Connect with us
no

Daerah

Tenun Tradisi dan Sejarah Tanah

Published

on

Oleh: Daniel Kaligis


Tradisi menjadi penanda, sebagaimana ketrampilan seni budaya melekat pada tanah di mana tradisi itu bertahan dan menjadi praksis masyarakatnya, termasuk warisan tradisi tenun kain.


BENANG DIPINTAL disusun sejajar – biasanya memanjang – tak bergerak terikat di kedua ujungnya, padanya benang pakan diselipkan, lalu memasang benang-benang lungsin sejajar satu sama lainnya di alat tenun sesuai lebar kain yang diingini. Benang-benang ditenun jadi kain. Dari Nusa Tenggara Timur, kita mengenal tenun Ikat, tenun Buna dan tenun Lotis.

Secara khusus, tenun di kota Kupang, sama dengan tenunan dari berbagai lokasi di Nusa Tenggara. Saya memulai obrolan tenun di Jl. Yos Sudarso, Osmok, Kupang, Nusa Tenggara Timur, 01 Juli 2020. Di situ, lokasi industri tenun yang dikerjakan rakyat, milik keluarga Anggrek.

Tahun 1980-an industri tenun sudah dimulai dengan memberdayakan penenun lokal. “Para pekerja diberi tempat tinggal di sini, dan mereka menggunakan mesin pintal mesin tenun yang sudah disiapkan,” kata Ronny Anggrek, mewakili PT. Timor Agung Floramor, perusahan yang memayungi bengkel tenunan tradisional Nusa Tenggara Timur di Kupang.

Secara resmi PT. Timor Agung Floramor didirikan pada tahun 1982, luas lahan pabrik dan bengkel tenun 10.460 meter bujursangkar. Di sana ruang produksi dan pemberdayaan masyarakat lokal sudah disiapkan.

Sebagaimana diketahui, teknik pengerjaan tenun Ikat, motifnya dikreasikan dari pengikatan benang. Tenun di daerah lain yang diikat ialah benang pakan. Kain tenun Ikat di Nusa Tenggara Timur dikerjakan dengan metode kain lungsi yang diikatkan. Tenun Buna dari Timor Tengah Utara, bahan baku benang terlebih dulu dicelup ke pewarna benang. Ada juga tenun Lotis, disebut juga Sotis atau Songket. Proses pembuatan Songket mirip prosesnya dengan metode pengerjaan tenun Buna.

Ronny Anggrek bilang, bahwa inisiasi berbagai usaha yang dia kerjakan saat ini diwariskan oleh almarhum ayahnya, John Anggrek. “Saya melanjutkan apa yang sudah dikerjakan oleh orangtua, sebagai pendahulu. Seperti yang sudah saya sebut, di bengkel tenunan tradisional saya siapkan tempat tinggal bagi para pengrajin. Alat-alat tenun kami rangkai dari pedal, roda, dan rantai sepeda.”

Tanah di Jl. Yos Sudarso, Osmok, Kupang, di mana bengkel tenunan tradisional itu sudah sejak lama dimiliki keluarga Anggrek. Di sana, Suharto, yang saat itu adalah Presiden Repubik Indonesia, pernah bertandang. “Bengkel tenunan tradisional, yang bernaung pada PT. Timor Agung Floramor diresmikan Suharto, 02 Juni 1988. Jadi memang usaha di tanah ini memang sudah saya kerjakan sejak dulu, tahun depalan puluhan itu,” urai Ronny.

Ketrampilan Turun Temurun

Orang-orang di sana punya cerita, yang mana benang-benang yang akan ditenun seakan diberi ruh, dikerjakan tangan-tangan terampil menghasilkan motif-motif dekoratif yang anggun.

Tenun karya yang anggun dan agung, dijadikan busana, bahan sandang ragam hias, menjadi bagian dari tradisi budaya turun temurun.

Disebut indonesia.go.id bahwa produksi kain tenun tradisional karya masyarakat Timor, Sumba, Flores, Solor, Pantar, Lembata, Adonara, Rote, dan Sabu, sudah dikenal bangsa Eropa. Para pedagang dan pejabat pemerintah kerap membawa sejumlah koleksi pribadi kain tenun ke Eropa. Bahkan, koleksi tenun tersebut banyak disimpan di museum-museum terkenal yang ada di Eropa dan Amerika. Hal tersebut menyebabkan kain tenun Nusa Tenggara Timur terkenal di mancanegara.

“Motif tenun dapat mencirikan dari mana si pemakai berasal. Sebab, dalam motif tenun tergambar ciri khas suatu suku atau pulau. Motif di kain tenun merupakan wujud dari kehidupan masyarakat dan bentuk ikatan emosional yang erat dengan masyarakat tersebut. Masyarakat Nusa Tenggara Timur begitu bangga dan senang menggunakan tenunan asal sukunya, dan sebaliknya mereka akan canggung dan malu jika menggunakan tenunan dari suku lain. Tiap kerajaan, kelompok suku, wilayah dan pulau menciptakan sejumlah pola atau motif hiasan khas pada tenunannya. Ketrampilan itu diturunkan dengan cara mengajarkan kepada anak cucu mereka agar kelestarian seni tenun terus terjaga,” demikian ditulis di indonesia.go.id, 04 Februari 2019.

Kerja menenun diperkirakan sudah dilakukan berabad-abad silam. Cerita tutur menyatakan yang mana kerajaan tua di Nusa Tenggara Timur menurunkan ketrampilan seni budaya tenun itu. Ragam pola yang ditampilkan dalam tenunan adalah manifestasi dari kehidupan sehari-hari orang-orang di sana yang punya ikatan emosional yang erat dengan apa yang menjadi kebiasaan mereka turun temurun. Kain tenun Nusa Tenggara Timur punya ciri khas. Tenun Maumere, misalnya, punya motifnya yang menggambarkan hujan, pohon, dan ranting. Berikutnya tenun Sumba Timur, misalnya, yang punya motif tengkorak.

Sejarah seni kriya tenunan di Indonesia, seperti yang ditulis di GriyaTenun.com, 11 Juni 2018, disebut yang mana kain tenun sudah ada sejak zaman prasejarah. Diperkiraan keberadaan kain tenun di Indoesia sejak zaman perunggu yaitu abad delapan hingga abad dua sebelum masehi. Keberadaan kain tenun menunjukkan sebuah tingkat kebudayaan yang tinggi karena dalam kain tenun terdapat makna yang melambangkan adat istiadat yang berlaku di daerah setempat.

Dari alat yang sangat sederhana, ketrampilan tenun berkembang. Di Nusa Tenggara Timur, terkenal juga tenun Sumba. “Pembuatan kain tenun ini menggunakan kapas yang digulung sehingga menjadi benang berbentuk bulatan, lalu dibidang sesuai ukuran kain yang diinginkan. Usai dibidangkan, dapat terlihat warna asli kain yang mula-mula berwarna putih. Setelah itu, pengrajin dapat memulai untuk mengikat motifnya,” seperti itu ditulis Riri di Gpriority.co.id, 03 September 2019.

Menurut Riri, proses pewarnaan biru pada benang bahan baku tenun itu menggunakan pewarna yang berasal dari campuran daun nila dengan kapur sirih sehingga mengeluarkan warna biru. Jika menginginkan warna merah alami, pengrajin biasanya akan memanfaatkan komposisi warna dari akar pohon mengkudu yang ditumbuk halus dan dicampur dengan kemiri serta kulit kayu. Dengan beberapa bahan dasar dari tumbuh-tumbuhan tersebut, warna merah dan birunya jika dicampurkan akan menghasilkan warna hitam. Bila ingin tersedia warna sintetis sebagai warna pembanding, warna sintesis akan terlihat lebih menyolok dibanding pewarna alami. Setelah melalui tahapan itu, benang-benang yang semula tanpa arti, berubah menjadi kain tenun indah.

Tenun Nusa Tenggara Timur sudah terkenal di tanah air, dan menjadi kreasi yang dikenal di mana-mana. Kita mengenal gedogan, alat tenun tradisional yang sudah ada sejak zaman dahulu dan sangat lazim digunakan, alat ini masih ada dan digunakan secara aktif sampai sekarang dengan tujuan untuk menjaga keaslian dan melestarikan budaya.

Menenun dengan gedogan akan menghasilkan kain tenun berkualitas tinggi sebab dikerjakan sangat teliti dan memakan waktu relatif lama. Alat tenun ini terdiri dari kayu dan bambu yang berfungsi untuk mengakitkan benang lungsi. Ujung alat tenun gedogan dikaitkan pada tiang rumah, sementara ujung lainnya diikatkan pada badan sang pengrajin, di mana posisi sang pengrajin ketika menenun duduk di lantai.

Laste

Kembali pada kisah di tahun 1980-an. Tutur di mana bengkel tenunan tradisional Nusa Tenggara Timur di Kupang mulai digagas. Tanah, lokasi, adalah alasan bagi pengalaman dan hidup dalam tradisi ‘menjadi baik’ untuk menenun perbuatan-perbuatan kebaikan.

Ada cerita karya kriya tenunan mengalami disrupsi karena perkembangan zaman, tercerabut dari akarnya bila tidak lagi diperlukan. Atau, harga tinggi selembar kain tenun jadi alasan? Persaingan bisnis kain, busana, pakaian, ragam hias tenunan, lalu soal inovasi.

Bagaimana dengan soal inovasi? Padahal, sejak zaman dulu perajin tenun terbiasa menggunakan pewarna alami seperti kunyit, mengkudu, tauk, dan bahan pewarna dari tanaman lainnya. Waktu dan zaman berganti. Perajin beralih menggunakan pewarna kimia oleh sebab berbagai keunggulan pewarna kimia yang mempercepat proses pengerjaan bahan baku benang, pewarna kimia membikin bahan benang tahan luntur, tahan terhadap penyinaran, tahan gosok, dan punya warna lebih beragam. Ini tentu berkaitan dengan apa yang saya saksikan di berbagai lokasi di Kupang. Pernak-pernik berbahan dasar tenunan, tas, bandana, kalung, gelang, sarung, pakaian, ada di toko-toko yang menjual bahan tenunan dan pakaian. Reka baru akan terus dipacu seiring perkembangan permintaan pasar tenunan.

Tentu, pengerjaan tenunan dengan metode tradisional masih punya ‘pasar’, dan punya keunggulan tersendiri di mata para penyuka busana tradisional berbahan ramah lingkungan.

Ini tutur yang disebut orang-orang tentang kerja yang digagas keluarga Anggrek, dalam hal ini Ronny Anggrek. “Dia membuka ruang pemberdayaan dan membantu masyarakat kecil,” kata Andre Mamuaja ketika saya bertandang di Rumah Babe Jl. Yos Sudarso.

Bengkel tenunan tradisional memang sudah disulap jadi Rumah Babe. Kerja produksi tenunan yang dulunya ada di sana, sekarang diwadahi dengan sistem kemitraan dengan para pengrajin. “Kami menyiapkan alat, benang, pewarna, dan berbagai kebutuhan terkain proses tenun, lalu para pengrajin mengerjakan tenunan di kediaman mereka sendiri. Dan kami tetap menangani soal pemasaran tenunan di tempat-tempat strategis di Kupang,” kisah Ronny Anggrek.

Sejarah tanah di Jl. Yos Sudarso, Osmok, Kupang, Nusa Tenggara Timur, tempat di mana pernah didirikan bengkel tenunan tradisional yang diwadahi PT. Timor Agung Floramor, adalah kisah panjang yang menjadi warna tradisi keluarga Anggrek, sebagaimana yang diceritakan Ronny Anggrek pada saya. (*)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daerah

Menggambar Wajahmu dengan Debu

Published

on

By


10 Januari 2022


Oleh: Arman Yuli Prasetya
Editor: Dera Liar Alam


Aku mengingatnya kembali, saat hujan ingin membangunkan dirimu, angin membuatmu tertidur, hujan itu, hanya dalam mimpiku, saat ini. Aku melihatmu pada daun-daun kering yang jatuh, waktu telah luluh, dan seberkas cahaya pagi yang aku simpan dalam sudut mataku.

Mungkin kau bisa mengenangnya, bila ingatanmu bukan lagi utuh tentang diriku, pesanmu. Pohon akasia yang kau pilih dengan paku, meninggalkan rindu, kau kerat pohon itu, menjadikannya perlambang perasaanmu. Dua burung gelatik mengintip dari ujung dahan, dan terbang dalam lamunan.

Dengan mengenangmu, kau temukan diriku sesuatu yang tak ingin kuberi arti, serupa pecahan waktu yang menyelinap pada ruas-ruas tubuhku, dan jalan angin yang lain menggambar wajahmu dengan debu, dingin, seperti awan kelabu yang ingin membuat langit biru, dibasuhnya debu itu dalam ragu. Disimpannya cahaya yang tak perlu.

Seperti dua arah yang bertemu, melewati batas perjalanan, tentang nilai yang rentan, kegamangan waktu juga ketentuan yang akan patah, akan tiba yang tidak pernah aku tunggu, hilang apa yang kucari, serta tujuan yang aku biarkan tanpa tuju, setelah itu biarlah aku tak pernah memilih apa-apa biar perlambang itu, aku baca dengan gumaman, yang menjadi tanda tanya untukmu. (*)

Continue Reading

Berita

Larantuka Diguncang Gempa M7.4

Published

on

By


15 Desember 2021


“Orang-orang panik lari berhamburan, itu di Sikka,” kata Ani.


Oleh: Parangsula


TEROPONGALOR.COMMINGGUS punya cerita tersendiri tentang gempa di koordinat 7.59° lintang selatan dan 122,26° bujur timur, dengan pusat gempa bumi berada pada 112 kilometer arah barat laut Larantuka, Flores Timur, dengan kedalaman 12 kilometer. “Gempa NTT, bapa. Saya baca berita tidak ada tsunami. Tapi, orang-orang di kampung saya was-was, meski posisi kampung saya jauh. Masih ada satu malam pelayaran dengan kapal laut dari Larantuka ke Kalabahi,” tutur Minggus.

Tercatat menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bahwa ada 346 rumah rusak dan 770 warga mengungsi akibat gempa. “Selain tempat tinggal penduduk, gempa merusak tiga gedung sekolah, dua tempat ibadah, satu rumah jabatan kepala desa, dan satu pelabuhan. Menurut Abdul Muhari, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, daerah yang paling banyak melaporkan kerusakan bangunan adalah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Sebanyak 770 orang pengungsi dilaporkan BPBD Sikka, NTT. Rinciannya, 320 orang mengungsi di Kantor DPRD Sikka, 150 orang di Gedung SIC dan 330 lainnya berdiam di aula rumah jabatan Bupati Sikka.” Seperti itu diberitakan TEMPO, 15 Desember 2021.

Ani, perantau dari Maumere, bertutur kepanikan karena gempa. “Oom Tio, rumahnya di Larantuka, retak. Bagian belakang rumah dan dapurnya sudah turun ke bawah, untung saja dia dan keluarganya sudah pindah ke Kupang. Kemarin dia telepon, tanya jangan-jangan ada keluarga di Bonerate yang terkena dampak,” ujar Ani. “Biasanya, kalau pulang ke Maumere, kapal yang kami tumpangi mampir di Bonerate,” tambah Ani.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami di wilayah Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Kemarin, peringatan tsunami itu kemudian diakhiri, dan pengumumannya disampaikan BMKG lewat konferensi pers. Peringatan resmi dicabut pulul 13.24 WITA. Masyarakat kemudian beraktivitas seperti biasa. (*)

Continue Reading

Berita

S.O.B Law Investigation – Andi Jamal: Penjarakan Mafia Tanah

Published

on

By

14 Juni 2021


Oleh: Jefriar Dunda
Biro Sulawesi Selatan


TeropongAlor—  Somba Opu | PEMBERANTASAN praktik mafia tanah di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, terus didesak. Koalisi Lembaga Swadaya Masyarakat melakukan beberapa kali pertemuan dan membahas langkah strategis, di antaranya DPP LSM Gempa, Yayasan Bantuan Hukum Kompak Indonesia, Lembaga Missi Reclasseering Republik Indonesia di Gowa dan Sulawesi Selatan, dan Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Pemantauan tim redaksi hingga 14 Juni 2021, desakan lembaga swadaya itu dinyatakan dalam bentuk spanduk yang dipasang di sejumlah titik seputaran Tombolo dan Somba Opu. “Telah berduka rakyat Gowa atas matinya penegakan hukum tentang pemberantasan mafia tanah di kabupaten Gowa. Ingat ketegasan Kapolri untuk memberantas mafia tanah, jangan gadaikan keadilan untuk rakyat, para mafia tanah wajib dihukum dan dipenjara, begitu juga oknum yang membekinginya.” Demikian spanduk yang dipajang Serdadu Om Bethel Law Investigation – Andi Jamal.

Spanduk adalah bentuk protes dan interupsi masyarakat terhadap aparat yang tidak bekerja maksimal, dan diduga bersandiwara. “Sejauh ini permintaan penindakan kepada oknum penyidik dalam kasus mafia tanah, terindikasi membekingi terlapor pengguna surat palsu dengan cara membuat keterangan palsu dalam SP2HP yang dijadikan alasan penghentian penyelidikan. Perintah pimpinan hanya boleh efektif bila pemberantasan kejahatan hukum dimulai dari jajaran institusi yang mengawal hukum, bukan justeru mengincar pihak lain. Ini namanya bersandiwara,” kata Padeng Gervasius, SH, menyinggung tuntutan masyarakat untuk memberantas mafia tanah di Gowa.

Pasca-Rapat Dengar Pendapat yang sudah digelar DPRD Gowa, 04 Mei 2021, silam, tuntutan pemberantasan mafia tanah kian menguat di Gowa, utamanya menyorot mekanisme pembatalan sertifikat cacad hukum administratif dalam penerbitannya sebagaimana diatur dalam Pasal 110 jo. Pasal 108 ayat (1) Permen Agraria/BPN 9/1999. “Tuntutan kami jelas, cabut dan batalkan dokumen yang diterbitkan BPN Gowa yang cacad administratif. Ada regulasi tentang pembatalan. Permohonan dapat dilakukan jika diduga terdapat cacat hukum administratif dalam penerbitan sertifikat itu sebagaimana diatur Pasal 106 ayat (1) jo Pasal 107 Permen Agraria/BPN 9/1999,” tutur Amiruddin SH Kr. Tinggi, dari DPP LSM Gempa. (*)


Hak jawab selalu diberikan kepada semua pihak bila pemberitaan bertolak belakang dengan fakta dan data.


Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 TeropongAlor.com