Connect with us
no

Nasional

Super 11

Published

on


Oleh: Daniel Kaligis


Ingat masa sekolah, kawan-kawan yang tidak pinter mengetik disebut ‘mengetik sebelas jari’. Maksudnya, kami yang tidak pinter mengetik itu cuma pakai telunjuk kiri kanan saja, sementara delapan jari lainnya nganggur. Ini bukan artikel super dan berkelas, hanya ingatan untuk memicu kenang pada angka sebelas

TUMPUKAN kertas, kumpulan teks, lebih dari sebelas lembar. Demikian saya catatan ini ketika purnama mengintip dari ruko-ruko yang menjual alat elektronik di jalan Gunung Merapi, membelok arah jalan Sungai Pareman. Sore usang, dan malam baru saja beranjak. Berkas jingga mengental biru, seperti kenang itu, angka sepuluh akan bergeser beberapa ketika tuju sebelas.

Membaca angka sebelas, sepuluh tahun silam saya membuat sajak menggugat sebelas. Kemudian, Oppy FritSia, kawan saya, menjawab sajak itu: Jagad raya, ruang-waktu. Rangkaian noktah-noktah, pernyataan keberadaan aku, kau, kita. Laron-laron berterbangan. Berlarian memburu cahaya. Lalu, terkulai lemah di sayap-sayap usang.

Sajak ditebas untuk angka sebelas di negeri kita.

Surat hilang tanpa bekas. Kuasa suduh menjajah puluh tahun, kemudian tuntas. Walau kasus tidak pernah kelar dibahas. Menjadi caci-maki para penganut mapanisme: Bungkam, tentara berkelahi, intervensi geopolitik, bunuh massal, penghilangan paksa, penyiksaan, kekerasan seksual, konflik horizontal, dan seterusnya.

Tiada kenang ulang sebelas. Orde Baru berdiri di atas tumpukan kertas sebelas Maret berpuluh tahun silam. Kenangan itu identik dengan nama penguasa, Suharta, Suharto, nama atas harta-harta.

Hari ini, 11 Maret 2020, saya membaca starting topic seorang kawan aktivis dan penulis, Soe Tjen, “Hari ini adalah peringatan bahwa seorang bernama Soeharto sudah berhasil berkuasa selama 32 tahun, dengan surat yang katanya hilang.” Masih hari yang sama, berselang beberapa ketika, Soe Tjen menulis lagi, “Presiden Soeharto lebih tepat dijuluki Presiden Tuyul, karena ahli menghilangkan. Dari surat mandat, kekayaan negara, sampai nyawa aktifis, semua bisa hilang tak berbekas.”

Saya, membolak-balik halaman buku, Ulf Sundhaussen (1982) – The Road to Power: Indonesian Military Politics 1945–1967, Oxford University Press. Mencari pertalian peristiwa, membandingkan cerita yang saya peroleh dari para penyintas di masa lalu.

Orang-orang di negeri ini masih bertikai kata, beradu argumentasi, persepsi, asumsi. Entah apa hilang dari kisah negeri kaya raya, di masa lalu diincar ‘Barat’ karena sumberdaya alam, dikagumi karena keragaman. Lalu, sekarang semua seperti suram, saling rebutan.

Sejarah seperti tudung kabut, gulita.

“Keberadaannya  mustahil,  tak  terjelaskan,  dan  membingungkan  sekaligus. Ia masalah yang tak bisa dipecahkan. Tak terbayangkan bagaimana ia menjadi ada, bagaimana ia berhasil mencapai sejauh itu,” tulis Joseph Conrad, dalam ‘Heart of of Darkness’ (1902).

Dendam Sejarah

Propaganda sistem sudah mengakar puluhan tahun, bila ditarikcabut carang-carangnya, maka, jantung kita boleh jadi ikut terjerat sejarah berdarah. Propaganda masih bermain pada permukaan sistem. Generasi yang kurang literasi, malas baca dan instant, hasilnya adalah tukang tuduh, tukang curiga pada perubahan.

Dendam memanjang sepanjang perjalanan sejarah, salah satunya adalah karena kemiskinan. Deretan rakyat berbaris, tergantung pada karung-karung beras yang disebut sebagai bantuan. Padahal, pada suatu ketika, beras boleh jadi bertajuk loan.

Cerita silam yang gamang. Dalam Menyabit Mindset, saya menera kisah: orang-orang traumatis dari 1949 hingga 2015, tergambar jelas ribuan kebingungan sejarah dalam deret peristiwa, lalu gamang menebal lepas dari enam lima, sebelas Maret seribu sembilan ratus enam puluh enam, sampai hari ini.

Ayah saya, pensiunan tentara dari battalion Worang, tapi hak pensiunnya tidak diurus lagi karena keruwetan sistem negara. Ketika pulang kampung dan kawin, ia memilih mengajar di sekolah dasar swasta di Minahasa, hingga ia wafat.

Dari dia saya beroleh banyak kisah. Prihal peristiwa enam lima. Dia pernah menutur tentang oom Marthin, oom Henky, dan oom Beno dikejar-kejar tentara ingin dihabisi karena dianggap komunis. Oom Yus dibenci waktu aman pergolakan Permesta karena dianggap mata-mata.

Sederet terminologi ala perang ditularkan. Nama-nama pasukan, simbol-simbol, dan model senapan. Barisan Pemuda, Jin Kasuang, Tengkorak Liar, Gagak Hitam, topi baja, baret coklat, sangkur, mauser, sub-machine gun, assault rifle, rocket launcher, dan seterusnya. Mana-lah bukti kawannya yang dieksekusi di gunung Lengkoan?

Hanya tumbuhan penanda batas tanah yang ia tancapkan sebagai sandi di hutan, yang klak, ketika keluarga mencari orang yang terbunuh itu, dapatlah mereka menemu tulangbelulangnya.

Aroma curiga dan balas dendam mengalir laksana sungai berliku-liku bagi history sekitar tahun 50-an hingga tahun 80-an. Era 80-an di sekolah dasar, bila malam saya belajar dengan penerangan teplok di ruang rumah kami yang terbatas. Buku-buku tua berderet di rak reyot, bahkan ada buku yang disusun di atas lantai tanah. Haus hal baru dipenuhi dengan membaca buku-buku itu.

Masih di Menyabit Mindset. Distorsi sejarah beroleh bantahannya. Tim dokter yang diketuai Brigjen TNI Dr. Rubiono Kertapati dengan visum et repertum nomor 103, 104, 105, 106, 107, 108, 109 – untuk tujuh korban enamlima, menyatakan tak ada bekas penyiksaan dalam tubuh korban seperti yang disebut media pada saat itu seperti pencungkilan mata, dan sebagainya.

Kebenaran visum itu diperkuat kesaksian Dr. Yahya pada medio 2007. Dr. Yahya adalah murid salah satu tim dokter yang melakukan visum terhadap para korban tragedi 1965. Ia pada akhir tahun 2007 telah menemukan bukti hasil visum yang menjelaskan bahwa memang tidak terjadi hal-hal yang dituduhkan pemerintahan Orba, Soeharto.

Walau, misteri sejarah negeri ini belum sepenuh diungkap. Walau, Pasal 1, Universal Declaration Of Human Rights, menyebut, “Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan,” babad negeri kita masih limbung-bingung sebab penyeragaman buah pikir anak bangsa telah merasuk dalam daging, dalam darah, dalam tulang.

Resapi takut. Dalam kampanye parpol saling tuduh komunis masih menakutkan beberapa orang. Saya menyapa kawan lewat sajak ‘jejak’, setelah untuk kesekian kali lintasi gerbang KLIA, Malaysia. Seperti drama copyright dipulung negeri seberang, pulau-pulau dan batas tergadaiterjual, siapa meradang?

Twilight di negeri kita bertabur cahaya, lalu kelam merampasnya. Saat menuliskan sajak itu, 16 Juni silam, twilight terasa lebih panjang karena syair awan penuh warna: di sana salammu mengental merah jingga biru berdarah berasap. Bola lampu semesta sejarah kita ada di bawah hitam gulita: gelombang nasib menepikan perahu-perahu mereka (yang) terusir isme suku-suku isme bertuhan-tuhan.

Nama sejumlah kabar, diburu warta untuk iklan penghapus aib, sepasang jejak di pesisir berpasir berlumpur bernoda, diterpa arus demokrasi korup berperut buncit tuntutan karma.

Sistem keras tengkuk punya jawaban yang sekian lama bersarang dalam benak anak-anak bangsa. Selama penguasaan Orba, lembaga pendidikan merupakan ‘ladang’ penyeragaman isi kepala.

John Roosa, dalam kata pengantar di Dalih Pembunuhan Massal, menggambarkan bagaimana propaganda disusun oleh sistem dalam buku-bukunya. “Dokumen-dokumen internal rezim Suharto lebih terus terang. Kebetulan saya menemukan buku yang ditulis Lemhanas pada 1968 untuk pejabat-pejabat pemerintah yang persis mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas. Buku 80 halaman ini ditulis dalam bentuk tanya-jawab.”

“Berikut satu bagian tentang tanggungjawab PKI: Pertanyaan: Apakah benar bahwa G-30-S/PKI yang menggerakkan adalah PKI dan apakah setiap anggota PKI tentu terlibat dalam G-30-S/PKI? Jawab: Benar. Bahwa G-30-S/PKI digerakkan oleh PKI telah dapat dibuktikan baik secara fakta maupun secara hukum di depan sidang-sidang Mahmilub yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara tokoh-tokoh G-30-S/PKI,” tulis Roosa terkait apa yang ia dapatkan sebagai bahan tulisan di Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto.

Namun, di buku itu tegas Roosa menyebut, “Saya tidak puas dengan kedua poin jawaban itu. Poin pertama, persidangan-persidangan Mahmilub tidak membuktikan bahwa PKI mendalangi  G-30-S.”

Buku ‘Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto’, pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul ‘Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia’. ©2006 The University of Wisconsin Press, Madison, USA.

Propaganda dendam sejarah ada filmnya. Masih giat ditonton bila dikomando sistem.

Saya tak berkesempatan manakala kawan-kawan berbondong-bondong menuju bioskop menonton film propaganda 1965 buatan Orba. Nanti pada era 90-an, saat duduk di sekolah lanjutan di Jakarta, film itu dapat saya nikmati di televisi karena diputar ulang setiap tahun dan setiap ada kesempatan.

Di masa itu, bacaan alternative semakin banyak beredar di bawah tanah. Sempat membaca sebagai perbandingan. Coercive institution, lalu koyak. Tahun 1999 aktivis berkumpul. Beberapa terminologi kami ungkap: Nasakom, Ganyang Malaysia, Gestapu, Jakarta berdarah, pemuda rakyat, jenderal, RPKAD, visum et repertum. Fakta diungkap.

Suharto dan Orba ditumbangkan. Saat reformasi bergulir, ada nama yang disebut-sebut terkait seluk-beluk Supersemar. Letnan-Satu Sukardjo Wilardjito, Pengawal Presiden Sukarno yang bertugas pada 1966. Pengakuannya Letnan-Satu Sukardjo Wilardjito teramat sering dikutip media massa pasca1998.

Letnan-Satu Sukardjo Wilardjito menyatakan dia ada di Istana Bogor, 11 Maret 1966, pukul 01.00 dinihari waktu setempat. Dalam peristiwa itu, Brigadir Jenderal M. Jusuf membawa map berlogo Mabes AD – berwarna merah jambu. Brigadir Jendral M. Panggabean dan Brigadir Jendral Basuki Rahmat menodongkan pistol ke arah Presiden Sukarno, memaksa sang Presiden menandatangani surat itu. Menurut Letnan-Satu Sukardjo Wilardjito, itulah Surat Perintah Sebelas Maret yang tidak jelas apa isinya.

Pada saat itu, Letnan-Satu Sukardjo Wilardjito bertugas mengawal Presiden. Dia membalas menodongkan pistol ke arah para jenderal, namun Sukarno memerintahkan dia untuk menurunkan pistolnya dan menyarungkannya. Presiden lalu menandatangani surat itu, dan setelah menandatangani, Soekarno berpesan kalau situasi sudah pulih, mandat harus segera dikembalikan.

Pertemuan bubar, para perwira tinggi itu kembali ke Jakarta.

Presiden Soekarno bilang pada Letnan-Satu Sukardjo Wilardjito bahwa ia harus keluar dari istana. “Saya harus keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati,” ujarnya menirukan pesan Presiden Soekarno. Tidak lama kemudian, sekitar berselang 30 menit, Istana Bogor sudah diduduki pasukan RPKAD dan Kostrad, Letnan-Satu Sukardjo Wilardjito dan teman-temannya sesama pengawalnya dilucuti dan ditangkap. Mereka dikurung di rumah tahanan militer dan diberhentikan dari dinas militer. Beberapa kalangan meragukan kesaksian Soekardjo Wilardjito. Jendral (Purn) M. Jusuf dan Jendral (purn) M Panggabean membantah peristiwa itu.

Kudeta kekuasaan, bermuara Supersemar. Tercatat, buku-buku sejarah di masa Orba menulis surat perintah ditandatangani Presiden Republik Indonesia Sukarno pada 11 Maret 1966. Surat ini berisi perintah yang menginstruksikan Suharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu.

Surat Perintah Sebelas Maret versi Markas Besar Angkatan Darat tercatat dalam buku-buku sejarah. Sebagian kalangan sejarawan Indonesia mengatakan bahwa ada berbagai versi Supersemar sehingga masih ditelusuri naskah supersemar yang dibuat langsung oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor.

International People’s Tribunal

Hampir lima tahun, pascapengadilan di Belanda, 10 Novemver 2015 – 13 November 2015, International People’s Tribunal tentang tragedi 1965, sudah terselenggara di Den Haag. Ada seribu dua ratus halaman penelitian terkait tragedi 1965, dipersiapkan Nursyahbani Katjasungkana, yang pada saat itu merupakan Koordinator Umum Penyelenggara International People’s Tribunal.

Nursyahbani Katjasungkana, 16 November 2015, manakala diwawancarai Rohmatin Bonasir, jurnalis BBC News Indonesia, mengatakan bahwa International People’s Tribunal adalah langkah awal supaya generasi muda beroleh perspektif sejarah yang jujur. “Ini upaya pengungkapan kebenaran dan pelurusan sejarah agar generasi muda mendapatkan sejarah negaranya yang jujur. Ini semacam ‘penyembuhan bagi korban’, karena setidaknya organisasi HAM internasional atau masyarakat internasional secara umum mengakui adanya kejahatan HAM berat yang dialami para korban dan wakil-wakilnya.”

Bagaimana tanggapan pemerintah Indonesia? Lama tanpa jawaban, International People’s Tribunal sudah sekian waktu berlalu. Luhut Binsar Pandjaitan, ketika dimintai keterangan terkait International People’s Tribunal oleh jurnalis Kompas, Kristian Erdianto, pada 20 Juli 2016, dalam kapasitasnya sebagai Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut menyebut yang mana Indonesia tidak akan mengikuti putusan Majelis International People’s Tribunal untuk meminta maaf atas kejahatan kemanusiaan 1965.

Padahal, sebagaimana ditulis Kristian Erdianto, bahwa majelis hakim di International People’s Tribunal tragedi 1965, menyebut ada sepuluh tindakan kejahatan kemanusiaan di Indonesia pascaperistiwa 1 Oktober 1965. “Majelis hakim menyatakan Indonesia bersalah, dan harus bertanggungjawab atas kejahatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Hakim Ketua, Zak Jacoob, menyatakan pemerintah Indonesia harus minta maaf kepada para korban, penyintas, dan keluarga korban,” tulis Erdianto di di Kompas, 20 Juli 2016.

Sejarah Mendaur Sama Tak Serupa

Hari ini di masa silam. Heliogabalus, tercatat dalam The Catholic Encyclopedia. Dia adalah Kaisar Romawi mulai tahun 218 Masehi sampai 222 Masehi. Anggota Dinasti Severan. Pada awal masa mudanya, dia mengabdi sebagai pendeta dewa matahari Elagabal di kota keluarga ibunya, Emesa.

Nama Heliogabalus, seperti gema purba dan asing mengitar pegunungan Apennini. Area yang membentang sekitar seribu dua ratus kilometer dari utara hingga selatan Italia di sepanjang pantai timur, dengan lebar maksimum seratus empat puluh kilometer. Puncak tertinggi pegunungan ini adalah Corno Grande, 2.912 meter, yang selalu beku tertutup glasier. Di sana ada sungai Tiber, orang-orang Italia menyebut sungai itu Tevere.

Tertera, 11 Maret 222. Sang kaisar, Heliogabalus dan ibunya, Julia Soaemias dibunuh Garda Praetoria. Tubuh Heliogabalus dan Julia Soaemias dimutilasi, diseret sepanjang jalan-jalan di kota Roma, lalu mayatnya dihanyutkan ke Sungai Tiber.

Garda Praetoria adalah pasukan pengawal pribadi yang digunakan para Kaisar Romawi. Mereka juga ditugaskan sebagai polisi rahasia dan ikut dalam perang. Garda Praetoria digunakan pada masa Republik Romawi untuk para jenderal Romawi semenjak meningkatnya pengaruh keluarga Scipio pada sekitar tahun 275 Sebelum Masehi.

Kisah panjang Garda Praetoria, keberanian mereka, propaganda, kudeta, pertikaian, persaingan, skandal, revolusi, bahkan cerita asmara. Para pengawal berani ini gardanya dibubarkan Kaisar Konstantinus I pada abad keempat Sesudah Masehi. Penting dicatat, Garda Praetoria berbeda dari Pengawal Pribadi Kekaisaran Jerman yang memberikan perlindungan yang sangat pribadi untuk kaisar-kaisar Romawi awal.

Teror berulang-ulang, membawa takut, gelisah. Serangan bom kereta komuter di Madrid, Spanyol, menewaskan 192 orang dan melukai 2.050 korban lainnya. Peristiwa ini terjadi pada 11 Maret 2004. Ledakan terjadi berkali-kali pada dini hari. Tercatat, teror menjadi serangan terburuk yang pernah dialami Spanyol. Media memberitakan teror ini lebih keji dari serangan teror 1987 di salah satu supermarket Barcelona.

Balas dendam sejarah yang berulang di sebelas. Serangan bom kereta komuter di Madrid membikin partai politik Perdana Menteri Spanyol, Aznar, kalah dalam pemilu beberapa hari kemudian. Diklaim teror dilakukan kelompok tak dikenal yang ada hubungannya dengan Al-Qaida. Eksekutor teror ingin menghukum Spanyol yang ikut mengirim tentara ke Irak, membantu Amerika Serikat.

Kenang tak selalu tentang perang dan pengkhianatan. Kadang tarian, lagu, irama. Media 11 Maret 1851, Opera Rigoletto karya komponis Giuseppe Verdi dimainkan pertama kalinya di La Fenice, Venesia. Inilah pentas panggung dramatik tiga babak yang digubah Giuseppe Verdi. Libretto Italianya ditulis Francesco Maria Piave berdasarkan drama pementasan Le roi s’amuse oleh Victor Hugo. Pertunjukan pertama opera ini dimainkan di Gran Teatro La Fenice.

Laste

Bagi Indonesia, kenang 11 Maret 1966 adalah penanda, sistem berubah, senjata menodong nurani dan cara pandang. Kemajuan yang dicita-citakan seperti gegar gegap gempita buku sejarah tentang masa depan penuh harapan, ternyata kandas di landasan, sebelum tinggal landas.

Ada saat mengulang kenang, bercanda, serius, merenung, menangis, cekikikan, terbahak-bahak. Mengapa kita penuh dendam pada kemiskinan. Masyarakat panik pada kekurangan segala macam perkara yang terkait persiapan masa depan. Doa-doa hanya meliar bila takut sudah tidak beroleh jawaban, segala mistik takut virus ternyata.

Mimpi surga demokratis, mengagungkan kemanusiaan keadilan, pemberdayaan rakyat. Apa hanya tinggal mimpi? Asumsi menggambar Tuhan dalam berbagai status, lalu sambil mengumandang nama sang agung, senjata terhunus menikam jantung kemanusiaan. Sistem menjadi saksi.

Saksi-saksi menggandar investasi, rakyat dalam sistem keganjenan isu. Perampokan sumberdaya rakyat berkaca pada berita, katanya sebelas dua belas dengan para selebriti yang selalu muncul di layar kaca, dan di layar lebar. Para mesum hukum justru bercerita tentang sejarah tuhan-tuhan dan kebaikan. Bila mereka kawin-mawin, portal berita menerima ganjaran, rating dan tiras.

Sejarah sebelas akan berulang saban bulan, saban tahun, dan meninggalkan bekas. Tabur, tuai, dan terima berkas. Tunggu saya guys. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

Menko PMK Tinjau Produsen Oksigen

Published

on

By

06 Juli 2021


MENTERI Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Muhadjir Effendy, hari ini, 06 Juli 2021, meninjau dua produsen oksigen besar di Indonesia, yakni PT Aneka Gas Industri di Cibitung, dan PT Air Products Indonesia, untuk memastikan kapasitas produksi oksigen aman di tengah lonjakan kasus COVID-19.

Saat ini, PT Aneka Gas Industri mampu memproduksi oksigen hingga 977,4 ton per hari, yang mana sekitar 95% produksinya dialokasikan untuk Rumah Sakit yang menangani pasien COVID-19.

Sementara PT Air Products Indonesia, dilaporkan mampu memproduksi 310 ton per hari dari pabrik di Cikarang dan Gresik.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengalihkan 90% oksigen industri ke medis, kedua produsen oksigen tersebut berkomitmen penuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen medis di Rumah Sakit yang terus meningkat. (*)


Sumber: Kemenkopmk
Teks dan Gambar: Halaman Kementerian Kesehatan RI


Editor: Parangsula


Continue Reading

Nasional

Mungkinkah Indonesia tanpa Feminis

Published

on

By

Medio 2019


Oleh: Misiyah Misi
Direktur Institut Kapal Perempuan


Feminis di Indonesia memiliki sejarah panjang berkontribusi dalam pembentukan bangsa Indonesia.
Feminisme intinya ialah paham yang mengakui adanya penindasan terhadap perempuan sekaligus upaya untuk membebaskannya.


HARI-HARI ini ber­edar di media sosial tagar #Indonesiatanpafeminis yang membawa pesan atau tepatnya melakukan stigma bahwa feminis adalah ancaman bagi perempuan Indonesia.

Tentu bukan tanpa kesengajaan jika tagar itu muncul menyusul reaksi penolakan dan pemutarbalikan konten Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS).

Dari konten dan cara propagandanya, dapat diindikasikan bahwa perihal itu digaungkan sekelompok kalangan konservatif yang sama. Tanpa bermaksud menanggapi berlebihan, masalah ini tetap membutuhkan respons yang substantif untuk menggugurkan stigma mereka terhadap feminis.

Mereka mesti tahu bahwa feminis di Indonesia memiliki sejarah panjang berkontribusi dalam pembentukan bangsa Indonesia.

Mengapa mereka mengobarkan stigma terhadap feminis, mungkin mereka tidak memahami dengan benar maknanya serta tidak memahami relevansi feminisme dengan kehidupan sehari-hari dirinya sebagai perempuan.

Untuk itu, saya merasa penting menjelaskan pemahaman dasar dari feminisme dan feminis. Feminisme intinya ialah paham yang mengakui adanya penindasan terhadap perempuan sekaligus upaya untuk membebaskannya.

Kata kuncinya ialah ada kesadaran kritis terhadap ketidakadilan yang terjadi pada perempuan dan kesadaran itu dibarengi dengan upaya untuk membebaskannya. Orang yang mempunyai kesadaran dan melakukan aksi itu ialah feminis.

Dalam sejarah, kita mempunyai sederet nama perempuan yang memiliki kesadaran kritis dan melakukan perlawanan. Mereka ialah pahlawan perempuan yang namanya sangat kita kenal atau perempuan-perempuan tidak dikenal dan tidak ditulis.

Pahlawan seperti Kartini, Roehana Koeddoes, Dewi Sartika, dan Cut Nyak Dhien melakukan perjuangan atas dasar kesadaran kritis terhadap kaumnya.

Kartini dikenal dengan perlawanannya terhadap feodalisme dan segala bentuk norma-norma yang mengekang perempuan. Roehana Koeddoes ialah sang pemula jurnalis perempuan yang menggunakan media untuk mendidik kaum bumiputra.

Para pejuang perempuan itu bergerak memperjuangkan kaumnya mendapatkan pendidikan yang sama, perlakuan yang setara, dan akses mendapatkan kualitas hidup yang baik.

Kita juga mengenal Kongres Perempuan pertama pada 1928 sebagai tonggak sejarah dalam memperjuangkan hak-hak perempuan sekaligus memperkukuh nasionalisme bangsa dalam melawan kolonial.

Jika ingin contoh lebih dekat dan terkini, para penentang feminis dapat melakukan selusur sejarah perempuan dalam silsilah keluarga masing-masing. Pada umumnya, silsilah keluarga perempuan ini mengangkat kisah-kisah perempuan kuat dan memiliki daya, tetapi tidak jarang juga kisah pilu perempuan terkuak.

Kita bisa menemukan masalah perempuan yang selama ini tersembunyi, misalnya, beban kerja, pengekangan, penelantaran, pengabaian, anggapan dan perlakuan perempuan lebih rendah, perkawinan paksa, perkawinan anak, putus sekolah, serta pelecehan seksual.

Feminis mengangkat masalah ini sebagai masalah sosial supaya mendapatkan jalan keluar untuk memecahkannya.

Kalangan yang mengobarkan Indonesia tanpa feminis mungkin lupa kalau ia menikmati hasil jerih payah dari feminis. Saat ini mereka leluasa mengakses informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, peluang kerja, media sosial yang dipakai untuk dirinya, bahkan melawan pejuangnya.

Bahkan, mungkin ada juga yang meminta perlindungan hukum melalui Undang-Undang Nomor: 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga, memanfaatkan layanan persalinan, pemeriksaan dini kanker serviks, dan segala jenis pemeriksaan kesehatan reproduksi melalui Jaminan Kesehatan Nasional.

Anak-anak disediakan fasilitas kartu Indonesia pintar (KIP) dan Program Keluarga Harapan (PKH) untuk menempuh pendidikan dua belas tahun, tidak akan dapat meraihnya jika mereka dibelenggu dengan norma-norma konservatif.

Berulang kali kalangan antifeminis itu juga menutup mata terhadap kasus-kasus perkosaan dan pembunuhan anak di bawah umur di Bengkulu, Papua, perkosaan balita di Bogor, perkosaan murid oleh gurunya, perkosaan manula, dan mengingkari perkosaan massal 1998.

Data BPS 2016 menunjukkan bahwa satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan, membutuhkan kita untuk tergerak sadar dan bertindak.

Para penolak Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual mesti berpikir ulang terlebih ketika ustaz Tengku Zulkarnain mengakui kesalahannya secara resmi melalui media bahwa tuduhannya terhadap Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tidak terbukti.

Ia mencabut ceramahnya dan menyatakan tidak menemukan pasal yang ia tuduhkan bahwa dalam Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual tidak ditemukan perihal pemerintah melegalkan zina.

Sudah saatnya mengoreksi stigma yang menyudutkan feminis. Menganggap tidak cocok untuk perempuan Indonesia karena feminis tidak islami dan datang dari Barat.

Di negara-negara Islam, kita mengenal feminis seperti Nawal al-Sa’dawi dari Mesir, Fatimah Mernisi dari Maroko, Riffat Hasan dari Pakistan, Amina Wadud Muhsin dari Malaysia. Bahkan, dari Saudi Arabia pun dikenal feminis Fauziah Abul Kholid.

Mereka menggunakan daya kritisnya untuk mengamalkan agama yang dianut agar menjadi lebih adil bagi semua manusia, khususnya perempuan.

Dalam konteks Indonesia, menguatnya norma-norma konservatif makin menghambat kemajuan perempuan, membutuhkan kehadiran pihak memiliki pemikiran dan komitmen dengan perspektif keadilan gender.

Dengan demikian, feminis dibutuhkan keberadaannya untuk mengangkat masalah perempuan, menyuarakan aspirasi dan kepentingannya. Menggerakkan semua pihak untuk melakukan perubahan bersama-sama.

Mengubah dari yang timpang menjadi setara, dari perlakuan diskriminatif menjadi adil, serta dari bahaya kekerasan menjadi rasa aman dan penuh perlindungan di semua ranah keluarga, masyarakat, dan negara. (*)


Editor: Daniel Kaligis


Continue Reading

Daerah

Proyek Panik Pandemi

Published

on

By

Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.

04 Maret 2021


Oleh: Daniel Kaligis


Torang manyanyi: love is all that I can give to you, love is more than just a game for two . . .
Sudah dicatat: Global financial crisis, billions of human beings living below the poverty line, thousands dying needlessly from war, malnutrition or easily curable diseases and thousands more dying. Maar, history pernah dibongkarbangkir semau mindset orde…


ILUSI berlayar dalam badai, pandemi ini perang. Walau, kita coba menelisik pertalian soal hari ini dari benang merah persoalan kusut hari silam. Jawabnya bias dan ngambang.

Suraro, serdadu, tentara. Lelaki penempur itu berkisah pada saya — cerita tentang suatu masa. Siapa dia? Babad apa? Tidak penting, sebab perang masih berlangsung sekarang. Persaingan bisnis. Pergulatan kata. Kuasa cari perhatian. Ulangi, pandemi ini perang.

Dengar tuturnya. “Bekas suraro, bahkan ada yang nda pernah dapa doi pension, kong boleh jadi dorang nda pernah dipensionkan negara yang bergelut dengan sistem dan perpolitikan menelantarkan sejumlah perkara rakyat sampe sekarang. Torang boleh bilang, masa silam adalah neraka pergolakan. Battalion-battalion, kompi-kompi, rancang strategi baku lawang pangmalawang baku hajar. Dinding berkuping, bicara sembarang ditahan, manusia memangsa manusia.” Begitu bacirita dengan oma Keke, puluhan tahun lalu soal perang sudara yang berkobar di tanah Sulawesi dan di sejumlah daerah.

Saya parafrase: La Estoriê 03 March1857 — Prancis dan Britania Raya menyatakan perang terhadap Cina — 1878 —  Bulgaria merdeka dari Ottoman — 1918 —  Jerman, Austria, Rusia menandatangani Traktat Brest-Litovsk hentikan keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia Pertama. Pada ketika sama, Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia beroleh kemerdekaan. Catatan perang yang usang, 2020.

Entah ada pertaliannya: perang seiring pandemi, tahun-tahun jadi pengalaman, ditutur berulang-ulang. Dilupa karena kesusahan dan kesenangan: Medio 1918 ada Flu Spanyol. Siddharth Chandra, PhD, direktur di Michigan State University, dalam penelitiannya terkini terkait Flu Spanyol, menyebut bahwa di daerah Jawa dan Madura, ada lebih kurang 4,37 juta korban jiwa dari penduduk yang berjumlah sekitar 60 juta orang saat itu. Demikian diberitakan detik.com.

Apa maunya pandemi? Menjaga jarak sudah dari dulu. Namun, persaingan bisnis mengendap-endap. Berita, semacam pelintir-pelintir segala syarat berpergian. Setelah terkurung, apakah rakyat terus akan disuapi makan-minumnya oleh negara? Mustahil.

Virus berusia tua, pernah dianggap enteng, dikira renta. Lalu, ketika takut menyerang, menyamar baru, mengancam mati, kejam dalam kelam sosialisasi: asumsi dan persepsi, entah cocoklogi, tapi sudah ada sejumlah korban.

Kembali pada ilusi perang: Waktu berganti di hari sama lima tahun silam, dengan sejumlah kawan mendiskusikan perang. Saya berbagi video mesin perang canggih di media sosial, kawan-kawan menanggapi. “Prihatin pada hasrat menggelora. Cakar, taring, serta raung bagai anjing liar-anjing liar berebut tulang,” ujar kawan dari Wanua, Geovani Nomura Iskar.

Tentang mesin perang – yang dalam asumsi saya – itu adalah senjata canggih, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan America sudah punya something similar. Kalau ini punya Israel, aku gak kaget lagi,” ujar kawan yang bermukim di London itu.

Hari sama di tahun beda, 2012. Saya menera kutipan, Book of Nature: and when all the pretty blossom had fallen from our branches, we found that we were one tree, and not two. Dari depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, di situ, menerawang awal kemarau nan manja. Metafora airmata di baris terujung tawa gemasmu. Tandus makin berbekas di carang-carang meliar, bianglala pudar di pangku kabut. Ilusi kita berlayar dalam badai.

Perang Asumsi Persepsi

Perang membikin carang-carang patah. Rakyat, seperti carang. Bagaimana? Patah arang. Berapa tahun silam kawan-kawan masih boleh melancong ke mana-mana, boleh menikmat jajan alamiah dari rak-rak pedagang kecil, belanja dari lapak di sudut-sudut persimpangan. Mudah beroleh penawar generic di tengah bombardemen iklan apa saja.

Hari itu di 2012, depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, saya ngobrol virtual menjawab Nita Tjindarbumi dari Jakarta. Katanya, “Belum dua puluh empat kunikmati kesendirian ini, setelah usai kisah kita, kini aku menghadapi sebuah tawaran manis yang sulit untuk kutampik. Ah, cinta ternyata tumbuh di mana-mana meski kadang di tempat yang salah. Oh, tentu saja kita akan bisa menemukan pembenaran atas kekeliruan yang masih bisa kita carikan jalan keluarnya. Selamat datang cinta. Ini kisah cinta baruku, bagaimana kisah cintamu Aj Boesra, Sandra Palupi, Novline Lidia, Daniel Kaligis, Evert Maxmillan Pangajouw, Ria Tjindarbumi, Sari Wiryono, Anastasya Bee, Dima Here Wila, Gyanthie Widjajanto, dan semua teman pesbukku lainnya? Happy week end.” Seperti itu Nita mengajak kawan-kawan berdiskusi.

Sandra Palupi bilang, “Cintaku aman-aman, dan berusaha kunikmati. Seperti berada di gelayut roller coaster kata Bon Jovi, menikmati apapun.”

Menjawab Nita, Aj Boesra sebut, “Cintaku di ujung Papua.”

Kata bersambut kata. Aj Boesra menuding capital letter yang dilontar Karjo Aduhai: “cinta itu buta”, berhuruf besar pangkal ke ujung kalimat itu, menanggap cerita Nita. Padahal, Karjo sebutkan yang mana dia mengutip ujaran, dalam mana – ujaran itu adalah fakta dalam hidup manusia.

Duhai, senandung sajak-sajak disambung pertikaian kata. Aj Boesra kian meradang.

“Karjo ya? Mataku masih awas. Ga perlu nulis gede-gede kayak baru punya laptop. Anak muda mau pamer,” ketus Aj Boesra. Ditimpali Nita, “Karjo, ngapain pake kapital, gak sopan banget tuh!”

Huruf besar jadi tertuduh. Asumsi mengalir. Perang, mungkin saja membesar.

Saya bilang dalam renung sunyi ketika itu, “Cinta berkelahi. Cinta berasumsi. Cinta persepsi. Perang bersetubuh dengan kata dan tafsir. Sambal meneguk Dima Here Wila yang menjawab Nita Tjindarbumi:

“Ah, bagaimana mungkin kau bilang mencintai aku. Kau terlalu asyik dengan dirimu sendiri. Kau begitu sibuk dengan pekerjaan dan teman-temanmu.”

Kental, mengalun cerita cinta Dima Here Wila:


Jika benar, kau mencintai aku, seperti yang kau bilang
Mungkin aku tak akan selalu sendirian menjalani hari-hariku.
Aku merasa kau semakin jauh.

Aku tak mengenalmu lagi, kau asing bagiku.
Seolah-olah kau sengaja berlari menjauh meninggalkan aku.

Mungkinkah kau mencintai aku, sedang kau tak pernah menghabiskan waktu bersamaku?

Hari-hariku sepi tanpa gelak tawamu.
Hari-hariku lewat tanpa godamu.
Hari-hariku berlalu tanpa dirimu.
Tanpa cintamu.

Dan aku masih sendiri tanpa kepastian.
Tapi sungguh, aku menikmati kesendirianku.

Jadi, jangan datang dengan kata-kata cinta semu-mu.
Karena bagiku, cinta adalah kebersamaan kita.
Tertawa bersama.
Bercanda dan gurau bersama.
Melewati hari bersama.

Dan aku akan tetap menikmati hari-hariku,
walau sendiri tanpa cintamu.
Tanpa dirimu.


Saya malah panik membaca sajak-sajak. Dalam jiwa terantuk perseteruan tafsir. Asumsi menjalar, meliar. Lalu, malam seakan persepsi gulita di rimba belantara, gelap Wanua yang jauh di pelosok. Di kota-kota dunia, cahaya menembus tulang siang malam benderang. Hati kelam.

Masih meresap sajak Dima: “Cinta itu ajaib, ini kisahku, mbak Nita. Berharap anda menikmati akhir pekanmu bersama keluarga,” kata perempuan yang menetap di Kupang, Nusa Tenggara Timur itu.

Uang dan Mesin Perang

Hari berganti, tiga, empat, lima, putaran masa. Tahun berlalu. Asumsi dan fakta, jutaan orang mati karena perang. Boleh tahu berapa yang mati karena asumsi? Sebuah kutipan di halaman World without Wars and Violence, “Stockholm International Peace Research Institute — at 15 April 2013, announced that the year 2012 saw an estimated US$ 1.750.000.000.000 spent on weapons and the military machine.”

Hey Dima Here Wila, I’m sorry, saya tidak mengabari. Berapa kali saya datangi Kupang, Soe, Kefamenanu, Timur Tengah Selatan, Oelfaub, Wini. Melayari Sunda Kecil. Memotret laut, nelayan, dan takjub pada alir samuderamu. Jangan-jangan proyek-proyek juga menjadi perang di situ.

Waktu. Semua berubah, namun kenang — sistem yang kita jalani saat ini rusak. Seperti itu persepsi saya. Mungkin sistem tak dapat diperbaiki, sebab dalam praksis sistem, manusia tak menghargai kehidupan manusia. Sistem hanya menghargai materi dan orang-orang yang punya uang.

Terkenang nama, ‘Soe – Kefamenanu – Oelfaub’ itu nama proyek jalan di Nusa Tenggara Timur. Saya pernah melintasinya. Jalan dikerjakan pada tahun anggaran 2019 – 2020. Pemberitaan di daerah pernah meliputnya. Boleh baca berita yang ditulis Petrus Usboko di timexkupang.com, 21 Agustus 2020.

Orang-orang sibuk sosialisasi. Pandemi, sebagian ada di titik realokasi. Panik sebab pemberitaan. Mesin perang mungkin saja dalam bentuk yang lebih lembut semacam protokol yang menarik sejumlah rupiah dengan keuntungan berlipat-lipat, dan ada di raut kita yang hilang identitas.

Berapa waktu lalu, saya video mesin perang, dan berujar di status media sosial, bahwa, ke depan, uang dan sumberdaya akan terus berhambur untuk mencipta dan membeli mesin perang. Menanggap video itu, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan Amerika sudah punya something similar. Kalo ini punya Israel aku gak kaget lagi,” kata kawan yang bermukim di London, England itu.

Geovani Nomura Iskar, kawan saya dari Wanua menanggap, “Prihatin dengan hasrat yang menggelora. Cakar-cakar, taring, serta raung bagai anjing-anjing liar berebut tulang.”

Ini soal yang bikin Altje Wantania bertanya, “Apakah perang memang harus selalu diselesaikan dengan perang?”

Semestinya, perang jangan dijawab perang. Walau adab purba masih dipelihara: perang dibayar perang dan kelihatannya seperti tak pernah akan lunas.

“Ketika perang dibayar perang, kematian dibalas kematian, punahlah kehidupan,” tegas Altje Wantania.

History dendam berujung sia-sia: perang hari ini melawan ego dan keserakahan diri.

Saya mengulang lamunan sambal menembang The Night Watch: halaman senja, malam mengendus tiap aromamu lebih kelam dari yang pernah dikenang dalam ingatan, angin mengusik rambutnya terurai. digesek biola, melody merasuki lorong-lorong, ia bernyanyi: anak-anak dibesarkan dalam prasangka, seperti perempuan-perempuan miskin yang tak punya pilihan; duhai jejak-jejak rindu, senyummu gelisah, kawan di masa silam, mata serupa luna malam ini, bertengger di pucuk gelap, dan kabut memutih basah oleh cahaya.

Tahun silam membaca tulisan Linda Christanty, bertarik 05 April 2020, Tiada ‘Kebetulan’ di Dunia. Saya mengutip tiga baitnya untuk anda:

“Perang di dunia obat-obatan ataupun farmasi sebenarnya sama kejamnya dengan perang yang menggunakan senjata pemusnah massal. Perang ini cukup sunyi dan tersembunyi, tetapi uniknya media tanpa sengaja terkadang membantu kita untuk mengetahui bocorannya.”

“Obat-obatan untuk penyakit-penyakit tertentu telah ditemukan misalnya, tetapi para penemunya dibunuh dan penemuan-penemuan itu kemudian tidak berbuah menjadi produk penting untuk menyelamatkan nyawa banyak manusia.”

“Ada pil yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, harganya murah dan efek sampingnya tertanggungkan, tetapi  tiba-tiba ada orang yang mendukung pemberian vaksin yang efek sampingnya masih misterius.”

Aktivis perempuan itu menyebut, bahwa pandemi yang terjadi sekarang ini sayup-sayup menyuarakan ‘sudah saatnya uang tunai tak lagi digunakan’, karena pertukaran uang kertas dan koin menjadi sarana pemindahan virus. Orang-orang yang tidak punya cukup uang di bank akan mati lebih cepat, oleh virus dan perkembangan teknologi.

Laste

Persitiwa hari ini dapat ditarik pertaliannya dari kejadian-kejadian kecil, yang mungkin saja luput dari perhatian khalayak.

‘Proyek Panik Pandemi’ hanya judul, mestinya ditera dengan tanda tanya. Tafsir. Huruf-huruf kapital mengundang asumsi, pada sub judul ‘Perang Asumsi Persepsi’ saya coba mengulas sedikit tentang tafsi. Orang-orang menyusun, mengenali, dan menafsir informasi sensoris guna memberi gambaran pemahaman tentang prilaku dan tentang segala bentuk informasi yang mereka peroleh di lingkungan sekitarnya. Termasuk tentang tontonan dan media.

Menakala mengedit tulisan Linda, saya memilih kalimat ini: “Seorang bekas mata-mata menulis pesan di media sosialnya: ‘Kapan burung bernyanyi? Di musim semi.’ Pesan ini tidak bermakna apa-apa bagi orang-orang yang selalu memperlakukan berita atau tulisan di media sebagai surat dari orangtua mereka. Tetapi bagi mata-mata lain atau koleganya, pesan ini sebuah sandi.”

Apalah perang, garang menyerang. Bumi, alam semesta, satu-satunya lokasi di mana orang-orang menetap. Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik, damai.

Krisis global, ketakutan miliaran manusia hidup di bawah garis miskin. Mindset di-drive, sejumlah isu. Namun, enyahkanlah panik. Kita butuh jawaban dari sejumlah soal. Kita butuh informasi yang mendidik dan membuka cara pandang.

Ulangi: Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik damai. Berdamai dengan asumsi. Berdamai dengan persepsi. Berdamai dan bercintakasih dengan sesama.

Mari berdamai. (*)


Gambar: Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.
Sumber gambar: iedunote


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com