippies bau terkekeh-kekeh menuang gin dari gelas ke mulut. “Fuck, I hate this moment, I really want you lips then this mother fucker….” Pasangan sejenis itu mabuk kesiangan.

Bunga-bunga kusut beringsut ke trotoar, memasang senyum paling asoy ke setiap yang lewat.

Nyonya nanar depan mini laptop menyelesaikan weekly selling reportnya, diam sejenak, screensaver cacat bermain di layar menendang-nendang jantungnya, sebutir lagi pil ditenggaknya diikuti soda dingin mendiamkan rasa entah apa, tapi kian kental.

Di luar ruang gulita menjangkitkan hitam ke pelosok teluk, sabit merah di sudut langit terhalang daun-daun bakau. Perempuan kembali berguman, “Anakku sudah dewasa.”


Hampir malam, aku melamunkan laut. Kapal-kapal berisi produk organik meninggalkan dermaga. Dari sisi sungai ini, aku bebas melihat lurah terjal tak lagi dilindungi pohon. Pinggir hutan sudah terbakar, berganti topeng beton. Tiap hari anakku menempel di sana bukan untuk belanja.

Seperti biasa, lepas magrib ia ke sungai yang airnya keruh dan cetek, untuk sekedar mengusir penatnya berguling, lalu kembali beranjak ke topeng beton.

“Untuk menonton moderenisme,” kata anakku berargumen.

“Aku punya kawan banyak sekarang, mereka suka menitip tas mereka sebelum masuk ruangan. Aku sudah dibelikan kalung tanda jadi anggota mereka, kami janjian membuat tesis tentang hewan langka. Kata mereka aku akan diteliti dan dipasangi kaki-kaki juga dipasangi tangan dan mata-mata. Tapi, aku masih pikir-pikir, hatiku sudah cukup tajam menerawang. Aku tak butuh mata. Mereka walau punya mata masih suka kepentok. Aku jadi ragu, kalau aku dipasangi semua itu nanti kepentok juga. Kalau dipasangi tangan nanti aku jadi pengemis juga. Aku kasihan melihat pengemis menadahkan tangan. Aku tak mau jadi pengemis.” Panjanglebar anakku bercerita saban malam.

Anakku sudah menamai dirinya sendiri, setiap kutanya ia menghindar. “Namaku panjang sekali, ayah.”

“Bilang saja, ayah pengen tahu.”

Ia menggeleng, kalungnya berayun. Aku berusaha membaca apa yang tertulis di kalungnya. Namun, yang tertera di situ bukan aksara. Mungkin kode pin, atau apa. Aku makin penasaran dengan perangai anakku. “Tutup matamu ayah, aku mau bermain sulap.” Dan ketika kubuka mataku kalungnya sudah menghilang entah di mana. Sejak itu, kalungnya tak pernah lagi menggantung di badannya. Kalau kutanya ia selalu bilang “graplenganacumatukalongitunganamotanyatanya.”


Malam jauh merambah rimba, pematok logam penanda batas masih giat. Denting masuk ke tiap sudut rumahku. Aku susah terlelap, dentingan itu ibarat bunyi bedil di masa perang. Anakku tidur menggeleng-gelengkan kepala, dengkurnya bersaing dengan denting logam.

Aku jadi kebelet, berlari ke sungai dan meraba-raba. Lampu padam di sekitar lurah, kuhentikan langkah. Perangainya aneh. Kaki-kaki berlompatan, entah girang, entah berjoget, entah kurang kerjaan. “Pergiiii, pergi…, pergi!”

Nyanyi nyaring pematok logam penanda batas menghalau kaki-kaki. Kaki-kaki kesurupan menendang dinding-dinding. Larinya seperti derap kuda. Pergi, topeng beton! Yang ditendang bertambah kukuh. Mata-mata ada di mana-mana, “Kita negosiasi saja!” Tanah ini punya sejarah yang kami tulis dengan darah. Tanah membumi issue, di mana sungai boleh mengalir menghanyutkan lembar-lembar sejarah.

“Sungai itu, mana sungai? Tadi sore masih di sini, sekarang sudah hilang.”

Aku bersumpah mempertahankan rumah kecilku dekat sungai yang hilang, apapun terjadi. Benar juga obrolan kemarin dengan si cacat, bahwa aku harus lebih giat memacul bumi, menanam ketela, cabe dan kelapa. Harga garam akan naik nantinya, walau garam terjual hambarnya pantai-pantai berubah tembok mewah, dan nelayan enggan melaut.

Perahu-perahu beroda kredit menghias bekas tambatan perahu, berseliweran menawarkan jarak yang dipersingkat waktu. Produktivitas yang terbantai kewajiban menyetor ke dealer, perpanjangantangan vampir.


Dari rinduku membawanya kembali menghirup sejuk kabut wanua. Kucari ibu si cacat. Kubawa malamku menggumuli monyet birahiku. Angin, terik gerimis, peluh membasa di sekujur lurah, mengairi sungai kering. Aku mengganti pematok penanda logam menghunus bambu-bambu muda.

Aku rela menjadi buta supaya tak pernah memandang rautmu. Melupa dendam, agar aku mengasihi engkau tanpa syarat.

Lahir baru, lahir cacat dan tak pernah bersungut untuk alam yang asing bagi jiwanya. (*)


Hak cipta tak dilindungi apa-apa.
Yang tidak biasa, dilarang baca, nanti ketagihan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Susastra

Geladak

Published

on

By


07 Oktober 2021


Kisah laut, Jhiva, laut tak bertepi yang pilu hitam abu-abu legam ombak gelombang badai, doa, dan cinta…


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


KAU sudah menyiapkan waktu, di geladak saat buritan dihantam badai dan ombak. Kau ingin bercerita tentang laut pada anakmu, di bawah payung malam, di dalam hati yang legam sekawanan paus mendengus menuntun huruf-huruf pada waktu yang akan menuliskan namamu pada batu.

Kau berdiri, malam ini di tengah lautan yang tak bertepi di antara ombak yang menghantam ulu hati, kepasrahan adalah kepatuhan yang kau benci, di tengah badai dan ombak, di antara bau anyir yang merebak bergerak ke geladak, kau mencintai laut seperti kau mencintai anakmu. “Jhiva…, Jhiva…,” kau berseru di tengah laut yang pilu, hitam dan abu-abu legam dan biru warna kesukaan anakmu, anak yang kau cintai seperti laut.

Apa yang kau terima setelah kau mencari, kau berdiri menatap laut yang tak bertepi mengingat anakmu, anak satu-satunya, kau memejamkan mata lalu berdoa meski kaupun tau doamu seringkali tak sampai di sana, dibungkam angin yang membara.

Kau melemparkan jala-jala di tengah badai dan ombak berharap ikan-ikan mendekat dalam jala-jalamu. Kau sadar di darat kau tak punya tempat. Tak ada ikan-ikan yang mencintaimu di darat dan itu membuatmu seperti sekarat. Di darat apa yang dapat kau lakukan selain hanya menunggu, karena hanya laut yang membuatmu masih bersitaut, sambil menatap laut ingatanmu di hantam ombak.

“Ayah…, ayah…,” panggil anakmu waktu itu sambil menunjuk-nunjuk layar televisi — pesta pernikahan, berita korupsi, peresmian proyek pembangunan, kompetisi menyanyi, wisata kuliner, ah terlalu banyak untuk disimak. Perahumu bergoyang-goyang dimainkan ombak.

Angin bertiup sangat kencang. Kau tak melihat ada petunjuk dari bintang, langit sendiri tinggi dan kelam. Kau tak beranjak, masih memegang erat tali jala yang kau lemparkan di tengah gempuran rasa rindu, suara ombak tak berhenti menderu, dalam jala-jalamu.

Kau ingin tongkol-tongkol itu terperangkap, berharap angin dan badai reda saling berdoa pada perahumu dan tongkol-tongkol itu dapat kau bawa pulang untuk Jhiva anakmu yang selalu menangis saat kau bercerita tentang laut.

Tapi, seperti di darat yang mengajarimu kesabaran, dendam, dan kepalsuan. Kau melihat buih-buih laut terombang-ambing dipayungi lengkung langit yang kelam. Kau tak melihat karang yang garang. Kau seperti melihat kelopak-kelopak bunga kamboja berceceran terseret ombak mengapung terombang-ambing dalam buih-buih keruh di lautan.

Ya Tuhan…

(*)

Continue Reading

Susastra

Mantra dan Kita

Published

on

By


24 September 2020


Oleh: Daniel Kaligis


Alir arus menepi di bumi asing,
setapak sunyi danau buatan.

Kita bermain kecipak air,
menanti sore pulang mengulang mantra.

Lereng-lereng menabuh gema berulang-ulang.
Rimba, alang-alang, gubuk tua sudah roboh.

Foy-doa, prere, foy-pai, sunding-tokeng, sasando, heo:
angin sapu badai hanyut aroma santalum-album dari pulau sebelah menghisap mantra.

Dramaturgi, fiesta, pemanggil hujan meratapi langit, gunung, awan, lautan, perahu-perahu menjauh. Dewi dewa menitip mantra pada tangis fana bayi: o nea, aida oba tapim anasu, a serla muku salara dumu, so mi amuru, ilu aroko wong tamudu aida amidi…

Anak-anak baca persepsi, doa panjang-panjang.
Kurikulum berbisnis kertas dan mantra, mendaur bimbang pandemi.

Ruang kelas sepi dan mahal, guru-guru berkelekar orientasi kelamin-kelamin bidang studi petualang hilang ibu-bapa leluhurnya oleh mantra…

 

 

 

Continue Reading

Alor

Kepa: La P’tite

Published

on

By


11 September 2021


Oleh: Dera Liar Alam


NUHAKEPA

Ada tiga nelayan, duduk di tepi, menanti tumpangan. Mereka membawa galon air, ubi dalam karung, tas anyaman, dayung, sirih, pinang, tembakau.

Hari siang, terang-benderang. Kami membincang La P’tite.

Beta, menera sajak: cinta jauh di seberang.

#Trip #1607 #AlorBaratLaut

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com