Connect with us
no

Daerah

Tenun Tradisi dan Sejarah Tanah

Published

on

Oleh: Daniel Kaligis


Tradisi menjadi penanda, sebagaimana ketrampilan seni budaya melekat pada tanah di mana tradisi itu bertahan dan menjadi praksis masyarakatnya, termasuk warisan tradisi tenun kain.


BENANG DIPINTAL disusun sejajar – biasanya memanjang – tak bergerak terikat di kedua ujungnya, padanya benang pakan diselipkan, lalu memasang benang-benang lungsin sejajar satu sama lainnya di alat tenun sesuai lebar kain yang diingini. Benang-benang ditenun jadi kain. Dari Nusa Tenggara Timur, kita mengenal tenun Ikat, tenun Buna dan tenun Lotis.

Secara khusus, tenun di kota Kupang, sama dengan tenunan dari berbagai lokasi di Nusa Tenggara. Saya memulai obrolan tenun di Jl. Yos Sudarso, Osmok, Kupang, Nusa Tenggara Timur, 01 Juli 2020. Di situ, lokasi industri tenun yang dikerjakan rakyat, milik keluarga Anggrek.

Tahun 1980-an industri tenun sudah dimulai dengan memberdayakan penenun lokal. “Para pekerja diberi tempat tinggal di sini, dan mereka menggunakan mesin pintal mesin tenun yang sudah disiapkan,” kata Ronny Anggrek, mewakili PT. Timor Agung Floramor, perusahan yang memayungi bengkel tenunan tradisional Nusa Tenggara Timur di Kupang.

Secara resmi PT. Timor Agung Floramor didirikan pada tahun 1982, luas lahan pabrik dan bengkel tenun 10.460 meter bujursangkar. Di sana ruang produksi dan pemberdayaan masyarakat lokal sudah disiapkan.

Sebagaimana diketahui, teknik pengerjaan tenun Ikat, motifnya dikreasikan dari pengikatan benang. Tenun di daerah lain yang diikat ialah benang pakan. Kain tenun Ikat di Nusa Tenggara Timur dikerjakan dengan metode kain lungsi yang diikatkan. Tenun Buna dari Timor Tengah Utara, bahan baku benang terlebih dulu dicelup ke pewarna benang. Ada juga tenun Lotis, disebut juga Sotis atau Songket. Proses pembuatan Songket mirip prosesnya dengan metode pengerjaan tenun Buna.

Ronny Anggrek bilang, bahwa inisiasi berbagai usaha yang dia kerjakan saat ini diwariskan oleh almarhum ayahnya, John Anggrek. “Saya melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh orangtua, sebagai pendahulu. Seperti yang sudah saya sebut, di bengkel tenunan tradisional saya siapkan tempat tinggal bagi para pengrajin. Alat-alat tenun kami rangkai dari pedal, roda, dan rantai sepeda.”

Tanah di Jl. Yos Sudarso, Osmok, Kupang, di mana bengkel tenunan tradisional itu sudah sejak lama dimiliki keluarga Anggrek. Di sana, Suharto, yang saat itu adalah Presiden Repubik Indonesia, pernah bertandang. “Bengkel tenunan tradisional, yang bernaung pada PT. Timor Agung Floramor diresmikan Suharto, 02 Juni 1988. Jadi memang usaha di tanah ini memang sudah saya kerjakan sejak dulu, tahun depalan puluhan itu,” urai Ronny.

Ketrampilan Turun Temurun

Orang-orang di sana punya cerita, yang mana benang-benang yang akan ditenun seakan diberi ruh, dikerjakan tangan-tangan terampil menghasilkan motif-motif dekoratif yang anggun.

Tenun karya yang anggun dan agung, dijadikan busana, bahan sandang ragam hias, menjadi bagian dari tradisi budaya turun temurun.

Disebut indonesia.go.id bahwa produksi kain tenun tradisional karya masyarakat Timor, Sumba, Flores, Solor, Pantar, Lembata, Adonara, Rote, dan Sabu, sudah dikenal bangsa Eropa. Para pedagang dan pejabat pemerintah kerap membawa sejumlah koleksi pribadi kain tenun ke Eropa. Bahkan, koleksi tenun tersebut banyak disimpan di museum-museum terkenal yang ada di Eropa dan Amerika. Hal tersebut menyebabkan kain tenun Nusa Tenggara Timur terkenal di mancanegara.

“Motif tenun dapat mencirikan dari mana si pemakai berasal. Sebab, dalam motif tenun tergambar ciri khas suatu suku atau pulau. Motif di kain tenun merupakan wujud dari kehidupan masyarakat dan bentuk ikatan emosional yang erat dengan masyarakat tersebut. Masyarakat Nusa Tenggara Timur begitu bangga dan senang menggunakan tenunan asal sukunya, dan sebaliknya mereka akan canggung dan malu jika menggunakan tenunan dari suku lain. Tiap kerajaan, kelompok suku, wilayah dan pulau menciptakan sejumlah pola atau motif hiasan khas pada tenunannya. Ketrampilan itu diturunkan dengan cara mengajarkan kepada anak cucu mereka agar kelestarian seni tenun terus terjaga,” demikian ditulis di indonesia.go.id, 04 Februari 2019.

Kerja menenun diperkirakan sudah dilakukan berabad-abad silam. Cerita tutur menyatakan yang mana kerajaan tua di Nusa Tenggara Timur menurunkan ketrampilan seni budaya tenun itu. Ragam pola yang ditampilkan dalam tenunan adalah manifestasi dari kehidupan sehari-hari orang-orang di sana yang punya ikatan emosional yang erat dengan apa yang menjadi kebiasaan mereka turun temurun. Kain tenun Nusa Tenggara Timur punya ciri khas. Tenun Maumere, misalnya, punya motifnya yang menggambarkan hujan, pohon, dan ranting. Berikutnya tenun Sumba Timur, misalnya, yang punya motif tengkorak.

Sejarah seni kriya tenunan di Indonesia, seperti yang ditulis di GriyaTenun.com, 11 Juni 2018, disebut yang mana kain tenun sudah ada sejak zaman prasejarah. Diperkiraan keberadaan kain tenun di Indoesia sejak zaman perunggu yaitu abad delapan hingga abad dua sebelum masehi. Keberadaan kain tenun menunjukkan sebuah tingkat kebudayaan yang tinggi karena dalam kain tenun terdapat makna yang melambangkan adat istiadat yang berlaku di daerah setempat.

Dari alat yang sangat sederhana, ketrampilan tenun berkembang. Di Nusa Tenggara Timur, terkenal juga tenun Sumba. “Pembuatan kain tenun ini menggunakan kapas yang digulung sehingga menjadi benang berbentuk bulatan, lalu dibidang sesuai ukuran kain yang diinginkan. Usai dibidangkan, dapat terlihat warna asli kain yang mula-mula berwarna putih. Setelah itu, pengrajin dapat memulai untuk mengikat motifnya,” seperti itu ditulis Riri di Gpriority.co.id, 03 September 2019.

Menurut Riri, proses pewarnaan biru pada benang bahan baku tenun itu menggunakan pewarna yang berasal dari campuran daun nila dengan kapur sirih sehingga mengeluarkan warna biru. Jika menginginkan warna merah alami, pengrajin biasanya akan memanfaatkan komposisi warna dari akar pohon mengkudu yang ditumbuk halus dan dicampur dengan kemiri serta kulit kayu. Dengan beberapa bahan dasar dari tumbuh-tumbuhan tersebut, warna merah dan birunya jika dicampurkan akan menghasilkan warna hitam. Bila ingin tersedia warna sintetis sebagai warna pembanding, warna sintesis akan terlihat lebih menyolok dibanding pewarna alami. Setelah melalui tahapan itu, benang-benang yang semula tanpa arti, berubah menjadi kain tenun indah.

Tenun Nusa Tenggara Timur sudah terkenal di tanah air, dan menjadi kreasi yang dikenal di mana-mana. Kita mengenal gedogan, alat tenun tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu dan sangat lazim digunakan, alat ini masih ada dan digunakan secara aktif sampai sekarang dengan tujuan untuk menjaga keaslian dan melestarikan budaya.

Menenun dengan gedogan akan menghasilkan kain tenun berkualitas tinggi sebab dikerjakan sangat teliti dan memakan waktu relatif lama. Alat tenun ini terdiri dari kayu dan bambu yang berfungsi untuk mengakitkan benang lungsi. Ujung alat tenun gedogan dikaitkan pada tiang rumah, sementara ujung lainnya diikatkan pada badan sang pengrajin, di mana posisi sang pengrajin ketika menenun duduk di lantai.

Laste

Kembali pada kisah di tahun 1980-an. Tutur di mana bengkel tenunan tradisional Nusa Tenggara Timur di Kupang mulai digagas. Tanah, lokasi, adalah alasan bagi pengalaman dan hidup dalam tradisi ‘menjadi baik’ untuk menenun perbuatan-perbuatan kebaikan.

Ada cerita karya kriya tenunan mengalami disrupsi karena perkembangan zaman, tercerabut dari akarnya bila tidak lagi diperlukan. Atau, harga tinggi selembar kain tenun jadi alasan? Persaingan bisnis kain, busana, pakaian, ragam hias tenunan, lalu soal inovasi.

Bagaimana dengan soal inovasi? Padahal, sejak zaman dulu perajin tenun terbiasa menggunakan pewarna alami seperti kunyit, mengkudu, tauk, dan bahan pewarna dari tanaman lainnya. Waktu dan zaman berganti. Perajin beralih menggunakan pewarna kimia oleh sebab berbagai keunggulan pewarna kimia yang mempercepat proses pengerjaan bahan baku benang, pewarna kimia membikin bahan benang tahan luntur, tahan terhadap penyinaran, tahan gosok, dan punya warna lebih beragam. Ini tentu berkaitan dengan apa yang saya saksikan di berbagai lokasi di Kupang. Pernak-pernik berbahan dasar tenunan, tas, bandana, kalung, gelang, sarung, pakaian, ada di toko-toko yang menjual bahan tenunan dan pakaian. Reka baru akan terus dipacu seiring perkembangan permintaan pasar tenunan.

Tentu, pengerjaan tenunan dengan metode tradisional masih punya ‘pasar’, dan punya keunggulan tersendiri di mata para penyuka busana tradisional berbahan ramah lingkungan.

Ini tutur yang disebut orang-orang tentang kerja yang digagas keluarga Anggrek, dalam hal ini Ronny Anggrek. “Dia membuka ruang pemberdayaan dan membantu masyarakat kecil,” kata Andre Mamuaja ketika saya bertandang di Rumah Babe Jl. Yos Sudarso.

Bengkel tenunan tradisional memang sudah disulap jadi Rumah Babe. Kerja produksi tenunan yang dulunya ada di sana, sekarang diwadahi dengan sistem kemitraan dengan para pengrajin. “Kami menyiapkan alat, benang, pewarna, dan berbagai kebutuhan terkain proses tenun, lalu para pengrajin mengerjakan tenunan di kediaman mereka sendiri. Dan kami tetap menangani soal pemasaran tenunan di tempat-tempat strategis di Kupang,” kisah Ronny Anggrek.

Sejarah tanah di Jl. Yos Sudarso, Osmok, Kupang, Nusa Tenggara Timur, tempat di mana pernah didirikan bengkel tenunan tradisional yang diwadahi PT. Timor Agung Floramor, adalah kisah panjang yang menjadi warna tradisi keluarga Anggrek, sebagaimana yang diceritakan Ronny Anggrek pada saya. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita

S.O.B Law Investigation – Andi Jamal: Penjarakan Mafia Tanah

Published

on

By

14 Juni 2021


Oleh: Jefriar Dunda
Biro Sulawesi Selatan


TeropongAlor—  Somba Opu | PEMBERANTASAN praktik mafia tanah di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terus didesak. Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan beberapa kali pertemuan dan membahas langkah strategis, di antaranya DPP LSM Gempa, Yayasan Bantuan Hukum Kompak Indonesia, Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia di Gowa dan Sulawesi Selatan, dan Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Pemantauan tim redaksi hingga 14 Juni 2021, desakan lembaga swadaya itu dinyatakan dalam bentuk spanduk yang dipasang di sejumlah titik seputaran Tombolo dan Somba Opu. “Telah berduka rakyat Gowa atas matinya penegakan hukum tentang pemberantasan mafia tanah di kabupaten Gowa. Ingat ketegasan Kapolri untuk memberantas mafia tanah, jangan gadaikan keadilan untuk rakyat, para mafia tanah wajib dihukum dan dipenjara, begitu juga oknum yang membekinginya.” Demikian spanduk yang dipajang Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Spanduk adalah bentuk protes dan interupsi masyarakat terhadap aparat yang tidak bekerja maksimal, dan diduga bersandiwara. “Sejauh ini permintaan penindakan kepada oknum penyidik dalam kasus mafia tanah, terindikasi membekingi terlapor pengguna surat palsu dengan cara membuat keterangan palsu dalam SP2HP yang dijadikan alasan penghentian penyelidikan. Perintah pimpinan hanya boleh efektif bila pemberantasan kejahatan hukum dimulai dari jajaran institusi yang mengawal hukum, bukan justeru mengincar pihak lain. Ini namanya bersandiwara,” kata Padeng Gervasius, SH, menyinggung tuntutan masyarakat untuk memberantas mafia tanah di Gowa.

Pasca-Rapat Dengar Pendapat yang sudah digelar DPRD Gowa, 04 Mei 2021, silam, tuntutan pemberantasan mafia tanah kian menguat di Gowa, utamanya menyorot mekanisme pembatalan sertifikat cacad hukum administratif dalam penerbitannya sebagaimana diatur dalam Pasal 110 jo. Pasal 108 ayat (1) Permen Agraria/BPN 9/1999. “Tuntutan kami jelas, cabut dan batalkan dokumen yang diterbitkan BPN Gowa yang cacad administratif. Ada regulasi tentang pembatalan. Permohonan dapat dilakukan jika diduga terdapat cacat hukum administratif dalam penerbitan sertifikat itu sebagaimana diatur Pasal 106 ayat (1) jo Pasal 107 Permen Agraria/BPN 9/1999,” tutur Amiruddin SH Kr. Tinggi, dari DPP LSM Gempa. (*)


Hak jawab selalu diberikan kepada semua pihak bila pemberitaan bertolak belakang dengan fakta dan data.


Continue Reading

Daerah

Proyek Panik Pandemi

Published

on

By

Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.

04 Maret 2021


Oleh: Daniel Kaligis


Torang manyanyi: love is all that I can give to you, love is more than just a game for two . . .
Sudah dicatat: Global financial crisis, billions of human beings living below the poverty line, thousands dying needlessly from war, malnutrition or easily curable diseases and thousands more dying. Maar, history pernah dibongkarbangkir semau mindset orde…


ILUSI berlayar dalam badai, pandemi ini perang. Walau, kita coba menelisik pertalian soal hari ini dari benang merah persoalan kusut hari silam. Jawabnya bias dan ngambang.

Suraro, serdadu, tentara. Lelaki penempur itu berkisah pada saya — cerita tentang suatu masa. Siapa dia? Babad apa? Tidak penting, sebab perang masih berlangsung sekarang. Persaingan bisnis. Pergulatan kata. Kuasa cari perhatian. Ulangi, pandemi ini perang.

Dengar tuturnya. “Bekas suraro, bahkan ada yang nda pernah dapa doi pension, kong boleh jadi dorang nda pernah dipensionkan negara yang bergelut dengan sistem dan perpolitikan menelantarkan sejumlah perkara rakyat sampe sekarang. Torang boleh bilang, masa silam adalah neraka pergolakan. Battalion-battalion, kompi-kompi, rancang strategi baku lawang pangmalawang baku hajar. Dinding berkuping, bicara sembarang ditahan, manusia memangsa manusia.” Begitu bacirita dengan oma Keke, puluhan tahun lalu soal perang sudara yang berkobar di tanah Sulawesi dan di sejumlah daerah.

Saya parafrase: La Estoriê 03 March1857 — Prancis dan Britania Raya menyatakan perang terhadap Cina — 1878 —  Bulgaria merdeka dari Ottoman — 1918 —  Jerman, Austria, Rusia menandatangani Traktat Brest-Litovsk hentikan keterlibatan Rusia dalam Perang Dunia Pertama. Pada ketika sama, Finlandia, Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia beroleh kemerdekaan. Catatan perang yang usang, 2020.

Entah ada pertaliannya: perang seiring pandemi, tahun-tahun jadi pengalaman, ditutur berulang-ulang. Dilupa karena kesusahan dan kesenangan: Medio 1918 ada Flu Spanyol. Siddharth Chandra, PhD, direktur di Michigan State University, dalam penelitiannya terkini terkait Flu Spanyol, menyebut bahwa di daerah Jawa dan Madura, ada lebih kurang 4,37 juta korban jiwa dari penduduk yang berjumlah sekitar 60 juta orang saat itu. Demikian diberitakan detik.com.

Apa maunya pandemi? Menjaga jarak sudah dari dulu. Namun, persaingan bisnis mengendap-endap. Berita, semacam pelintir-pelintir segala syarat berpergian. Setelah terkurung, apakah rakyat terus akan disuapi makan-minumnya oleh negara? Mustahil.

Virus berusia tua, pernah dianggap enteng, dikira renta. Lalu, ketika takut menyerang, menyamar baru, mengancam mati, kejam dalam kelam sosialisasi: asumsi dan persepsi, entah cocoklogi, tapi sudah ada sejumlah korban.

Kembali pada ilusi perang: Waktu berganti di hari sama lima tahun silam, dengan sejumlah kawan mendiskusikan perang. Saya berbagi video mesin perang canggih di media sosial, kawan-kawan menanggapi. “Prihatin pada hasrat menggelora. Cakar, taring, serta raung bagai anjing liar-anjing liar berebut tulang,” ujar kawan dari Wanua, Geovani Nomura Iskar.

Tentang mesin perang – yang dalam asumsi saya – itu adalah senjata canggih, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan America sudah punya something similar. Kalau ini punya Israel, aku gak kaget lagi,” ujar kawan yang bermukim di London itu.

Hari sama di tahun beda, 2012. Saya menera kutipan, Book of Nature: and when all the pretty blossom had fallen from our branches, we found that we were one tree, and not two. Dari depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, di situ, menerawang awal kemarau nan manja. Metafora airmata di baris terujung tawa gemasmu. Tandus makin berbekas di carang-carang meliar, bianglala pudar di pangku kabut. Ilusi kita berlayar dalam badai.

Perang Asumsi Persepsi

Perang membikin carang-carang patah. Rakyat, seperti carang. Bagaimana? Patah arang. Berapa tahun silam kawan-kawan masih boleh melancong ke mana-mana, boleh menikmat jajan alamiah dari rak-rak pedagang kecil, belanja dari lapak di sudut-sudut persimpangan. Mudah beroleh penawar generic di tengah bombardemen iklan apa saja.

Hari itu di 2012, depan CIMB Bank – 50 Raffles Place, Singapore Land Tower, saya ngobrol virtual menjawab Nita Tjindarbumi dari Jakarta. Katanya, “Belum dua puluh empat kunikmati kesendirian ini, setelah usai kisah kita, kini aku menghadapi sebuah tawaran manis yang sulit untuk kutampik. Ah, cinta ternyata tumbuh di mana-mana meski kadang di tempat yang salah. Oh, tentu saja kita akan bisa menemukan pembenaran atas kekeliruan yang masih bisa kita carikan jalan keluarnya. Selamat datang cinta. Ini kisah cinta baruku, bagaimana kisah cintamu Aj Boesra, Sandra Palupi, Novline Lidia, Daniel Kaligis, Evert Maxmillan Pangajouw, Ria Tjindarbumi, Sari Wiryono, Anastasya Bee, Dima Here Wila, Gyanthie Widjajanto, dan semua teman pesbukku lainnya? Happy week end.” Seperti itu Nita mengajak kawan-kawan berdiskusi.

Sandra Palupi bilang, “Cintaku aman-aman, dan berusaha kunikmati. Seperti berada di gelayut roller coaster kata Bon Jovi, menikmati apapun.”

Menjawab Nita, Aj Boesra sebut, “Cintaku di ujung Papua.”

Kata bersambut kata. Aj Boesra menuding capital letter yang dilontar Karjo Aduhai: “cinta itu buta”, berhuruf besar pangkal ke ujung kalimat itu, menanggap cerita Nita. Padahal, Karjo sebutkan yang mana dia mengutip ujaran, dalam mana – ujaran itu adalah fakta dalam hidup manusia.

Duhai, senandung sajak-sajak disambung pertikaian kata. Aj Boesra kian meradang.

“Karjo ya? Mataku masih awas. Ga perlu nulis gede-gede kayak baru punya laptop. Anak muda mau pamer,” ketus Aj Boesra. Ditimpali Nita, “Karjo, ngapain pake kapital, gak sopan banget tuh!”

Huruf besar jadi tertuduh. Asumsi mengalir. Perang, mungkin saja membesar.

Saya bilang dalam renung sunyi ketika itu, “Cinta berkelahi. Cinta berasumsi. Cinta persepsi. Perang bersetubuh dengan kata dan tafsir. Sambal meneguk Dima Here Wila yang menjawab Nita Tjindarbumi:

“Ah, bagaimana mungkin kau bilang mencintai aku. Kau terlalu asyik dengan dirimu sendiri. Kau begitu sibuk dengan pekerjaan dan teman-temanmu.”

Kental, mengalun cerita cinta Dima Here Wila:


Jika benar, kau mencintai aku, seperti yang kau bilang
Mungkin aku tak akan selalu sendirian menjalani hari-hariku.
Aku merasa kau semakin jauh.

Aku tak mengenalmu lagi, kau asing bagiku.
Seolah-olah kau sengaja berlari menjauh meninggalkan aku.

Mungkinkah kau mencintai aku, sedang kau tak pernah menghabiskan waktu bersamaku?

Hari-hariku sepi tanpa gelak tawamu.
Hari-hariku lewat tanpa godamu.
Hari-hariku berlalu tanpa dirimu.
Tanpa cintamu.

Dan aku masih sendiri tanpa kepastian.
Tapi sungguh, aku menikmati kesendirianku.

Jadi, jangan datang dengan kata-kata cinta semu-mu.
Karena bagiku, cinta adalah kebersamaan kita.
Tertawa bersama.
Bercanda dan gurau bersama.
Melewati hari bersama.

Dan aku akan tetap menikmati hari-hariku,
walau sendiri tanpa cintamu.
Tanpa dirimu.


Saya malah panik membaca sajak-sajak. Dalam jiwa terantuk perseteruan tafsir. Asumsi menjalar, meliar. Lalu, malam seakan persepsi gulita di rimba belantara, gelap Wanua yang jauh di pelosok. Di kota-kota dunia, cahaya menembus tulang siang malam benderang. Hati kelam.

Masih meresap sajak Dima: “Cinta itu ajaib, ini kisahku, mbak Nita. Berharap anda menikmati akhir pekanmu bersama keluarga,” kata perempuan yang menetap di Kupang, Nusa Tenggara Timur itu.

Uang dan Mesin Perang

Hari berganti, tiga, empat, lima, putaran masa. Tahun berlalu. Asumsi dan fakta, jutaan orang mati karena perang. Boleh tahu berapa yang mati karena asumsi? Sebuah kutipan di halaman World without Wars and Violence, “Stockholm International Peace Research Institute — at 15 April 2013, announced that the year 2012 saw an estimated US$ 1.750.000.000.000 spent on weapons and the military machine.”

Hey Dima Here Wila, I’m sorry, saya tidak mengabari. Berapa kali saya datangi Kupang, Soe, Kefamenanu, Timur Tengah Selatan, Oelfaub, Wini. Melayari Sunda Kecil. Memotret laut, nelayan, dan takjub pada alir samuderamu. Jangan-jangan proyek-proyek juga menjadi perang di situ.

Waktu. Semua berubah, namun kenang — sistem yang kita jalani saat ini rusak. Seperti itu persepsi saya. Mungkin sistem tak dapat diperbaiki, sebab dalam praksis sistem, manusia tak menghargai kehidupan manusia. Sistem hanya menghargai materi dan orang-orang yang punya uang.

Terkenang nama, ‘Soe – Kefamenanu – Oelfaub’ itu nama proyek jalan di Nusa Tenggara Timur. Saya pernah melintasinya. Jalan dikerjakan pada tahun anggaran 2019 – 2020. Pemberitaan di daerah pernah meliputnya. Boleh baca berita yang ditulis Petrus Usboko di timexkupang.com, 21 Agustus 2020.

Orang-orang sibuk sosialisasi. Pandemi, sebagian ada di titik realokasi. Panik sebab pemberitaan. Mesin perang mungkin saja dalam bentuk yang lebih lembut semacam protokol yang menarik sejumlah rupiah dengan keuntungan berlipat-lipat, dan ada di raut kita yang hilang identitas.

Berapa waktu lalu, saya video mesin perang, dan berujar di status media sosial, bahwa, ke depan, uang dan sumberdaya akan terus berhambur untuk mencipta dan membeli mesin perang. Menanggap video itu, Annashka Mozhayev bilang, “Keuren emang dan Amerika sudah punya something similar. Kalo ini punya Israel aku gak kaget lagi,” kata kawan yang bermukim di London, England itu.

Geovani Nomura Iskar, kawan saya dari Wanua menanggap, “Prihatin dengan hasrat yang menggelora. Cakar-cakar, taring, serta raung bagai anjing-anjing liar berebut tulang.”

Ini soal yang bikin Altje Wantania bertanya, “Apakah perang memang harus selalu diselesaikan dengan perang?”

Semestinya, perang jangan dijawab perang. Walau adab purba masih dipelihara: perang dibayar perang dan kelihatannya seperti tak pernah akan lunas.

“Ketika perang dibayar perang, kematian dibalas kematian, punahlah kehidupan,” tegas Altje Wantania.

History dendam berujung sia-sia: perang hari ini melawan ego dan keserakahan diri.

Saya mengulang lamunan sambal menembang The Night Watch: halaman senja, malam mengendus tiap aromamu lebih kelam dari yang pernah dikenang dalam ingatan, angin mengusik rambutnya terurai. digesek biola, melody merasuki lorong-lorong, ia bernyanyi: anak-anak dibesarkan dalam prasangka, seperti perempuan-perempuan miskin yang tak punya pilihan; duhai jejak-jejak rindu, senyummu gelisah, kawan di masa silam, mata serupa luna malam ini, bertengger di pucuk gelap, dan kabut memutih basah oleh cahaya.

Tahun silam membaca tulisan Linda Christanty, bertarik 05 April 2020, Tiada ‘Kebetulan’ di Dunia. Saya mengutip tiga baitnya untuk anda:

“Perang di dunia obat-obatan ataupun farmasi sebenarnya sama kejamnya dengan perang yang menggunakan senjata pemusnah massal. Perang ini cukup sunyi dan tersembunyi, tetapi uniknya media tanpa sengaja terkadang membantu kita untuk mengetahui bocorannya.”

“Obat-obatan untuk penyakit-penyakit tertentu telah ditemukan misalnya, tetapi para penemunya dibunuh dan penemuan-penemuan itu kemudian tidak berbuah menjadi produk penting untuk menyelamatkan nyawa banyak manusia.”

“Ada pil yang dapat menyembuhkan penyakit tertentu, harganya murah dan efek sampingnya tertanggungkan, tetapi  tiba-tiba ada orang yang mendukung pemberian vaksin yang efek sampingnya masih misterius.”

Aktivis perempuan itu menyebut, bahwa pandemi yang terjadi sekarang ini sayup-sayup menyuarakan ‘sudah saatnya uang tunai tak lagi digunakan’, karena pertukaran uang kertas dan koin menjadi sarana pemindahan virus. Orang-orang yang tidak punya cukup uang di bank akan mati lebih cepat, oleh virus dan perkembangan teknologi.

Laste

Persitiwa hari ini dapat ditarik pertaliannya dari kejadian-kejadian kecil, yang mungkin saja luput dari perhatian khalayak.

‘Proyek Panik Pandemi’ hanya judul, mestinya ditera dengan tanda tanya. Tafsir. Huruf-huruf kapital mengundang asumsi, pada sub judul ‘Perang Asumsi Persepsi’ saya coba mengulas sedikit tentang tafsi. Orang-orang menyusun, mengenali, dan menafsir informasi sensoris guna memberi gambaran pemahaman tentang prilaku dan tentang segala bentuk informasi yang mereka peroleh di lingkungan sekitarnya. Termasuk tentang tontonan dan media.

Menakala mengedit tulisan Linda, saya memilih kalimat ini: “Seorang bekas mata-mata menulis pesan di media sosialnya: ‘Kapan burung bernyanyi? Di musim semi.’ Pesan ini tidak bermakna apa-apa bagi orang-orang yang selalu memperlakukan berita atau tulisan di media sebagai surat dari orangtua mereka. Tetapi bagi mata-mata lain atau koleganya, pesan ini sebuah sandi.”

Apalah perang, garang menyerang. Bumi, alam semesta, satu-satunya lokasi di mana orang-orang menetap. Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik, damai.

Krisis global, ketakutan miliaran manusia hidup di bawah garis miskin. Mindset di-drive, sejumlah isu. Namun, enyahkanlah panik. Kita butuh jawaban dari sejumlah soal. Kita butuh informasi yang mendidik dan membuka cara pandang.

Ulangi: Bumi, sistem di mana penghuninya bersarang dalam perang. Lalu pekik damai. Berdamai dengan asumsi. Berdamai dengan persepsi. Berdamai dan bercintakasih dengan sesama.

Mari berdamai. (*)


Gambar: Perception is the organization, identification, and interpretation of sensory information in order to represent and understand the environment.
Sumber gambar: iedunote


Continue Reading

Alor

C-19: Alor Kian Pulih

Published

on

By

02 Maret 2021


Data Penyebaran Nasional


Sumber Gambar: Satuan Tugas Penanganan COVID-19


Liputan: Tim Redaksi


Kalabahi — teropongalor.com SECARA Nasional, pasca-Covid-19, keadaan semakin membaik oleh upaya berbagai pihak. Pemerintah, dalam hal ini di ibukota negara, sebagaimana dipublikasikan Kementrian Kesehatan RI, saat ini sedang berlangsung vaksinasi Covid-19 Tahap Dua dengan prioritas sasaran Lansia ber-KTP DKI Jakarta. Sebagaimana diberitakan, lansia yang akan mendapatkan Vaksinasi Covid-19 dapat mengisi formulir pendaftaran melalui dki.kemkes.go.id. Setelah mendaftar para Lansia diharapkan dapat menunggu pesan notifikasi dari Puskesmas atau RSUD terkait lokasi dan penjadwalan vaksinasi, sebelum berkunjung ke fasilitas kesehatan untuk menghindari kerumunan.

Sumber Gambar: Satuan Tugas Penanganan COVID-19


Di Kabupaten Alor, Pemerintah terus melakukan upaya pencegahan dan ternyata berhasil. Data yang dihimpun Satuan Covid-19 hingga hari ini, Selasa, 02 Maret 2021, dari 107 yang terkonfirmasi Covid-19, sudah 92 orang dinyatakan sembuh. “Secara keseluruhan kita di Alor ada banyak kemajuan dalam penanganan Covid-19. Jadi, masih ada tersisa 7 orang melakukan isolasi mandiri, dan 2 orang dalam perawatan. Kami pemerintah tetap ketat menerapkan protokol kesehatan,” kata Sekda Alor, Drs. Soni O. Alelang, ketika ditemui tim redaksi teropongalor.com di ruang kerjanya.

Alelang, yang juga adalah Wakil Ketua Tiga – Satuan Tugas Covid-19 Kabupaten Alor, mengharapkan dalam waktu dekat Alor sudah terbebas dari pandemi. “Kami mengharapkan semua masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan, dan Aparatur Sipil Negara kiranya menjadi garda depan dalam upaya bersama memutus rantai penyebaran virus.” (*)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com